Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Pernikahan


Seminggu berlalu begitu cepat. Pihak istana tampak sibuk menyiapkan pesta pernikahan yang akan dilangsungkan esok hari di aula utama keluarga kaisar.


Tepat setelah matahari terbenam di ufuk barat. Seorang gadis cantik terlihat begitu risau akan pernikahannya esok hari.


"Hou'er, apa yang kau risaukan?" Tanya Jingga terus memperhatikannya.


"Apa menurutmu aku menjadi Nenek Sashuang di pesta pernikahan kita besok? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi orang-orang melihat kita" tanya Xian Hou mengungkapkannya.


Jingga tersenyum menanggapinya lalu mengusap lembut kepala kekasihnya.


"Aku tidak masalah dengan itu, tapi akan lebih mengejutkan kalau semua orang melihat dirimu yang sebenarnya. Kecantikanmu akan membuat semua pria melupakan kekasihnya dan kekacauan tidak akan bisa dihindari. Menurutku menjadi Nenek Sashuang akan lebih baik" jawab Jingga menyampaikan pendapatnya.


"Baiklah, biar semua orang tahu kalau cinta itu tidak memandang apa pun kecuali rasa nyaman di hati" timpal Xian Hou menyetujui pendapat suaminya.


Ia lalu menarik suaminya ke alam peri yaitu alam jiwa miliknya.


"Sayang, apa kau ingin melewatkan pernikahan kita?" Tanya Jingga merasa waktu di alam peri sangat jauh berbeda.


Keduanya lalu kembali ke dalam kamar, Xian Hou langsung menundukkan wajahnya.


"Maaf" jawab Xian Hou merasa malu pada suaminya.


Jingga mengangkat dagu istrinya, ia langsung mencium lembut bibir kecil sang istri lalu keduanya larut dalam hubungan suami istri di malam menjelang pernikahan.


Hari yang ditunggu semua orang akhirnya tiba.


Istana kekaisaran Fei nampak begitu ramai dengan tamu yang terus berdatangan dari berbagai klan yang tersebar di tiga kekaisaran. Bahkan keluarga kekaisaran Xiao nampak hadir semua kecuali kaisar Xiao Jinai yang masih berada di kekaisaran.


Jingga yang sudah memakai pakaian serba merah dengan pernak pernik berwarna emas yang menghiasi pakaiannya tampak terlihat begitu bahagia berjalan beriringan bersama Qianfan yang juga menyerupai dirinya.


Kedua pengantin pria itu begitu terlihat tampan berjalan ke arah singgana yang sudah dipersiapkan untuk kedua pasang pengantin menempatinya.


Acara pernikahan pun dimulai, Qianfan yang pertama kali melakukan peradatan mengucapkan ikrar lalu menyingkap kain yang menutupi wajah istrinya. Ia pun langsung menciumnya lalu menggenggam jemari tangan Du Zhia melangkah ke arah Zhen Lie dan Luo Xiang yang terlihat sangat bahagia menerima secangkir teh yang dibawa keduanya.


Selesai sudah peradatan dari pasangan Qianmei dan Du Zhia.


Kini giliran Jingga yang melakukan peradatan, setelah mengucapkan ikrar suci yang disaksikan semua orang, ia langsung menyingkap kain yang menutupi wajah istrinya.


Prang!


Suara gelas dan nampan berjatuhan, semua orang melebarkan matanya melihat sosok wanita tua yang seharusnya menjadi nenek untuk pemuda yang lebih cocok menjadi cucunya.


Tidak ada satu pun yang memperkirakan akan melihat pernikahan yang begitu langka disaksikan oleh semuanya.


Hal itu membuat para tamu tidak ada yang bersuara, mereka semua terus memperhatikan pengantin.


Satu lagi momen istimewa yang membuat semua tamu begitu bergetar menyaksikan kedua insan saling berciuman dengan begitu lembut.


Di depan, Jingga langsung menarik istrinya untuk meminta restu dari ayah dan ibunya.


"Semoga kalian selalu bahagia" ucap Luo Xiang mengecup kening nenek Sashuang dan Jingga bergantian.


"Terima kasih, Ibu" balas Jingga dan nenek Sashuang.


Setelah selesai melakukan peradatan, Jingga langsung menghampiri kedua adiknya yang menangis bahagia melihatnya.


"Naninu, aku harap air matamu bukanlah suatu kesedihan" ucap Jingga sambil mengusap pipi adiknya.


Bai Niu langsung mencium Jingga dengan begitu lekat sambil melingkarkan kedua tangannya di leher kakaknya lalu melepaskannya.


"Aku bahagia selama Kakak tidak pernah meninggalkanku. Selamat ya Kak, selalu bahagia untuk Kakak jelekku" balas Bai Niu tersenyum lembut kepadanya.


Bai Niu langsung melirik nenek Sashuang lalu memeluknya.


"Selamat ya Kak Hou'er, Kakak sangat beruntung bisa mendapatkan hati Kakakku yang sangat aku cintai" bisik Bai Niu.


"Terima kasih Niu'er tapi awas kalau kau genit, aku memang tidak bisa terus bersamanya di alam fana ini tapi aku akan terus mengawasimu" balas bisikan nenek Sashuang mengingatkannya.


Bai Niu hanya mengangguk saja menanggapinya.


Di sampingnya Jingga terus saja memeluk adiknya Qianmei.


"Aw!" Kaget Jingga merasakan sakit di telinganya, ia lalu melepaskan pelukannya.


"Sayang, dia kan adikku, masa aku tidak boleh memeluknya" kilah Jingga membela diri.


"Boleh saja tapi jangan lama begitu, apalagi kau melakukannya di samping istrimu. Bukankah itu kurang ajar namanya? Hah!" Dengus Xian Hou semakin kuat memelintir telinga Jingga.


"Aduh, aduh, ampun sayang!" Rintihnya terus memohon.


Semua keluarga yang melihatnya langsung tertawa.


"Kak Hou'er maafkan kakakku. Aku yang salah" bela Qianmei tidak tega melihat kakaknya Jingga terus dijewer istrinya.


"Kau juga harus aku jewer" ucap nenek Sashuang meliriknya.


Qianmei langsung berlari ke arah kakaknya Qianfan yang sedang sibuk menyambut para tamu.


"Kak Fan'er toloong!" Teriak Qianmei langsung bersembunyi di belakang punggung kakaknya.


Sontak saja semua tamu langsung tertawa melihat kejadian lucu di istana.


Nenek Sashuang sambil menarik telinga Jingga menghampiri Qianmei yang terus bersembunyi di belakang Qianfan.


Luo Xiang yang melihat tingkah mantunya langsung menghadang.


"Hou'er, jangan menakutinya. Bukankah dia sekarang adalah adikmu?" Tanya Luo Xiang.


"Iya Bu, maaf" jawab nenek Sashuang lalu melepaskan tangannya yang masih menarik telinga Jingga.


Para tamu saling berbisik melihat tingkah nenek Sashuang. Salah satunya dari kedua pemuda klan.


"Aku lebih baik tidak pernah menikah daripada harus mengalami nasib buruk sepertinya" bisik seorang pemuda dari salah satu klan begitu merinding membayangkannya.


"Hus! Tidak boleh membicarakannya, mungkin ada hal lain yang diincar pemuda itu. Bisa saja nenek itu mempunyai banyak harta atau bisa juga ia memiliki sesuatu berharga yang hanya bisa diberikannya dengan syarat menikahinya" balas pemuda di sebelahnya.


"Ha ha ha, kau tahu apa yang berharga dari nenek tua itu?" Tanya pemuda pertama.


"Tidak tahu, menurutmu apa?" Tanya balik pemuda kedua.


"Nenek tua itu masih perawan" jawabnya.


Kedua pemuda itu tertawa terbahak-bahak mengolok-olok pengantin.


Xian Hou yang mendengarnya menjadi geram, ia langsung menghampiri kedua pemuda yang masih tertawa-tawa.


"Sudah selesai tertawanya?" Tanya nenek Sashuang sambil berdecak pinggang di depan kedua pemuda.


Beberapa orang langsung melirik ke arahnya.


Kedua pemuda itu langsung terkejut melihat nenek Sashuang sudah berada di dekatnya.


"Sudah Nek, maaf kami hanya bercanda" jawab keduanya terlihat ketakutan ditatap dingin oleh nenek Sashuang.


"Suamiku!" Panggil nenek Sashuang menoleh ke arah Jingga yang menghampirinya.


"Iya sayang, ada apa?" Sahut Jingga.


"Kedua pemuda ini mengolok-olok pernikahan kita, menurutmu apa yang harus kita lakukan untuk memberi pelajaran kepada keduanya?" Tanya nenek Sashuang meminta pendapat.


"Sudahlah sayang, di hari kebahagiaan kita, aku tidak ingin tangan lembutmu menjadi kotor karena keduanya" jawab Jingga langsung mengecup punggung tangan istrinya.


"Baiklah sayang, kali ini aku tidak akan mengotori tanganku. Tapi bisakah kau memangku diriku? Aku sangat lelah berjalan menghampiri pemuda yang tidak tahu diri ini mengolok-olok pernikahan kita" timpal nenek Sashuang begitu manja.


Jingga langsung memangkunya dan nenek Sashuang merangkul leher suaminya.


Semua keluarga klan dibuat terperangah dengan pengantin langka yang baru ditemuinya tampak begitu saling mencintai.


Tidak selalu pasangan pengantin yang cocoknya sebagai nenek dan cucu itu membuat heran semua orang, para wanita bahkan begitu kagum dengan keberhasilan si nenek yang mendapatkan suami muda yang begitu tulus mencintainya.


Apalagi para janda begitu terinspirasi untuk menjerat hati para pemuda seperti yang dilihatnya dari nenek Sashuang.