
Jingga dan Mei Moshu berjalan berdampingan dengan saling bergandengan tangan. Keduanya terlihat begitu mesra layaknya sepasang kekasih yang dimabuk cinta.
Suara gemerincing peraduan batang bambu yang terayun oleh angin malam membuat suasana malam itu begitu damai menyejukkan hati.
Senyuman mengembang dari bibir keduanya yang begitu menikmati suasana di hutan bambu merah. Tidak ada suara yang keluar dari bibir keduanya, hanya deru angin dan lantunan batang bambu yang terus menemani perjalanan keduanya.
Keduanya pun sampai di bale bambu kecil di area pemakaman. Tampak raut wajah kesedihan seorang pemuda yang terus menatap batu nisan yang terukir nama seseorang yang begitu disayanginya.
Mei Moshu memperhatikannya dengan begitu lekat, ia memahami perasaan pemuda yang duduk di depannya.
"Jangan terlalu bersedih hati, dia sudah bahagia di alam lain" ucap Mei Moshu menenangkannya.
Jingga mengalihkan pandangan menatap sayu gadis cantik di depannya.
"Kau benar, ayo kita bermeditasi" balas Jingga lalu menutup kedua matanya.
"Muach"
Mei Moshu mengecup bibir Jingga, ia lalu menutup kedua matanya dan mulai bermeditasi dengan bibir yang mengembang.
Baru saja keduanya bermeditasi, suara lolongan serigala terdengar sangat nyaring dari kejauhan.
Auuu!
Jingga membuka kedua matanya dan langsung memindai ke sekelilingnya.
"Naninu" gumam Jingga melihat seorang wanita yang menunggangi serigala dari kejauhan.
"Kemarilah! Ikuti suaraku" pinta Jingga melalui transmisi suara di udara.
Tang Niu yang mendengar suaranya langsung bergegas ke arah suara berasal.
"Adik" ucap Tang Niu menghampirinya.
"Apa Nyonya sengaja mencariku tengah malam begini?" Tanya Jingga.
Tang Niu tidak menjawabnya, ia menoleh ke arah gadis cantik yang duduk di depan Jingga.
"Bukankah dia gadis penyihir?" Balik tanya Tang Niu menunjuknya.
Mei Moshu membuka matanya, ia tersenyum menatap wanita yang masih duduk di atas punggung serigala.
"Ya, aku gadis penyihir, dan kau siapa? Jangan mencoba datang untuk merebut suamiku" jawab Mei Moshu lalu menyandarkan punggungnya di dada Jingga.
Tang Niu begitu geram mendengarnya, tampak raut wajahnya berubah merah dengan tatapan penuh kebencian menatap sinis gadis yang merapatkan tubuhnya di pemuda yang pernah dicintainya.
"Sudahlah, kalian terlihat seperti dua kucing yang berebut ikan" potong Jingga melerai keduanya.
Sring!
"Aku ingin bertarung denganmu" tantang Tang Niu menghunuskan pedang ke arah wajah Mei Moshu.
"Suamiku, apakah aku boleh meladeninya?" Tanya Mei Moshu mendongakkan wajahnya hingga kedua bibir hampir bersentuhan.
"Silakan, asal kau tidak membunuhnya" jawab Jingga mengizinkannya.
Mei Moshu mengangguk lalu mengecup bibir Jingga dengan lembut.
Tang Niu semakin kesal dibuatnya, ia lalu melompat ke area lain yang lapang di tengah hutan bambu merah.
Mei Moshu melayang terbang menghampiri Tang Niu yang berdiri dengan pedang yang menjulur ke tanah. Sedangkan Jingga langsung melapisi area hutan bambu merah dengan perisai energi agar tidak mengganggu penghuni sekte yang terlelap tidur.
"Nyonya, kau harus berterima kasih kepada suamiku yang melarangku untuk membunuhmu. Apa kau yakin sanggup melawanku?" Ujar Mei Moshu memastikannya.
"Kita akan tahu nanti, aku pastikan akan merusak wajahmu yang genit itu" jawab Tang Niu lalu mengambil ancang-ancang untuk menyerang.
"Aku senang mendengarnya" balas Mei Moshu dengan tersenyum sinis.
Wuzz!
Bugh!
Mei Moshu dengan cepat melayangkan pukulannya hingga Tang Niu terpelanting jauh menabrak puluhan batang bambu.
Hoek!
Cuih!
Tang Niu memuntahkan darah dari mulutnya lalu berdiri dengan memegangi dada yang terasa sakit.
Siu! Tap, tap!
"Cih! Aku tidak akan kalah darimu" dengus Tang Niu tidak mau menyerah.
Ia lalu mengayunkan pedangnya menebas tubuh Mei Moshu yang masih berdiri tenang di depannya.
Wuzz!
Trang!
Pedang Tang Niu patah dipiting oleh jari Mei Moshu, ia menyeringai dingin menatapnya.
Tang Niu melemparkan gagang pedang ke tanah, ia lalu berlari ke arah Jingga yang memperhatikan pertarungan keduanya sambil menenggak arak.
"Sudah selesai, Naninu?" Tanya Jingga.
"Adik jahat" jawab Tang Niu lalu mendorong tubuh Jingga dan menciumnya dengan beringas.
"Aah!" Jerit kesakitan Tang Niu yang tiba-tiba dijambak rambutnya oleh Mei Moshu.
Plak!
"Enak saja kau main cium suami orang" bentak Mei Moshu setelah menamparnya.
"Pergi atau aku akan membunuhmu" imbuhnya mengusir.
Jingga diam saja melihat pertikaian keduanya, ia kembali menenggak arak dan memalingkan wajah ke arah lain.
Tang Niu berjongkok menangis sambil mendekap kaki Jingga yang terjuntai dari tepian bale bambu.
"Lepaskan suamiku!" Bentak Mei Moshu dengan lantang.
Tang Niu tidak mempedulikannya, ia semakin erat mendekap kaki Jingga.
Kesal karena diacuhkan, Mei Moshu menjentikkan jarinya untuk membunuh Tang Niu. Seberkas sinar keluar dari ujung jarinya dan melaju cepat ke arah kepala Tang Niu.
Dhuar!
Beberapa batang bambu hancur terkena tembakan energi yang dikibaskan oleh Jingga.
"Kau berani membunuhnya yang sedang bersimpuh di kakiku. Apa kau mau bertarung denganku, hah?" ketus Jingga tidak menyukainya.
"Ha ha, kenapa aku tidak berani membunuhnya? Membunuh dirimu pun aku sanggup melakukannya, tapi tidak di sini"
"Usir dia pergi, aku tidak menyukainya" imbuhnya begitu dongkol.
"Duduklah sampai portal membawa kita kembali" balas Jingga menarik tangan Mei Moshu.
Jingga lalu menarik bahu Tang Niu di bawahnya, terlihat wajah Tang Niu begitu merah dengan noda darah yang keluar dari hidung dan mulutnya.
"Maafkan aku, Naninu" ucap Jingga lalu memangkunya dan mendudukkannya di punggung serigala.
"Xuis, bawa Tuanmu pulang" pinta Jingga kepada serigala yang langsung menggeram menjawabnya.
"Adik, apa adik akan kembali menemuiku?" Tanya Tang Niu berharap.
"Tidak tahu, tapi aku akan selalu mengingatmu" jawab Jingga.
Terlihat ekspresi wajah Tang Niu begitu lesu mendengarnya. Ia sadar pertemuannya dengan Jingga adalah untuk terakhir kalinya.
"Boleh aku menciummu" pinta Tang Niu.
Jingga langsung mendekatkan wajahnya dan mencium lembut Tang Niu. Hanya beberapa saat saja keduanya berciuman, Tang Niu pun pergi dengan kesedihan yang terdalam.
Setelahnya, Jingga kembali duduk bermeditasi di dekat Mei Moshu yang sudah lebih dulu melakukannya.
Beberapa waktu kemudian, sebuah portal dimensi terbuka di atas langit dengan bentuk lingkaran berwarna hitam pekat. Sinar cahaya keluar dari dalam lingkaran hitam dengan cepat menghisap tubuh kedua orang yang sedang bermeditasi.
Langit pun kembali normal. Jingga dan Mei Moshu masih belum tersadar sebuah energi menghisapnya membawa kembali keduanya ke dimensi Siksa Raja.
Udara panas dan tanpa adanya suara deru angin membuat keduanya membuka mata.
Sebuah arena kosong yang hanya terlapisi bebatuan bersuhu panas membuat keduanya tersadar telah kembali ke dimensi Siksa Raja.
Jingga berdiri dan langsung berjalan ke tengah arena, ia lalu mengeluarkan Jianhuimie Yuzhou dan berbalik menatap lawannya Mei Moshu yang juga sudah berdiri menggenggam Jiandiyu.
"Nona, seperti yang kita sepakati bersama. Setelah berada di sini, kita bukan lagi siapa-siapa. Mari kita akhiri perseteruan kita" ujar Jingga lalu mengangkat ujung pedang bersiap memulai pertarungan yang sebenarnya.
"Aku tahu itu, sebaiknya kau keluarkan seluruh kemampuanmu. Lawanmu selanjutnya sangat mengerikan, fokuslah!" Balas Mei Moshu lalu menghilang dari posisinya.