
Tampak terlihat dengan jelas olehnya, lima gadis remaja bertubuh polos dalam posisi saling bertindihan di dalam kerangkeng besi.
"Nyonya, untuk apa kelima gadis manusia alam fana di ujung sana?" tanya Jingga sambil menunjuk ke arah sudut halaman.
Ratu Xin Li Wei mengalihkan pandangan mengikuti jari telunjuk yang dijulurkan oleh Jingga. Ia kembali merasa lucu dengan pertanyaan yang diajukan padanya.
"Mereka bisa dijadikan sebagai pergantian tubuh para gadis iblis, Biasanya seperti itu. Bukankah Yang Mulia sudah pernah melihatnya di pasar iblis yang dibakar habis itu?"
Jingga diam saja mendengarnya lalu berkelebat untuk melihatnya lebih dekat. Ia sedikit merasa lega setelah mengetahui kelima gadis masih dalam kondisi bernyawa. Tanpa menunggu lagi, ia lalu meleburkan kerangkeng besi yang mengurung kelima gadis lalu memasukkan kelimanya ke dimensi alam jiwa.
WUZZ!
Tiba-tiba saja seorang iblis berpostur tinggi besar muncul di hadapan Jingga dengan sorot mata yang tajam mengintimidasinya.
"Berani sekali kau mengambil kelima gadisku!" geramnya dengan suara yang parau.
Si iblis tinggi besar itu pun langsung mencekik leher Jingga dengan cengkramannya yang kuat. Namun Jingga masih saja tenang menghadapinya. Kontak fisik dari tangan iblis tinggi besar yang menyentuhnya, dimanfaatkan oleh Jingga untuk mengalirkan energi api yang langsung meleburkan tubuh si iblis tinggi besar tanpa menyisakan sedikit pun bagian tubuh yang utuh.
Kejadian itu hanya sekejap saja, bahkan tidak ada satupun tamu undangan yang sempat melihatnya, terkecuali Ratu Xin Li Wei bersama kedua adik monster Jingga yang memang sedang melihatnya. Setelahnya, Jingga berbalik kembali menghampiri Ratu Xin Li Wei.
Suasana di halaman pesta masih berjalan kondusif. Jingga mengedarkan pandangannya memperhatikan para pengikutnya yang sedang menikmati arak darah bersama para iblis lainnya. Ia sendiri tidak ikut serta menikmatinya, bahkan araknya pun tidak dikeluarkannya.
"Yang Mulia," panggil Ratu Xin Li Wei merasa tidak enak hati melihat Jingga yang terlihat jenuh dalam acara pesta yang diselenggarakannya.
"Hem, Nyonya santai saja. Aku hanya sedikit suntuk dengan diriku sendiri; bukan dengan acara pesta iblis. Sebaiknya Nyonya temani para tamu undangan." Balas Jingga yang memahami maksud sang Ratu.
Jingga lalu mendongakkan wajahnya ke langit. Pikirannya sedikit kalut tanpa tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ia lalu melesak terbang ke puncak menara istana iblis diikuti oleh Jirex dan Zilla yang menemaninya.
"Kak Jingga, apa kakak bosan berada di alam iblis?" sosor tanya Jirex menerkanya.
Jingga meliriknya dengan tersenyum simpul. Ia kemudian mengeluarkan sebotol arak dan langsung saja menenggaknya.
"Sepertinya begitu. Di alam ini aku tidak lagi menemukan sesuatu yang menarik. Semua yang aku inginkan sudah aku dapatkan," ungkap Jingga membenarkan terkaan adiknya.
Jingga lalu menutup kedua matanya. Dalam benaknya, ia mencoba memikirkan kembali apa yang menjadi tujuannya. Tidak ada lagi semangat yang membara di dalam dirinya untuk menjadikan alam semesta damai, seperti apa yang ia tekadkan sewaktu kecil. Semua itu pudar setelah melihat sendiri masa depan tatkala ia terlempar oleh artefak milik Mei Moshu tempo hari.
"Boleh aku meminta pendapat dari kalian berdua?" sambungnya bertanya lalu membuka kembali kedua matanya.
"Boleh, Kakak." jawab Jirex dan Zilla bersamaan.
"Setelah aku membunuh Taiyangshen, apakah itu puncak petualanganku?" tanya Jingga dengan sorot mata serius mendelik ke arah keduanya secara bergantian.
Jirex menggelengkan kepala tidak mengetahuinya, sementara Zilla memikirkan sesuatu yang menurutnya akan menarik perhatian Jingga.
"Kak, kenapa kita tidak memanfaatkan kemelut yang terjadi di alam fana untuk memancing para dewa berperang dengan kita?" cetusnya penuh antusias di sorot matanya.
Jingga mengernyitkan kening mendengarnya. Tiba-tiba saja semangatnya kembali bangkit dengan sendirinya, laiknya hujan deras yang membasahi retakan tanah kering.
"Ide yang bagus, Zilla. Seperti yang pernah aku katakan. Aku akan menguji kemampuan bertarung para iblis penyihir yang telah kalian latih dengan sangat keras. Ha-ha-ha." Jingga begitu bersemangat menanggapi ide yang dicetuskan oleh Zilla adik monsternya.
"Kak, bagaimana dengan nasib para kultivator alam fana? Bukankah, Kakak memiliki kedekatan dengan kedua kekaisaran?" celetuk Jirex mengingatkannya.
Jingga kembali dibuat berpikir dengan apa yang dikatakan oleh Jirex. Semangatnya yang membara, kembali meredup. Ia kini menghadapi dilema akan kedua kemungkinannya.
Jingga tidak menanggapinya, ia masih ragu untuk langsung memasuki alam dewa. Ia merasa tidaklah etis pergi ke alam dewa hanya untuk membunuh Taiyangshen.
WUZZ!
Ratu Xin Li Wei melesak menghampiri Jingga yang masih termenung dalam pemikirannya.
"Yang Mulia, ada hal penting yang ingin aku sampaikan," kata Ratu Xin Li Wei terlihat begitu serius.
Jingga masih saja diam tidak menanggapinya. Jirex yang berada di sebelah kanannya langsung menepuk bahu Jingga.
"Kak Jingga!" panggil Jirex menyadarkannya.
Jingga terbelalak mengedip-mengedipkan matanya lalu menoleh ke arah Jirex yang langsung menunjuk Ratu Xin Li Wei yang melayang terbang di depan Jingga yang seketika langsung membalikkan wajahnya menatap sang Ratu yang diam saja memperhatikannya.
"Ada apa, Nyonya?"
Jingga tak kalah serius menatapnya. Ia mengetahui sesuatu yang sangat serius dari sorot mata sang Ratu.
"Aku mendapatkan laporan dari mata-mataku, Bao Yuze. Soal pergerakan iblis bawah tanah yang akan muncul ke permukaan alam iblis," papar sang Ratu mengabarkannya.
"Iblis seperti apa mereka? Kenapa aku baru mendengarnya sekarang? lontar tanya Jingga merasa asing mendengarnya.
"Mereka memang tidak pernah menjadi perbincangan hangat di alam iblis. Namun, bukan berarti mereka tidak nyata keberadaannya. Kami menyebutnya sebagai iblis senyap," jawab Ratu Xin Li Wei lalu menatap tajam Jingga.
"Apa maksud tatapanmu itu, Nyonya?"
"Ti-tidak, i-ini sangat mengerikan. Mereka adalah wabah paling mengerikan di alam iblis." gagap sang Ratu mengingat cerita tentang dampak kemunculan iblis senyap.
Jingga sedikit kesal mendengar ucapan Ratu Xin Li Wei yang tidak utuh menjelaskannya. Akan tetapi, ia masih sabar untuk mendengarkan lanjutan ucapan yang masih tertahan di bibir merah pucat sang Ratu.
"Yang Mulia, mereka tidak bisa dihancurkan kecuali ... adanya matahari di alam iblis." Sambung Ratu Xin Li Wei memberitahunya.
"Betulkah begitu?"
"Betul, Yang Mulia." Jawab Ratu Xin Li Wei meyakinkannya.
BRRR! GRRR!
Tiba-tiba saja terjadi gempa besar yang menggoyangkan istana iblis. Para iblis yang sedang menikmati arak darah langsung melayang terbang menghindari getaran keras dari tanah yang dipijak.
GROOARR!
Deruan keras terdengar dari bawah tanah yang menyeruak ke permukaan, di mana mulai terjadi retakan besar yang menganga pada lapisan tanah di halaman istana.
Jingga memindai ke dalamnya dan terkejut melihat makhluk besar dan panjang sedang meliuk-liuk di dalam tanah seperti sedang mengebor tiap lapisan dinding tanah yang langsung menciptakan lorong besar di sepanjang terobosan tubuh sang monster iblis yang disebut sebagai iblis senyap tersebut.
"Jirex! Zilla!" panggil Jingga kepada keduanya.
"Kami siap, Kakak!" sahut keduanya begitu bersemangat untuk menyerang makhluk besar yang terus meliuk-liuk di dalam tanah.
GROOARR!
Deruan keras lainnya terdengar sangat jelas dari tempat yang berbeda di arah belakang ketiganya. Jingga, Jirex dan Zilla langsung berbalik untuk melihatnya. Namun apa yang mereka lihat sangat sulit untuk dipercaya. Ketiganya begitu terpana akan pemandangan mengerikan di depannya.