
Jingga melebarkan bibir ikut bergembira dengan kedatangan sang dewa matahari yang ia yakini sosok itu adalah Taiyangshen, mantan suami dari istrinya, Xian Hou.
“Akhirnya, ada lawan yang bisa kuhadapi,” gumam Jingga bersemangat.
Di balik semangatnya Jingga, ada sosok yang begitu mencemaskan keselamatannya. Sosok itu tak lain adalah Xian Hou, istrinya.
“Sayang, kalau ada kesempatan untuk lari, maka berlarilah bersama kedua adik kita,” ucap Xian Hou mengingatkannya.
Jingga tertegun mendengarnya. Ia berdiam diri beberapa hela napas sebelum membalas perkataan sang istri.
“Yang benar saja? Kenapa harus melarikan diri? Tujuanku datang ke alam dewa hanya untuk membunuhnya. Ada apa denganmu, istriku?” tanya Jingga.
Xian Hou sedikit tidak menduga akan mendapat reaksi negatif dari suaminya.
“Maaf, Sayang. Bukan maksudku meragukan kemampuanmu. Akan tetapi, Dewa Matahari bukanlah lawan yang mudah dihadapi. Aku hanya takut kehilanganmu,” jawab Xian Hou.
“Itu artinya, kau meragukan kemampuanku. Sudahlah, kau tidak perlu mengkhawatirkanku, kecuali ada sesuatu yang lain yang tidak aku ketahui.”
Jleb!
Seakan tertusuk duri, Xian Hou mulai bertanya-tanya maksud dari perkataan suaminya. Namun, ia tidak ingin mengomentarinya. Karena hal itu selalu ia rahasiakan dari Jingga.
“Baiklah, tapi kamu harus berhati-hati melawannya. Ingat satu hal, kamu harus hidup bagaimanapun caranya. Aku menunggumu di sini,” timpal Xian Hou lalu mengakhiri komunikasi.
Seringai dingin terukir dari wajah Jingga.
“Aku pasti hidup, tapi aku tidak yakin dia bisa hidup, ha-ha,” kekeh Jingga menanggapi.
Langit alam dewa semakin benderang, matahari semakin membesar seolah mendekat ke daratan. Suhu dingin pun berubah menjadi panas yang cukup menyengat.
Sang Dewa Matahari menampakkan diri di tengah lingkaran matahari. Para jenderal bersama para cultivator mengelu-elukan kedatangannya. Hal itu membuat pertarungan menjadi berhenti. Bai Niu yang sedang bertarung ditinggalkan oleh Dewi Es Bingji yang berkelebat ke arah kerumunan para cultivator. Ia lalu turun menghampiri Jingga. Begitu pun dengan Qianmei yang memilih untuk menghampiri Jingga.
"Kak, aura dewa itu sangat menekan. Apakah Kakak tahu berada di mana tingkatan kultivasinya?" tanya Qianmei begitu sampai di dekat Jingga dan Bai Niu.
Jingga menolehnya lalu menjawab, "Dia berada di ranah puncak kultivasi, mungkin saja dia sudah mencapai ranah Supreme Emperor Platinum. Namun, bukan itu yang menjadi masalah untukku. Aku bisa menghadapinya."
Bai Niu dan Qianmei mengernyitkan wajah tidak memahaminya.
"Kak, lalu apa masalahnya?" tanya Bai Niu.
Jingga terkekeh pelan lalu menggeleng-gelengkan kepala.
"Pastinya alam dewa akan hancur," jawab Jingga sekenanya.
Bai Niu dan Qianmei saling melirik. Tak lama kemudian, keduanya terkekeh mengiyakan ucapan Jingga yang masuk akal.
"Sudah cukup tertawanya, lihatlah ke atas!" potong Jingga.
Bai Niu dan Qianmei langsung mendongakkan wajah memperhatikan Dewa Matahari yang kini berjarak 500 tombak dari hamparan rerumputan.
Para cultivator berlutut menyambutnya. Sosok dewa matahari datang dengan kemuliaan yang memancar dari setiap serat tubuhnya. Seperti sinar matahari yang memenuhi langit, kehadirannya memancarkan cahaya yang memukau dan kehangatan yang tak terhingga.
"Kau tidak begitu tampan, kenapa mereka semua begitu terpesona sampai harus berlutut kepadamu?" tanya Bai Niu merasa heran dengan semua orang.
Siu! Duar!
Seberkas energi dari tatapan mata sang dewa matahari menyerang Bai Niu yang bertanya.
Namun, Jingga dengan cepat menangkisnya.
Merah padam wajah Bai Niu mendapatkan serangan karena pertanyaannya.
"Begitukah caramu menjawab pertanyaan? Tidak sopan!" kesal Bai Niu lalu menghentakkan kaki.
Dewa Matahari mengabaikannya, ia mengalihkan pandangan ke arah Jingga dengan tatapan sedikit serius mengingat sesuatu yang sekilas muncul di benaknya.
"Kenapa aku merasa tidak asing melihatnya?" pikir sang dewa lalu mengukir senyum.
"Selamat datang di duniaku, Iblis Muda," ucap Dewa Matahari menyapa Jingga di bawahnya.
Dewa Matahari tersenyum simpul menanggapinya lalu berkata,
"Kau unik juga, Iblis Muda, …, sejujurnya, aku sedikit kecewa karena harapanku akan bertemu dengan musuh lamaku, Yuangu Mowang tidak tercapai. Namun, aku lebih kecewa karena yang kulihat hanya sosok lemah sepertimu."
Jingga menyeringai dingin lalu tertawa ringan.
"Aku sedikit terharu kau mengenal iblis jelek itu. Sayangnya, kau tidak akan pernah bertemu lagi dengannya, karena akulah yang menggantikan dirinya menjadi penguasa alam iblis," ujarnya dengan ekspresi angkuh.
"Ha-ha. Kau menunjukkan sifat aslimu sebagai bangsa terkutuk. Meskipun lemah, tetap harus sombong. Aku sangat menyukainya," balas Dewa Matahari mencemoohnya.
Bai Niu dan Qianmei begitu geram mendengar perkataan menghina dari Dewa Matahari. Biarpun begitu, mereka tahu bahwasanya Jingga pasti akan membungkam mulut sang dewa.
"Aku tidak yakin kedatanganmu ke sini hanya untuk berbincang denganku. Apa ada hal lain yang sedang kautunggu?" kata Jingga menyelidik.
"Kau cukup pintar juga. Betul dugaanmu, aku memang sedang menunggu Kaisar Langit dan para dewa."
"Kenapa harus menunggunya? Apa kau begitu takut kepadaku, sampai harus menunggu Kaisar Langit?"
Kali ini giliran para cultivator yang tersinggung mendengarnya. Sama seperti kedua adik Jingga, mereka yakin kalau sang dewa agung akan membungkam mulut Jingga.
Beberapa saat kemudian dari arah selatan, Kaisar Langit datang bersama ribuan prajurit inti dan para pejabat istana.
Tak hanya mereka saja yang datang, dari arah berlawanan terdengar gemuruh yang semakin membesar, lalu muncul ribuan beast monster dari berbagai ras datang dari kejauhan.
Qianmei dan Bai Niu begitu bersemangat melihat kedatangan ribuan pasukan dari berbagai ras. Begitu pun dengan Jingga yang memang telah menantikannya.
"Wow, apakah kalian ingin mengosongkan alam dewa dengan mengantarkan ribuan nyawa kepadaku?" tanya Jingga.
"Kau memang iblis sejati, masih saja bisa menyombongkan diri. Meskipun begitu, aku hanya ingin memastikan, apakah dirimu pantas menghadapiku?" kata Dewa Matahari mengungkapkan maksud.
"Ya ampun, kalian sampai rela mengantarkan ribuan nyawa hanya untuk memastikan kelayakanku. Bukankah ini kebodohan? Tapi baiklah, aku juga memiliki pasukan. Tapi kalian tenang saja, aku tidak akan mengajak bangsa iblis untuk membinasakan kalian semua."
Jingga lalu memanggil Jirex dan pasukannya untuk keluar dari alam Jiwa. Tak lama kemudian, Jirex muncul bersama ratusan beast beruang hitam.
Para cultivator yang melihatnya langsung terpingkal-pingkal dengan jumlah beast monster yang tidak seberapa dibandingkan dengan jumlah pasukan istana Langit dan juga beast monster di bawah kekuasaan Ratu Kalandiva.
Jingga tidak memedulikan tertawaan dari para cultivator yang merendahkan pasukannya.
"Kak, apakah ini pesta?" tanya Jirex setelah melihat ribuan beast monster yang berkerumun dari arah utara.
"Iya, ini pesta besar. Pastikan perutmu dan perut para beast beruang hitam sedang lapar. Karena sangat disayangkan kalau banyak makanan yang terbuang," jawab Jingga meyakinkannya.
Jirex mengangguk dan sekilas tersenyum simpul. Jingga begitu terpana melihat senyuman dari gadis monsternya itu. Suatu hal yang langka dilihatnya.
“Jirex,” panggil Jingga.
“Iya, Kak,” sahut Jirex sedikit heran.
“Kamu cantik,” puji Jingga.
Jirex mengerutkan dahi tidak memahaminya. Ia berpikir, apakah perkataan Jingga merupakan suatu perintah untuknya? Ia terus menatap Jingga dengan ekspresi datar. Jingga yang memahami ketidaktahuan Jirex hanya tersenyum saja lalu mengisyaratkan kepadanya untuk bersiap menghadapi peperangan yang mungkin akan terjadi.
Di langit, Kaisar Langit beserta para pejabatnya melayang terbang menghampiri dewa matahari. Begitu pun dengan Ratu Kalandiva yang membawa beberapa anak buahnya menghampiri sang dewa matahari. Mereka lalu berdiskusi untuk merencanakan sesuatu dalam menghadapi Jingga dan para pengikutnya.
“Kak, kenapa mereka harus mengobrol untuk menghadapi kita? Padahal tinggal serang saja dan kita pun pasti menyambutnya dengan senang hati,” tanya Bai Niu yang merasa heran dengan perbincangan para dewa di atasnya.
“Ssst, diamlah! Makanan besar kembali datang dari dua arah yang lainnya,” kata Jingga memintanya.
Bai Niu memfokuskan pendengarannya. Benar saja apa yang dikatakan oleh Jingga. Gemuruh langkah kaki kembali terdengar dari dua arah yang berlawanan. Tak lama kemudian, muncul ribuan murid dari berbagai sekte dan klan alam dewa yang ikut bergabung untuk menghadapi Jingga dan para pengikutnya.
"Wow, ribuan sumber daya terhampar di sini!" ucap Bai Niu yang melihat kedatangan mereka merupakan limpahan sumber daya yang bisa diambilnya.
"Kita bisa kaya mendadak, Kak," imbuhnya begitu semangat.
"Aku sudah kaya, aku kan penguasa alam iblis," balas Jingga.
"Asem!" timpal Bai Niu sambil memeletkan lidah.