
Jingga tersenyum simpul membalas tatapannya, ia lalu mengeluarkan belatinya.
Sleb!
"Aaah!" Pekik teriakan pria tua yang terdengar lemah.
Tampak kedua matanya meneteskan air mata, Jingga menusuk telapak tangan kiri pria tua lalu memutarnya.
Pria tua meringis dengan tubuhnya yang gemetar merasakan sakit yang amat menyiksa di tangannya.
"Jangan berpikir aku akan membunuhmu, kau akan kubiarkan hidup dengan cacat atau kau bisa membunuh dirimu sendiri kalau kau mau" ujar Jingga lalu mencabut bilah belati yang tertancap di telapak tangan pria tua.
Ia lalu mengambil tangan kanan pria tua yang tergeletak lemah, pria tua menggelengkan kepala meminta Jingga tidak menusuknya lagi.
"Di- di belakang dinding ada ruang pembuangan mayat" ucap pria tua begitu pelan sambil menunjuknya dengan kedua matanya yang terarah ke dinding.
Jingga mengikuti arah mata pria tua lalu beralih meliriknya kembali.
"Terima kasih, Bang. Aku akan memberikan hadiah yang istimewa buat Abang" ucap Jingga tersenyum jahat.
Sreet!
Jingga menebas leher pria tua dengan cepat. Pria tua pun mati seketika dengan tatapan tajam.
Setelahnya Jingga langsung mendorong dinding tebal yang ditunjukkan oleh pria tua.
Krak!
Dinding terbuka dengan sendirinya, tampak terlihat olehnya puluhan tengkorak manusia yang berserakan, bahkan ada beberapa mayat yang membusuk.
"Bibi Duma" ucap Naray menghampiri tubuh yang terbujur kaku di sudut ruangan.
"Aa" panggil Naray.
Jingga menoleh ke arahnya, ia mengangguk memahami perasaan adiknya.
"Kita tidak bisa membawa tubuhnya, biarkan Bibi Duma berada di sini, nanti orang-orang kota yang akan mengambil jenazahnya" ujar Jingga memutuskan.
Jingga begitu penasaran melihat ruang pembuangan mayat lebih tersembunyi daripada ruang penyimpanan harta jarahan.
Naray berdiri mendekatinya, ia masih belum memahami apa yang Jingga pikirkan.
"Aa, kenapa?" Tanya Naray ingin tahu.
"Ada yang aneh, kenapa mereka lebih menyembunyikan mayat di tempat tersembunyi seperti ini?" Jawab Jingga bertanya balik.
Naray menggenggam dagunya, ia baru menyadari ucapan Jingga sambil memperhatikan sekelilingnya.
"Sepertinya mereka lebih memilih untuk menghilangkan jejak korban daripada harta jarahan" jawab Naray menerkanya.
"Bisa jadi seperti itu, biarlah. Itu bukan urusan kita, sebaiknya kita langsung bergegas ke ibukota" timpal Jingga lalu membawa adiknya keluar dari ruang pembuangan mayat.
"Aa, tunggu! Aku pinjam belatinya" tahan Naray sambil menyodorkan tangannya.
Tanpa berpikir panjang, Jingga langsung menyerahkan sebatang belati pada adiknya.
Naray mengambilnya lalu menghampiri pemuda yang begitu mengenaskan tergeletak menatap keduanya.
Tiba-tiba saja Naray membuka celana pemuda itu lalu memotong tombak kecil si pemuda.
Sret!
Tubuh pemuda mengejang, ia menggeram menahan sakit di bagian bawahnya. Naray langsung memasukkan dengan paksa tombak kecil ke dalam mulut si pemuda.
"Kau tidak pantas memilikinya" ucap Naray terlihat puas.
Jingga yang melihat kekejaman adiknya merasa begitu senang, ia lalu melangkah ke arah kuda-kuda yang berjajar di pojokan ruang utama.
"Aa, pemuda itu langsung mati. Ada dua pria yang masih hidup, apa kita akan membunuhnya?" Tanya Naray menghampiri Jingga lalu menyerahkan kembali belati yang dipinjamnya.
"Biarkan saja, mati syukur, hidup ya beruntung" jawab Jingga lalu menaiki punggung kuda.
"Sebentar, A. Aku ganti pakaian dulu" potong Naray lalu berbalik pergi ke arah tubuh tanpa kepala.
Ia dengan cepat meloloskan pakaian seorang pria lalu memakainya.
Jingga menghampirinya dengan menaiki kuda.
"Neng mau di belakang Aa atau menaiki kuda lainnya?" Tanya Jingga memberinya pilihan.
Naray tidak memikirkannya, ia langsung menaiki punggung kuda di belakang Jingga.
Keduanya keluar pergi meninggalkan markas par bandit, tak berapa lama keduanya tiba kembali di area rawa yang sebelumnya dilalui.
"A, apakah kita bisa melewati rawa?" Tanya Naray.
"Tinggal sepertiganya saja yang belum Aa pijak, sepertinya kedalaman rawa sama saja, hanya sebetis kaki" jawab Jingga lalu kembali melajukan kudanya dengan berjalan pelan.
Sampai juga kuda melewati rawa yang lumayan luas, Jingga mulai mempercepat laju kudanya ke arah ibukota.
Tak tik tuk tik tak tik tuk!
Langkah kuda semakin cepat, hari mulai gelap. Jingga tidak menghentikan langkah kudanya, ia terus saja melaju cepat sampai keluar dari area hutan dalam.
Kini Jingga berada di perkebunan area terluar kota Dame, Jingga mulai memperlambat laju kudanya.
"Tidak nyaman kalau langsung memasuki kota di tengah malam begini, kita beristirahat dulu di kebun orang" kata Jingga menyarankan.
"Iya, A. Badanku sudah pegal, besok pagi saja kita memasuki kota" balas Naray yang daritadi menunggu Jingga mengatakannya.
"Ha ha ha, kasihan Adikku. Oh iya Neng, itu buah apa ya yang besar kuning bertotol hitam?" Kata Jingga menunjuk ke arah buah-buahan yang menggantung di dahan pohon.
"Itu buah nangka, A. Masa tidak tahu" jawab Naray merasa heran.
Jingga cengengesan mendengarnya, ia lalu membelokkan laju kuda masuk ke dalam kebun. Tepat berada di samping pohon, Jingga langsung memanjatnya.
Gedebug!
Buah nangka jatuh dengan keras, Jingga lalu melompat turun dan langsung membelahnya dengan belati, tampak ia melihat isinya yang berwarna kuning lalu memakannya.
"Manis" ucapnya lalu kembali mengambilnya.
Tiga buah nangka yang besar habis dilahap oleh keduanya, walau lengket terkena getah. Jingga dan Naray begitu kenyang menghabiskan buah nangka yang kebetulan telah matang.
Perut yang begah membuat keduanya telentang di bawah pohon nangka, tak lama keduanya terlelap tidur.
Sinar mentari membangunkan keduanya, Jingga tertawa melihat Naray yang belepotan dengan getah yang menempel di mulut adiknya. Naray pun demikian, ia tidak henti-hentinya menertawakan Jingga yang sama seperti dirinya.
Beberapa saat kemudian, keduanya kembali menaiki punggung kuda lalu berlalu pergi ke arah gerbang ibukota.
Sesampainya di gerbang kota, Jingga melirik kiri kanan mencari penjaga kota yang mungkin akan memeriksanya.
"Aa, cari siapa?" Tanya Naray ingin tahu.
"Penjaga kota, tapi sepertinya tidak ada penjagaan di kota ini" jawab Jingga melanjutkan kembali laju kudanya.
Terlihat oleh keduanya suasana kota yang tidak terlalu ramai namun begitu bersahabat. Orang-orang yang menatapnya tersenyum ramah.
Jingga melompat turun dari kudanya, ia lalu berjalam pelan di samping kuda menikmati suasana kota dan keramahan warganya.
"Permisi, Paman. Apakah ada penginapan yang bisa kami singgahi di kota ini?" Tanya Jingga sopan pada seorang pria paruh baya yang berpapasan dengannya.
Pria paruh baya itu memperhatikan kedua muda-mudi yang berbeda dengan kebanyakan orang di pulau Emas.
"Selamat datang di kota Dame, pendekar muda. Hem!Tidak ada penginapan khusus di kota ini, akan tetapi kedua pendekar bisa menginap di kediaman Suhut kota" sapa pria paruh baya lalu menjawabnya.
"Terima kasih, Paman. Lalu, di manakah kediaman Suhut kota yang paman sebutkan tadi?" Lanjut tanya Jingga.
"Lurus saja sampai menemukan dua jalan bercabang, ambil jalan kanan. Kalian bisa langsung melihat kediaman Suhut kota yang paling besar di antara rumah lainnya" jawab pria paruh baya menunjukkan arah.
"Baik, kalau begitu. Kami permisi" timpal Jingga lalu menaiki kembali kudanya.
Kali ini, Naray yang memegang tali kekang kuda. Keduanya pergi dengan berjalan santai menuju arah kediaman Suhut kota.
Tak berapa lama, keduanya tiba di halaman depan kediaman Suhut kota yang terbilang seperti sebuah istana kerajaan.
"Aa, apakah kita akan langsung memasukinya?" Tanya Naray masih ragu.
"Iya, langsung masuk saja, Aa perhatikan tidak ada orang yang berjaga di sekitar halaman rumah. Sepertinya aman" jawab Jingga yang terus memperhatikan lingkungan di sekitarnya.
Naray langsung menghentakkan tali kekang yang digenggamnya.
"Berhenti, Neng" pinta Jingga tiba-tiba.
Naray kembali menarik tali kekang menghentikan laju kuda.
"Ada apa, A?" Tanya Naray heran.
"Ada beberapa kuda yang berjalan ke arah kita, sebaiknya kita tunggu saja" jawab Jingga yang mendengar suara langkah tapal kuda dari kejauhan.