
Qianmei mengetahui arti tatapan sinis Xian Hou kepada dirinya. Ia kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Jingga. Tampak kecemburuan terpancar dari tatapan Xian Hou yang sudah menyadari adanya keinginan dari Qianmei untuk menyingkirkannya sejak dulu. Ia lalu tersenyum simpul untuk menyembunyikan kecemburuannya. Akan tetapi, gestur tubuhnya menunjukkan kegelisahan yang sulit disamarkan.
Berbeda dengan kedua gadis yang berjibaku dalam perasaan. Jingga dan Taiyangshen lebih sulit ditebak oleh siapa pun yang melihatnya. Keduanya terlihat tanpa ekspresi meskipun tatapan keduanya saling tertaut.
“Apa kau akan terus menatapku seperti itu? Atau mungkin dirimu menyukai lelaki sepertiku?” lontar tanya Jingga mengawali perbincangan.
“Cih, aku bukanlah iblis terkutuk sepertimu. Bangsa kami tidak pernah berbuat hal menjijikan seperti ucapanmu itu,” sanggah Taiyangshen begitu geram mendengarnya.
“Begitukah?” kata Jingga dengan ekspresi tidak percaya.
“Apa maksudmu!?” tanya balik Taiyangshen mulai tersulut emosi.
“Aku hanya menanyakan maksud dari tatapanmu kepadaku. Kau menatapku seperti menyukaiku. Maaf saja, aku masih lurus. Huh!” dengus Jingga seraya membuang muka tidak sudi melihat Taiyangshen.
Kesabaran Taiyangshen sudah mencapai puncaknya. Bola matanya memancarkan cahaya yang menyilaukan, mencerminkan kemarahan yang menyala di dalam hatinya. Setiap kata yang keluar dari mulut Jingga menjadi serpihan api yang menusuk kesadarannya, memancing amarah yang semakin membara.
“Sialan, akan kubungkam mulut busukmu itu!” geram Taiyangshen lalu muncul sebuah pedang panjang berwarna keemasan di genggaman tangannya.
Xian Hou sedikit khawatir melihat kemarahan suaminya.
“Jangan bertarung dalam keadaan emosi atau kau akan kalah darinya,” ujar Xian Hou mengingatkannya.
Taiyangshen menoleh ke arah Xian Hou dengan tatapan tajam.
“Aku tidak akan pernah kalah darinya … kau mengkhawatirkanku atau mengkhawatirkan kematiannya?”
Jleb!
Xian Hou terkejut mendengar perkataan Taiyangshen yang menyinggung mantan suaminya. Ia membalas tatapan Taiyangshen dengan dingin.
“Siapa pun yang hidup, dialah suamiku,” tegas Xian Hou.
“Hei, enak saja kau berkata seperti itu!” tegur nyaring Qianmei tidak menerimanya.
Xian Hou mengalihkan pandangan ke arah Qianmei. Ditatapnya Qianmei dengan tatapan penuh kebencian.
“Kau hanyalah seorang putri alam fana yang lemah. Apakah kau pantas menggantikanku menjadi suami Jingga?” kata Xian Hou mengejeknya.
“Ha-ha-ha. Kau sungguh tidak tahu diri, Nona Peri. Kau telah merebut suami orang lalu sekarang kau ingin merebut Kak Jingga dariku. Dasar wanita rendahan!” balas Qianmei mencemoohnya.
“Ha-ha. Aku bisa merebut siapa pun dengan kecantikanku. Siapa yang bisa menolaknya? Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja padanya.”
“Ha-ha-ha. Kau membuatku geli dengan mengungkapkan siapa dirimu sebenarnya. Bahkan, Kakek tua yang terus menatapmu di atas langit pun tidak akan sudi menjadikanmu selirnya.”
Degh!
Pejabat tua terbelalak tak percaya mendengar Qianmei menyinggung dirinya.
“Ba-bagaimana dia bisa tahu aku memperhatikan gadis itu?” gumam si pejabat tua yang terus ditatap oleh Kaisar Langit dan pejabat lainnya.
“A-aku hanya mengagumi kecantikannya, sungguh, aku tidak memiliki maksud lain. Kalian tahu sendiri, gadis itu tidaklah baik. Dia perebut suami orang,” kilahnya membela diri.
Semua orang menggelengkan kepala tidak memercayainya. Sang pejabat tua pun kembali menundukkan wajah karena malu. Nahas, keempat orang di bawah menengadahkan wajah memperhatikannya. Si pejabat tua terperanjat lalu menutup wajah dengan kain pakaiannya.
Qianmei dan Jingga terpingkal-pingkal menertawakannya. Sikap berbeda ditunjukkan oleh Taiyangshen yang langsung menjauhi Xian Hou karena tidak ingin dipermalukan oleh semua orang yang melihatnya. Hal itu membuat Xian Hou naik darah.
“Kalian semua harus mati!” kecam Xian Hou lalu mengeluarkan kemampuannya.
Sebagai seorang peri suci, Xian Hou memiliki kemampuan untuk menyerap energi murni di sekitarnya. Bahkan, ia bisa menyerap energi spiritual dalam jarak seluas satu benua jika ia menginginkannya.
“Memimu, tekan energi dewamu dengan energi iblis. Jangan biarkan dia menyerap energi dewamu!” kata Jingga memintanya.
“Baik, Kak. Aku memahaminya,” sahut Qianmei lalu menekannya.
Apa yang dilakukan oleh Xian Hou membuat alam dewa berguncang keras. Waktu seakan berhenti dan angin tidak lagi berembus.
Kaisar Langit dan beberapa pejabatnya kalang kabut. Mereka lalu melayang turun untuk menghindari jatuh dari ketinggian. Sayangnya, posisi mereka terlalu dekat dengan Xian Hou. Dalam jarak beberapa ratus tombak, Kaisar Langit dan para pejabatnya terjun bebas dari ketinggian dan langsung membentur tanah hingga terjerembab ke dalamnya.
“Aduh, tulang punggungku patah!” ringis Kaisar Langit merasakan nyeri di punggungnya.
Sang kaisar berusaha bangkit dari dalam tanah. Namun, tubuhnya begitu sulit digerakkan.
“Siapa pun, tolong aku!” teriak Kaisar meminta pertolongan.
Tidak ada yang menyahutinya. Para pejabat yang terjatuh semuanya terjerembab dalam kondisi tidak sadarkan diri. Sang Kaisar pun hanya bisa meringis kesakitan di dalam lubang tanah sendirian.
Sementara itu, proses penyerapan energi terus berlangsung. Jingga heran melihat Taiyangshen tidak terpengaruh oleh tarikan energi dari Xian Hou.
“Apa yang membuatnya tidak terpengaruh?” pikir Jingga penuh tanya.
Beberapa waktu kemudian, alam dewa berubah drastis. Tidak ada lagi rerumputan hijau yang terhampar. Kini berubah menjadi lahan tandus yang menggantikan savana hijau. Udara pun menjadi kering. Tidak lagi terasa energi dewa yang biasanya begitu pekat dirasakan.
Namun, bukanlah perubahan drastis dari alam dewa yang menjadi perhatian Jingga. Ia menatap takjub perubahan Xian Hou yang kini berada di ranah Supreme Emperor Kristal.
“Luar biasa!” puji Taiyangshen kepada istrinya.
“Diam kau!” ketus Xian Hou membalasnya.
“Hah!” Xian Hou menatap heran Taiyangshen.
“Buktikan dulu kau bisa membunuh Jingga jika tak ingin lagi ditinggalkan olehku.”
“Ha-ha. Kalian memang pasangan yang serasi,” ujar Jingga menanggapi keributan keduanya.
Keduanya mendelik ke arah Jingga dengan tatapan membunuh.
“O ow, kalian mulai serius,” imbuh Jingga lalu melirik Qianmei di sampingnya.
“Memimu,” panggil Jingga
“Aku sudah siap, Kak,” sahutnya.
Waktu seakan berhenti di tengah arena pertarungan yang dipenuhi oleh ratusan tubuh tak bernyawa dan tak berkepala. Bau amis darah memenuhi udara yang tak lagi mengembuskan angin, menjadikan suasana di padang tandus menjadi sangat mencekam.
Peraduan aura yang menekan menjadi awal pertarungan. Aura dewa dari Taiyangshen dan Xian Hou beradu dengan aura iblis dari Jingga dan Qianmei. Alam dewa pun berguncang, tanah mulai mengalami retakan, dan langit bergemuruh keras, menandakan pertarungan yang terjadi merupakan pertarungan terbesar di alam dewa.
“Bagaimana mungkin kedua iblis itu bisa tak terpengaruh dengan tekanan auraku?” tanya batin Taiyangshen sulit memercayainya, “ini akan menjadi pertarungan seimbang.”
“Ha-ha, kau masih berpikir aku setara denganmu? Bodoh!” kata Jingga kembali memprovokasinya.
“Brengsek, kupastikan akan membuatmu menderita sebelum kematianmu tiba!” balas Taiyangshen lalu menghilang dari tempatnya.
Sring!
Taiyangshen mengayunkan pedang secara vertikal ke tubuh Jingga. Namun, tebasannya hanya mengenai udara kosong. Jingga berputar cepat lalu melayangkan tendangan tepat ke punggung Taiyangshen.
Bug!
“Ah!” jerit Taiyangshen terpelanting sejauh 30 tombak.
Wuzz!
Jingga mengejarnya lalu mengayunkan tinjunya dengan cepat dan presisi ke wajah Taiyangshen. Akan tetapi, Taiyangshen dengan sigap menghindarinya lalu membalasnya dengan tendangan kaki kanan dan krak!
“Ah!” Taiyangshen menjerit keras mendapati betis kaki kanannya dihantam keras oleh pukulan Jingga hingga menembus ke tulang.
Wuzz!
Jingga kemudian melempar Taiyangshen ke langit.
Siu!
Duar! Duar! Duar!
Taiyangshen melemparkan ratusan serangan energi ke bawahnya.
“Aku di belakangmu, Bodoh!” kata Jingga yang telah berada di belakangnya.
Taiyangshen membalikkan badan lalu melesak cepat menyerang Jingga dengan tinjunya yang terkepal.
Lagi-lagi, ia hanya memukul udara kosong.
“Sialan, kau terus mempermainkanku!” rutuknya lalu berputar.
“Ke mana kau, Iblis?” Taiyangshen geram tidak menemukan keberadaan Jingga di dekatnya.
“Aku di atasmu, Bodoh!” kata Jingga sambil melayangkan pukulan dua tangan yang terkepal tepat di kepala Taiyangshen.
Bug! Wuzz!
Duar!
Taiyangshen jatuh menukik dengan sangat cepat hingga membentuk kawah besar. Jingga menyusulnya lalu menginjak tubuh Taiyangshen. Namun, sang dewa matahari berhasil menghindarinya.
“Sialan, aku tidak selemah itu!” keluh Taiyangshen lalu mengeluarkan pedang matahari.
Krak!
“Ah!” jerit Taiyangshen mendapati lengan kanannya hancur.
Jingga menarik pedang matahari dengan rantai energi lalu melemparkannya jauh entah ke mana.
“Belum waktunya kita bertarung dengan senjata,” ujar Jingga.
Taiyangshen memulihkan kembali lengannya lalu berkata, “Baiklah, akan kuladeni dengan tangan kos–”
Dug!
“Ah!”
Belum selesai ucapannya, Taiyangshen harus kembali terpelanting jauh setelah terkena tinju yang diayunkan oleh Jingga.
Kesal karena terus menjadi samsak hidup. Taiyangshen mulai meningkatkan kecepatannya untuk menghindari pukulan dan tendangan yang dilayangkan oleh Jingga.