
Jingga kembali ke penginapan setelah seharian memancing ikan di jalur rahasia gurun pasir.
"Apa aku harus pergi makan lagi?, Tidak! nanti makananku cepat habis dan mereka akan mencurigainya. Sebaiknya aku menunggu kabar Naninu dari sini" gumamnya lalu bermeditasi di dalam kamarnya.
Bai Niu terlihat begitu telaten dalam merawat Patriark Ming Kong yang terbaring lemah karena sakit. Keberadaannya juga menjadi perhatian khusus salah seorang pemuda klan Ming yang terus mendekatinya.
"Qui'er, apakah kau tahu, akulah yang meminta kakak perempuanku untuk menerimamu bekerja di sini, kau begitu cantik, sangat disayangkan kalau kau hanya menjadi perawat kakek tua yang sebentar lagi menjadi pupuk tanah itu, maukah kau menjadi istriku? Kau tidak perlu lagi bekerja, kehidupanmu akan jauh meningkat dari dirimu yang sekarang" Tanya Ming Li begitu yakin mendapatkan wanita yang dianggapnya miskin itu bisa menerima hasratnya.
Bai Niu tersenyum lembut mendengarnya lalu berkata,
"Kau tahu aku baru bekerja di sini, bisakah kau tidak menggangguku tuan Li"
"Aku akan menunggu jawabanmu, semakin cepat kau menjawabnya, semakin cepat juga kehidupanmu berubah" timpal Ming Li lalu pergi meninggalkannya.
Bai Niu menghembuskan napas lega setelah kepergian tuan muda klan Ming.
"Kak, bagaimana?" Tanya Bai Niu dalam pikirannya.
"Terus saja seperti itu, buat dia terus kesal karena penolakanmu, nanti muncul sifat aslinya, kau punya pilihan untuk memanfaatkannya" sahut Jingga melihat kemajuan adiknya.
Klan Chun
Seorang nenek yang menjadi patriark klan terlihat begitu bahagia menatap semua orang yang merupakan keluarga inti klan Chun berada dalam satu meja yang sama.
"Sudah bertahun-tahun kita bekerja keras untuk sampai ke tahap ini, sekarang kita berada di tahap terakhir menuju kejayaan klan kita yang akan memimpin sebuah kekaisaran ha ha ha" ujar patriark Chun An dengan tawanya yang melengking disambut tepuk tangan meriah dari semua anggota klan Chun.
Dari semua anggota klan Chun yang bergembira, hanya satu orang saja yang diam tidak berekspresi, ia adalah Chun Zhia yang memendam kekecewaan kepada klan dari pihak ibunya yang sampai mengorbankan ayah dan kakaknya untuk mencapai ambisi klan menguasai istana.
"Tapi jangan terlalu senang, pencapaian kita memang sudah berada di puncak, tapi kita belum dikatakan pemenangnya" ucap salah seorang tetua klan membuyarkan sorak sorai semuanya.
Patriark klan langsung menyipitkan matanya yang sudah sipit, ia begitu tidak senang dengan ucapan salah satu tetua klan.
"Apa maksudmu Chun Chen?, Jangan katakan kau ingin menjadi seorang Kaisar sebelum waktunya, aku akan menjadi satu-satunya seorang kaisar wanita di benua Matahari ini ha ha ha" tanya Patriark Chun An masih dengan tawanya yang melengking seperti anak kucing yang terinjak ekornya.
"Mata-mata kita di istana melaporkan kepadaku, Pangeran Fei Huang pergi menuju kekaisaran Xiao, kita tidak tahu apa tujuannya tapi aku curiga ada seseorang yang membocorkan rencana kita" kilah Chun Chen membuat semua anggota klan saling mencurigai.
"Ha ha ha, bisa saja itu dirimu sendiri, kau sengaja melemparkan kepada kami hanya untuk membuat kami saling mencurigai, mengakulah Chun Chen!" Potong Chun Chou menunjuknya langsung.
Semua anggota klan langsung melirik ke arah Chun Chen dengan tatapan tajam.
Merasa tersudutkan, Chun Chen langsung menatap Chun Chao dengan sorot mata ingin membunuhnya, namun menjadi salah seorang pejabat penting istana menahannya untuk menyerang Chun Chao yang berakibat dirinya dihapus dari anggota keluarga klan Chun
"Apakah kalian memiliki ide untuk memastikannya?" Tanya patriak klan Chun melirik semua orang.
"Maaf Ibu, bagaimana kalau kita mengirim Chun Zhia untuk mendekati Pangeran Fei Huang" saran Chun Ning mengingat keberhasilannya.
"Tidak, aku tidak akan melakukannya, tidakkah kalian merasa cukup mengorbankan ayah dan kakakku?" Kesal Chun Zhia menolak mentah-mentah saran ibunya.
"Cukup Zhia'er!, ibumu hanya menyarankan saja, tapi menurutku cara itu sudah tidak bisa dipakai karena pangeran Fei Huang sudah tidak penting lagi, kita bisa menghukumnya setelah berhasil mengkudeta kekaisaran." Potong Chun An menghentikan keributan keduanya.
"Ha ha ha, dasar wanita gila, kau ingin menjadikan puterimu sendiri seperti seorang wanita rendahan sepertimu, kau Chun Ning, dirimu sama sekali tidak layak berada di istana, kau hanya akan menjadi aib kekaisaran karena perselingkuhanmu dengan klan Zhing waktu dulu" ujar Chun Chao yang selalu menjadi biang keributan di klan Chun.
"Apa kau bilang?" Geram Chun Ning lalu menghampirinya untuk menamparnya.
"Berhenti!" Teriak patriark Chun An langsung melemparkan tongkat naganya ke arah Chun Ning yang langsung mengelak menghindarinya.
Chun Ning langsung kembali ke tempatnya dengan sumpah serapah yang dialamatkannya kepada Chun Chao si biang kerok.
"Baik Patriark" sahut semuanya lalu membubarkan diri.
Kediaman klan Ming
Beberapa hari berikutnya Bai Niu kembali melaporkan informasi kepada Jingga.
"Kakak, besok aku akan ikut menghadiri undangan pertemuan dengan para bangsawan di kediaman klan Chun"
"Informasi yang bagus Naninu, lalu bagaimana dengan tuan muda klan Ming?" Sahut Jingga menanyakan kemajuannya.
"Ya, pemuda itu sekarang sedang depresi karena upayanya menjadikanku sebagai istrinya tidak disetujui oleh patriark Ming Kong, Kakak juga harus tahu kalau tua bangka itu juga menginginkan diriku menjadi istrinya"
"Ha ha ha, kau pintar Naninu, terus kabari aku"
"Bai Kak" jawab Bai Niu lalu kembali menyuapi kakek tua patriark klan Ming.
Istana kekaisaran Fei
Pangeran Fei Huang bersama Kaisar Fei Xing berjalan menuju ruang rahasia kekaisaran.
"Ayah, Kaisar Xiao Jinai menyetujui pengiriman bantuan pasukan tempur kekaisaran Xiao, namun Kaisar Xiao Jinai meminta kita untuk tidak menyerang jalur rahasia gurun pasir, menurutnya dengan keberadaan pasukan tempur kekaisaran Xiao yang bergabung dengan prajurit kekaisaran kita akan memberikan tekanan langsung kepada para pemberontak, kita diberikan kekuasaan waktu memanfaatkannya dan juga semua kebutuhan logistik akan dibebankan langsung kepada kekaisaran Xiao" ujar Pangeran Fei Huang menjabarkan.
Kaisar Fei Xing begitu semringah mendengarnya, ia begitu mengagumi kebijaksanaan kaisar Xiao Jinai sebagai sahabatnya yang selalu berpikir cermat.
"Baiklah, kau bisa atur semua keperluannya dan kau bisa tempatkan semua pasukan tempur di danau Lanhua" ucapnya memberikan saran.
"Baik, Ayah" sahut Pangeran Fei Huang lalu pergi.
Kediaman Klan Chun
Hari pertemuan pun tiba dilaksanakan oleh klan Chun yang menjadi pimpinan aliansi para bangsawan, bertempat di aula klan. Acara pertemuan berjalan dengan alot karena perbedaan pandangan dari beberapa klan yang menghadiri pertemuan.
Tidak ingin pertemuan yang berlangsung tidak membuahkan hasil, Patriark Klan Chun berinisiatif untuk membahasnya hanya bersama para patriarki lainnya.
Berada di dalam ruang sempit yang hanya bisa menampung sebelas orang, Patriark Klan Chun kembali memimpin pertemuan dengan para patriak bangsawan lainnya, namun sorot matanya tertuju pada seorang wanita cantik yang berdiri di belakang patriark Ming.
"Kau siapa?, Kau itu tidak diajak" tanyanya dengan wajah tidak enak dipandang mengusirnya dengan lambaian tangan.
Patriark Klan Ming begitu emosi mendengarnya.
"Dia adalah perawatku, kau lihatlah aku tidak bisa berjalan tanpa bantuannya, kau mengusirnya berarti kau mengusirku" balas Ming Kong lalu meminta Bai Niu membawanya keluar.
"Tunggu!" Pinta Chun An menghentikannya.
"Bisakah kau menjamin wanita itu bisa menjaga rahasia kita?" Tanya Chun An begitu waspada.
"Aku yang menjaminnya sendiri, ia selalu bersamaku setiap harinya, aku memastikan itu" jawab Ming Kong yang pipinya terus saja dieluskan ke tangan Bai Niu yang selalu sabar dengan perilaku manja kakek tua bangka yang dirawatnya.
Pertemuan antar patriarki itu dimulai dan diakhiri dengan beberapa kesepakatan, salah satunya adalah penyerangan ke kota Lanhua.
Bai Niu lalu melaporkan semuanya kepada Jingga.
"Mereka sudah tidak sabar untuk menggulingkan keluarga istana" gumamnya menyikapi kabar dari Bai Niu.