Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Kematian Yang Indah


Bola kecil itu semakin membesar dengan begitu cepat, cahayanya pun semakin menyilaukan. Bahkan Jingga mulai merasakan panas di kulitnya.


"Aneh, kenapa api semesta tidak bisa meredamnya?" Tanya pikirnya.


Jingga lalu memasuki alam jiwanya, namun ia terpental keluar.


"Apa yang terjadi?" Gumamnya merasa heran.


Kulitnya mulai mengering, Jingga tampak begitu kebingungan. Ia langsung saja melesat keluar arena. Lagi-lagi ia terpental ke tengah arena yang begitu panas.


"Istriku" panggil Jingga.


Tidak ada jawaban dari istrinya, komunikasi terputus tiba-tiba. Ia bahkan tidak bisa berbicara dengan Jirex di alam jiwanya.


Hawa panas semakin menyengat, Jingga mencoba mengakses mengakses ingatan Yuangu Mowang di alam pikirnya. Sama saja, ia tidak memasukinya.


Jingga mencoba untuk tetap tenang, dalam posisinya yang melayang di tengah arena. Ia terus berpikir dengan keras mencari jalan keluar dari sengatan cahaya.


"Jianhuimie Yuzhou"


Jingga mengalirkan energi api semesta ke bilah pedangnya lalu melesat menebaskan bola cahaya yang ukurannya sudah sebesar bukit.


Wuzz!


Pedangnya bergetar keras tidak dapat menjangkaunya. Aura iblisnya terus memancar menekan sinar cahaya, namun tidak berdampak apa pun.


Jingga kembali memasukkan pedangnya, ia kemudian menciptakan bola api transparan dari telapak tangannya dengan merentangkannya ke atas.


Bola api yang bersumber dari api semesta terus membesar seiring waktu. Akan tetapi kondisi Jingga semakin tidak baik, kulitnya mulai mengalami keretakan. Jingga merasakan sakit yang teramat di seluruh tubuhnya.


Sisa-sisa kain yang dikenakannya pun telah habis terbakar. Ia kini bertubuh polos tanpa sehelai benang pun. Bahkan bola matanya berubah menjadi putih pucat karena harus menahan terik cahaya yang menyilaukan. Ia seperti menghadapi matahari dalam jarak yang begitu dekat.


Tak sampai di situ, kedua mata Jingga sekarang tidak lagi berfungsi, ia mengalami kebutaan. Satu persatu panca indera di tubuhnya mengalami disfungsi. Jingga bahkan tidak tahu sudah sebesar apa bola api semestanya terbentuk. Ia hanya mengandalkan nalurinya untuk merasakan ukuran bola api semesta yang terus membesar.


Ia terus mengalirkan energinya dengan begitu sabar. Rasa sakit kini diabaikannya, suara dari gerahamnya yang beradu terus terdengar.


Jingga lalu bersiap untuk melemparkan bola api semesta ke arah bola inti api yang terus menyiksanya.


"Hiaaaat!" Pekiknya begitu lantang.


Wuzz!


Boom!


Ledakan sangat besar di arena terjadi dari peraduan kedua bola energi. Naas bagi Jingga, gelombang energi yang memiliki kecepatan cahaya terus menyeruak dengan cepat ke seluruh arena pertarungan. Jingga yang begitu dekat jaraknya harus merasakan dampak peraduan dua energi api terkuat di alam semesta.


Tubuhnya hancur berkeping-keping, Jingga mati dalam pertarungan. Kobaran api seperti sebuah badai terus menyala membakar habis sisa-sisa tubuh Jingga.


Setelah kobaran api menyusut, pria tua langsung melesat terbang ke tengah arena. Ia terlihat begitu puas dengan hasilnya, namun ia mendadak diam seketika menyadari adanya sesuatu yang janggal.


"Kenapa aku tidak menemukan jiwanya? Tidak mungkin kultivator iblis yang berada di ranah Supreme Emperor hancur jiwanya terkena ledakan" Gumam pria tua mengerutkan kening.


Jingga keluar dari alam jiwanya, ia menatap pria tua dengan seringainya yang dingin.


"Kau, bagaimana bisa? Ini tidak mungkin" Tanya pria tua tidak habis pikir.


Ketika Jingga memasuki alam jiwanya menyusul pria tua. ia yang sebelumnya tidak tahu bakal bisa memasuki alam jiwanya terbesit sebuah ide untuk mempelajari kemampuan pria tua yang pada pertarungan pertamanya jauh lebih unggul dari dirinya. Ia kemudian membuat duplikat dirinya dan mengendalikannya dari alam jiwa.


Beruntung ia berpikir cermat akan kekuatan musuh yang dihadapinya, ia bisa mengantisipasi kekalahannya. Sekarang Jingga sudah bisa memperhitungkan kekuatan musuhnya.


"Ha ha ha, satu hal yang Paman lupakan, aku adalah seorang iblis yang memiliki sifat licik dan penuh intrik. Seharusnya Paman tidak perlu menanyakan hal itu kepadaku. Sekarang bersiaplah! Pertarungan sesungguhnya akan kita mulai" jawab Jingga dengan penuh percaya diri.


Pria tua begitu senang mendengarnya, ia yang sudah mengalahkannya walau hanya duplikatnya saja merasa akan lebih mudah membunuh pemuda iblis di depannya.


"Kau sudah merasakan kematian yang indah, jadi kau adalah iblis pertama yang akan merasakan kematian yang indah untuk kedua kalinya. Aku ucapkan selamat atas pencapaianmu" balas pria tua begitu yakin.


"Simpan dulu ucapanmu itu, Paman. Di akhir pertarungan, kita akan tahu siapa yang memberikan ucapan selamat. Mari, Paman. Kita mulai" timpal Jingga lalu melayang mundur.


Jingga mengalirkan api kematian di seluruh tubuhnya, ia kini terlihat mirip seperti adiknya Bai Niu yang bertransformasi menjadi dewi Petir. Tampak kobaran api hitam yang memiliki kilatan energi berwarna perak menyelimuti tubuhnya.


Pria tua menyeringai mengenali jenis api yang ditunjukkan oleh Jingga. Ia lalu menghilang dan membuat perisai iblis menutupi arena, bahkan menutupi alam jiwa Jingga.


Jingga yang sudah mengetahuinya tidak mempedulikannya, kemampuan api kematian cukup berguna melindungi tubuhnya dari dampak kehancuran inti api milik pria tua dan juga sebagai upaya untuk membuat pria tua tidak mencurigainya akan sesuatu yang sudah direncanakan dengan matang olehnya.


Seperti yang terjadi sebelumnya, bola api kecil melayang di tengah arena.


Jingga yang melihatnya langsung tersenyum senang, ia lalu mulai menjalankan aksinya.


"Shufu Cuojue"


Muncul bola api kecil dari tangannya, pria tua yang bersembunyi di luar arena sedikit terkejut melihatnya. Namun ia yakin bola api yang dikeluarkan Jingga bukanlah berasal dari inti api miliknya. Ia lalu mempercepat menaikkan ukurannya.


Bola api milik Jingga pun semakin cepat membesar, Jingga bahkan terpana melihatnya. Ia hanya diam saja memperhatikannya sambil terus melayang mundur ke pojokan arena yang tertutup oleh perisai iblis pria tua.


Dua bola api terus membesar hingga sebesar bukit, bola api milik Jingga bahkan berukuran sebesar gunung. Sontak saja kekuatannya melebihi bola api milik pria tua.


"Bagaimana mungkin bisa begini? Mana mungkin pemuda iblis itu bisa memiliki inti api? Apa yang sebenarnya terjadi?" Lontaran pertanyaan meluap di dalam pikirannya.


Pria tua terbelalak melihatnya, ia begitu sulit mempercayai apa yang dilihatnya sendiri.


Ia lalu memasuki arena pertarungan untuk memastikannya, Jingga yang melihatnya langsung melubangi perisai iblis di belakangnya dan keluar meninggalkan arena.


Jingga bisa merobeknya karena menggunakan sihir klan Xuenong, sehingga semua kemampuan pria tua yang pernah dilihatnya bisa ia gunakan.


Jingga lalu melapisinya dengan perisai iblis dari energi api semesta lalu mengalirkan energi api kematian ke dalamnya untuk melemahkan energi iblis pria tua yang berada di dalam.


Pria tua terus mendekati bola api milik Jingga yang menutupi sepertiga arena pertarungan. Ia kembali terkejut setelah memastikan bola api yang diperiksanya benar-benar dari inti api miliknya.


"Sialan! Dia menggunakan sihir klan Xuenong" rutuknya baru menyadari.


Pria tua langsung melesat meninggalkan arena, ia malah terlempar balik ke dalamnya. Wajahnya tampak begitu panik, energi iblisnya menghilang dari tubuhnya. Ia terlempar jatuh ke perisainya sendiri.


Jingga yang bersembunyi di luar arena begitu senang dengan rencananya yang berjalan mulus. Ia lalu bersiap untuk menarik jiwa iblis pria tua.