
Setelah kepergian bibi Duma, Jingga merasakan adanya kejanggalan pada diri bibi Duma yang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Apa yang kau sembunyikan dariku, Bibi?" Gumam Jingga menyeringai.
Jingga lalu membaringkan badannya untuk beristirahat sambil menatap langit-langit rumah bibi Duma. Tak lama kemudian, ia terlelap tidur.
...Bukit Gemilang...
Bibi Duma tidak pergi ke sawah, ia langsung berkelebat ke atas bukit Gemilang lokasi klan Serigala pulau Intan untuk melaporkan kedua remaja yang beristirahat di rumahnya.
"Informasi apa yang inginkau sampaikan padaku, Duma?" Tanya pria tua bercodet.
"Aku mengamankan dua pendekar muda, mereka mengaku berasal dari kampung Sirintang, akan tetapi dari wajah keduanya seperti berasal dari pulau seberang. Mungkin saja keduanya adalah mata-mata dari ibukota Batuputih" ujar Duma memberitahunya.
"Ha ha ha, kau ini bagaimana? Katanya mereka dari pulau seberang, bagaimana mungkin keduanya menjadi mata-mata ibukota?" Tanya pria tua terkekeh mendengarnya.
"Hem!" Deham Duma menanggapinya.
Ia terlihat tidak senang mendengar kekehan ketua klan Serigala pulau Intan yang mengejeknya.
"Bawa keduanya kemari, pastikan keduanya tidak berpikir buruk tentang kita" perintah ketua klan.
Tanpa menjawab, Duma langsung berbalik keluar ruangan utama klan Serigala pulau Intan yang merupakan rumah ketua klan.
Senja hari pun tiba dan di waktu cuaca yang mulai suram itu, Duma sampai di depan pintu rumahnya.
Kreek!
Derit pintu kayu terbuka, ia melihat dua remaja yang masih tertidur pulas di dalamnya.
Duma bergegas ke arah dapur lalu memasakkan sesuatu untuk kedua tamunya.
Asap dari masakan mulai menyeruak ke ruangan tengah rumahnya.
"Wangi yang enak" ucap Naray yang langsung terbangun.
Hidungnya terus saja mendengus menciumi bau masakan yang dibuat oleh Duma.
"Eh, di mana aku?" Imbuhnya sedikit terkejut. Ia baru menyadari dirinya berada di dalam rumah.
Naray langsung melirik Jingga yang tertidur di sampingnya.
"Aa, bangun A. Kita di mana sekarang?" Bisik Naray.
Jingga membuka matanya perlahan dan dengan malas ia memaksakan diri bangun terduduk dari pembaringannya.
"Kita di rumah Bibi Duma, aku sengaja memangkumu sampai ke desa Lembayung dan bertemu Bibi Duma yang menawarkan rumahnya untuk kita singgahi" jawab Jingga lalu mencubit kedua pipi gemuk Naray di depannya.
"Aduh, sakit!" Ringis Naray menepis kedua tangan Jingga yang kekar dari pipinya.
Tampak pipi Naray begitu merah, Jingga tersenyum simpul melihatnya.
"Ehem!" Deham Duma yang memperhatikan keduanya dari pintu dapur.
Jingga dan Naray langsung menoleh ke arah wanita yang terlihat begitu cantik sedang berdiri sambil menyandarkan sebelah tangannya ke dinding.
"Bibi Duma, ini adikku Naray" ucap Jingga memperkenalkan adiknya.
"Comel betul Nak Naray ini" puji bibi Duma.
"Terima kasih, Bibi. Bibi juga masih sangat cantik" balas Naray memahami perkataannya.
"Tunggu sebentar, Bibi membuatkan penganan untuk kalian" potong Duma langsung berbalik ke dapur.
Tak lama kemudian, Duma menyajikan kue basah berwarna kecoklatan yang sangat harum.
"Apa ini Bi?" Tanya Naray ingin tahu.
"Ini namanya kue Seharian, terbuat dari telur bebek, tebu dan susu sapi" ungkap Duma menjelaskan.
"Boleh aku coba?" Lanjut tanya Naray meminta izin.
"Tidak boleh" potong Jingga langsung mengambil semuanya.
"Tentu boleh" sambung Duma lalu menggelengkan kepala melihat kakak-beradik yang saling berebut.
Malam beranjak datang mengontraskan kelabu jingga yang berangsur menghilang. Tampak bulan sabit bersinar begitu elok menghiasi angkasa bersamaan dengan ribuan bintang yang berserakan membentuk formasi di sekitarnya.
Seorang gadis belia bersama pemuda bertubuh tinggi sedang duduk bersebelahan di sebuah ayunan yang terbuat dari rotan.
Naray mendongakkan kepalanya menatap langit yang sangat elok, dalam hatinya ia bertanya.
"Entah apa tujuanku mengikuti pria yang hanya menganggapku sebagai Adik, salahkah aku berharap lebih padanya?" Lirihnya dalam hati.
Tak berbeda jauh dari adiknya, Jingga pun mendongakkan kepalanya. Ia merindukan istri dan kedua adiknya Bai Niu dan Qianmei.
"Sembilan bulan begitu terasa seperti menempuh sembilan abad, bersabarlah istriku Hou'er, Mei'er dan Niu'er" gumam batinnya.
"Ah, tidak enak menyebutnya. Aku ulangi lagi" protes Jingga pada dirinya sendiri.
"Bersabarlah istriku Hou'er, Memimu dan Naninu. Aku pasti pulang" sambungnya.
Jingga tersenyum sendiri, ia memperhatikan formasi bintang seperti membentuk wajah ketiga gadis yang dirindukannya.
"Jingga, Naray. Besok pagi-pagi kita akan berkunjung ke kediaman klan Serigala pulau Intan" ucap Duma membuyarkan lamunan keduanya.
"Serigala!" Sahut keduanya berbarengan.
Duma mengerutkan keningnya merasa heran dengan tanggapan keduanya.
"Kenapa kalian begitu terkejut mendengarnya?" Tanya Duma menyelidik.
"Di hutan Harimau, kami berdua dikejar kawanan serigala, untung saja kami berhasil melarikan diri dari kejarannya" jawab Jingga secepatnya.
"Pantas kalian langsung merespon. Sudah larut malam, sebaiknya kalian berdua kembali masuk ke rumah. Bibi tidak akan menguncinya" ujar Duma lalu berbalik ke rumahnya.
Jingga dan Naray mengikutinya dari belakang, keduanya berjalan begitu pelan.
"A, gerak-gerik Bibi Dumai mencurigakan. Apa Aa merasakannya juga?" Tanya Naray merasa curiga.
"Jangan terlalu keras suaranya, nanti dia dengar. Kita pura-pura saja tidak mengetahuinya. Bersikaplah dengan normal! Besok kita akan mengetahuinya" bisik Jingga menjawabnya dengan begitu pelan.
Naray yang mendengar bisikannya hanya mengangguk pelan. Keduanya lalu mempercepat langkahnya menyusul Duma yang telah sampai di pintu rumah.
Esok hari setelah sarapan, ketiganya berjalan ke arah bukit yang terpampang begitu indah ditumbuhi oleh bunga-bunga yang bermekaran.
Kali ini Jingga tidak melihat tatapan ramah dari warga desa seperti waktu kedatangannya kemarin. Naray yang terus memperhatikan para warga desa mulai wasada, ia mempercayai ucapan nenek Lakanti yang pernah menceritakan tentang desa Lembayung yang memiliki ilmu sihir.
Jingga sedikit menggelengkan kepala memberi kode pada Naray untuk bersikap wajar. Naray memahaminya, namun ia tidak mengendurkan kewaspadaannya pada warga desa yang sinis menatapnya.
Jingga lalu menggenggam jemari kecil adiknya untuk bisa membuat adiknya bersikap wajar seperti yang diinginkannya. Naray tampak begitu senang, ia menyadari bersama Jingga tidak ada yang perlu dikhawatirkannya, akhirnya Naray bisa bersikap wajar.
"Sepertinya Jingga dan Naray mulai curiga pada tatapan tajam warga desa. Aku harus cepat-cepat menjauhi keduanya dari wilayah desa" gumam pikir Duma sedikit cemas.
"Naray, kamu suka bunga?" Tanya Duma mengalihkannya.
"Suka, Bi" jawab Naray.
"Banyak bunga yang bermekaran di kaki bukit" sambung Duma lalu menarik pergelangan tangan Naray dan mempercepat langkahnya ke arah kaki bukit.
Jingga terpaksa melepaskan jemari tangan adiknya, ia masih santai melangkah mengikuti keduanya yang setengah berlari menjauhinya.
Tiga orang pria berusia sekitar dua puluhan mendekati Jingga dengan sorot mata membunuh lalu menyeringai dingin dan berlalu pergi melewatinya.
Jingga tersenyum simpul membalasnya, itu karena ia amat menginginkan sesuatu yang menantang dirinya.
"Awas saja kalau kalian mengecewakanku" cibir Jingga sedikit lantang.
Ketiga pria langsung menoleh ke arahnya dengan senyum yang mengejek.
Jingga langsung membuang muka dan bergegas menyusul Naray dan Duma yang semakin jauh meninggalkannya.
Berada pada jalan bebatuan yang cukup terjal dikelilingi oleh bunga-bunga yang bermekaran. Mengingatkan Jingga pada bukit di kerajaan Kandao.
"Waktu begitu cepat berlalu" gumamnya.