
"cantiknya!" Sambung Zhen Lie menatap Xian Hou yang begitu cantik jelita membalas tatapannya.
Luo Xiang dan keempat adik Jingga langsung mengangkat wajah mendengar pujian dari Zhen Lie.
Tampak kelimanya langsung terperangah melihat kecantikan yang bersinar dari Xian Hou.
Tidak ada yang berbicara lagi setelahnya, Xian Hou yang melihat sorot mata kekaguman keluarga Jingga langsung menjura ke arah Zhen Lie dan Luo Xiang.
"Salam hormat untuk Ayah dan Ibu, sudi kiranya Ayah dan Ibu bisa menerimaku menjadi bagian keluarga. Mohon maafkan kelancanganku tadi!" Ujar Xian Hou menundukkan kepalanya.
Luo Xiang langsung memegangi wajah Xian Hou yang begitu cantik.
"Aku tidak pernah sekalipun melihat keindahan yang begitu sempurna selama hidupku, apakah kau seorang bidadari?" Tanya Luo Xiang begitu mengaguminya.
Qianfan yang biasanya begitu dingin dengan seorang gadis yang ditemuinya, sekarang seperti seorang pujangga yang begitu merindukan bulan.
Ia tampak sulit untuk berkedip sekalipun.
Du Zhia di sebelahnya langsung menutup mata kekasihnya dengan kedua telapak tangannya.
Tidak nyaman diperhatikan berlebihan oleh keluarga suaminya, Xian Hou kembali berubah menjadi nenek Sashuang.
Suasana pun kembali normal seperti sebelumnya.
"Ayah dan Ibu apakah kita bisa memulai pernikahannya?" Tanya Jingga begitu tidak sabar meresmikan pernikahannya.
"Kau kira kita bisa seenaknya saja menikahkan kalian, tentunya kita harus bertemu dulu dengan keluarga Zhia'er dan Hou'er" jawab Zhen Lie ingin menyelenggarakannya sesuai peradatan dengan melakukan lamaran dulu sebelum melangsungkan pernikahan.
"Maaf, tapi aku tidak memiliki keluarga selain kalian" potong Xian Hou.
Sedangkan Du Zhia langsung menangis seketika mengingat tidak ada lagi keluarga yang tersisa dari pihaknya.
"Maaf, Ayah dan Ibu. Zhia'er juga sama seperti Kak Hou'er, tidak lagi memiliki keluarga selain kita" ucap Qianfan mewakili kekasihnya.
Mendengar ucapan Qianfan membuat Jingga mengingat sosok seorang gadis yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Du Zhia.
"Maaf, aku lupa memberitahumu Zhia'er, seppupumu Zhu Xia masih hidup. Aku akan menjemputnya untuk mewakili keluargamu" sambung Jingga teringat akan seorang gadis yang tinggal di sebuah desa tempat saudaranya Du Dung disemayamkan.
"Oh iya, apakah kalian ingin ikut menziarahi saudaraku Dang Ding Dung" ajak Jingga kepada semuanya.
"Nama yang aneh!" Tanggap Zhen Lie merasa lucu mendengarnya.
"Kak Jingga saja yang menyebutnya begitu, aku sendiri diganti namanya menjadi Naninu, maksud Kak Jingga adalah Du Dung, mendiang Kakaknya Du Zhia" ujar Bai Niu menjelaskan.
Kedua orangtuanya langsung mengangguk memahami maksudnya.
"Baiklah, kami semua ikut bersamamu" ucap Zhen Lie menyetujuinya.
Jingga langsung membuatkan portal dimensi menuju desa di kekaisaran Fei.
"Mari" ajak Jingga lalu memasukinya.
Jingga langsung memindai rumah sederhana yang ditempati oleh Zhu Xia, namun tidak ada siapa pun di dalamnya.
"Sepertinya Zhu Xia sedang tidak ada di rumah, tunggulah. Aku akan menanyakannya kepada warga desa" ucap Jingga langsung berjalan ke sebuah rumah sederhana tidak jauh darinya.
"Maaf Tuan, apakah Tuan tahu di mana keberadaan Xia'er adikku yang tinggal di rumah itu?" Tanya Jingga sambil menunjukkannya.
"Mungkin maksudmu itu Ratu Xia, dia tidak tinggal lagi bersama kami di sini, Tuan muda bisa menemuinya di istana" jawab pria tua memberitahunya.
Jingga terkejut mendengarnya lalu menempelkan ujung jarinya di kening.
"Ratu? Apakah mungkin ia menikah dengan Kaisar Fei Xing? Zhu Xia kan masih muda, kenapa dia mau menikah dengan orangtua yang sekarat?" Gumam pikirnya menebak-nebak.
"Terima kasih, Paman" timpal Jingga langsung berbalik ke arah keluarganya.
"Jingga, bagaimana?" Tanya Luo Xiang ingin tahu.
"Xia'er tidak lagi tinggal di sini, kita akan menemuinya setelah menziarahi saudaraku" jawab Jingga langsung berjalan ke arah bukit tempat pemakaman penduduk.
Sesampainya di depan makam Du Dung, Jingga begitu senang kondisi makam saudaranya terlihat sangat terawat.
Du Zhia yang baru pertama kalinya melihat makam kakaknya langsung menangis pilu sambil memeluk nisan yang bertuliskan nama kakaknya.
Begitu pun Bai Niu yang begitu menyayangi Du Dung yang pernah bersama dengannya mengikuti Jingga.
Keduanya begitu larut dalam kesedihannya, Du Zhia langsung tidak sadarkan diri setelah merasa sangat bersalah atas kematian kakaknya.
"Kakak ipar, maafkan kami berdua yang baru mengunjungimu. Izinkan aku meminang adikmu Zhia'er, aku berjanji akan membahagiakannya" ucap Qianfan.
Jingga sendiri langsung menarik tangan Bai Niu, kali ini Xian Hou tidak melarangnya.
"Kakak" ucap Bai Niu langsung memeluknya sambil terus menangis merindukan kakaknya Du Dung.
"Ayo kita temui Xia'er di istana" ajak Jingga kepada semuanya.
Jingga membawa keluarganya memasuki sebuah lorong rahasia kekaisaran Fei.
"Kak, bagaimana Kakak bisa mengetahui jalan ini?" Tanya Bai Niu penasaran.
"Itu karena Kaisar Fei Xing pernah membawaku menelusurinya ke desa tempat tinggal Xia'er" jawab Jingga terus memimpin jalan di lorong yang berkelok-kelok.
Sampai pada ujung lorong batas kediaman Kaisar Fei Xing. Jingga dan keluarganya mendengar suara yang membuat wajah semuanya bersemu merah.
Jingga dan keluarganya langsung berbalik menjauhinya.
"Apakah tidak ada jalan lainnya?" Tanya Zhen Lie tidak ingin mengganggu sepasang kekasih yang sedang bercinta di balik dinding.
"Aku akan memindainya" balas Jingga langsung memindai sekitarnya. Ia melihat sebuah lorong yang terhalang oleh dinding tidak jauh darinya.
"Aku menemukannya, kita cari pembukanya" imbuhnya lalu meraba dinding diikuti oleh keluarganya yang lain mencari sesuatu untuk membuka dinding.
Qianfan yang merupakan seorang pangeran langsung mengetahui di mana letak pembuka dinding. Ia memutar sebuah batu pipih yang menempel di dinding.
Krak!
Dinding lorong bergetar lalu terangkatlah dinding tebal yang menutupinya.
Jingga dan keluarganya memasuki lorong yang begitu gelap. Berada dalam kegelapan, mata iblis Jingga langsung bersinar menerangi lorong rahasia kekaisaran Fei.
Keluarga lainnya yang membuat bola api kecil untuk menerangi lorong langsung memadamkannya karena kalah terang oleh sinar dari kedua mata Jingga.
"Matamu sungguh indah suamiku" puji Xian Hou memperhatikan suaminya.
Lama juga mereka semua berjalan menyusuri lorong, Jingga langsung menghentikan langkahnya melihat sesuatu di depannya.
"Sayang, kenapa berhenti?" Tanya Xian Hou.
"Kita harus kembali ke tempat tadi, aku tidak ingin melanjutkannya" jawab Jingga tanpa memberitahu maksudnya.
"Kita sudah sejauh ini berjalan, kenapa harus kembali?" Tanya Bai Niu begitu heran.
"Lorong yang kita lalui merupakan tempat pembuangan kotoran, apa kau tidak merasa jijik melihatnya?" Jawab Jingga bertanya balik.
Semua orang langsung merasa mual membayangkannya.
Tanpa ada yang menolak, semuanya berbalik kembali ke arah semula.
Sampai juga semuanya berada di ujung lorong yang menghubungkan ke kamar kediaman kaisar Fei Xing.
Jingga menajamkan pendengarannya, ia memastikan tidak ada lagi suara orang bercinta di balik dinding.
Jingga langsung menggeser dinding yang menutupinya.
Setelah memasukinya, Jingga mendadak menghentikan langkahnya.
Semua orang yang dibelakangnya otomatis saling bertabrakan.
Duk! Duk! Duk!
"Kenapa kau berhenti, Jingga?" Tanya Luo Xiang yang menabrak Qianfan di depannya.
Jingga menempelkan telunjuknya di bibir, meminta semuanya untuk diam.
Dua orang yang bertubuh polos terperanjat mendengar suara ricuh di dekatnya, keduanya langsung menutupi diri dengan selimut.
"Jingga!" Ucap pangeran Fei Huang terkejut melihat pemuda yang dikenalinya sedang berdiri memalingkan wajah.
"Kalian pakailah dulu pakaian kalian, kami tidak akan melihatnya" ujar Jingga membalas ucapan pangeran Fei Huang.
Zu Xia yang bersembunyi di belakang suaminya begitu malu setelah dirinya terlihat oleh Jingga dan seorang nenek yang terkekeh di belakangnya.