
"Halo, Nona iblis. Apa kau terpesona pada ketampanan mutlak yang kumiliki?" Ucap Jingga menatapnya sayu.
Nona Chyou menggigit bibirnya membenarkan apa yang dikatakan oleh Jingga.
"Apa yang kaukatakan itu benar. Tapi sangat disayangkan, dirimu telah memiliki Nona muda Xuenong,"
"Maaf saja, aku tidak berminat kepadamu." Balas Nona Chyou mengubur keinginannya.
"Ha-ha-ha, Xin'er hanyalah adikku." Timpal Jingga sambil menaikkan kedua alisnya.
"Betulkah?" Kata Nona Chyou melirik ke arah gadis di sebelah Jingga.
Xinxin yang diliriknya begitu merona wajahnya. Ia amat kesal dengan apa yang dikatakan oleh Jingga, namun ia sadar maksud dan tujuan Jingga untuk mendekati pemilik penginapan. Ia pun menganggukinya walau terpaksa.
"Pemuda yang menarik. Aku akan mentraktirmu arak terbaik yang kami miliki di penginapan ini,"
"Ayo, Sayang." Ajaknya lalu melingkarkan tangannya di lengan Jingga.
Para iblis yang berdiri mengelilinginya tampak heran dengan tingkah keduanya. Salah seorang iblis merah terlihat begitu kesal melihat keduanya.
"Nona Chyou, bagaimana dengan dendanya? Kenapa kau begitu ramah kepadanya?" Tanya iblis merah tidak puas.
"Lupakan saja. Kalian pergilah!" Sahut Nona Chyou mengusirnya.
"Huh! Sihir apa yang kaugunakan untuk menjerat pemilik penginapan?" Ketus seorang iblis merah menyindir.
Jingga melirik ke arahnya lalu membaca ingatan yang terekam dari iblis merah yang ketus padanya.
"Ah, ha-ha-ha. Ternyata kau sudah lama menyukai Nona Chyou,"
"Tapi maaf, dia memilihku." Ucap Jingga menyeringai sinis kepadanya.
Merah padam wajah iblis merah tidak terima dengan ucapan Jingga. Ia lalu memancarkan aura iblisnya menekan Jingga yang berjalan mengabaikan dirinya.
Jingga menoleh kembali ke arahnya. Ia tersenyum kecut mengabaikan tekanan yang menyerangnya.
"Auramu begitu lemah, iblis Shashou. Pergilah! Aku sedang tidak ingin bermain denganmu." Ejek Jingga lalu mengusirnya dengan melambaikan punggung tangannya.
"Kau!" Geram iblis merah semakin murka.
"Apa kau tidak tahu di mana pintu keluar?" Sambung Jingga mengacungkan jari telunjuk pada pintu keluar penginapan.
Wuzz!
"Hiaat!" Raung iblis merah langsung melesak menyerang Jingga.
Slurp!
"Aah! Lumayan," desis Jingga yang langsung menghisap jiwa seorang iblis merah yang menyerangnya.
Semua iblis yang berada di penginapan membelalakkan mata tidak percaya dengan apa yang terlihat oleh kepala mereka semuanya.
"Ti-tidak mungkin. Si-siapa kau sebenarnya iblis Tongzhi?" Tanya gugup salah seorang iblis merah sulit mempercayainya.
"Aku hanyalah seorang iblis Tongzhi seperti yang kausebutkan itu. Cepatlah pergi atau kalian semua akan aku makan." Balas Jingga kembali mengusirnya dengan ancaman.
Kali ini, tidak ada satu pun yang berani menolaknya. Para iblis langsung berhamburan meninggalkan penginapan. Suasana penginapan kembali hening dengan menyisakan Jingga, Xinxin, Nona Chyou dan para pelayan.
"Kau semakin membuatku kagum. Bolehkah aku mengenalmu, Iblis muda?" Celetuk Nona Chyou membuyarkan keheningan.
Jingga menatapnya dengan lekat. Ia diam-diam memperhatikan kecantikan gadis pucat di depannya.
"Namaku, Jingga. Senang bisa mengenalmu, Nona Chyou." Jawab Jingga lalu meminta gadis iblis menceritakan semua hal tentang kota Zhandao Shibing.
"Bukankah dirimu bisa membacanya langsung dari pikiranku?"
Jingga tersenyum simpul mendengarnya. Ia memang bisa membaca semua rekaman riwayat dari gadis iblis di depannya, namun mendengar langsung akan lebih afdol baginya.
"Aku menyukai bibir tipismu yang bergerak mengatakannya. Buat aku semakin menyukaimu, Nona." Kata Jingga menggodanya.
"Apa kau mencoba merayuku?" Sambung tanya Nona Chyou.
"Permisi, Nona-Nona dan Tuan. Silakan dinikmati araknya," potong seorang pelayan meletakkan botol arak di atas meja.
Nona Chyou mengangguk pelan kepada pelayannya. Ia lalu mulai menceritakan semua hal yang ia ketahui tentang kota Zhandao Shibing.
Jingga mengambil araknya sendiri lalu dengan santai menyimak semua cerita dari gadis iblis yang tanpa jeda terus saja menceritakan semuanya kepada Jingga.
Sampai bibir Nona Chyou berhenti bergerak. Tidak ada satu pun yang menarik perhatian Jingga.
"Apakah ada sekte yang menentang kerajaan iblis?" Tanya Jingga ingin tahu.
Nona Chyou celingak-celinguk memperhatikan sekitarnya.
"Bagaimana kalau kita bicarakan di dalam kamar? Kota ini sensitif perihal itu," ujarnya.
"Baik. Ayo!" Balas Jingga lalu berdiri dan berjalan bersama kedua gadis.
Sesampainya di dalam kamar yang ditempati oleh Jingga. Nona Chyou langsung memasang perisai iblis agar tidak terdengar oleh siapa pun di luar.
"Sekarang sudah aman. Sebelum aku mengatakannya, apa tujuanmu ingin mengetahui sekte yang menentang kerajaan iblis?" Tanya Nona Chyou menatapnya serius.
"Ada rencana besar yang ingin aku capai di alam iblis ini. Tapi aku masih kekurangan informasi tentang para iblis yang akan aku jadikan sebagai bagian dari rencanaku. Bisakah kau membantuku?"
Nona Chyou semakin penasaran dengan rencana yang akan dicanangkan oleh Jingga di alam iblis. Ia sendiri masih belum mengetahui sosok sesungguhnya pemuda yang berdiri di hadapannya.
"Apa kau berencana untuk menggulingkan kerajaan iblis?" Imbuh tanya Nona Chyou menerkanya.
Jingga menggeleng pelan menyangkalnya lalu berkata,
"Pemikiranmu terlalu jauh, Nona. Aku masih belum yakin apakah kerajaan iblis bisa dijadikan sekutu atau musuhku? Aku tidak pernah memiliki masalah dengan pihak kerajaan." Balas Jingga yang belum sampai berpikir ke arah kerajaan iblis.
Nona Chyou semakin tidak memahami apa yang dimaksud oleh Jingga. Satu pemikiran yang terlampau jauh telah disanggah oleh pemuda yang masih misterius dengan apa yang ingin dicapainya.
"Kau terlalu berbelit-belit. Katakan kepadaku apa yang menjadi tujuanmu sebenarnya?" Ucap Nona Chyou semakin penasaran.
"Ha-ha, Kau tenang saja, aku hanya ingin membangun kekuatan di alam ini untuk kugunakan di masa depan. Hanya itu saja. Cukup jelas, 'kan?"
"Ah, sudahlah. Semakin pusing aku memikirkannya." Timpal Nona Chyou yang terjebak oleh pemikirannya sendiri.
"Siapa suruh kau memikirkannya? Aku hanya ingin tahu sekte mana yang menentang kerajaan iblis. Kenapa kau berpikir begitu jauh?"
"Baiklah, aku akan mengatakannya,"
Nona Chyou terdiam sejenak, tatapannya tertuju pada langit-langit kamar tempatnya berdiri. Setelahnya ia kembali menatap Jingga dengan sorot mata yang tajam.
"Sebenarnya bukan rahasia umum di alam iblis ada pihak yang gencar ingin menggulingkan kerajaan iblis yang dikendalikan oleh sang Ratu. Namun, sang Ratu sangat beruntung memiliki seorang jenderal yang sangat jeli melihat setiap pergerakan sekecil apa pun yang mengancam kerajaan iblis,"
"Tahan dulu, Nona. Aku tidak butuh penggambaran itu. Cukup katakan kepadaku siapa meraka dan di mana basis mereka bermuara?" Potong Jingga menghentikan perkataan Nona Chyou.
"Mereka adalah gabungan ras dari tiga benua di alam iblis. Mereka menamakan diri sebagai sekte Neraka Iblis yang berpusat di benua Beishang, yaitu pusatnya iblis monster." Sambung Nona Chyou sedikit kesal karena perkataannya harus terhenti.
Jingga mengusap dagunya sambil mondar-mandir di dalam kamar memikirkan setiap detail rencana yang akan segera ia jalankan.
"Sekte Neraka Iblis? Benua Beishang? Iblis Monster?" Gumam pikir Jingga mencoba memahaminya.
Tiba-tiba saja kedua matanya melebar mengingat hal yang telah ia lupakan sejak kembali ke alam iblis. Ia lalu menatap adiknya Xinxin yang tidak berbicara sekalipun dengan begitu lekat.
"Kak Jingga, kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Xinxin sedikit ketakutan ditatap dingin oleh Jingga.
Jingga mengalihkan tatapannya ke arah Nona Chyou tanpa menjawab pertanyaan dari adiknya. Ia lalu memegang pundak gadis iblis pemilik penginapan dengan tatapan yang sama dinginnya.
"Kau kenapa?" Tanya Nona Chyou heran.
"Tidak apa-apa, kau sebaiknya pergi dulu. Aku ingin bermeditasi selama beberapa waktu. Pastikan tidak ada yang menggangguku." Jawab Jingga memintanya.
"Baiklah, jika itu maumu. Aku akan memastikan kau tidak diganggu oleh siapa pun, kecuali oleh adikmu sendiri." Balas Nona Chyou lalu menjentikkan jari melepas perisai iblis dan berlalu pergi meninggalkan keduanya.
Krak!
Pintu kamar tertutup, sekarang giliran Jingga yang memasang perisai iblis lalu menarik Xinxin memasuki alam jiwanya.