
Jingga mewaspadainya, ia terus memindai sekitarnya namun Mei Moshu masih belum menampakkan diri.
"Apa yang kau rencanakan, Nona?" Tanya pikirnya.
Tiba-tiba saja benang energi mengikat kedua kaki Jingga tanpa bisa dirasakannya.
Mei Moshu muncul lima langkah di depannya dengan menyeringai dingin ia menggerakkan jari tangan kirinya.
Jingga tidak memahami apa yang sedang diperbuatnya, ia terus memperhatikan jari tangan Mei Moshu yang terlihat seperti sedang membuat pola sihir.
Krak!
"Aah!" Pekik Jingga terkejut merasakan sakit di kedua kakinya.
Ia menoleh ke bawah, kedua kakinya terlihat mengecil.
Bugh!
Jingga tersungkur jatuh lalu mengalirkan energi iblisnya untuk memulihkan kedua kaki, namun tidak bereaksi apa pun.
"Kau, apa yang kau lakukan padaku?" Tanya Jingga sambil menahan sakit.
"Aku akan memotong kedua kakimu" jawab Mei Moshu tersenyum sinis.
Gagal dengan energi iblis, Jingga mengalirkan ketiga energi apinya. Sayangnya, energi api yang dimiliki oleh Jingga tertahan di perutnya.
"Sial! Apa yang harus aku lakukan?" Keluhnya.
Waktu terus berjalan dan kedua kakinya seperti akan habis tergerus oleh benang energi.
Jingga menutup kedua matanya mencari sesuatu dari ingatan Yuangu Mowang untuk bisa melepaskan diri dari ikatan benang energi namun waktu tidak memihak padanya.
"Ini baru dimulai, aku tidak boleh kalah di awal" tekad Jingga tidak ingin menyerah.
Ia kemudian mencoba untuk memasuki alam jiwanya.
"Sial! Alam jiwa tersegel" imbuhnya merutuk.
Jingga terus berpikir dan berpikir, ia masih bertahan pada posisinya yang tengkurap di tanah bebatuan.
"Serang, aku harus menyerangnya" ucap Jingga tidak mempedulikan rasa sakitnya.
Ia lalu mengangkat telunjuk tangan kirinya dan mengalirkan api semesta membuat bola api.
"Ha ha, dasar iblis bodoh" kekeh Mei Moshu mencemoohnya.
Ia menghentikan gerakannya lalu menduplikasi diri menjadi tiga. Dua bayangan dirinya menyerang Jingga.
"Seribu tebasan kematian"
Dreet! Slash! Slash!
Sudah tidak terhitung lagi tebasan brutal yang dilayangkan oleh dua bayangan Mei Moshu mengenai seluruh tubuh Jingga hingga Jingga kesulitan untuk melakukan serangan balik, ia hanya bisa membiarkan seluruh tubuhnya terkena bilah pedang energi yang begitu memilukan sambil terus menahannya dengan energi api di tubuhnya.
Dalam posisi yang terus bertahan, tanpa sengaja ia mengaktifkan kekuatan jiwanya. Tiba-tiba saja Jianhuimie Yuzhou bergetar di genggaman tangan Jingga lalu terlepas berputar dengan sendirinya menghadang tebasan dua pedang energi dan berbalik menyerangnya.
Trang! Trang!
Dhuar! Dhuar!
Dua bayangan Mei Moshu meledak terkena bilah pedang Jianhuimie Yuzhou yang seperti gasing terus berputar menghantam bayangan dan langsung melesak menyerang Mei Moshu yang sedikit terkejut lalu melangkah mundur sambil terus menghadang putaran pedang Jianhuimie Yuzhou yang tanpa henti terus menyerangnya.
Mendapatkan waktu dari pedangnya, Jingga memfokuskan diri pada kekuatan jiwanya.
"Ha ha ha, seperti ini ternyata kekuatan jiwa" kekeh Jingga begitu senang.
"Apakah kekuatan jiwa bisa melepaskan kedua kakiku dari lilitan benang energi yang menekan ini?" Imbuhnya lalu mencobanya.
Sreet! Dhuar!
Ketiga energi api mengalir cepat meledakkan benang energi yang melilitnya, kedua kaki Jingga pun dengan cepat kembali pulih. Ia lalu berdiri dan langsung membuat pola rumit mengendalikan Jianhuimie Yuzhou dari kejauhan.
Mei Moshu mulai kewalahan menangkis pedang yang kecepatannya terus meningkat dan semakin kuat di setiap tebasan yang mengarah ke tubuhnya.
Trang! Trang!
Percikan api dari benturan logam dan tekanan energi dari keduanya terlihat seperti pemain sirkus yang sedang memainkan kembang api di tangannya yang berputar-putar.
"Sudah cukup bermainnya, aku akan membawamu ke permainan sesungguhnya" gumam Mei Moshu yang memiliki niat terselubung.
"Shijian de cuojue" ucap Mei Moshu lalu menghentikan semua yang bergerak.
Ia lalu berkelebat menghampiri Jingga dan menariknya memasuki sebuah dimensi.
"Selamat bersenang-senang, Jingga. Ha ha ha" kekeh Mei Moshu memberinya ujian hati.
Wuzz!
"Hah! Di mana ini?" Kagetnya memperhatikan lingkungan di sekitarnya.
Terlihat olehnya sebuah kota yang dipenuhi oleh para kultivator yang beterbangan di udara dan berlalu lalang menaiki berbagai beast monster.
"Jangan, jangan lagi terlempar ke alam lain" keluh Jingga menolaknya.
Ia meyakini dirinya memasuki alam ilusi, ia lalu memindai sekelilingnya. Semua orang tampaklah normal, tidak ada keanehan sama sekali.
"Sialan kau Nona! Kembalikan diriku atau kuhancurkan semua yang ada di alam ini" ancam Jingga masih meyakini dirinya dilempar oleh Mei Mosu.
Ia berdiri mematung di tengah jalan perkotaan dengan raut wajah emosi. Tidak jauh dari posisinya, empat orang berpakaian zirah merah keemasan yang menunggangi beast harimau api menghampirinya.
"Iblis muda, ikutlah dengan kami atau kami memaksamu dengan kekerasan" ajak seorang pria berjanggut panjang.
Jingga menolehnya dengan tatapan tajam mengintimidasi pria di depannya.
"Katakan kepadaku, di mana aku berada? Dunia apa ini?" Tanya Jingga.
"Ha ha ha, kau berada di alam Ri Chu. Iblis sepertimu harus kami tangkap" jawab pria berjanggut.
"Ri Chu, aku tidak pernah mendengarnya" gumam pikir Jingga keheranan.
"Ha ha ha, itu bagus. Aku akan menghancurkannya sampai gadis iblis itu membawaku kembali" kekeh Jingga lalu memanggil pedangnya.
"Jianhuimie Yuzhou"
Berkali-kali Jingga memanggil pedangnya namun tidak juga datang menghampiri.
"Bajingan kau, Nona iblis!" Rutuk Jingga kembali menyalahkan Mei Moshu.
Siu!
Rantai energi berwarna hitam pekat mengikat tubuh Jingga dan melilitnya seperti mumi yang hanya menyisakan bagian kepalanya saja.
Wuzz!
Keempat pria berbaju zirah menghilang dari tengah kota dengan membawa Jingga.
Sampai di halaman luar berlantai granit, keempat pria berjalan membawa Jingga memasuki area dalam sebuah istana kerajaan.
Bugh!
Tubuh Jingga dilemparkan pria berjanggut ke lantai di bawah singgasana.
"Jenderal Qei, siapa yang kau tangkap?" Tanya seorang pria di atas singgasananya.
"Dia iblis yang tersesat di tengah kota, hamba belum menanyakannya. Apakah Yang Mulia berkenan untuk menghancurkannya?" Jawab Jenderal Qei dengan mengajukan tanya.
"Tidak perlu. Dia hanya seorang iblis muda, kita bisa menjadikannya seorang prajurit kerajaan" jawab sang raja mengusulkannya.
"Baik, Yang Mulia. Hamba undur diri" balas Jenderal Qei lalu berbalik dengan ketiga bawahannya.
Sang raja menjentikkan jarinya melebur rantai energi yang membelenggu tubuh Jingga.
"Bangunlah, iblis muda" pinta sang raja.
Jingga bangkit berdiri sambil merapikan pakaiannya, ia lalu menatap sang raja yang begitu rupawan. Tatapannya beralih ke arah sang ratu yang sangat dikenalinya. Ia begitu terperangah menatapnya.
"Hou'er!" Seru Jingga menyipitkan mata memperhatikan wajah sang ratu.
Sang ratu pun terkejut mendengar Jingga menyebutkan namanya.
"Apa kau mengenaliku?" Tanya sang ratu menatap penasaran.
"Ya, kau adalah Xian Hou istriku" jawab Jingga.
"Kurang ajar! Jaga ucapanmu itu iblis muda" tegur seorang pria paruh baya yang duduk tidak jauh dari sisi sang ratu.
"Tidak masalah, penasehat Li" timpal sang raja melambaikan telapak tangannya lalu kembali melirik Jingga.
"Iblis muda, sepertinya kau berasal dari alam lain. Mungkin saja istriku adalah istrimu di kehidupan lainnya. Tapi di sini dia adalah istriku. Kau harus bisa menghormatinya" ujarnya dengan bijak.
Jingga mengangguk pelan memahaminya.
"Boleh aku tahu siapa nama dirimu Baginda Raja yang bijaksana?" Tanya Jingga.
"Kau terlalu sopan, namaku Taiyangshen, aku dijuluki sebagai dewa Matahari dari Ri Chu" jawabnya penuh wibawa dengan membusungkan dada.
Jleb!
Bergetar hati Jingga mendengarnya, ia begitu geram Mei Moshu melemparkannya ke tempat istrinya masih bersama dewa Matahari. Beberapa saat kemudian ia berubah gembira melihat adanya kesempatan untuk membunuh dewa Matahari.