
Jingga dan Bai Niu berada di satu ruangan, tempat di mana Du Dung berbaring memulihkan kondisinya.
"Kakak Jingga, aku bosan" keluh Bai Niu setelah tidak ada lagi yang bisa dia khayalkan.
"Sama, aku juga bosan, bagaimana kalau kita memainkan sesuatu berdua" ucap Jingga menawarkan.
Bai Niu salah menanggapi maksud dari kakaknya Jingga, ia langsung menutupi bagian berharga dari tubuhnya.
"Kau salah memahami maksudku, aku bahkan tidak tertarik padamu" sambung Jingga lalu pergi keluar meninggalkannya.
Bai Niu yang melihat raut wajah kakaknya yang dingin karena kesalahpahaman dirinya langsung mengejarnya.
"Kakak, maaf" ucapnya meminta sambil menarik tangan Jingga yang sebenarnya ingin mencari arak untuk menghilangkan kebosanannya.
"Maaf untuk apa?, Aku hanya ingin mencari arak" tanya Jingga sambil menjelaskan maksud kepergiannya.
"Oh! Aku pikir, Kakak marah kepadaku" timpal Bai Niu lalu kembali masuk.
Di luar, Jingga kebingungan harus ke mana mencari arak, tempatnya sekarang berada di lingkungan wilayah istana. Tentu akan menjadi hal yang merepotkan apabila keluar dari wilayah istana, di mana ia akan selalu mendapatkan pertanyaan dari prajurit istana yang ditemuinya.
"Sebaiknya aku tahan saja, mungkin besok Dang Ding Dung sudah siuman" gumamnya lalu kembali ke dalam.
Dua hari berlalu dalam kebosanan keduanya berada di wilayah istana kekaisaran Fei menemani pemuda yang masih terlelap dalam tidurnya.
Seorang pemuda yang ditunggui oleh keduanya akhirnya membuka kembali kedua matanya, ia melihat Jingga duduk bersandar dalam lamunan, sedangkan Bai Niu menyandarkan kepalanya di paha Jingga sambil memainkan jemarinya membentuk kepala ikan.
"Di mana aku sekarang?" Tanya Du Dung melirik ke arah keduanya.
Jingga dan Bai Niu langsung berdiri menghampirinya.
"Akhirnya kau siuman juga, kami begitu bosan berada di sini, sekarang kita berada di salah satu bangunan wilayah istana kekaisaran Fei, pangeran Qianfan membawamu kemari" jawab Jingga menjelaskannya.
Sedangkan Bai Niu tidak berbicara sepatah kata pun, ia hanya memeluk erat kakaknya Du Dung.
"Aw" ringisnya merasakan sakit di kepalanya, Du Dung berusaha untuk duduk namun Jingga melarangnya.
"Sudah berapa hari aku tidak sadarkan diri?" Tanya Du Dung ingin tahu.
"Sudah dua hari, sesuai dengan perkiraan Tabib" jawab Jingga.
"Berarti besok kau akan menggantikanku bertanding, kau jangan memaksakan diri di arena, semua lawan merupakan kultivator terbaik setiap sekte dan klan, bahkan seperti yang aku hadapi kemarin, seorang pangeran pun mengikuti turnamen" ujar Du Dung mengingat mengingatkannya.
"Kau jangan terlalu banyak bicara, sekarang keluarkan arak dan Jianshandian untukku bertarung besok" pinta Jingga yang sudah tidak sabar menenggak arak setelah dua hari menahannya.
"Kau ini" sahut Du Dung langsung melemparkan pedang dan arak dari cincin spasialnya.
Jingga langsung menangkap pedang dan arak yang begitu dinantikannya.
"Kalian berdua silakan mengobrol, aku akan menikmati arakku ha ha ha" imbuh Jingga langsung berlalu pergi.
Pagi harinya Jingga, Du Dung dan Bai Niu berpamitan kepada keluarga kerajaan Shuijing untuk kembali melanjutkan turnamen.
Awalnya pangeran Qianfan meminta ketiganya untuk menginap bersamanya sampai Du Dung pulih seperti sebelumnya, namun Jingga langsung menolaknya karena merasa tidak bebas berada di lingkungan istana.
Pada akhirnya pangeran Qianfan menyerah merayu ketiganya, ia sendiri yang mengantar ketiganya ke alun-alun kota bersama beberapa pengawal pribadinya menyaksikan Jingga yang akan mewakili sekte Hiu Purba di pertandingan enam belas besar.
Berada di area selatan alun-alun, ketiganya tidak lagi bergabung dengan peserta dari sekte dan klan yang berada di area barat, kali ini mereka berada bersama para tamu kehormatan tidak jauh dari keberadaan keluarga kekaisaran.
Jingga sendiri berada di pertandingan ketiga babak ini atau pada pertandingan tengah hari, namun tidak baku karena bisa saja lebih cepat ataupun lebih lama, tergantung dari waktu yang akan diselesaikan oleh pertandingan pertama dan kedua.
Kembali pembawa acara membuka turnamen dengan sambutan formal dan mengulang peraturan yang menjadi acuan baku turnamen.
Ketiganya kembali serius menyaksikan pertarungan dari wakil sekte yang lolos ke babak enam belas besar, dari kedua pertandingan yang mereka lihat, ketiganya menyimpulkan bahwa di babak ini adalah babak yang begitu mendebarkan, berisi oleh para kultivator tangguh yang menjadi tantangan lebih para kultivator muda untuk bersaing meloloskan diri.
Sekte Hiu Purba kembali dipanggil oleh pembawa acara, Jingga berjalan memanggul pedang Jianshandian di pundaknya. Menghampiri salah satu peserta yang telah menunggunya.
"Kak Jingga" teriak Bai Niu menyemangatinya.
Du Dung menolehnya lalu menjawabnya dengan tenang,
"Aku sendiri bahkan tidak yakin bisa menang melawannya".
Pangeran Qianfan mengerutkan keningnya mendengar jawaban Du Dung di luar perkiraannya.
"Sebaiknya pangeran melihatnya sendiri, pangeran pasti setuju denganku" imbuh Du Dung menyarankannya.
Pangeran Qianfan langsung beralih memfokuskan diri ke arena pertandingan, ia ingin tahu apakah ucapan Du Dung benar adanya.
Di arena, pemuda dari sekte Kelelawar Malam terlihat begitu gembira mendapatkan lawan yang tidak memiliki kultivasi, ia merasa mendapatkan keberuntunga dari pertandingan yang dianggapnya tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk memenangkannya.
"Sebaiknya kau menyerah saja, aku tidak ingin mempermainkanmu seperti temanmu yang pernah mempermainkan gadis sekte Mawar Merah di arena" pintanya dengan ekspresi wajah yang sombong.
Jingga tersenyum simpul membalasnya lalu berkata,
"Kau tahu, yang lama dari pertandingan kita adalah menunggu kata mulai" dengan sorot mata yang berhasil membuat pemuda dari sekte Kelelawar Malam menjadi gentar menatapnya.
"Aku harus mempercayakan kepada Jianshandian, tunjukkan kekuatanmu pedang!" gumam Jingga langsung menurunkan pedang dari pundaknya.
Tak lama pemimpin pertandingan langsung berteriak "mulai".
Sret!
Bilah tajam pedang sudah berada di leher pemuda yang bahkan belum sempat berkedip.
"Menyerah atau mati" ucap Jingga dengan tatapannya yang dingin.
"Ba- bagaimana bisa ini terjadi?" Ucap pemuda itu yang begitu ketakutan sambil merasakan perih pada lehernya yang mulai meneteskan darah terkena bilah tajam pedang Jianshandian.
Tanpa menunggu lama, ia langsung mengatakan menyerah tanda mengakui kekalahannya.
Jingga langsung menarik pedangnya dari leher pemuda sekte Kelelawar Malam kemudian meletakkannya kembali di pundaknya. Jingga dengan berjalan santai kembali ke barisannya di area selatan arena pertandingan.
Di samping itu, pemuda dari sekte Kelelawar Malam masih berdiam diri tidak mempercayai apa yang terjadi padanya.
"Aku tidak boleh kalah tanpa berbuat apa pun" guman pemuda yang tidak ingin dipermalukan oleh pemuda tanpa kuktivasi yang berjalan kembali ke tempatnya.
"Hiaaat" teriak pemuda sekte Kelelawar Malam langsung melompat menebaskan pedangnya.
Jingga yang mengetahui hal ini akan terjadi langsung memiringkan tubuhnya menghindari lesatan pedang yang dialiri energi spiritual.
Tanpa menunggu kaki pemuda sekte Kelelawar Malam jatuh berpijak ke tanah, Jingga langsung menebaskan pedangnya memotong tangan kanan pemuda sekte Kelelawar Malam yang sedang menggenggam pedangnya.
Sreet!
"Ah!" Teriak kesakitan dari pemuda sekte Kelelawar Malam begitu histeris terdengar oleh para penonton yang terkejut melihatnya meringis kesakitan berguling-gulingan.
Tidak ada satu pun orang yang melihat kapan Jingga menebaskan pedangnya, saking cepatnya kejadian itu, para penonton dibuat berpikir bagaimana kejadian itu bisa terjadi tanpa disadari oleh semua orang yang menyaksikannya.
Mereka hanya dapat melihat bagaimana pemuda sekte Kelelawar Malam berlari lalu melompat menebaskan pedangnya ke arah Jingga yang sedang berjalan memanggul pedang.
Semuanya terdiam mengerutkan kening, berpikir keras akan apa yang terjadi di arena.
"Bagaimana bisa itu terjadi?, dia yang menyerang, dia yang terluka sendiri karena serangannya, ini sungguh tidak bisa dipahami oleh kita" ucap beberapa orang mengomentari kejadian cepat yang mengejutkan semua orang.
Jingga terus berjalan menghampiri kdua temannya.
Bai Niu langsung memeluknya begitu Jingga sampai ke arahnya.
"Kakak hebat, tanpa melakukan apa-apa, pemuda itu langsung kalah" puji Bai Niu yang masih memeluknya dengan erat.
Semua orang yang berada di bagian selatan arena pertandingan khususnya keluarga kekaisaran dan tamu kehormatan hanya bisa menatapnya dengan kagum.