
Jenderal Jieru, To Tao dan penasihat Chao Fu terbelalak tidak percaya melihatnya. Bagaimana mungkin Jingga bisa melemparkan orang yang sedang memeluknya dengan erat. Apalagi yang sedang memeluknya adalah sang Ratu Iblis.
Beberapa saat kemudian, Jenderal Jieru langsung berkelebat menghampiri sang Ratu yang terus meringis menahan nyeri di tubuhnya.
"Yang Mulia tidak apa-apa?"
Ratu Xin Li Wei mendelik tajam menatap sang Jenderal dengan dengan bibir yang terukir segaris lengkungan tajam ke arah samping kiri pipinya. Ia pun mendengus lalu berkata,
"Sudah tahu aku kesakitan, masih saja bilang tidak apa-apa," ketus Ratu Xin Li Wei menyemprot jenderalnya.
Ia lalu bangkit berdiri sambil berkacak pinggang, namun bukan menunjukkan kesombongan, melainkan merasakan nyeri pada pinggangnya.
"Kasihan! Kena semprot deh! Ha-ha." Sungut Jingga mentertawakan Jenderal Jieru.
Sang Jenderal pun menjadi kikuk ditertawakan oleh iblis konyol yang selalu saja membuat para pejabat istana iblis kehilangan wibawanya. Untung saja di dalam aula istana hanya ada mereka saja.
Jingga kini beralih ke arah penasihat Chao Fu yang langsung menggigil ketakutan akan menjadi korban keisengan berikutnya.
"Pak Tua, santai saja. Di alam fana aku diajarkan untuk selalu menghormati orang tua. Tapi di alam iblis ... sepertinya seru juga mengerjai orang tua," ujar Jingga dengan tatapannya yang dingin.
Penasihat Chao Fu semakin gemetar tubuhnya. Ia merasa seperti ditatap oleh seorang algojo yang akan mengeksekusinya. Hal itu membuat Jingga semakin tertarik untuk mengerjainya. Ia pun melangkah pelan mendekati sang Penasihat Iblis.
Suasana di aula istana iblis menjadi sangat mencekam. Jingga lalu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan di depan wajah sang penasihat Chao Fu yang begitu ketakutan menatapnya.
"Ciluuk ... Baa!" Pekik Jingga begitu lantang sambil membuka kedua telapak tangannya.
Sontak saja, sang penasihat begitu terkejut mendengarnya.
"Setaaan!" Kaget penasihat Chao Fu langsung meloncat mundur dan jatuh terduduk.
"Oh kasihan, oh kasihan, aduh kasihan. Ha-ha-ha!" kekeh Jingga menertawai si penasihat iblis Chao Fu.
Ratu Xin Li Wei sampai menepuk kening melihatnya, sedangkan Jenderal Jieru dan To Tao menundukkan kepala tidak ingin melihat kekonyolan tingkah Jingga.
Wuzz! Tap, tap!
Tiba-tiba saja lebih dari dua puluh iblis berdatangan lalu berlutut di depan Ratu Xin Li Wei. Dari kedua puluh iblis, dua di antaranya masih dikenali oleh Jingga yang pernah bertarung di alam fana waktu menjalankan misi menyelamatkan anak-anak yang diculik oleh para iblis.
"Salam hormat, Yang Mulia Ratu dan Jenderal Jieru." Ucap serentak para iblis yang berlutut.
"Katakan apa yang ingin kalian laporkan?" pinta Jenderal Jieru dengan sorot matanya yang tajam.
Ia bisa menerka apa yang akan dilaporkan oleh para komandannya dilihat dari sorot mata para komandan iblis. Terkaan yang dimaksud, tidak lain adalah kegagalan misi yang diemban para komandan iblis. Namun ia ingin mendengarnya langsung dari mulut para komandannya.
"Para kultivator alam fana dibantu para dewa berhasil menghancurkan 5 sekte aliran hitam yang berada di bawah naungan bangsa iblis," beber salah satu iblis yang berada paling depan di hadapan Jenderal Jieru memulainya.
"Teruskan!" imbuh Jenderal Jieru ingin mengetahui lebih jelas detail tentang kehancuran 5 sekte yang telah terbangun di alam fana.
Aksi para penyusup begitu rapi dan terkesan sangat membenci sekte aliran putih dan juga menentang keras pihak istana kekaisaran.
Para penyusup begitu mudah mengambil hati para tetua sekte, ditambah pula dengan tingkat kultivasi di atas rata-rata para kultivator hebat di alam fana, menjadikan para penyusup terlihat begitu menonjol dari yang lainnya. Mereka tidak memerlukan waktu lama untuk menjadi orang penting di lima sekte tersebut.
Setelah para penyusup berhasil menduduki posisi penting di tiap-tiap sekte yang sebagian besar menjadi tetua sekte, mereka mulai menjalankan aksinya dengan terus memprovokasi para tetua sekte untuk saling bertikai, dan juga mereka berhasil membenturkan kelima sekte pada kekacauan yang dibuat sedemikian rupa.
Kekacauan yang terjadi membuat para iblis menunjukkan taringnya di kelima sekte aliran hitam dengan mengeksekusi para tetua sekte yang dianggap sebagai pembuat onar.
Kehadiran mereka pada mulanya masih tidak diketahui oleh siapa pun. Hingga para penyusup bisa dengan jelas melihat keterlibatan bangsa iblis dalam pembentukan kelima sekte yang selalu mencari tumbal dalam meningkatkan kultivasinya. Mereka pun diam-diam melaporkannya ke pihak istana. Dan laporan mereka membuat pihak istana di tiga kekaisaran tidak lagi ragu untuk membumi hanguskan kelima sekte aliran hitam.
Alih-alih bisa dengan mudah untuk memusnahkan kelima sekte, para pasukan dari tiga kekaisaran harus menghadapi para iblis yang kembali turun tangan demi menyelamatkan kelima sekte dari serbuan para pasukan istana dan juga pasukan dari berbagai kultivator aliran putih.
Pertempuran besar pun terjadi di lima lokasi berbeda di tiga kekaisaran. Hal itu memancing para dewa turun ke alam fana untuk membantu para penghuni alam fana menghadapi para iblis yang menopangi kelima sekte.
Ketimpangan kekuatan di antara para iblis dengan pasukan istana yang dibantu oleh para kultivator aliran putih dan juga para dewa, membuat lebih dari dua puluh iblis terpaksa melarikan diri dari pertempuran untuk kembali ke alam iblis dan membiarkan kelima sekte hancur lebur di tangan tiga poros kekuatan.
Cerita yang sama pun dilontarkan oleh para iblis lainnya untuk membenarkan situasi yang terjadi di benua Matahari.
Ratu Xin Li Wei begitu geram mendengarnya. Begitu pun dengan Jenderal Jieru yang merupakan jenderal utama di istana iblis. Ia bertanggung jawab pada setiap misi istana iblis di alam fana.
"Sepertinya kita akan mengalami perang besar lintas alam sekali lagi," ujar Ratu Xin Li Wei dengan ekspresi lesu.
Ia lalu menghampiri Jingga yang daritadi menjadi pendengar yang baik pada setiap laporan yang disampaikan oleh para komandan iblis.
"Yang Mulia, sepertinya acara penyambutan tidak bisa kita laksanakan sekarang. Maafkan aku."
Jingga mengangguk pelan memahaminya. Sementara kedua puluh empat iblis terperangah mendengar ratunya menyebut Jingga sebagai Yang Mulia. Dua di antara yang berlutut tampak menyipitkan mata mengingat-ingat pemuda yang berdiri di samping sang Ratu.
"Acara itu tidak perlu kau selenggarakan. Aku tidak membutuhkannya ... tapi kenapa kalian para iblis yang memiliki sifat licik dan picik bisa dengan mudah diperdaya oleh bangsa manusia? Apakah kalian semua sudah berubah menjadi bangsa yang bodoh?" imbuh Jingga mengedarkan pandangannya ke arah para iblis yang masih berlutut menatapnya penuh amarah.
Kedua puluh empat iblis langsung berdiri dengan sorot mata mengintimidasi. Mereka tidak menerima dicap sebagai bangsa yang bodoh.
Sring!
Jenderal Jieru bereaksi dengan mengacungkan pedangnya.
"Yang Mulia Jingga, berikan hamba perintah." Kata Jenderal Jieru dengan begitu tegas.
Kedua puluh empat iblis menjadi heran dengan sikap jenderalnya yang tiba-tiba meminta sang pemuda untuk memberikan titah eksekusi.
"Tunggu, Jenderal! Si-siapa pemuda iblis Tongzhi itu sebenarnya?" tanya iblis berbadan gempal ingin mengetahui kebenarannya.
Jenderal Jieru tidak bergeming sama sekali. Baginya, pantang menurunkan pedang sebelum perintah diterima. Ia masih mengangkat tinggi pedangnya menunggu perintah dari Jingga yang belum memutuskan apa pun.
Selain Jenderal Jieru, semua mata langsung beralih ke arah Jingga. Mereka ingin tahu, keputusan apa yang akan diambil olehnya.