Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Aksi Kedua Gadis



Sementara itu, di area berseberangan dengan pertarungan Bai Niu yang baru saja usai. Qianmei dengan kecepatannya berhasil memberikan banyak luka sayatan di tubuh pria beralis tebal.


SRET! SRET! SRET!


Tampak pakaian yang dikenakan pria beralis tebal begitu compang-camping dan dipenuhi oleh darah berwarna merah pekat yang terus menetes keluar dari setiap baris luka yang menganga.  Tanpa rasa iba sekalipun, Qianmei tanpa henti terus melukisnya dengan sangat lihai bak pelukis profesional.


Ketiga pria yang menyaksikannya dibuat bingung antara membantu kawannya yang mengenaskan atau menyerang Bai Niu yang telah berhasil membunuh salah seorang kawannya yang lain.


“Bagaimana ini? Apa kita bagi dua saja?” tanya pria hidung pesek mulai sedikit panik.


“Biar aku yang melawan gadis bercadar itu. Kalian berdua hadapi saja si gadis jelek bergaun hitam yang daritadi terus menyeringai dingin mencemooh kita,” ujar pria bermata sipit.


“Baik. Berhati-hatilah dengan kecepatan si gadis bercadar,” kata pria hidung pesek mengingatkannya.


Perbincangan ketiganya membuat Bai Niu dan Qianmei berkacak pinggang melihatnya. Qianmei sendiri baru saja menyelesaikan pertarungannya dengan menguliti tubuh si pria beralis tebal sampai mati mengenaskan.


Si pria bermata sipit yang akan membantu temannya tampak keheranan karena tidak melihat pertarungan.


“Hah! Sudah selesai,” ucapnya sambil menggaruk kepala.


Sontak saja ucapannya terdengar oleh kedua gadis yang langsung tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.


“Kalian sudah jelek kenapa ditambah dengan kebodohan? Ha-ha-ha,”  celetuk Bai Niu menertawakan ketiganya.


Hilang sudah harga diri ketiganya di depan kedua gadis yang terus saja tertawa dengan lepasnya. Tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulut ketiganya yang kini berganti dengan sorot mata penuh dendam dan amarah yang memuncak.


“Kak Niu’er, bersiaplah,” kata Qianmei sambil menepuk bahu kakaknya yang langsung berhenti tertawa.


“Sepertinya akan berjalan semakin menarik. Ayo kita tunjukkan kehebatan ilmu bayangan yang pernah kita pelajari dahulu,” balas Bai Niu.


“Kita serang dengan pola zig zag,” imbuh Qianmei.


“Ayo!”


SIU! WUZZ!


Kedua gadis melaju cepat dengan pola zig zag yang saling bersilangan menyerang ketiga pria yang entah kenapa masih berdiam diri di tempatnya.


Dua bayangan hitam dan putih melaju begitu cepat membentuk gumpalan angin spiral menghantam ketiga pria dengan tebasan dua bilah pedang tajam tepat mengenai ketiganya.


SRING! WUZZ!


“Aah!” jerit kedua gadis merasakan sakit yang teramat pilu.


Bai Niu dan Qianmei terpelanting jauh saling berseberangan di udara. Tanpa diduga keduanya, ketiga pria sengaja menunggu keduanya menyerang dan langsung berputar cepat menciptakan formasi yang terlihat membentuk setangkai bunga mawar berwarna putih yang di setiap kelopaknya merupakan bilah pedang yang bergerak dengan simetris tak ubahnya barisan pisau daging.


Di area bawah. Qianfan langsung bangkit berdiri merasakan cemas yang berlebihan melihat sang adik kandung terpelanting jauh dengan jeritan yang sangat memilukan.


“Tenanglah, Fan’er. Keselamatan keduanya tanggung jawabku. Duduklah!” Jingga mengerjapkan kedua mata meminta adik lelakinya untuk bisa tenang.


Fan’er yang dipenuhi keringat dingin langsung menghembuskan napas meredam kecemasannya dan ia pun kembali duduk dengan pandangan yang tak lepas dari adiknya yang kini telah berdiri kembali bersiap melanjutkan pertarungannya.


Ketiga pria dari aliansi Es Utara kembali diam menunggu serangan kedua gadis yang masih berusaha memulihkan diri. 


Bai Niu yang memiliki energi petir lebih cepat dalam proses pemulihan langsung bergegas menghampiri Qianmei.


“Maaf, Kak. Tetapi, lukaku terlalu dalam,” ungkap Qianmei sambil terus menahan bagian perutnya yang dipenuhi darah.


“Kamu turun saja, biar aku sendiri yang akan membalas lukamu,” ujar Bai Niu memintanya.


“Tidak, Kak. Aku tidak mau gagal di mata, Kak Jingga. Ayo kita lanjutkan lagi,” tukasnya bersikukuh.


Bai Niu menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin melibatkan adiknya yang dalam kondisi cedera untuk menemaninya bertarung.


“Aku ingin bertarung, Kak. Aku mohon …,” rengek Qianmei tetap pada pendiriannya.


“Turunlah, Memimu. Kamu bisa kembali bertarung setelah lukamu sembuh,” timpal Jingga memintanya.


Setelah mendengar permintaan langsung dari Jingga, akhirnya Qianmei luluh juga pada keinginannya untuk terus melanjutkan pertarungan. Ia pun langsung melaju turun dengan lambat karena harus menahan perih di perutnya yang terkena tebasan pedang yang berbentuk kelopak mawar putih.


Fokus semua orang pada Qianmei yang melayang turun dimanfaatkan oleh seorang kultivator aliansi Es Utara untuk menyerangnya dengan serangan cepat. 


WUZZ!


Kultivator itu pun melesak cepat dengan menjulurkan pedang ke arah Qianmei yang tidak menyadarinya. Nahas, seberapa cepat pun si kultivator melaju, hal itu tidak ada artinya untuk seorang Jingga yang melihatnya seolah sedang merayap.


Berada pada dua tombak jarak ujung pedang dengan leher Qianmei yang menjadi sasaran si kultivator.


DUAR!


 Jingga mengedipkan matanya dengan kedipan mata iblis, tubuh sang kultivator langsung hancur lebur berserakan di udara seraya dengan pedangnya sebelum sempat mengenai Qianmei.


Sontak saja semua orang yang melihatnya terbelalak tidak percaya. Yang pertama, mereka tidak menduga akan adanya serangan cepat dari seorang kultivator aliansi Es Utara, dan yang kedua adalah bagaimana bisa si penyerang langsung hancur tanpa adanya serangan energi spiritual yang menghantamnya. 


Tidak ada yang bisa memberi kesimpulan dengan pasti, beberapa orang berasumsi bahwa si kultivator ingin meledakkan dirinya bersama Qianmei, namun terlalu cepat melakukannya. Hanya itu kesimpulan masuk akal yang bisa diterima oleh sebagian orang.


Sementara di sisi Qianmei yang terkejut akan ledakan di dekatnya langsung mengetahui siapa yang orang yang sanggup melakukannya, siapa lagi kalau bukan Jingga orangnya. Ia lalu melanjutkan laju turunnya dengan seutas senyum menatap ke arah seorang pemuda yang tengah asyik rebahan sambil mengusap rambut putih si nenek yang tertidur pulas di dadanya.


Pun demikian dengan reaksi kedua pria yang mematung di balik awan. Keduanya begitu terperangah tidak percaya melihat temannya meledak tanpa adanya serangan energi spiritual yang menyerangnya.


“Sebaiknya kita kembali untuk melaporkan kejadian ini, kita tidak boleh meremehkan kedua gadis jelek itu lagi,” ajak pria mata sipit.


“Betul, ayo lari!” tanggap pria hidung pesek yang tanpa aba-aba langsung melaju cepat melarikan diri.


“Sialan! Dia malah lari sendiri,” rutuk pria mata sipit lalu mengejarnya.


DUAR! DUAR!


Dua kilatan petir menyambar lebih cepat dari pelarian keduanya. Kelengahan keduanya dimanfaatkan dengan baik oleh Bai Niu yang langsung melesakkan sambaran petir ke arah keduanya. Ia sedari tadi berdiri melayang di dekat keduanya yang mungkin karena panik tidak menyadari keberadaan sosoknya.


“Ha-ha-ha. Ternyata kebodohan keduanya memang bawaan lahir. Kasihan,” ucap Bai Niu merasa iba pada keduanya. 


Setelah memasukkan Jianshandian ke tubuhnya, Bai Niu lalu melayang turun menyusul Qianmei yang sudah lebih dulu turun. Bai Niu yang sedikit narsistik sengaja tidak melaju cepat untuk mendarat. Tatapan kagum dari semua orang di bawah membuatnya merasa seperti pahlawan perang. Ia pun menampilkan senyum manisnya yang menawan.


Namun, kekalahan musuh bukanlah akhir dari pertarungan. Kata-kata itu yang kini dialami oleh Bai Niu yang menganggap pertarungan sudah usai. di belakangnya, ratusan bongkahan es berbentuk kerucut melaju dengan cepat ke arahnya.


“Kak Niu’er, awas!” pekik melengking Qianmei menggema di udara.


Bai Niu langsung membalikkan badan melihatnya. Ratusan bongkahan es tinggal beberapa centi akan mengenai tubuhnya yang terlambat bereaksi.


DUAR! DUAR! DUAR!