Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Murka Sang Ratu



Sebelumnya ketika serangan dari ribuan bilah energi pedang melesak menyerangnya. Jingga langsung mengetahui trik yang sedang dilancarkan oleh Ratu Kreya untuk menjebaknya.


"Betina bodoh!" ejek Jingga lalu membuat ilusi seolah dirinya dan Panglima Tianfeng bertahan di balik perisai iblis.


Setelahnya, Jingga langsung membuat portal dimensi lalu menarik Panglima Tianfeng memasukinya.


Tepat di dalam istana iblis yang terbakar. Jingga dan Panglima Tianfeng berkelebat ke posisi dewa Api dan sebagian komandan berada. Beberapa komandan tampak heran melihat sang Panglima datang bersama seorang pemuda yang tidak dikenalnya.


“Hormat, Panglima!” ujar para komandan dengan mengepalkan tangan sedikit membungkuk menyambutnya.


Panglima Tianfeng mengangguk lalu berkata,


“Kalian tidak perlu bertanya di mana para komandan lainnya,” tegas Panglima Tianfeng menjawab tatapan penuh tanya dari anak buahnya.


“Waktu kita tidak banyak. Ayo kita kembali ke alam dewa!” imbuhnya lalu melesak terbang ke arah lokasi semula para dewa turun diikuti oleh para komandan yang tersisa.


WUZZ!


Tiba-tiba saja ribuan bilah energi pedang meluncur cepat menyerang para dewa yang melayang terbang. Akan tetapi, serangan itu langsung dihadang oleh Jingga yang bereaksi cepat dengan melemparkan Jianhuimie Yuzhou.


DUAR! DUAR!


Ribuan bilah energi pedang pun hancur berkeping-keping oleh putaran cepat Jianhuimie Yuzhou. Panglima Tianfeng yang merasakan adanya serangan ke arah dirinya langsung menghentikan laju terbangnya. Ia langsung menoleh ke arah Jingga dan mengangguk tanda ia berterima kasih lalu melanjutkan kembali laju terbangnya bersama para komandan meninggalkan alam iblis.


“Aku tidak pernah bertemu iblis sepertimu,” celetuk dewa Api memperhatikan pemuda di dekatnya.


Jingga menoleh ke arah dewa Api lalu tersenyum lembut menanggapinya. 


“Kau lanjutkan saja tugasmu memadamkan api. Aku harus menghentikan Nyonya gila yang penuh obsesi itu.” Balas Jingga lalu menghilang dari tempatnya.


“Aku penasaran siapa dia sebenarnya? Tingkat kultivasinya tidak bisa aku ketahui.” Gumam batin dewa Api yang diam-diam memindai ranah kultivasi pemuda di dekatnya.


Di langit muncul bayangan merah dengan wajah yang memerah menahan kesal.


“Sialan! Dia lagi, dia lagi.” Rutuk Ratu Kreya setelah melihat serangannya kembali gagal.


Kesalnya sang Ratu tidak diimbangi dengan kewaspadaannya pada Jingga yang menyelinap di balik kobaran badai api yang berkibar.


Jingga melesak dengan cepat mengayunkan pedangnya secara vertikal menebas Ratu Kreya yang tidak menyadari adanya serangan.


Duar!


Hantaman keras bilah tajam pedang tepat mengenai tubuh sang Ratu yang tidak sempat menghadangnya.


Dug! Kraak!


Ratu Kreya pun terpelanting ke bawah menembus bebatuan yang menyala.


“Ah!” ringis Ratu Kreya merasakan sakit disekujur tubuhnya. 


Ia lalu bangkit di reruntuhan bara api dan kembali melesak ke udara.


Krak!


“Ah!” kembali Ratu Kreya meringis kesakitan.


Sakit yang ia rasakan kali ini begitu memilukan, ia merasa seolah tubuhnya terbelah dua setelah terkena tebasan cepat pedang Jianhuimie Yuzhou.


“Ka- Kau!”


“Ha-ha-ha. Kau cukup lumayan juga bisa bertahan dari tebasan pedangku.”  


“Huh! Hanya itukah yang bisa kau sombongkan?”


“Ya, karena sekali tebas saja kau sudah meringis kesakitan. Bagaimana? Apa Nyonya kurang puas?” Jingga terus saja memprovokasinya.


Ratu Kreya mulai geram mendengarnya. Ia lalu memancarkan aura iblis untuk mengintimidasi pemuda iblis di depannya. 


Wuzz!


Jingga menyeringai dingin merasakannya. Aura iblis yang terpancar dari tubuh Ratu Kreya tidak membuatnya bergeming sama sekali. Ia malah santai saja menanggapi tekanan dari aura yang semakin lama semakin kuat menekannya.


“Aura iblis yang kaupancarkan masih terlalu lemah untukku. Apa tidak ada lagi yang lebih bisa kau andalkan?” tak henti-hentinya Jingga mencemooh sang Ratu agar mau mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya.


“Aku muak mendengar ocehanmu itu, bajingan!” murka Ratu Kreya lalu merentangkan kedua tangannya.


Jingga tampak begitu antusias melihatnya. Ia berharap sang Ratu mau menunjukkan kemampuan terbaiknya.


Tar! Tar! Tar!


Cambuk hitam itu melecut di udara dan mengeluarkan suara keras yang meledak-ledak. Jingga semakin tertarik melihat cambuk hitam yang di setiap ruasnya terdapat logam berbentuk runcing dan berkilat.


Wuzz!


“Hiat!” Ratu Kreya mengeluarkan suara teriakan yang melengking panjang, lengking yang membuat langit bergetar semakin keras, lengkingan yang mengandung kemurkaan, kengerian, dan tekanan mental pada siapa pun yang mendengarnya. Ujung cambuknya menyambar ke depan dan meluncur cepat ke arah kepala pemuda iblis yang masih menyeringai dingin menunggunya.


Ketika ujung cambuk hampir mengenai wajah, Jingga langsung mengangkat tangan kanannya, jari-jari tangannya bergerak menyentil ujung logam yang runcing.


Tring! Tring! Tring!


“Ah!” Ratu Kreya menjerit lalu berpindah posisi ke sisi kanan Jingga sambil merasakan panas pada telapak tangan yang menggenggam erat cambuk hitamnya.


Jingga yang berhasil menghadang lecutan cambuk langsung menghilang dari tempatnya. Ia melesak menyerang Ratu Kreya yang kembali berpindah posisi karena tidak ingin terkena hantaman dari Jingga. Namun sangat disayangkan, kecepatannya tidak bisa menghindarkannya dari hantaman keras pukulan sang pemuda iblis.


Bag! Bug! Bug!


Tiga pukulan telak dilayangkan Jingga tepat mengenai bagian dada, ulu hati, dan perut sang Ratu.


Wuzz!


Ratu Kreya kembali terpelanting jauh dengan tubuh berputar di udara sejauh seratus langkah kaki. 


“Hoek!”


Seonggok cairan berwarna hitam dimuntahkan Ratu Kreya setelah berhasil menstabilkan tubuhnya yang terpelanting. Jingga yang melihatnya sedikit heran. Ia tidak mengetahui cairan hitam tersebut. Namun ia tidak mempedulikannya.


“Ha-ha-ha. Dua kali aku berhasil membuatmu menderita. Sepertinya Nyonya masih malu-malu mengeluarkan kemampuan terbaik yang Nyonya miliki ..., cobalah berusaha lebih keras lagi.” Kekeh Jingga begitu senang bisa mempermainkan Ratu Kreya.


Di samping itu. Ratu Kreya tidak habis pikir dirinya bisa begitu mudah dipermainkan oleh Jingga.


“Ini sungguh aneh, aku tidak mungkin kalah darinya.” Gumam batin Ratu Kreya begitu sulit mempercayainya.


“Sudah aku katakan kepadamu, aku ini istimewa. Salahmu sendiri yang terlalu meremehkanku. Tapi Nyonya tenang saja, aku tidak akan menyerang sampai Nyonya menyerangku dahulu.” Kembali Jingga mengejeknya.


Ratu Kreya pun tersulut emosi dibuatnya. Wajahnya menjadi merah merona karena murka.


“Brengsek kau ...! Aku tak sudi kalah darimu!”  geram sang Ratu lalu memasukkan kembali pecut hitam kemudian ia menyilangkan kedua tangan di dada.


Pendar cahaya putih menyeruak keluar dari tubuhnya. Tiba-tiba saja gaunnya yang berwarna merah berubah menjadi warna putih, begitu pun dengan rambut dan alisnya yang menyerupai warna gaunnya. Wajahnya yang merah merona berubah menjadi seputih salju. Kekuatannya pun bertambah dengan pesat.


Jingga sendiri langsung terbelalak melihat perubahannya.


"Wow! Nyonya menjadi semakin cantik," Jingga terpesona dengan penampilan baru sang Ratu.


"Siapa yang cantik?" Lengkingan suara terdengar nyaring di benaknya.


"A- anu, musuhku, Sayang." Gugup Jingga menyahuti suara istrinya.


"Jangan memuji wanita lain!" bentak Xian Hou.


"Iya, Sayang."


Ratu Kreya yang memperhatikan perubahan tiba-tiba raut wajah Jingga merasa senang di hatinya. Ia mengira kalau Jingga mulai menunjukkan rasa takut padanya.


"Bocah tengik! Apa bisa kita melanjutkannya?" ucap sang Ratu begitu percaya diri.


"Eh, daritadi aku menunggumu. Mari Nyonya. Silakan!"


"Huh! Kau masih saja memuakkan." Dengus sang Ratu lalu kembali mengeluarkan pecut hitamnya.