Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Pertarungan Yang Tak Diinginkan


Keheningan kota Lieren Guojia paska berakhirnya pertempuran membuat keduanya membisu dalam perjalanannya.


Tiada kebahagian yang terbesit di raut wajah keduanya, tumpukan mayat yang mulai membusuk semakin membuat keduanya begitu larut dalam keheningan.


Terik matahari tidak lagi menyengat kedua pemuda yang terus saja melayang rendah menyusuri setiap jengkal kota Lieren Guojia yang menyisakan tumpukan mayat.


Namun apa yang dirasakan keduanya tidak berlangsung lama, gemuruh langkah kaki kembali terdengar dari kejauhan.


"Kak!" Panggil Bai Niu meliriknya.


Jingga mengangguk menanggapinya, namun berbeda dengan sebelumnya, kali ini Jingga tidak lagi bersemangat untuk menghadapi pertarungan. Ia langsung menggenggam jemari tangan adiknya lalu melayang terbang ke udara.


"Apa kau bisa menekan kultivasimu?" Tanya Jingga.


Bai Niu menggelengkan kepala, ia masih belum mengetahui caranya.


Jingga langsung membuat perisai melindungi adiknya lalu merubah dirinya menjadi bayangan, ia melihat ribuan kultivator terus berdatangan dari berbagai arah seperti gelombang tsunami yang menerjang sebuah kota, jumlahnya hampir tiga kali lebih banyak dari ribuan kultivator yang dihadapi sebelumnya.


Dari ribuan kultivator yang berdatangan, sebagian besarnya adalah para remaja baik laki-laki ataupun perempuan yang masih berada di ranah Pendekar sampai ranah Mahir.


"Naninu, kau tunggulah di sini" pinta Jingga langsung melesat turun.


Bai Niu mengangguk tanpa bisa melihat wujud kakaknya.


Jingga melayang rendah memperhatikan semua kultivator yang terlihat kebingungan tidak menemukan keberadaan kedua pemuda yang akan dibunuhnya.


"Tetua, sepertinya kita terlambat. Keduanya sudah tidak berada di kota ini" ujar seorang pria paruh baya setelah memindai seluruh area kota.


"Kau salah, pemuda asing itu ada bersama kita" balas seorang pria yang terlihat sepuh. Ia bisa merasakan keberadaan seseorang tidak jauh darinya.


Jingga langsung menampakkan dirinya di hadapan puluhan tetua sekte.


"Apa kalian mencariku?" Tanya Jingga yang membuat para tetua langsung waspada. Hanya dua tetua saja yang bersikap datar akan kehadirannya.


Para tetua langsung memindai tingkatan kultivasi pemuda asing di depannya, tidak ada satu pun yang bisa melihat tingkatan kultivasi Jingga.


"Ha ha ha, kalian tidak perlu repot memindai kultivasiku. Aku tidak berada di atas ataupun di bawah tingkat kultivasi kalian" ucap Jingga yang kembali membuat heran para tetua.


"Siapa sebenarnya pemuda asing ini?, kenapa aku tidak bisa melihat tingkatannya?" Tanya pikir pria tua begitu penasaran. Ia yang merupakan kultivator tertinggi di alam fana merasa heran tidak bisa mengetahui tingkatan pemuda asing di depannya.


Jingga mengabaikan keheranan para tetua, ia lalu menatapnya dengan serius.


"Ada dua hal yang akan aku sampaikan kepada kalian, pertama aku begitu kagum dengan kalian yang berada di ranah Warrior yang tidak aku temukan di kekaisaran Fei dan Zhao, bahkan dua orang dari kalian sudah berada di ranah Emperor Perunggu yang berarti setara dengan para dewa. Dan yang kedua aku begitu sangat kecewa, sebelumnya kalian mengirim banyak murid sekte yang berada di ranah Ahli Perak sampai ranah Master Emas, tentunya kalian tahu hasilnya seperti apa, lalu kenapa kalian sekarang membawa ribuan murid yang baru memulai kultivasinya?" Ungkap Jingga diakhiri pertanyaan.


Para tetua tersentak dengan perkataan Jingga yang membuat semuanya sulit untuk menjawabnya.


Seorang pria paruh baya lainnya melangkah maju mendekati Jingga.


"Anak muda, aku pribadi sangat mengagumi kemampuanmu. Kami sengaja membawa semua murid sekte kami untuk melihat langsung kehebatanmu dan wanitamu yang kami dapatkan informasinya dari beberapa orang yang kembali ke sekte, mereka semua harus melihat dengan mata mereka sendiri tentang kehebatanmu itu" jawabnya beralasan.


Jingga tersenyum simpul mendengarnya.


"Cukup bisa diterima alasanmu itu, baiklah! Kita tentunya tidak ingin lama berada di sini, tidak nyaman juga menghirup bau busuk dari mayat murid yang sedang kalian injak. Maka bersiaplah" timpal Jingga lalu merentangkan kedua tangannya bersiap melawan para tetua sekte.


Belasan tetua sekte mundur beberapa langkah termasuk dua tetua yang berada di ranah Emperor ikut mundur.


Jingga sedikit kecewa melihatnya, awalnya ia ingin menghadapi semua tetua sekte secara langsung, namun tidak begitu masalah untuknya.


"Mohon bimbingan para tetua semuanya" ucap Jingga lalu melompat-lompat meregangkan tubuhnya.


Sepuluh tetua langsung mengeluarkan senjatanya, hampir semuanya menggunakan pedang untuk menghadapi Jingga, hanya satu orang saja yang menggenggam tombak.


Jingga sendiri tidak mengeluarkan pedangnya, ia memakai tangan kosong untuk menghadapinya.


"Hiaat!" Teriak seorang tetua sekte melompat mengayunkan pedangnya secara vertikal.


Bugh!


Jingga hanya satu langkah menghindarinya lalu dengan cepat Jingga melayangkan tinjunya.


Bugh!


Tetua yang menyerangnya terlempar jauh menabrak beberapa murid sekte yang ikut terjatuh menahannya.


Tiga tetua lainnya langsung menyerang Jingga secara bersamaan.


Bugh! Bugh! Bugh!


Ketiga tetua langsung terpelanting jatuh bergulingan terkena pukulan Jingga yang bergerak lebih cepat dari ketiganya.


Enam tetua lainnya langsung membentuk formasi diikuti oleh keempat tetua yang beranjak berdiri.


Melihat para tetua yang terus berpindah-pindah posisi dalam pola formasi yang dibuatnya, Jingga berkelebat memasuki formasi tanpa diketahui oleh kesepuluh tetua.


Ia langsung membunuh seorang tetua yang berada di belakang dengan api semestanya lalu dengan cepat merubah dirinya menjadi seorang tetua yang dibunuhnya tanpa diketahui oleh siapa pun.


Jingga yang memiliki keahlian dalam membuat pola, begitu mudahnya mengikuti gerakan para tetua sekte.


"Hiaat!" Teriak kesepuluh tetua bersamaan dalam formasi.


"Ke mana pemuda asing itu?" Tanya beberapa tetua kebingungan. Tidak hanya mereka, bahkan belasan tetua lainnya tidak melihat ke mana pemuda asing itu berada.


Jingga berpura-pura menanyakannya juga dengan raut wajah sama seperti para tetua lainnya yang begitu kebingungan.


"Waspadalah" ucap seorang tetua sekte paling depan lalu berpindah-pindah posisi dengan begitu cepat untuk menggabungkan energi spiritualnya.


Masih dalam formasi yang diikutinya, Jingga dan kesembilan tetua terus bertukar posisi dalam formasi. Perpindahan posisi yang cepat membuat Jingga dengan mudahnya membunuh tetua sekte dan terus berganti rupa hingga menyisakan dirinya saja yang langsung kembali ke rupa aslinya.


Belasan tetua sekte terperangah dengan pemuda asing yang tersenyum lebar menghilangkan para tetua sekte dalam pola formasi.


"Kau! Di mana para tetua sekte lainnya?" Tanya pria tua masih sulit mencernanya.


Pria tua langsung mencoba berkomunikasi melalui teleportasi dengan kesepuluh tetua sekte yang menghilang.


Mendapatkan jeda waktu, Jingga langsung mengeluarkan araknya menunggu tetua sekte lainnya untuk bertarungan dengannya.


"Kalian jangan terlalu lama, sebentar lagi langit akan gelap" ujarnya sambil menikmati araknya.


Pria tua yang terus berusaha untuk berkomunikasi dengan kesepuluh tetua sekte mulai tersulut emosi. Tanpa aba-aba, ia langsung melesat menebaskan pedang merah bertanduk ke arah Jingga.


Wuzz!


Jingga yang sudah memperkirakannya langsung menghilang menghindari tebasan pedangnya.


Dhuar!


Beberapa mayat kultivator langsung hancur dan menciptakan lubang besar di tanah.


Pria tua dengan cepat terus mengayunkan pedangnya ke arah Jingga.


Dhuar!


Dhuar!


Ledakkan keras terus terdengar dari setiap tebasan yang dilayangkan oleh pria tua.


Tidak ingin terus diburu oleh pria tua yang memiliki kemampuan setara dewa, Jingga langsung merubah dirinya menjadi bayangan.


Aura pria tua menyebar memindai keberadaan Jingga di sekitarnya.


Jingga memanfaatkan keberadaan ribuan murid sekte untuk mengelabuinya lalu menargetkan membunuh belasan tetua sekte.


Jingga terus berpindah-pindah mendekati belasan tetua sekte yang mewaspadainya lalu dengan api semestanya membunuh satu persatu dari belasan tetua sekte yang tidak menyadarinya.