
Langit malam yang harusnya mendamaikan hati tidak terjadi di atas kota Lieren Guojia yang terus bergemuruh oleh suara pertarungan dan asap pekat dari beberapa rumah yang terbakar.
Kemampuan hebat yang ditunjukkan dari ratusan kultivator menjadikan pertarungan begitu sengit dan terlihat menegangkan, ribuan cahaya terang dari energi spritual para kultivator terus beterbangan dan dentuman keras saling beradu mewarnai langit malam bagaikan sebuah festival perayaan hari besar.
"Hiat!, Hiat!, Hiat!" Teriakan Jingga yang terus memukul dan menendang para kultivator dengan cepat di udara. Ia terlihat begitu puas melemparkan para kultivator dengan pukulan dan tendangan yang terus dilayangkannya.
Berbeda dengan Jingga yang sangat menikmati pertarungannya, Bai Niu mulai terkuras energi spiritualnya menghadapi para kultivator yang unggul jumlah darinya.
Kecepatannya semakin melambat, beberapa tebasan kultivator berhasil menyayat gaun yang dikenakannya hingga kulit putihnya tampak terlihat oleh para kultivator muda yang menghadapinya.
"Nona, kau sungguh memanjakan kami" ucap pria yang terus memperhatikannya.
Bai Niu hanya mendengus mendengar ucapan pria yang melecehkannya.
"Aku bisa kalah kalau terus seperti ini, persetan dengan ucapan Kakakku, aku harus memanfaatkan energi petir yang aku miliki" umpatnya mulai merasa lelah menghadapi para kultivator yang semakin beringas menyerangnya.
"Hiaaa!" Teriak Bai Niu bertransformasi menjadi dewi Petir.
Aura dewanya yang terpancar berhasil membuat para kultivator di dekatnya terlempar jauh di udara.
Langit langsung bergemuruh dengan kilatan petir yang mulai bermunculan di awan.
Bai Niu memutar tubuhnya menjadi beliung yang begitu besar berputaran dengan cepat menghisap ratusan kultivator memasukinya.
Dengan amarahnya, Bai Niu menebaskan pedangnya menghancurkan tubuh para kultivator menjadi serpihan daging yang bercampur dengan logam dari berbagai senjata tajam milik para kultivator.
Boom!
Daging-daging yang hancur beterbangan ke segala arah.
Bai Niu berhenti berputar, ia berdiri melayang sambil menggenggam pedang besarnya menatap para kultivator yang merinding menyaksikan kengerian yang baru saja terjadi.
"Kekuatan macam apa itu?" Tanya pikir beberapa kultivator melayang mundur menjauhinya.
Bai Niu menyeringai tajam memperhatikannya, ia langsung melesat cepat menebas kultivator satu persatu.
Sret!
Sret!
Belasan kultivator yang tersisa telah mati terbelah oleh tebasan Jianshandian.
Ratusan kultivator lainnya yang berada di area pertarungan Jingga langsung memisahkan diri mencoba menghadapi gadis cantik yang begitu anggun diterpa angin malam.
Mereka beterbangan menghampiri gadis yang baru saja memusnahkan ratusan kultivator tanpa tubuh yang utuh.
"Nona cantik, izinkan kami mencoba kemampuanmu" ucap seorang kultivator muda mendekatinya.
Bai Niu langsung membalikkan badan menoleh ke arahnya, sorot matanya begitu tajam dengan aura dewa yang begitu menekan para kultivator yang mendekatinya.
"Kemarilah sayang" timpalnya sambil menggerakkan jari manisnya meminta pemuda yang berbicara untuk semakin mendekatinya.
Pemuda itu berdebar jantungnya melihat kecantikan Bai Niu yang memanggilnya dengan kata sayang. Ia langsung mendekati Bai Niu dengan mengusap rambutnya ke belakang dan senyuman yang mengembang.
"Aku jadi tidak tega mem-" ucapnya terpotong.
Sret!
Kepala pemuda terpisah dari tubuhnya dan langsung jatuh menghilang.
Ratusan kultivator lainnya terperangah melihat melihat pemuda yang terbang mendekati gadis cantik langsung jatuh dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya.
"Kenapa kalian diam saja? Kemarilah, bukankah kalian begitu menginginkan diriku yang cantik ini?" Tanya Bai Niu menatap genit ratusan kultivator yang berdiam diri melihatnya.
"Kau sajalah yang duluan menyerangnya" pinta seorang kultivator mendorong pemuda di depannya.
"Kau saja" balas pemuda yang paling depan menarik tangan pemuda yang mendorongnya.
Beberapa saat kemudian ratusan kultivator saling dorong mendorong untuk menghadapi Bai Niu yang masih berdiri menunggunya.
"Apakah kalian akan terus begitu?, Baiklah! Aku akan menunggunya" tanya Bai Niu lalu kembali menyingkap gaunnya, kali ini ia menyingkap bagian atasnya, tatapannya terlihat begitu sayu dengan ekspresi wajah nakal menggoda para kultivator muda yang masih saling mendorong satu sama lainnya.
Di area pertarungan Jingga, ratusan kultivator mulai berjatuhan ke darat karena kehabisan energi menghadapi pemuda bertangan kosong yang menjadi lawannya.
Tidak ada lagi kultivator yang tersisa di dekatnya, Jingga melesat turun melihat para kultivator yang terbatuk memuntahkan darah.
"Sepertinya kalian begitu kelelahan, aku akan memberikan waktu untuk kalian memulihkan diri tapi jangan terlalu lama" ucap Jingga yang langsung menengadah ke atas langit di area lain tempat adiknya bertarung.
Mentari pagi mulai menampakkan diri di ufuk timur, Jingga terduduk di sebuah batu sambil menikmati araknya. Kini terlihat dengan jelas olehnya tumpukan mayat yang berserakan memenuhi area kota yang hancur karena pertarungannya.
Ia teringat kembali masa kecilnya di benua Majang dengan suasana serupa dari apa yang dilihatnya sekarang.
"Apakah mereka semua tidak memiliki keluarga?, Kenapa mereka begitu mudahnya menyerahkan nyawa hanya untuk sesuatu yang tidak ada artinya?" Tanya batinnya begitu pilu melihat tumpukan tubuh tanpa nyawa di sekelilingnya.
Jingga melirik ke arah para kultivator yang sedang memulihkan diri.
Di udara, Bai Niu bernyanyi dengan begitu merdu sambil menikmati hangatnya mentari pagi yang menyinarinya.
"Ah, aku rindu memainkan kecapi sambil menikmati indahnya danau Telaga" gumamnya mengenang kembali waktu dirinya masih belia.
"Berengsek!" Geramnya ketika teringat kisah pilunya diperlakukan buruk oleh klan Chu.
"Aku benci semua pria kecuali Kakak jelekku dan Kakak tampanku" Jerit Bai Niu yang membuat semua kultivator tersadar kembali dari buaian merdu suara gadis di depannya.
"Gadis gila" seloroh seorang pria yang terkejut mendengar teriakan gadis di depannya.
"Ha ha ha, kau mengatakan aku gila, lalu dirimu itu apa?, Kau dan semua temanmu adalah pria bodoh yang hanya bisa berdiam diri tanpa tahu harus menyerangku atau berbalik pulang ke pangkuan nenekmu yang sedang menunggumu sambil membersihkan halaman rumah jelekmu itu" timpal Bai Niu begitu lancar.
"Sok tahu! Nenekku sudah mati sejak lama" balas pria itu menanggapinya.
"Jangan disahuti! Kata ibuku, kalau gadis sedang marah jangan diajak debat, kau pasti kalah" pinta seorang pemuda di sebelahnya.
Dhuar!
Pria yang menyahutinya tersambar petir lalu jatuh.
"Aku tidak akan bermain-main lagi dengan kalian pria bodoh" ucap Bai Niu langsung melesat terbang menebas semua kultivator yang masih berdiam diri.
Sret!
Sret!
Beberapa kultivator berjatuhan mati terkena tebasan pedang. Beberapa kultivator lainnya langsung berpencar menjaga jarak dengan gadis yang terlihat sangat marah.
Bai Niu kembali melesat terbang dengan beringas menebaskan pedangnya ke setiap kultivator yang berusaha melawannya.
Trang!
Trang!
Beberapa kultivator berhasil menahan tebasannya, namun upaya mereka menjadi akhir perlawan yang bisa mereka lakukan.
Bai Niu dengan kecepatannya begitu mudah membelah setiap tubuh kultivator hingga menyisakan belasan orang saja yang berusaha melarikan diri.
Tanpa ingin menyisakan kultivator yang dihadapinya, Bai Niu menyambarnya dengan petir.
Dhuar!
Dhuar!
Sambaran petir berhasil meledakkan tubuh belasan kultivator yang sedang melesat terbang meninggalkan pertarungan.
"Huh! Selesai juga" gumam Bai Niu yang merasakan kepanasan oleh sinar mentari yang semakin panas menyengat kulitnya. Ia langsung melesat turun menghampiri kakaknya.
Dugh!
Dugh!
Suara jatuh dari para kultivator yang mati terus bermunculan menghantam tanah dan area rerumputan maupun di atas atap rumah penduduk kota.
Jingga dan semua kultivator yang berada di bawah menyaksikan tubuh-tubuh yang berjatuhan seperti pohon buah yang sedang panen diterpa angin besar.