
Jirex menolehnya, namun Jingga sudah tidak lagi berada di tempatnya. Ia hanya bisa menatap udara kosong di dekatnya. Pandangannya kembali fokus pada ribuan beasts monster yang semakin dekat menyerangnya.
Groar!
Semua beasts beruang hitam menderam keras, bersiap untuk menahan gempuran dari serangan para beasts monster yang berlarian.
Melihat jumlah serangan yang begitu banyak, memaksa Jirex harus bertransformasi ke wujud aslinya.
Groar!
Jirex berubah ke tubuh monsternya. Tidak tanggung-tanggung, ia langsung menggunakan tubuh logam dalam menghadapi para beasts monster yang seketika memperlambat langkah. Namun yang paling mengejutkan darinya adalah ukuran tubuhnya yang setara dengan sebuah bukit. Aura monsternya pun begitu mengintimidasi para beasts monster di bawahnya.
Lebih dari 200 beasts beruang hitam yang melihat wujud tuannya menjadi begitu bersemangat. Mereka bersyukur memiliki pemimpin terkuat di alam semesta.
Groar!
Beasts beruang hitam berlari penuh semangat menyerang para monster serigala di barisan terdepan. Kecepatan, daya tahan, akurasi, dan kekuatan beasts beruang hitam begitu sempurna dalam menyerang para serigala yang hanya bisa meraung keras di medan pertempuran.
Jirex yang memiliki ukuran tubuh super besar tidak tinggal diam, ia terus menghentakkan kaki menginjak-injak beasts monster di bawahnya. Bukan hanya itu saja, mulutnya pun begitu sibuk menangkap para phoenix dan naga yang berseliweran di dekatnya. Hebatnya lagi, setiap naga ataupun phoenix yang tertangkap oleh rahangnya hanya sekali gigit lalu telan. Para naga dan phoenix bukannya tanpa perlawanan sama sekali, namun, setiap upaya serangan yang mereka lakukan tidak berdampak apa pun di tubuh sang monster dari ras dinosaurus itu.
Jirex terlihat seperti sedang memetik buah-buahan yang sedang panen di perkebunan. Ia begitu lahap dan sangat menikmatinya.
Jingga yang berada di atas langit begitu terperangah melihatnya.
“Gadis monsterku lahap sekali!” kata Jingga yang memperhatikannya dari atas.
Ia lalu mengalihkan perhatiannya ke arah para pasukan Istana Langit di bawahnya.
“Pasukan Istana Langit kenapa begitu lemah?” gumam Jingga lalu melesak turun ke hadapan para pasukan yang berjalan cepat entah mau menyerang siapa.
“Halo, semuanya,” sapa Jingga menyambut para pasukan.
Para pasukan Istana Langit menghentikan langkah dengan serentak, lalu menarik berbagai senjata dan mengarahkannya ke depan.
“Serang!” pekik lantang seorang komandan memberikan perintah.
Jingga mengernyitkan wajah melihat para pasukan yang penuh keberanian mulai berlari menyerangnya.
“Jianhuimie Yuzhou!”
Jingga menggenggam pedangnya dengan erat. Menghadapi ribuan pasukan Istana Langit membutuhkan kecepatan tebasan pedang. Ia lalu menggunakan teknik membelah pedang dan menyatukannya di kedua tangan.
“Shashou Shouzi!”
Kini, kedua bilah pedang telah bersatu di kedua tangan Jingga. Ia bersiap untuk menebas para pasukan Istana Langit yang tinggal beberapa tombak dari dirinya.
“Aku ingin mendengar lantunan suara yang indah dari setiap tebasanku,” gumamnya lalu mengalirkan Api Kematian ke dalam bilah pedang dan mengurangi kekuatan jiwa dengan maksud untuk mendapatkan efek ledakan yang besar.
“Tarian Pedang Asura!”
Wuzz! Siu!
Jingga berkelebat memutar tubuhnya sambil mengayunkan kedua pedang secara acak namun teratur ke tubuh para pasukan.
Duar! Duar! Duar!
Ledakan demi ledakan dari tubuh pasukan mulai terdengar nyaring di medan pertempuran.
“Ledakannya terlalu cepat! Aku harus mengatur ritme untuk menciptakan nada yang merdu,” pikirnya.
Ia mengurangi energi Api Kematian ke tingkat terendah dan mulai memperlambat ayunan pedang.
Trang! Trang! Trang!
Duar! Duar! Duar!
“Yuhuu! Ini baru hebat!” serunya ketika menyaksikan efek dari setiap tebasannya.
Lebih dari 300 pasukan menjadi korban dari percobaannya. Jingga begitu bersemangat menebaskan pedangnya, laiknya seorang orkestra dalam konser musik.
“Mundur!” teriak lantang seorang komandan meminta semua pasukan untuk menjauhi jangkauan sang iblis.
Para pasukan secara estafet melangkah mundur beberapa puluh tombak untuk memperlebar jarak dari jangkauan sang iblis. Mendapati para pasukan yang menjauhinya, Jingga menghentikan langkah di tengah kepungan para pasukan yang mengelilinginya.
“Pasang jaring perisai!” lantang suara seorang komandan memberikan instruksi.
Para pasukan bermanuver membuat pola lingkaran besar secara berlapis-lapis. Setelah itu, mereka membentuk sebuah tameng hidup dari barisan terdepan.
“Tembak!” seru perintah seorang komandan.
Wuzz!
Ratusan anak panah melesat cepat ke tengah lingkaran. Desing suaranya begitu mengusik telinga seorang pemuda yang berdiri di tengah-tengah kepungan anak panah.
“Yang benar saja! Senjata begini ditembakkan kepadaku?” kata Jingga lalu menyilangkan kaki dan membiarkan ratusan anak panah mengenai tubuhnya. Akan tetapi, ratusan anak panah langsung melebur dalam jarak satu tombak dari tubuhnya hingga menciptakan gundukan partikel debu di sekelilingnya. Jingga sampai tertutupi oleh gundukan debu tersebut.
“Bakar!” Terdengar kembali sebuah perintah dari komandan tempur.
Wuzz!
Kini, ratusan anak panah berapi kembali melayang ke arah gundukan debu dan langsung membakarnya. Jingga yang berada di tengah gundukan hanya terdiam mematung sambil mengingat kembali kenangan indah bersama mantan istrinya.
“Kaupergi tak menyisakan apa pun lagi untukku, selain kenangan yang indah bersamamu. Matamu yang biasa kulihat di dalamnya terdapat keindahan surgawi, mata yang kemarin milikku, kini telah pergi.
“Terdengar sayup-sayup nada luka yang mengalun sepi di relung hatiku ketika aku mengingatmu. Selamat tinggal insan yang kukagumi. Aku akan pergi di atas kepedihan hati yang terukir dari keputusanmu. Sayang, kamu keterlaluan!”
Jingga terbuai dalam lamunan pilu. Api yang membakar tubuhnya tak cukup bisa dirasakan panasnya. Beberapa saat kemudian, kedua bola matanya melebar. Ia teringat akan istrinya yang sekarang bersama dengan Dewa Matahari.
“Sialan! Jangan-jangan dia sekarang lagi bercinta dengan dewa brengsek itu. Ah!” rutuk Jingga membayangkan apa yang sedang dilakukan oleh mantan istrinya.
Duar!
Gelombang aura iblisnya menyeruak keluar. Jingga terlihat begitu marah dan membuat para pasukan yang berbaris di depannya bergidik ngeri melihat ekspresi wajah sang pemuda iblis dipenuhi oleh emosi yang membara. Mereka berpikir, bahwasanya Jingga menjadi emosi setelah mendapatkan serangan panah yang dilayangkan para pasukan pemanah.
“Bersiaplah! Iblis itu sangat marah kepada kita,” ujar seorang komandan yang berada di baris terdepan.
Para pasukan semakin mengeratkan genggaman senjata bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dari seorang iblis yang marah.
“Pasukan pembantai!” teriak sang komandan.
“Huh! Huh!” seru dari ratusan pasukan pembantai menyahuti perintah.
“Habisi!” imbuh sang komandan.
Wuzz!
Lebih dari 200 pasukan bertubuh tinggi besar berlompatan beberapa tombak ke arah Jingga. Mereka tampak seperti algojo yang siap untuk mengeksekusi terdakwa hukuman mati. Golok-golok besar yang digenggam tangan kekar para pasukan pembantai, terlihat begitu mengintimidasi. Sayangnya, orang yang akan mereka eksekusi merupakan iblis yang kekuatannya tidak akan pernah bisa mereka bayangkan.
Jingga menyeringai dingin menatap para pasukan pembantai yang berjalan pelan mendekatinya. Ia lalu menatap kaki-kaki besar para pasukan dan berkedip.
Krak! Krak! Bugh!
Pasukan pembantai berjatuhan dengan kaki yang hancur dan berserakan di rerumputan.
“Ah!” jerit pilu dari suara hancurnya tulang kaki para pasukan menggema di udara.
“Teruslah menjerit! Bantu aku untuk mengurangi kegundahan hatiku,” kata Jingga yang begitu menikmati jeritan para pasukan bertubuh besar.
Para pasukan lain yang melihat kejadian itu tidak memahaminya sama sekali. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang melihat serangan dari Jingga.
“Dia menggunakan sihir,” celetuk seorang pasukan menyimpulkan.
Beberapa pasukan lainnya mengangguk setuju pada ucapannya itu, yang menjadi satu-satunya hal yang bisa mereka terima.