
"Baik kalau begitu," Timpal Jingga lalu melirik ke arah Feichang,
"Chang'er, ayo!" Ajaknya.
Feichang menganggukinya. Keduanya lalu melayang terbang meninggalkan kota Huanjue menuju ke arah benua Siwang Zhihong
"Pria imut, eh, maksudku Yang Mulia. Kenapa kita tidak menggunakan portal dimensi?" Tanya Feichang yang terbang di sebelahnya.
"Panggil pria imut saja, aku menyukainya ... menurutku tidaklah seru kalau kita langsung sampai ke tujuan. Bukankah sebuah proses akan lebih menyenangkan daripada hasilnya? Tentunya kita bisa menikmatinya, bukan?" Balas jingga menganalogikan.
"Hem, ya aku setuju denganmu, Pria Imut." Timpal Feichang.
Keduanya kembali fokus sambil mengedarkan pandangan memperhatikan suasana alam iblis di bawahnya. Tidak ada percakapan di antara keduanya selama beberapa waktu hingga tanpa terasa keduanya telah keluar dari wilayah benua Heibiantan.
Suasana di langit alam iblis mulai terlihat ramai oleh para iblis dari berbagai ras yang berlalu lalang di udara. Sorot mata Jingga tampak berbinar memperhatikannya. Namun apa yang dirasakan oleh Jingga berbeda dengan gadis iblis di sebelahnya. Feichang terlihat kelelahan setelah menempuh jarak yang sangat jauh melintasi benua yang begitu luas.
"Pria Imut, energiku tidak cukup untuk melanjutkan laju terbang. Bisakah kita istirahat dahulu?" Ungkap Feichang yang mulai bergetar seluruh tubuhnya karena energi iblisnya semakin menipis.
Jingga tidak langsung menjawabnya. Ia memperhatikan area perbukitan tandus di bawahnya yang tidak layak untuk dijadikan tempat beristirahat. Akan tetapi, ia tidak tega membiarkan energi iblis gadis di sebelahnya habis terkuras.
"Baiklah." Sahut Jingga menyetujuinya.
Feichang tampak senang mendengarnya, namun tiba-tiba saja ia terjun bebas dari posisinya. Jingga yang melihatnya langsung saja melemparkan rantai energi untuk melilit tubuh Feichang dan dengan cepat menariknya ke pelukannya.
"Kasihan dirimu, Chang'er. Maafkan aku," gumam Jingga lalu membawanya turun dengan perlahan.
Tap, tap!
Jingga berjalan sambil memangku tubuh Feichang lalu memindai bagian dalam bukit di depannya. Setelah dirasa aman kontur dinding bukit, ia pun menjentikkan jari untuk melubanginya.
Dhuar!
Bukit di depannya berguncang keras hingga bagian bawahnya terdapat retakan tanah yang cukup lebar. Dinding bukit yang meledak menciptakan sebuah lubang gua yang cukup dalam untuk dijadikan tempat istirahat keduanya. Jingga lalu memasukinya, kemudian mengibaskan punggung tangannya untuk membersihkan reruntuhan tanah bebatuan.
Setelah cukup bersih dari puing-puing reruntuhan. Jingga langsung membaringkan tubuh Feichang di alas tanah bebatuan. Ia lalu duduk bersandar pada dinding gua sambil terus menatap gadis iblis yang tidak sadarkan diri karena kehabisan energi.
"Aku bisa saja mengalirkan energiku, tapi tubuhmu tidak akan kuat menahannya," gumamnya merasa kasihan kepada Feichang.
Ia lalu memikirkan cara mendapatkan energi iblis untuk dapat mengalirkannya ke tubuh Feichang.
" Sepertinya aku harus menangkap beberapa iblis untuk menyalurkan energi ke tubuhmu. Kau beristirahatlah. Aku akan kembali." Imbuhnya.
Jingga lalu bangkit berdiri dan berjalan keluar meninggalkan Feichang yang terbaring di dalam gua, lalu memasang perisai untuk melindunginya.
Berada di luar gua, Jingga mendongakkan wajahnya memperhatikan para iblis yang berlalu lalang terbang di atasnya.
"Kenapa iblis di sini begitu lemah tingkat kultivasinya?" Gumam pikir Jingga sambil terus memindai tingkatan kultivasi setiap iblis yang melintas di atasnya.
Lebih dari lima puluh iblis yang dipindainya, ia masih belum juga menemukan iblis yang tingkat kultivasinya di atas Emperor Platinum yang bisa disalurkan ke tubuh Feichang. Hingga rasa suntuk mulai menghinggapinya. Ia lalu mengeluarkan araknya dan langsung menenggaknya seperti orang yang sangat kehausan.
"Ah, nikmatnya," lirih Jingga melepaskan kerinduan pada araknya,
"Kenapa aku sampai melupakan kesenanganku yang satu ini? Ha-ha-ha." Imbuhnya terkekeh.
Jingga lalu menjatuhkan tubuhnya pada posisi telentang di tanah. Kali ini ia bisa santai memindai iblis sambil menikmati arak yang terus ditenggaknya.
****
Sang Ratu tampak begitu depresi mengetahui ribuan pasukannya gagal membunuh kedua monster asing yang menghancurkan kota Monster di benua Beishang. Bukan kegagalan yang membuatnya murka hingga menjadi depresi. Ia murka karena banyak rencananya yang berantakan di alam fana dan alam iblis hanya karena harus mengurusi kedua monster yang tiba-tiba muncul membuat kerusakan di salah satu kota penting alam iblis.
"Yang Mulia, maafkan jika hamba lancang. Apakah tidak sebaiknya kita manfaatkan saja kekuatan kedua monster itu untuk mejadi perisai iblis dalam menghadapi kekuatan para dewa." Cetus seorang pejabat istana menawarkan ide.
"Ha-ha-ha. Apa kau sudah bodoh, Tuan penasihat iblis Chao Fu?" Kekeh Jenderal Jieru menanggapinya.
"Apa maksudmu, Jenderal?" Tanya Chao Fu tidak memahaminya.
"Kedua monster legenda itu ingin kita tunduk pada tuannya," jelas Jenderal Jieru menjawabnya.
Sang Ratu mulai mengingat sesuatu setelah mendengar kata tuan yang diucapkan oleh jenderalnya.
"Tunggu! Kenapa sampai sekarang aku tidak mendapat laporan dari klan Linghun Lieshou?" Potong sang Ratu baru mengingatnya.
Jenderal Jieru dan para pejabat istana iblis saling pandang satu sama lain. Mereka juga baru menyadarinya.
"Maaf, Yang Mulia. Apakah mungkin kali ini mereka gagal menjalankan misinya?" Balik tanya Chao Fu menerkanya.
"Bisa saja hal itu terjadi. Kedua monsternya saja bisa dengan mudah membantai pasukan iblis, apalagi dengan tuannya," jawab Ratu Iblis,
"Sepertinya kita harus fokus untuk mencarinya sendiri. Sampai sekarang aku masih belum yakin kalau yang disebut sebagai yang mulia agung itu suamiku Yuangu Mowang ... ia tentunya akan langsung kembali ke istana." Ujarnya melanjutkan.
Suasana di aula utama istana iblis menjadi hening. Sang Ratu bersama para bawahannya tampak larut dalam pemikirannya masing-masing.
Ketika semua iblis masih dibuai oleh pemikiran masing-masing, tiba-tiba saja seorang iblis muncul dengan berlutut di hadapan sang Ratu.
"Bao Yuze, apa yang kautemukan?" Tanya sang Ratu.
"Ada beberapa hal penting yang akan aku sampaikan kepada Yang Mulia. Yang pertama adalah sekte penyihir Mofa Gu yang mendeklarasikan diri sebagai pengikut seorang pemuda iblis dari ras Tongzhi bernama Jingga yang diklaim sebagai penerus Yang Mulia Agung Yuangu Mowang ... lalu yang kedua adalah adanya kelompok iblis yang diam-diam merekrut anggota untuk menjadi pengikut pemuda itu, dan yang terakhir adalah seorang iblis dari klan Linghun Lishou ikut bergabung dengannya." Beber Bao Yuze menjabarkan pengintaiannya.
Sang Ratu menutup kedua matanya. Ia sedikit mendapatkan pencerahan dari paparan yang disampaikan oleh salah satu pejabatnya.
"Sepertinya benar, kalau pemuda bernama Jingga itu yang menjadi penerus suamiku ... aku harus bisa menjadikannya pendamping hidupku," gumam sang Ratu bertekad.
Ia lalu membuka kembali kelopak matanya. Sekarang terlihat dari kedua matanya begitu berbinar. Para pejabat istana menatapnya dengan rasa ingin tahu akan perubahan suasana hati ratunya tersebut.
"Ha-ha-ha," tawa sang Ratu penuh keyakinan diri,
"Aku siap tunduk padanya," ucap sang Ratu dengan tatapan serius.
Para pejabat istana terperangah mendengarnya. Tidak ada satu pun dari mereka yang menduga sang Ratu bisa melontarkan ucapan seperti itu.
Jenderal Jieru sampai bergetar tubuhnya menanggapi ucapan mengejutkan yang keluar dari bibir ratunya. Ia mendesis penuh kekecewaan padanya.
Kembali para pejabat istana saling melirik satu dengan yang lainnya, mereka semua mempertanyakan keputusan sang Ratu yang di luar dari perkiraan semuanya.
Ratu Iblis menyeringai dingin menanggapi keterkejutan para pejabatnya. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Bao Yuze, kemudian berkata,
"Kabarkan kepada seluruh bangsa iblis di tiga benua, bahwa kita semua akan tunduk kepada penerus Yang Mulia Agung Yuangu Mowang." Perintah sang Ratu dengan penuh keyakinan akan keputusannya.
"Ba-Baik, Yang Mulia." Sahut Bao Yuze sedikit gugup.
Bruk!
Semua pejabat istana iblis serentak berlutut. Mereka memohon kepada sang Ratu untuk memikirkan kembali keputusannya.