Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Pesta Iblis



Tak lama berselang, keempat tetua sekte bersama para muridnya kembali menghampiri dengan keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Mereka memakai seragam unik yang dibedakan berdasarkan divisinya.


10 murid dari divisi penyihir suci Sheng Nuwu seperti biasanya memakai jubah hitam seluruhnya, 5 murid divisi Yuansu memakai jubah dengan garis hijau yang melintang diagonal di bagian dada. 5 murid divisi alkemis Wushi Xuetu memakai jubah berwarna hijau tua, sementara yang paling elegan adalah 2 murid dari divisi pemikat hati Moshu Shi yang memakai gaun merah dengan aksen hitam dan memiliki tudung.


Jingga sampai menyipitkan mata memperhatikan penampilan para iblis penyihir yang terlihat sangat berbeda dan lebih menarik perhatiannya.


"Luar biasa! Kalian sangat terlihat elegan," pujinya sambil bertepuk pelan.


"Baiklah, kalau kalian semua sudah siap. Kita akan menikmati pesta." Imbuhnya penuh semangat.


Jingga lalu menjentikkan jari membuat portal dimensi ke ruang aula istana iblis. Sebuah lubang tercipta di dekatnya. Ia lalu meminta semua iblis mengikutinya memasuki portal dimensi. Akan tetapi, langkahnya terhenti di ambang lubang portal. Ia sedikit heran dengan banyaknya iblis yang menatapnya dengan sorot mata mengintimidasi.


"Hei! Ini pesta. Kenapa kalian semua menatapku seperti itu?" tegur Jingga yang tidak nyaman ditatap sinis oleh banyaknya pasang mata ke arahnya.


Ia lalu mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Ratu Xin Li Wei dan beberapa iblis lainnya yang ia kenali.


"Kemana, Nyonya Xin Li Wei? Apa kalian melihatnya?" lontar tanya Jingga kepada para iblis yang masih saja menatapnya sinis.


Tidak ada satu pun iblis yang mau menjawabnya. Jingga tersenyum kecut menanggapinya. Ia lalu melanjutkan langkah memberi jalan kepada para pengikutnya di belakang.


SRING!


Berbagai senjata dikeluarkan para iblis setelah melihat para iblis penyihir bermunculan dari lubang portal. Suasana istana tampak sedikit tegang.


TAP, TAP!


Seorang iblis hitam berkelebat menghampiri Jingga dan rombongannya.


"Selamat datang kembali, Yang Mulia." Sambut iblis hitam merasa sedikit aneh dengan aura iblis yang pekat di aula istana.


"Di mana, Nyonya Xin Li Wei?"


"Nyonya sedang sibuk menyambut para tamu yang terus berdatangan ke istana. Aku akan memanggilnya."


Jingga menahannya dengan merangkul pundak To Tao lalu menggelengkan kepala. Ia lalu menoleh ke arah para iblis yang keheranan mendengar percakapan keduanya.


To Tao mengikuti arah pandangan Jingga. Ia baru menyadari para tamu istana sedang bersiap untuk menantang para iblis penyihir yang terlihat begitu tenang di samping Jingga.


"Apakah begitu cara kalian menyambut Yang Mulia Agung?"


Para iblis menyeringai dingin lalu menunjukkan wajah menantang ke arah Jingga dan rombongannya.


"Ha-ha-ha. Apa kau begitu bodoh, Tuan Tao?" tanya seorang iblis merah mencemoohnya.


SRING!


To Tao mengeluarkan pedangnya. Ia melirik Jingga meminta izin untuk memberi pelajaran kepada iblis yang mencemoohnya. Namun Jingga malah merentangkan satu tangan menahannya.


"Kita akan berpesta bukan bertarung. Ayolah, kita nikmati dulu pestanya. Kenapa kalian begitu bernafsu untuk bertarung?"


"Yang Mulia!" ucap To Tao begitu kesal dengan sikap para iblis yang tidak menghiraukan keberadaan tuannya.


Jingga kembali menggelengkan kepala melarangnya. Ia lalu mengajak para pengikutnya untuk berjalan ke area lain di dalam istana. Akan tetapi, para iblis tidak memberinya jalan. Mereka dengan sengaja merapatkan diri menghalangi Jingga dan pengikutnya pergi dari posisinya.


To Tao begitu tidak terima akan perlakuan para iblis yang menghalangi jalan. Ia menggemeretakkan kedua tangannya yang terkepal. Andai saja Jingga tidak melarangnya, tentunya ia akan menghabisi semua iblis di depannya.


"Hei, Hei. Ada apa ini?" Suara seorang wanita terdengar nyaring dari belakang para iblis yang langsung membukakan jalan.


Ratu Xin Li Wei melangkah pelan menghampiri Jingga. Ia mendelik ke arah dua sisi menatap heran para iblis yang begitu berhasrat untuk bertarung melawang Jingga dan para pengikutnya.


"Nyonya, sepertinya para tamu sudah tidak sabar untuk memulai pesta," ucap Jingga mengalihkan suasana tegang di aula.


"Ha-ha-ha. Yang Mulia benar. Mari kuantar ke tempat lain, di sana para iblis sedang berpesta arak darah,"


"Betulkah?" tanya Jingga begitu tertarik.


Ratu Xin Li Wei langsung saja merangkulkan tangannya di lengan Jingga, lalu melangkah membawanya ke area pesta yang sudah disiapkannya.


WUZZ! SRING! SREET!


Baru saja beberapa langkah kaki Jingga berjalan. Di belakangnya terdengar deruan angin dan robekan tubuh yang tersayat oleh tebasan pedang.


Jingga terus saja melangkah tidak memedulikannya. Namun sang Ratu langsung menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah belakang. Sang Ratu begitu tertegun memperhatikan para murid sekte Mofa Gu yang terlihat sangat cepat dan efektif membantai para iblis yang terbelalak tidak percaya akan kemampuan bertarung para murid penyihir yang tidak pernah diduga oleh mereka semua.


WUZZ!


Beberapa iblis langsung melesak cepat mencoba kabur dari pembantaian. Nahas, para tetua sekte telah lebih dulu memasang perisai sihir tak kasat mata di tengah-tengah aula istana. Beberapa saat kemudian, lebih dari seratus iblis telah tewas dalam kondisi yang mengenaskan.


"Ba-bagaimana mungkin para iblis penyihir bisa begitu mudah membantai para iblis petarung?" gumam batin sang Ratu sulit mempercayainya.


"Sudahlah, jangan berkata begitu. Ayo kita lanjutkan saja jalan kita. Aku sudah tidak sabar untuk menikmati pesta yang meriah." Tanggap Jingga lalu menarik tangan Ratu Xin Li Wei untuk melanjutkan langkah yang sempat terhenti.


"Baiklah." Balas sang Ratu lalu melanjutkan langkahnya.


Sesampainya di area dalam istana yang memiliki halaman terbuka. Lebih dari dua ratus tamu undangan sedang asyik menikmati pesta. Ada yang saling melempar kepala manusia seperti sebuah bola, ada juga yang sedang menikmati arak darah.


Jingga dan para pengikutnya mulai membaur dengan para iblis di halaman pesta.


"Bau darah kultivator alam fana begitu menyengat. Apakah pesta iblis biasa seperti ini?" tanya Jingga ingin tahu.


"Ini sangatlah sedikit, Yang Mulia. Kalau saja Yang Mulia tidak memintanya secara mendadak. Tentunya aku bisa menyiapkan banyak kultivator alam fana untuk dijadikan konsumsi pesta. Yang ada sekarang hanyalah beberapa kultivator alam fana yang kami biarkan hidup." Ujar Ratu Xin Li Wei menjelaskannya.


Dalam hati Jingga begitu pilu mendengarnya, namun ia tidak menunjukkan perubahan wajah yang berbeda menanggapinya.


"Kenapa kalian tidak mencoba meminum darah beast monster saja? Apakah rasanya tidak seenak darah kultivator alam fana?" sambung tanya Jingga ingin mengetahuinya lebih lanjut.


"Ha-ha. Pertanyaan Yang Mulia seperti bukan seorang iblis saja. Darah kultivator alam fana sangatlah baik untuk menyegarkan tubuh kita, dan jiwanya bisa menguatkan pondasi kultivasi iblis kita," jawab sang Ratu merasa lucu dengan pertanyaan yang diajukan oleh Jingga.


Jingga hanya berdesis pelan mendengarnya sambil terus menyapukan pandangannya ke arah para iblis yang sedang berpesta. Lalu, tiba-tiba saja ia mengernyitkan dahi menatap fokus ke arah pojok halaman.