Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Kembali ke Zhandao Shibing



Setelah saling mengenal. Xian Hou langsung menarik tangan suaminya dan membawanya ke area lain di taman bunga, meninggalkan ketiga gadis yang sedang bercengkrama.


"Suamiku, jujurlah padaku. Apa yang membuat perasaanmu berubah kepadaku?" Tanya Xian Hou ingin mengetahuinya.


Jingga tidak langsung menjawabnya. Ia menggenggam kedua pundak istrinya lalu menatap tajam bola mata istrinya yang begitu indah.


"Aku tahu dirimu sudah mengetahui jawabannya. Perlukah aku mengatakannya untuk memastikan ataukah kau akan terus menyembunyikannya dariku?" Jawab Jingga.


Mendengar apa yang dikatakan Jingga membuat Xian Hou tertunduk malu. Ia sedikit tersentak karena Jingga mungkin sudah mengetahui masa lalunya.


Jingga kemudian mengangkat dagu Xian Hou untuk kembali menatapnya.


"Perasaan cintaku akan kembali sempurna ketika hatimu sepenuhnya menjadi milikku,"


Xian Hou menangis tersedu lalu memeluk Jingga dengan membenamkan kepalanya di dada Jingga.


Jingga mengusapi punggung istrinya dengan lembut sambil menikmati suasana tenang di tengah bunga-bunga yang bermekaran.


Cukup lama Xian Hou membenamkan kepalanya, ia lalu mendongakkan wajahnya menatap Jingga yang tampak begitu tenang.


"Suamiku, apa kau akan meminggalkanku?" Lirih Xian Hou bertanya.


Jingga menundukkan wajahnya menatap mata sendu istrinya yang lembap dan sedikit merah. Ia lalu memagut lembut bibir chery Xian Hou yang bercampur air mata.


Xian Hou membalasnya dengan penuh rasa cinta dan kerinduan yang berontak ingin diluapkannya.


Kedua insan mulai larut merajut kesenangan ragawi di atas rerumputan dan bunga-bunga yang dipaksa menopang kedua tubuh yang bergelut dalam peluh.


Berbeda dari biasanya, Xian Hou tampak begitu liar dan buas menerkam Jingga dengan penuh dominasi. Hingga dirinya mencapai puncak lalu terkulai lemas di atas tubuh kekar suaminya.


Akan tetapi, ia tidak tersenyum setelahnya. Ia kembali menangis dalam ketakutan akan perasaan cinta yang tidak lagi sama seperti sebelumnya.


"Sayang, aku berjanji padamu ... hatiku akan sepenuhnya menjadi milikmu," kata Xian Hou bertekad.


Jingga tersenyum lalu menganggukinya.


"Sayang,"


"Iya,"


"Aku punya sesuatu untukmu," ucap Jingga.


"Apa?"


"Bangun dulu," pinta Jingga.


"Tidak mau. Aku ingin terus begini." Tolak Xian Hou.


"Hem!" Deham Jingga lalu mengeluarkan panah Dewi Bulan dari cincin spasialnya.


Xian Hou yang melihatnya langsung membelalakkan mata. Tanpa sadar ia langsung berdiri dan menggenggam busur panah yang menjadi senjata utamanya di masa lalu.


Jingga bangkit berdiri memakai pakaiannya yang berserakan dan dilanjutkan dengan memakaikan gaun menutupi tubuh istrinya yang polos.


Xian Hou kembali memeluk suaminya lalu berkata,


"Kenapa kau membawanya, Suamiku?"


"Karena panah itu yang memilihku. Jadi aku berniat untuk mengembalikannya kepadamu." Jawab Jingga dan langsung memangku tubuh istrinya.


"Sayang, sebentar!" Pinta Xian Hou lalu memasukkan panahnya.


Jingga melangkah, membawanya kembali ke area di mana ketiga adiknya sedang asyik berbincang.


Bai Niu, Qianmei, dan juga Xinxin menoleh ke arah sepasang suami istri yang terlihat begitu mesra. Xian Hou yang ditatap ketiga gadis langsung menyembunyikan wajahnya karena rasa malu.


Jingga lalu mendudukkannya tepat di tengah ketiga gadis. Xian Hou begitu merona wajahnya hingga ia terus saja menundukkan wajahnya.


"Kak Hou'er, betulkan kataku. Kak Jingga pasti kembali mencintai Kak Hou'er seperti sebelumnya," ucap Qianmei ikut bahagia melihatnya.


Xian Hou langsung memeluk Qianmei dengan erat.


"Terima kasih, adikku." Balasnya.


"Xin'er, sudah waktunya kita kembali ke alam iblis." Kata Jingga.


"Baik, Kak." Balas Xinxin lalu berdiri.


Ketiga gadis yang mendengarnya tampak kaget. Baru saja Jingga kembali dan sekarang harus pergi lagi.


"Tenanglah, Naninu. Aku tidak sedang dalam ujian, aku bisa bebas mengunjungi kalian semua kapan pun aku menginginkannya," jawab Jingga lalu menatap istrinya,


"Sayang, buka portalnya." Pintanya.


Sebuah lubang portal dimensi terbuka. Jingga lalu menarik tangan Xinxin dan melangkah memasuki portal dimensi.


Sesampainya di kamar penginapan. Jingga membuka kembali perisai iblisnya.


"Sepertinya Nona Chyou merindukan kita. Ayo kita temui dia!" Ajak Jingga langsung melangkah ke arah pintu.


Keduanya bergegas turun ke lantai bawah mencari pemilik penginapan. Suasana di lantai bawah tampak sangat ramai oleh tamu iblis yang berkunjung.


Jingga memindai semua area lantai bawah mencari keberadaan si pemilik penginapan, namun ia tidak melihat keberadaan Nona Chyou di seluruh area penginapan. Ia lalu menghampiri seorang pelayan yang sedang sibuk melayani tamunya.


"Di mana Nona Chyou?" Tanya Jingga.


Belum sempat pelayan menjawabnya. Orang yang dicari muncul di sebelahnya.


"Aku di sini. Apa kau merindukanku?" Jawab Nona Chyou balik bertanya.


Jingga menoleh ke arahnya dengan seringainya yang dingin.


"Ya, aku merindukanmu, Nona. Makanya aku menanyakanmu," Jawab Jingga lalu tersenyum,


"Ada hal yang ingin aku tanyakan kepadamu, tapi sepertinya tidak di sini," imbuhnya.


"Ikut denganku!" Ajak Nona Chyou lalu berbalik melangkah ke suatu tempat di dalam penginapannya.


Nona Chyou membawa Jingga dan Xinxin ke ruang kerjanya. Setelah memasuki ruang kerja yang ukurannya setengah dari luas kamar tamu. Nona Chyou langsung memasang perisai iblis.


"Entah kenapa, selama dua minggu ini aku mencari informasi tentang sekte Neraka Iblis. Sepertinya kau akan membutuhkannya," ujarnya.


Ia menatap lekat Jingga dengan kedua tangannya melingkar di dada.


"Sebelum aku memberi informasi tentang sekte Neraka Iblis, ada beberapa hal lain yang sedang ramai dibicarakan oleh para iblis yang kembali dari benua Siwang Zhihong," imbuhnya dengan sorot mata yang serius.


Jingga mengernyitkan dahinya sambil mengusap dagunya yang tidak berjanggut.


"Lanjutkan, Nona." Pintanya.


"Yang pertama adalah beredarnya kabar seorang iblis yang memiliki kemampuan mirip dengan Yang Mulia Agung, Yuangu Mowang. Sang Ratu memberi perintah kepada klan Linghun Lieshou untuk memburunya,"


Nona Chyou menahan ucapannya sejenak, ia lalu melanjutkannya.


"Aku pikir itu hanya untuk menguji kekuatannya, dan berikutnya adalah isu kemunculan Sang Penguasa Agung yang akan meneruskan takhta kerajaan iblis. Kedua kabar itu saling berkaitan."


Jingga mengetahui kedua kabar itu merujuk pada dirinya, ia meminta Nona Chyou langsung pada informasi tentang sekte Neraka Iblis.


"Langsung saja katakan tentang sekte Neraka Iblis." Pinta Jingga.


"Dua minggu yang lalu, muncul sepasang monster di benua Beishang. Kedatangannya untuk meminta sekte Neraka Iblis tunduk kepada Tuan dari sepasang monster. Kabar itu berhembus cepat ke seluruh benua di alam iblis. Hal itu membuat pihak kerajaan langsung menurunkan ribuan prajurit iblis mengepung kota Monster untuk membinasakan para anggota sekte dan meminta semua prajuritnya untuk menangkap sepasang monster baik hidup atau mati." Beber Nona Chyou.


Jingga tampak senang mendengarnya, ia begitu kagum kepada kedua monsternya yang sedang menjalani misi.


"Terima kasih, Nona. Sepertinya aku akan kembali ke benua Siwang Zhihong untuk menemui seorang teman." Balas Jingga.


Bruk!


Tiba-tiba saja Nona Chyou menjatuhkan diri berlutut di depan Jingga.


"Yang Mulia, izinkan hamba menjadi pengikut Yang Mulia." Pinta Nona Chyou memohon.


Jingga sedikit terkejut, akan tetapi ia mengetahui bahwa Nona Chyou pasti mencari tahu siapa dirinya.


"Bangunlah, Nona. Aku menerimanya." Balas Jingga.


"Terima kasih, Yang Mulia. Hamba siap melaksanakan perintah." Timpal Nona Chyou dengan mengepalkan kedua tangannya lalu berdiri.


"Jangan memanggilku seperti itu, aku masih belum ingin menunjukkan jati diriku," pinta Jingga lalu memikirkan sesuatu.


"Nona Chyou, sepertinya kau sudah menemui kakek guruku. Aku ingin kau bersama kakekku berkolaborasi dalam membangun kekuatan pasukan iblis di benua Heibiantan ini, khususnya di kota Zhandao Shibing dan lembah Mofa Gu yang akan kita jadikan sebagai markas besar." Ujar Jingga.


"Baik, Yang Mulia. Maksudku Tuan," balas Nona Chyou,


"Tapi, Tuan. Kota ini adalah pusat prajurit istana iblis. Tentunya akan terjadi banyak gesekan yang menghambat upaya kita. Bagaimana kalau di luar kota ini? Ada zona bebas di luar kota yang bisa kita jadikan sebagai markas selain di lembah Mofa Gu." Sambungnya menjelaskan.


"Baik, aku menyetujuinya. Kau atur saja semuanya. Aku akan meminta Xin'er untuk membantumu memantau perkembangannya." Timpal Jingga lalu menoleh ke arah adiknya.


"Baik, Kakak." Ucap Xinxin menerima tugasnya.