Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Keramahan Pemilik Kedai


Jingga termenung karenanya, ia tidak mengenali pemilik kedai.


"Sampaikan terima kasihku padanya" balas Jingga lalu melirik aneka masakan yang terpampang di hadapannya.


"Rezeki tak dapat ditolak, beruntung aku kembali menjadi manusia" gumamnya.


Jingga langsung mengambil centong nasi dan menuangkannya ke piring yang terbuat dari rotan. Ia tak segan-segan melahap semuanya.


Beberapa pengunjung kedai di dekatnya melirik memperhatikan seorang pemuda yang begitu lahap dan cepat menghabiskan makanan.


"Makannya seperti orang kesurupan" celetuk seorang pria di meja seberang.


Jingga mengacuhkan celotehan beberapa orang yang mengomentarinya.


Beberapa saat kemudian, semua makanan habis ditelannya, Jingga sampai menjilati bumbu masakan yang masih tersisa di piringnya.


"Lezat!" Puji Jingga setelah menghabiskan sisanya.


Jingga mengusapi perutnya yang begah karena kekenyangan.


Hujan masih terdengar deras di luar kedai, Jingga yang kekenyangan tampak mengantuk.


Capek, kenyang dan derasnya hujan menjadi kombinasi sempurna untuk tidur. Jingga yang merasakannya langsung beranjak pergi ke arah pintu tempat pemilik kedai berada.


Tok tok tok!


"Masuklah!"


Terdengar suara wanita di balik pintu memintanya, Jingga sedikit ragu, namun karena ia sudah terlanjur mengetuknya. Ia pun langsung memasukinya.


Terlihat seorang wanita cantik memakai kebaya berwarna biru gelap tersenyum padanya.


"Silakan duduk"


Dipinta untuk duduk, Jingga pun menurutinya. Ia duduk di sebuah kursi bambu tepat di hadapan sang wanita.


"Selamat datang di kedai Bambu Rembulan, aku Catika pemilik kedai. Bagaimana penilaian Kakang dengan masakan kami?" Sambut Catika meminta pendapat.


"Sangat lezat, tapi kenapa kau memberikannya kepadaku? Aku bahkan tidak bisa membayarnya" jawab Jingga balik bertanya.


"Ha ha, Kakang merupakan pengunjung baru kami, setidaknya kami harus memberikan kesan terbaik pada semua pengunjung apalagi dengan para pendekar yang menjadi tamu penting buat kami. Jadi sudah merupakan hal lumrah untuk kami menyambutnya" jawab Catika menjelaskan.


Jingga menganggukinya dengan tersenyum dan keduanya terlihat begitu akrab melanjutkan perbincangannya.


Senja hari berganti malam, Jingga kembali melanjutkan perjalanannya ke lembah Anggrek Darah.


"Apa kau yakin akan berjalan di malam hari?" Tanya Catika.


"Ya, aku menyukai kegelapan malam dan misteri di dalamnya. Aku harap banyak pertarungan yang aku temui dalam perjalananku" jawab Jingga.


"Pemuda yang aneh, tapi baiklah. Apa kau butuh seekor kuda? Aku bisa memberikannya padamu" balas Catika menawarkannya.


Jingga diam saja, ia sebenarnya ingin menerima kuda untuk memangkas waktu. Namun ia malu mengatakan kalau dirinya tidak bisa mengendalikan kuda.


"Tidak usah, kalau menaiki kuda, aku akan terlalu cepat sampai ke lokasi tujanku" kelitnya menolak.


Catika yang melihat raut wajah pemuda di depannya langsung tersenyum mengetahui kebohongannya, akan tetapi ia tidak ingin mempermalukan pemuda yang begitu tampan menurutnya lalu berkata


"Berhati-hatilah selalu, kau akan segera memasuki hutan yang dipenuhi hewan buas dan selalu ingatlah diriku ini. Eh maksudnya kedai bambu Rembulan ini'


Jingga yang mendengarnya hanya menganggukan kepala dengan pelan dan tersenyum lembut membalasnya. Ia lalu berbalik meninggalkannya yang berdiri di pintu kedai.


Di luar batas kota Lebakwangi, Jingga memasuki area hutan basah yang begitu lebat. Beberapa langkah kaki di dalamnya, ia merasakan ada makhluk yang mengintainya dari kejauhan. Entah apakah orang, hewan atau lainnya. Jingga tampak begitu senang. Ia berharap bisa mendapatkan pertarungan di tengah hutan.


"Jangan buat aku bosan, keluarlah!" Pekiknya di tengah hutan.


Burung-burung beterbangan mendengar suaranya yang begitu nyaring, beberapa hewan saling bersahutan menjadikan kegelapan hutan menjadi begitu ramai.


Jingga berkelebat dengan menebaskan pedangnya ke setiap pohon yang ia lewati. Hal itu membuat beberapa hewan buas berdatangan menghampirinya.


Raungan keras terdengar semakin nyaring. Jingga menyeringai memperhatikan sinar bola mata di balik pepohonan.


"Ha ha ha, ayolah!" Kelakarnya menantang.


Wuzz!


Seekor Jaguar berwarna hitam bertaring panjang melompat dari batang pohon dan mendarat tepat di hadapan Jingga yang sedang menenteng pedang.


Jaguar hitam meraung keras menjawabnya, seakan mengerti dengan ucapan Jingga. Ia lalu mencakar tanah tanda telah siap untuk menerkam.


Jingga sendiri berada pada posisi kaki terpaku membentuk dinding pertahanan dengan tubuh sedikit membungkuk dan ujung pedang di belakang pinggangnya.


Dalam posisi yang begitu siap, Jingga tidak hanya fokus pada satu serangan. Ia juga memperhatikan lingkungan sekitarnya, telinganya begitu tajam mendengarkan langkah kaki hewan lain yang bersiap mengambil keuntungan dari pertarungannya.


Wuzz!


Auum!


Jaguar hitam melompat dengan mengayunkan kedua cakarnya. Jingga langsung menebaskan ujung pedangnya membelah perut jaguar di atasnya.


Sreet!


Bugh!


Jaguar tumbang di belakangnya. Jingga memutar badannya lalu berkelebat menebas leher jaguar dengan sekali ayunan kuat dan cepat.


Sret!


Krak!


Kulit dan tulang leher tertembus bilah pedang. Jingga berhasil membunuhnya dalam dua serangan.


Beberapa ekor jaguar hitam lainnya berlompatan mendekatinya, Jingga kembali pada posisi siaga akan pertarungan lanjutan.


"Ayo kucing, serang aku secara serentak" pinta Jingga yang telah bersiap.


Apa yang Jingga harapkan benar terjadi, empat ekor jaguar langsung menyerangnya dengan bersamaan.


"Langkah bayangan"


Siu! Wuzz!


Sret! Sret!


Empat tebasan dilayangkannya dengan cepat menyayat tubuh keempat jaguar hitam. Dua dari empat jaguar hitam langsung tumbang. Dua jaguar lainnya masih bisa berdiri dengan luka yang menganga di bagian sisi perutnya.


"Ayo, serang lagi" tantang Jingga dengan menjulurkan ujung pedang yang tampak masih ada bercak darah dari jaguar.


Kali ini kedua jaguar mewaspadainya, seekor jaguar meraung-raung seperti meminta bantuan.


"Meraunglah dengan keras, semakin banyak akan semakin seru" gumamnya memperhatikan seekor jaguar yang berisik di tengah hutan.


Sayangnya raungan jaguar hitam bukanlah meminta bantuan, jaguar hitam meraung untuk mengalihkan rasa sakit pada tubuhnya yang tersayat.


Siu!


Jingga melompat menghantamkan ujung pedangnya tepat pada kepala jaguar yang meraung.


Krak!


Ujung pedang menembus tulang kepala jaguar hitam sampai menancap di tanah.


Seekor jaguar hitam kembali mati, Jingga langsung menarik kembali pedangnya dari kepala jaguar.


Seekor jaguar hitam yang masih hidup langsung berlari kabur dengan begitu cepat.


Jingga kembali menyarungkan pedangnya yang telah teruji begitu tajam dalam menebas beberapa ekor jaguar hitam yang menjadi korban ketajaman pedang.


"Terima kasih, kalian menghibur kebosananku" ucap Jingga senang.


Jingga kembali melanjutkan langkahnya di dalam hutan, suasana menjadi begitu hening setelahnya. Bahkan jangkrik pun seperti tidak berani bersuara.


Cukup lama Jingga berjalan, langit mulai terang walau mentari masih bersembunyi di ufuk timur. Terlihat olehnya sebuah gubug kayu yang terbengkalai tidak jauh dari posisinya. Ia langsung saja menghampirinya dan memeriksa bagian dalamnya.


Seorang anak kecil berusia sekitar lima tahun meraung seperti hewan buas di dalam gubug merasa terancam oleh kehadiran seorang pemuda yang memasukinya.


Jingga merasa heran melihat keberadaan seorang manusia yang masih kecil tinggal sendiri di dalam gubug reot yang hanya cukup untuk dua orang.


"Kenapa ada anak kecil di tengah hutan rimba seperti ini?" Tanya pikirnya.


Ia menggerakkan kedua tangannya meminta anak kecil yang terlihat kucel dengan tubuh penuh luka yang mengering untuk tidak takut padanya.