
Dalam posisi yang terombang ambing, Jingga mengakses kembali ingatan Yuangu Mowang di alam pikirnya.
"Api semesta" gumamnya mendapatkan jawaban.
Api semesta yang dimiliki Jingga tidak hanya untuk meleburkan obyek apa pun yang ada di alam semesta ataupun dalam perlindungannya pada tubuh Jingga.
Karena berasal dari inti energi alam semesta, api semesta bisa menggantikan energi spiritual dalam mengolah semua kesaktian yang dimilikinya.
Jingga menutup kedua matanya dan langsung berkonsentrasi mengendalikan api semestanya.
Wuzz!
Pancaran energi tak kasat mata keluar dari tubuhnya, Jingga melayang di tengah arena yang terus berputar.
Ia kembali membuka kedua matanya, tampak pupil matanya yang hitam berubah menjadi cermin. Jingga menyeringai dingin menatap pria tua yang masih saja tanpa ekspresi di raut wajahnya.
Pria tua langsung membentuk pedang panjang dari energinya.
"Tarian pedang Asura"
Jingga melesat cepat menebaskan pedangnya, pria tua tidak tinggal diam, ia juga melesat menebaskan pedang energinya.
Wuzz!
Boom!
Benturan Jianhuimie Yuzhou dengan pedang energi membuat ledakan besar yang langsung menghancurkan arena pertarungan.
Sekarang keduanya bertarung di arena hampa tanpa pijakan.
Hal yang tidak diduga adalah pria tua tidak terdampak sama sekali dengan tebasan pedang yang dilayangkan oleh Jingga. Padahal ia sudah mengalirkan api semesta ke bilah pedangnya.
Kedua pedang masih saling beradu, Jingga yang melihatnya sedikit terpana.
Ia lalu menghilang dari posisinya untuk melancarkan serangan keduanya, pria tua juga menghilang dari posisi melayangnya.
Dalam posisi saling berjauhan, Jingga kembali mengalirkan api semesta yang dipadukannya dengan api kematian ke bilah pedangnya yang langsung memancarkan energi api hitam keperakan. Sedangkan pria tua langsung membentuk bola api besar, terlihat seperti matahari kecil dengan kobaran api yang menyala.
"Longjuanfeng"
Jingga memutar pedangnya membentuk angin beliung lalu melesat menyerang pria tua.
Siu!
Wuzz!
Spiral angin tidak lagi mengerucut ke bawah, Jingga membuatnya terbalik, bagian ujung beliung yang berputar cepat seperti mata bor berada di depannya.
Dengan posisi terus berputar cepat, ujung beliung melesat cepat menyerang pria tua yang dikelilingi oleh bola api.
Boom!
Ledakan keras kembali terjadi, dua kekuatan yang bertabrakan langsung meledak.
Jingga terlempar jauh ke belakang, begitupun pria tua ikut terlempar jauh terkena dampak gelombang energi.
Jingga kembali menstabilkan tubuhnya, ia berdiri tegap dengan menggenggam pedangnya yang menyala pada bilah logamnya.
Pria tua tampak mengalami goncangan di tubuhnya yang terus bergetar.
"Beruntung aku bisa mengantisipasinya dengan inti api" gumam pria tua sambil berusaha menenangkan dirinya.
Ia lalu membuat pola rumit di kedua tangannya, tampak arena pertarungan muncul kembali di bawahnya.
Tanah bergetar keras dan muncul logam tajam berbentuk kerucut disetiap retakan tanah. Sekarang area pertarungan berubah menjadi hamparan duri-duri tajam.
Jingga menyipitkan mata melihatnya, ia penasaran apa yang akan dilakukan oleh pria tua.
Wuzz!
Tanpa diduga, energi hisap dari ujung duri logam langsung menarik tubuh Jingga ke bawah dan seketika menutupi seluruh tubuhnya.
Pria tua lalu mengendalikannya dengan mengerutkan lapisan tanah yang membungkus tubuh Jingga.
Jingga yang berada di dalam mulai merasa kesakitan, duri tajam dari tanah terus mengecil sampai sekecil jarum dan menembus permukaan kulitnya.
Energi api semesta menyeruak untuk menghancurkannya, namun karena logam duri terbuat dari inti api, dua kekuatan saling beradu dan menekan.
"Haa!" Pekik teriakan Jingga menahan panas yang begitu menyiksa dari ribuan logam duri yang terus memasuki ke dalam pori-pori kulitnya.
Rasa sakit yang dirasakan Jingga melebihi apa yang pernah dirasakannya ketika mengalami penempaan tubuh.
Terus merasakan sakit, Jingga hampir saja bertransformasi ke dalam wujud iblisnya, namun tiba-tiba saja kulitnya mengeras membentuk logam dan mematahkan duri logam di lapisan kulitnya.
Dhuar!
Lapisan inti api yang menyerangnya langsung hancur berserakan. Jingga begitu murka menatap pria tua yang mulai menunjukkan ekspresinya.
"Anak ini, bagaimana dia bisa menghancurkan inti api milikku?" Gumamnya begitu terperangah.
Salah satu kesaktian andalannya bisa dikalahkan, ia yang menyangka inti api adalah api terkuat di alam semesta yang tidak pernah ada satu orang pun yang mengetahui selain dirinya sendiri harus kalah dengan api semesta milik pemuda yang menjadi lawannya. Bahkan api semesta menjadi bagian dari inti api miliknya.
Hal itu lah yang membuatnya pertama kali menunjukkan ekspresi, ia sekarang menyeringai dingin membalas tatapan kemarahan Jingga.
"Sepertinya ada sesuatu yang tersembunyi di alam jiwanya, aku harus melihatnya" gumamnya.
Ia langsung menghilang dan masuk ke alam jiwa milik Jingga.
Jingga terkejut ada seseorang yang bisa memasuki alam jiwanya tanpa akses darinya. Ia langsung menyusul memasukinya.
"Ha ha ha, pantas saja kau bisa mengalahkan inti api milikku, ternyata ada monster legendaris di alam jiwamu. Aku akan membinasakannya" kelakar pria tua yang melihat seorang gadis dingin di alam jiwa.
Belum sempat pria tua itu menyerang Jirex, Jingga sudah berada di hadapannya.
"Kau sungguh hebat bisa memasuki alam jiwaku" ucap Jingga sambil bertepuk tangan.
Pria tua tersenyum simpul mendengarnya, ia menatap Jingga dengan tatapan merendahkan.
Sret!
Buk!
Kepala pria tua jatuh menggelinding, Jingga langsung mengambilnya dan membakarnya dengan api semesta.
Tak lama terbentuk lagi kepala di leher pria tua, dengan senyuman mengejek. Pria tua berkata,
"Kau kira api semestamu bisa meleburkan diriku, ha ha ha. Bodoh!"
Jingga masih tenang mendengarkannya, ia semakin melebarkan senyuman menatap pria tua yang semakin sombong.
"Selama ini aku sering melebur setiap iblis dengan api semesta, lama kelamaan aku menjadi bosan karena setiap iblis yang melebur tidak pernah bisa menyerangku lagi. Mereka selalu langsung mati setelahnya. Aku harap kau berbeda dengan iblis lainnya, jadi aku mencobanya. Kau sungguh membuatku senang" ucap Jingga begitu berbinar sorot matanya.
Pria tua merasa heran dengannya, lalu kembali berkata.
"Kau iblis yang unik, tidak mau membunuh lawanmu dengan mudah. Aku akan menunjukkan padamu bagaimana rasanya kematian yang indah"
Wuzz!
Pria tua menebaskan pedang energinya, namun Jingga sudah tidak berada di depannya.
"Kau sedang apa?" Tanya Jingga meledeknya.
Pria tua langsung menghilang dari tempatnya, ia berusaha kembali ke alam Siksa Raja. Namun Jingga tidak membiarkannya kabur.
Jingga melemparkan rantai energi mengikatnya dan langsung melemparkannya ke area lain di alam jiwanya.
Pria tua dengan kemampuannya melepaskan diri dari jeratan rantai energi, ia menoleh ke arah Jingga lalu menghilang pergi.
Jingga langsung menyusulnya kembali ke alam Siksa Raja.
"Aku baru tahu, kalau dirimu seorang pengecut. Memasuki alam jiwa tanpa diundang dan kabur tanpa diminta" cibir Jingga dengan mengepalkan kedua tangannya di belakang punggung.
"Ha ha, aku hanya tidak ingin terlalu cepat membunuhmu, jadi aku memasuki alam jiwamu untuk melihat-lihat isinya" tukas pria tua yang sudah mengetahui penyebab kekalahan inti api miliknya.
"Begitukah? Mari kita lanjutkan pertarungan kita, cobalah kau membunuhku dengan kematian yang indah seperti yang tadi kau katakan" sambung Jingga memintanya.
"Tapi sebelumnya, aku tidak mau mati dengan penasaran, kau pasti tahu maksudku" imbuh Jingga ingin mengenalnya.
"Ha ha, kau penasaran juga padaku, baiklah. Karena kau pasti mati, aku akan memberitahumu. Aku dikenal sebagai penguasa dimensi" balas pria tua langsung menghilang.
Tiba-tiba saja alam Siksa Raja menjadi terang benderang, muncul bola kecil sekepalan tangan dewasa yang bersinar terang menyinari dimensi alam Siksa Raja.
Jingga menopang dagu dengan tangan kanannya, ia begitu tertarik dengan apa yang akan ditunjukkan pria tua kepadanya.