Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Romansa Dua Hati


Jingga tampak puas dengan peningkatan ranah kultivasinya.


"Akhirnya aku merasakan juga terobosan kultivasi" gumamnya.


"Suamiku, aku bangga padamu" ucap Xian Hou ikut senang dengan pencapaian suaminya.


"Terima kasih, Istriku. Tapi maaf, baju yang kau berikan jadi sobek" balas Jingga.


"Tidak apa-apa sayang, aku sudah membuatkanmu satu lagi" timpal Xian Hou lalu menarik Jingga memasuki alam peri.


"Sayang" ucap Jingga langsung menyosornya.


Xian Hou memundurkan wajahnya mengelak sosoroan Jingga.


"Baru juga ketemu main sosor saja, dasar suami ganjen" ejek Xian Hou sambil tersenyum melihatnya.


Jingga langsung mengkerut bibirnya lalu berkata,


"Kau tahu, apa yang membuatku selalu bahagia?"


"Apa?"


"Senyummu"


"Jangan gombal, kau tahu kenapa aku memintamu mengambilkan bulan untukku?"


"Kenapa?"


"Kau tahu itu mustahil untukmu, tapi bukan bulannya yang aku inginkan, aku hanya menginginkan dirimu bersamaku"


"Selama berada di alam iblis, aku tidak pernah merasa kesepian. Kau tahu kenapa? Karena ada dirimu di hatiku"


Semakin larut keduanya dalam kata-kata romantis yang terbalut dalam kerinduan. Kali ini Xian Hou yang menyosor Jingga.


Keduanya mulai beraktivitas dalam percintaan, melepaskan rasa rindu dan sebagai hadiah dari Xian Hou atas pencapaian suaminya Jingga.


Setelahnya Xian Hou langsung memakaikan baju baru ke badan Jingga. Masih sama dengan baju sebelumnya, kali ini perbedaannya hanya pada motif garis berwarna hijau cerah yang melingkar di baju yang didasari warna hitam pekat.


"Apa kau menyukainya, Suamiku?" Tanya Xian Hou merangkulnya.


"Apa pun yang kau berikan, aku pasti menyukainya. Terima kasih, Istriku" jawab Jingga lalu mengecup kening Xian Hou dengan lembut.


"Kembalilah sayang, tugasmu masih banyak. Anggap saja yang kau raih sekarang adalah awal dari pencapaianmu. Aku akan selalu mendukungmu" pinta Xian Hou namun masih memeluk tubuh suaminya.


"Sayangnya aku tidak bisa pergi, tanganmu terlalu berharga untuk ku lepaskan"


"Maaf sayang, entah kenapa diriku begitu merindukanmu"


"Aku pun begitu, selalu merindukanmu"


"Kau tahu misi apa yang selalu aku dambakan?"


"Apa?"


"Menemanimu sepanjang hidupku"


Keduanya lalu kembali merajut kasih dengan begitu hangat dalam peraduan cinta keduanya.


Setelahnya, Jingga dan Xian Hou saling tatap dengan pancaran kebahagiaan dari sorot mata keduanya.


"Sayang, sepertinya aku akan lama berada di alam iblis, aku merasa kasihan dengan kedua adikku yang berada di alam jiwa, bolehkah keduanya menemanimu di sini?" Ucap Jingga yang terpikir akan kedua adiknya Bai Niu dan Qianmei.


"Ya, aku pun sudah memikirkannya, tapi apakah keduanya mau tinggal di sini tanpa adanya energi? Alam ini tidak cocok untuk kultivator" ujar Xian Hou menjelaskannya.


"Kita tanyakan saja kepada keduanya" timpal Jingga lalu menarik keduanya namun tidak bisa.


"Sayang, he he aku lupa"


Xian Hou tersenyum lembut melihatnya, ia lalu menempelkan telapak tangannya di tangan Jingga memberikan sedikit energinya.


Jingga lalu menarik tubuh kedua adiknya yang berada di alam jiwanya.


"Kakak" panggil keduanya secara bersamaan.


Keduanya langsung seloroh memeluk Jingga tanpa menyadari keberadaan gadis di belakangnya.


Jingga diam saja menatap istrinya yang begitu dingin menatapnya.


"Indahnya, di mana kita Kak?" Tanya Bai Niu yang begitu berbinar matanya melihat bunga-bunga yang betebaran di depannya.


Qianmei pun langsung memperhatikan sekitarnya, ia begitu takjub melihat alam yang terlihat seperti di alam dongeng.


"Kalian berdua, berbaliklah" pinta Jingga tidak enak hati dilihat istrinya.


Bai Niu dan Qianmei langsung melepaskan pelukannya, keduanya langsung melirik seorang gadis cantik yang menatap keduanya dengan lembut.


"Kak Hou'er" ucap keduanya lalu memeluk kakak iparnya.


"Kak Hou'er, kami rindu"


"Selamat datang di rumah Kakak" imbuh Xian Hou menyambutnya.


Bai Niu dan Qianmei langsung melepaskan pelukannya, keduanya tampak begitu takjub melihat keindahan alam peri.


"Kak Hou'er, boleh aku tinggal di sini menemani Kakak?" Ucap Bai Niu memintanya.


"Aku juga Kak" sambung Qianmei.


"Jadi Kakak tidak perlu menanyakannya, kalian boleh tinggal di sini" balas Xian Hou mengizinkan keduanya.


"Maksudnya, Kak?" Tanya Qianmei belum paham.


"Suami Kakak akan lama berada di alam iblis, jadi daripada kalian berada di alam jiwa yang menyeramkan, kami berdua sepakat untuk memindahkan kalian ke alam peri milik Kakak. Jadi, apakah kalian mau menemani Kakak di sini?" Jawab Xian Hou menjelaskan diakhiri pertanyaan.


"Mau Kak' jawab keduanya berbarengan.


Ketiga gadis saling berpelukan kembali, Jingga hanya bengong saja melihat ketiganya.


"Istriku, sudah seharusnya aku kembali ke alam iblis" potong Jingga.


Xian Hou langsung membuka portal keluar dari alam perinya. Jingga pun langsung beranjak meninggalkan ketiganya.


Melayang di atas kota Kematian, Jingga melihat seorang gadis yang di kedua tangannya menggenggam belati terus menengadah ke langit menatapnya.


"Xin'er" gumam Jingga lalu melesat turun menghampirinya.


"Kongqi Zhuanhuan Qi'


Xinxin merapalkan mantra sihirnya untuk membekukan udara, namun Jingga masih berjalan menghampirinya.


Melihat Jingga yang masih bisa bergerak, membuat Xinxin begitu heran, namun karena dendamnya sudah memuncak, ia dengan cepat menebaskan kedua belatinya menusuk tubuh Jingga.


Jingga membiarkan saja gadis iblis menusuknya, ujung belati tidak bisa menembusnya. Xinxin begitu kecewa gagal membalaskan dendamnya, ia langsung membuang kedua belatinya.


Plak! Plak!


Xinxin menampar Jingga berkali-kali melampiaskan kemarahannya. Jingga diam saja membiarkan gadis iblis melampiaskan kemarahannya.


"Kau jahat, semua keluargaku kau bunuh dengan tragis, kau harus mati" gerundel Xinxin lalu terduduk sambil menangis meratapi nasibnya.


Jingga berjongkok di depannya, ia mengetuk tanduk Xinxin dengan jarinya begitu pelan.


Tung! Tung! Tung!


"Pulanglah! Kau masih memiliki pengawal di kediamanmu" pinta Jingga.


Xinxin mendongakkan wajahnya menatap Jingga yang tidak memiliki rasa bersalah telah membantai keluarganya.


Xinxin menganga memperlihatkan dua taring tajam dengan mendengus, matanya begitu merah, sorot matanya tajam menahan amarah yang begitu besar. Xinxin langsung menggigit leher Jingga.


Krak!


Terdengar suara patah dari kedua taringnya, Xinxin semakin menjadi tangisannya.


Jingga begitu kasihan dengannya, ia lalu mengusap lembut punggung gadis iblis yang terus berusaha menggigitnya.


Lama Xinxin menggigit leher Jingga, ia malah tertidur dalam dekapan Jingga. Menyadari gadis iblis tertidur di pundaknya, Jingga langsung memangku tubuhnya dan membawanya ke kediaman klan Xuenong lalu meletakkannya di sebuah kursi kayu di dalam ruangan keluarga.


Setelahnya Jingga langsung berbalik pergi meninggalkannya, namun gadis itu terbangun dan mengikutinya.


"Kenapa kau mengikutiku?" Tanya Jingga tanpa meliriknya.


"Aku tidak punya keluarga, kau harus bertanggung jawab membawaku bersamamu" jawab Xinxin.


"Sial! Kenapa gadis selalu begitu?" Rutuk Jingga merasa kesal.


Ia teringat akan adiknya Bai Niu yang terus mengikutinya sewaktu di alam fana.


"Suamiku, tidak apa-apa. Dia bisa berguna selama kau berada di alam iblis" ucap Xian Hou.


Jingga pasrah akan ucapan istrinya, namun ada benarnya juga jikalau Xinxin bisa menemaninya selama berada di alam iblis.


"Xin'er, aku akan membawamu dengan syarat kau tidak boleh jatuh hati padaku. Aku sudah memiliki istri" ucap Jingga meliriknya.


"Baik, bolehkah aku menjadi adikmu?" Jawab Xinxin memintanya.


"Iya, adik iblis. Sekarang bawa aku ke tempat yang banyak dihuni oleh iblis berkultivasi tinggi" balas Jingga mengizinkannya.


Xinxin langsung menyentuh kening dengan ujung jari manisnya.


"Aku tahu, di kota Zhandou Shibing pusatnya kultivator iblis" ungkapnya memberitahu Jingga.


"Betulkah?" Tanya Jingga begitu antusias.


"Betul, Kak. Di benua Heibiantan ini kota Zhandou Shibing merupakan pusat kultivator bangsa iblis, satu-satunya kota yang memiliki puluhan sekte dan salah satu kota para prajurit inti kerajaan iblis berasal, bahkan banyak komandan yang berasal dari kota Zhandou Shibing" jawabnya dengan membanggakan diri sebagai bangsa iblis.


Berbeda dengan Xinxin, Jingga menganggap itu adalah kesempatannya untuk meningkatkan ranah kulitvasinya.