Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Keputusan Kaisar



Sang Kaisar lalu menatap kembali semua orang dengan pandangan yang jernih dan penuh keyakinan diri. Ketegangan yang dirasakan oleh semua orang mulai mereda dengan sendirinya.


“Buatkan sayembara kepada semua penghuni alam Dewa. Siapa pun yang bisa membunuh Penguasa Iblis, maka akan kuserahkan tahta kekaisaran Istana Langit,” tegas Kaisar begitu berapi-api mengatakannya.


Para dewa dan jenderal terperangah mendengarnya. Tak berselang lama, kericuhan kembali terjadi di ruang utama istana Langit. Namun, kali ini Kaisar Langit tidak menegurnya. Seorang jenderal yang sebelumnya berbicara mengangkat tangan. Ia meminta izin untuk mengajukan interupsi. Kaisar Langit yang melihatnya langsung memberikan isyarat kepada semua orang untuk menghentikan kericuhan.


“Katakanlah, Jenderal!” pinta Kaisar.


“Maaf, Yang Mulia. Apakah Yang Mulia yakin akan menyerahkan tahta kekaisaran dan tidak lagi menjadi kaisar?” tanya sang Jenderal.


Kaisar Langit tersenyum simpul menanggapinya. Ia lalu berjalan mondar-mandir di depan singgasana dengan kedua tangan yang terkepal di belakang punggungnya. Tak lama kemudian, ia menghentikan langkah dan kembali menatap semua orang dengan tatapannya yang dingin.


“Bahkan jika ditukar dengan nyawaku pun akan aku lakukan untuk menjaga alam dewa dari kehancuran ... Apalah arti dari kekuasan jika tidak bisa menjaganya,” ujar Kaisar dilanjutkan dengan senyum yang mengembang dari bibirnya.


Beberapa orang dewa mengerutkan kening tidak memahami mengapa Kaisar Langit begitu rela mengorbankan kekuasaannya hanya untuk seorang iblis yang belum tentu hebat seperti yang digembar-gemborkan banyak orang. Biarpun begitu, mereka tetap mengikuti perintah Kaisar dan di antara mereka tidak ingin melewatkan kesempatan menjadi kaisar selanjutnya. 


Sementara itu di ruang tergelap istana langit, Bai Niu baru saja tersadar dari pingsannya. Ia kemudian memindai area di sekelilingnya.  Wajahnya tampak murung dengan alis yang bertautan.


"Sialan! Mereka membuat perisai berlapis-lapis," keluh Bai Niu.


Ia lalu mencoba untuk berkomunikasi dengan Jingga melalui jiwa. Namun ia terus gagal. Kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa, Bai Niu bermeditasi untuk menenangkan dirinya.


Di posisi keberadaan Jingga dan Qianmei sekarang, keduanya masih melaju terbang di atas awan mencari area penduduk untuk disinggahi. 


“Kak, alam Dewa mengapa begitu luas?” tanya Qianmei mulai bosan berada di atas awan.


“Aku tidak tahu, tapi sebentar lagi kita akan mendarat di ujung hutan sana. Ada kota cukup besar yang bisa kita singgahi,” jawab Jingga sambil menjulurkan telunjuk ke arah batas hutan di bawahnya.


“Betulkah? Tapi bagaimana dengan aura iblis kita? Apa itu tidak akan memancing mereka bertarung dengan kita?” 


Jingga menolehnya, ia lalu memindai area hutan di bawahnya.


“Ada lima pemuda yang sedang berburu binatang. Kita bisa menyembunyikan aura iblis dengan menjadikan dua di antara mereka sebagai inang.”


“Baik, Kak. Semoga salah satu dari mereka adalah seorang gadis.”


“Ya, kamu beruntung. Ada satu gadis bersama keempat pria. Ayo kita turun!”


WUZZ!


Jingga dan Qianmei langsung melesak turun dengan cepat. Keduanya mendarat di sebuah pohon besar yang cukup rimbun.


“Kak, kenapa kita tidak langsung menghampiri mereka?” tanya Qianmei merasa heran. 


Jingga menggeleng pelan. 


“Lihat baik-baik penampilan kelimanya? Mereka terlihat seperti anak-anak para bangsawan. Kultivasi mereka juga sangat rendah,” ujar Jingga terus memperhatikan kelimanya.


Qianmei terkekeh pelan sambil menundukkan wajah. Jingga meliriknya dengan tatapan heran. 


“Kenapa?’ tanya Jingga ingin tahu.


“Aku malu, Kak. Aku mantan seorang putri kerajaan tidak bisa membedakannya,” jawab Qianmei yang dilanjutkan dengan memalingkan wajahnya dari tatapan Jingga.


“Kelimanya bersaudara, kita tidak bisa menjadikan dua dari mereka sebagai inang,” kata Jingga.


“Kita kan iblis, Kak. Kenapa harus baik pada mereka?” timpal Qianmei.


Jingga terdiam sejenak, ia merenungkan ucapan Qianmei yang memang benar adanya. Walaupun hatinya menolak untuk membunuh dua pemuda. Namun, ia harus melakukannya.


“Ya sudah, setidaknya masih ada tiga orang yang hidup.” Jingga lalu melompat dari atas pohon bersama Qianmei.


WUZZ!


Baru beberapa tombak keduanya melompat, Jingga langsung menarik tangan Qianmei dan kembali ke atas pohon.


“Ada apa, Kak?” tanya heran Qianmei.


“Ada puluhan kultivator yang mengarah ke sini. Sebaiknya kita lihat saja apa yang akan terjadi.” Jingga langsung memasang perisai iblis untuk menyembunyikan diri.


Beberapa saat kemudian, lebih dari dua puluh orang yang menaiki kuda berputar mengepung kelima pemuda. Suasana hutan berubah dengan cepat menjadi tegang. Burung-burung di pepohonan berhenti bernyanyi, dan angin yang semula sepoi-sepoi berubah menjadi berdesir dengan ancaman yang tak terucap. Kelima pemuda saling menatap dengan mata penuh ketegangan, siap untuk mempertahankan diri atau melancarkan serangan. Hal berbeda dari kedua puluh lebih pria yang mengelilingi para pemuda. Mereka terlihat senang mendapatkan buruan untuk dijadikan alat tukar dengan berbagai harta dan sumber daya.


“Sungguh suatu keberuntungan bagi kami menemukan kalian. Sekarang pilihlah! Mati atau menjadi tawanan kami?” kata seorang pria berwajah bopeng mengancamnya sambil menjulurkan pedang ke arah lima pemuda di depannya.


Wajah kelima pemuda bangsawan berubah pucat, mereka terkejut akan kedatangan para perampok yang biasa menculik anak para bangsawan untuk dijadikan alat tukar. Akan tetapi, kelimanya tidak ingin menyerah begitu saja. Mereka menanggapi ancaman perampok dengan menarik pedang dari sarungnya. 


“Kalian pikir akan mudah menangkap kami? Bodoh!” kata seorang pemuda paling tinggi mengejek si pria yang mengancam.


“Ha-ha-ha. Aku senang dengan keberanian kalian. Ini artinya kalian memilih untuk mati,” timpal si pria bopeng.


Kelima pemuda tampak tidak bergeming pada ancaman si perampok. Mereka bersiap untuk menghadapi para perampok yang melingkari mereka dari setiap arah.


Detik demi detik terasa seperti berjam-jam saat ketegangan semakin meningkat di antara kelima pemuda. Napas para pemuda mulai terengah-engah, dan langkah-langkah kuda semakin dekat. Tiba-tiba, seruan pertempuran pecah di antara pepohonan, memecah keheningan hutan dengan kekerasan. 


TRANG! TRANG!


Percikan api dari benturan bilah pedang memenuhi udara, dan pekikan nyaring dari kuda-kuda yang terus berputar menambahkan gemuruh yang mencekam di tengah hutan. Adegan demi adegan dari pertempuran lima pemuda melawan lebih dari dua puluh perampok menjadikan pertempuran hidup dan mati di dalam hutan belantara. Langit sendiri tampak menahan napas, menyaksikan keputusan takdir yang akan menentukan nasib kelima pemuda. Meskipun berada di ranah kultivasi yang rendah, kelima pemuda bisa memberikan perlawanan yang mumpuni dari serangan brutal para perampok. 


“Kalian sangat menyenangkan!” seru lantang seorang pria bertopeng terus mengayunkan pedang ke arah salah seorang pemuda.


“Cih! Turunlah dari kudamu, hadapi aku dengan jantan!” balas sang pemuda menantangnya.


“Ah, baiklah. Akan kulayani dengan sepenuh hati. Ha-ha-ha,” timpal sang pria lalu melompat dari punggung kuda.


Pertarungan semakin menegangkan, kelima pemuda mulai terpojokkan oleh serangan para perampok. Kehidupan dan kematian berdansa dalam pertarungan ini, dan ketegangan mencapai puncaknya ketika suara sayatan pedang dan ringis kesakitan memenuhi udara. Di tengah hutan yang temaram, kelima pemuda dan para perampok terus bertarung tanpa kenal lelah.


“Kak, perampok itu meniru kata-kata yang selalu Kakak ucapkan. Bukankah ini kejahatan dalam karya kata?” kata Qianmei menyindir.


“Ha-ha-ha. Kau benar, Memimu. Aku harus mengirimnya ke neraka untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,” balas Jingga.


Saat senja perlahan menghampiri hutan, hanya suara deru napas dan derap langkah yang terdengar di antara gemuruh pertempuran. Dalam ketegangan yang meliputi jiwa para pemuda, pertarungan ini menjadi simbol ketabahan dan keberanian para pemuda, di mana takdir mereka tergantung pada hasil yang belum terungkap.


Dalam keheningan yang mencekam, hutan belantara menjadi saksi bisu atas perjuangan para pemuda yang tidak kenal lelah. Namun, tekad kuat tanpa diiringi dengan kemampuan yang tinggi tidaklah cukup untuk mengatasi para perampok yang memiliki kemampuan tinggi dan jumlah yang mendominasi. Mereka pun pada akhirnya mengalami kebuntuan dan kelelahan yang semakin erat menyelimuti tubuh. 


Luka-luka yang memenuhi tubuh menjadi bukti nyata akan kekurangan yang mereka miliki. Dalam keputusasaan yang melanda kelima pemuda bangsawan, Jingga dan Qianmei muncul di tengah pertempuran, membawa sinar harapan di tengah kegelapan yang menyelimuti hati para pemuda. Kedua sosok tersebut datang dengan memancarkan kekuatan yang tak terduga, mengirimkan gelombang energi iblis yang melanda para perampok dengan kekuatannya yang dahsyat.