Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Kontrak Jiwa


Jingga terus memperhatikan bayi monsternya yang selalu menggap-menggap dengan posisi berbaring.


Melihatnya yang begitu imut, Jingga lalu menyentuh kepalanya, namun bayi monster itu bereaksi dengan menggigitnya.


"Aw!" Jerit Jingga lalu menarik tangannya yang digigit oleh bayi monsternya.


Jingga memperhatikan dua jari tangannya yang berubah menjadi pipih bentuknya, lalu ia menyembuhkannya kembali dengan menyalurkan energi iblisnya.


"Dasar monster nakal! Masih kecil sudah bisa menyakitiku, kau tahu selama ini tidak ada yang bisa menyakitiku" keluh Jingga yang kembali merasakan sakit setelah terakhir kalinya ia mengalami sakit ketika penempaan tubuhnya oleh api semesta.


"Sepertinya bayi monsterku sedang lapar" gumamnya.


"Tunggulah, aku akan mencari sesuatu untuk kau makan" imbuhnya lalu kembali ke alam nyata.


Di dalam kamarnya, Jingga dipusingkan oleh ketidaktahuan tentang makanan yang harus ia berikan kepada bayi monsternya.


"Sepertinya ia monster karnivora, baiklah aku akan membawakannya hewan" pikir Jingga lalu berkelebat pergi ke hutan tidak jauh dari kota Luyan.


Sesampainya di hutan, Jingga langsung memindainya dengan mata iblisnya, setelah berputar-putar dalam pemindaiannya, ia menemukan keberadaan kawanan serigala.


"Semoga saja Jirex mau memakannya" gumamnya lalu berkelebat ke arah keberadaan kawanan serigala.


"Hallo" ucapnya menyapa kawanan serigala yang langsung membentuk formasi mengelilinginya.


"Ha ha ha, sepertinya aura iblisku berhasil aku sembunyikan" gumamnya dengan menyeringai memperhatikan serigala yang menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Ayo serang aku" pinta Jingga yang bersiap untuk melumpuhkan kawanan serigala.


Seperti mengerti ucapan yang dikatakan oleh Jingga, dua serigala yang berada di belakangnya langsung melompat menerkamnya.


Jingga tidak berpindah posisi, ia hanya memiringkan badannya untuk menghindari terkaman serigala.


Ketika dua serigala gagal menerkamnya, tiga serigala langsung berlompatan menerkamnya.


Melihat serangan serigala yang begitu apik, Jingga langsung berkelebat menangkap ekor serigala lalu membantingnya satu persatu ke pohon.


Dhuar!


Dhuar!


Dhuar!


Lima kali terdengar suara dentuman keras dari tubuh serigala yang menabrak pohon, kelima serigala langsung meringis kesakitan.


Melihat kawanan serigala tidak berdaya, Jingga langsung mengikatnya dengan tali energi lalu memasuki kembali alam jiwanya.


"Hei Jirex! Aku membawakanmu lima serigala, sengaja aku tidak membunuh kelimanya, kalau kau tidak menyukainya, aku akan mengembalikannya ke dalam hutan" ucap Jingga lalu melepaskan ikatan energinya.


"Ayo, cobalah kau makan, semoga kau menyukainya" imbuhnya lalu memperhatikan Jirex yang berjalan dengan sangat pelan mendekati lima serigala yang tergeletak lemah tidak berdaya.


Setelah mendekatinya, Jirex hanya mendengus saja, ia tidak menggigit sama sekali kelima serigala yang terus berdecit ketakutan.


"Sepertinya Jirex tidak menyukai makanannya" gumam Jingga langsung memikirkan hewan lainnya yang mungkin bisa dimakannya.


Tiba-tiba salah satu serigala langsung berlari dengan cepat.


Jirex terlihat begitu kegirangan melihatnya, bayi monster itu lalu mengejar serigala.


Jingga melihatnya begitu heran, ia terus mengikuti kemana langkah lari bayi monsternya itu yang terus mengejar serigala yang berlarian ke sana kemari.


Tak lama kemudian, Jirex berhasil mengimbangi kecepatan lari serigala yang tubuhnya dua kali lebih besar dari ukuran tubuh bayi monster Jirex.


Tampak bagian pinggul serigala langsung robek tergigit oleh Jirex, hingga membuat serigala tersungkur jatuh dan langsung dimakan dengan lahap oleh Jirex.


"Mengerikan" ucap Jingga yang melayang mengikutinya.


Melihat cara makan Jirex seperti itu, Jingga lalu menyembuhkan keempat serigala lainnya yang masih terbaring lemas.


Apa yang dipikirkan oleh Jingga ternyata berhasil membuat Jirex begitu menikmati makanannya dengan cara mengejar serigala yang berlarian menghindari kejaran bayi monster itu.


Jirex begitu buas dan liar dalam mengejar dan menggigit keempat serigala, setiap gigitannya selalu berhasil merobek tubuh serigala.


Beberapa saat kemudian, bayi monster itu kembali mendekati Jingga dengan wajah terlihat puas. Bayi monster itu lalu berbaring merasakan kenyang diperutnya.


Jingga teringat dengan pengetahuan bahwa setiap kultivator bisa melakukan kontrak darah dengan beast monster pilihannya.


Jingga lalu mencoba melukai jarinya untuk melakukan kontrak darah dengan bayi monsternya, namun ia terkejut karena di jarinya tidak ada darah yang keluar.


"Hah! Aku baru tahu diriku tidak memiliki darah" kagetnya setelah melihat jarinya hanya tergores saja lalu kembali utuh dengan sendirinya.


Tidak ingin kalau nantinya ia tidak bisa mengendalikan bayi monsternya, Jingga kembali mencari petunjuk dari semua pengetahuannya.


Hampir dua minggu Jingga mencarinya di pengetahuan Yuangu Mowang maupun di dalam cincin spasialnya, ia masih belum menemukan petunjuk apa pun. Tapi bukan Jingga namanya kalau ia langsung menyerah, ia mengingat kembali proses lahirnya Jirex.


Namun kembali ia tidak menemukan petunjuk apa pun, kesal tidak bisa menemukan caranya, Jingga lalu memperhatikan bayi monsternya yang selalu menggap-menggap itu sambil memikirkan semua yang ia pelajari.


"Ha ha ha, bukankah bisa dengan mempersatukan jiwa, aku harus mencobanya" gumam Jingga begitu senang dengan apa yang diingatnya.


Jingga langsung duduk bermeditasi sambil mendekap tubuh bayi monsternya yang tidak bereaksi karena masih merasakan kenyang diperutnya.


Dalam meditasinya, Jingga mencoba untuk terhubung dengan jiwa bayi monsternya, merasakan setiap detak jantungnya, akal pikirnya dan perasaan hatinya.


Setelah lama terus mencoba, akhirnya Jingga bisa merasakan jiwa bayi monsternya bisa menerima dirinya. Muncul rasa hangat dihati keduanya yang saling menerima dengan tulus.


Setahun kemudian kedua mata Jingga dan mata bayi monsternya berubah menjadi hitam pekat dengan api yang menyala di dalam pupil mata keduanya.


Jingga akhirnya berhasil melakukan kontrak jiwa dengan bayi monsternya. Ia terus mengusap lembut kepala bayi monsternya yang begitu lengket menempel pada tubuh Jingga.


Benua lainnya di alam fana.


Ratu Kalandiva merasakan perasaan cemas yang begitu mengganggunya, ia kemudian memanggil semua raja beast monster di alam fana dan alam dewa untuk datang ke istananya.


"Salam yang Mulia Ratu" ucap semua raja beast monster yang telah datang di istana kerajaannya.


"Terima kasih kalian semua menerima undanganku, aku sengaja mengundang kalian semua karena ada satu hal yang selalu aku cemaskan, bukan tentang kembalinya Raja Iblis Yuangu Mowang ataupun Taiyangshen yang akan kembali melakukan pertarungan antara Raja para Iblis melawan Raja para Dewa" ujarnya lalu menatap semua raja beast monster yang begitu serius menyimak setiap perkataan dari ratu bangsa beast.


Hampir semua para raja beast monster terpatahkan dalam menebak maksud perkataan Ratu Kalandiva, mereka terlihat begitu serius menunggu lanjutan perkataan ratunya.


Setelah berhasil menenangkan diri, Ratu Kalandiva langsung melanjutkan lagi ujarannya.


"Ada suatu legenda di masa lalu yang mungkin tidak pernah kalian ketahui. Selama ini bangsa beast tidaklah sendirian, kami yang merupakan klan naga yang kalian anggap sebagai beast penguasa, sebenarnya bukanlah penguasa sesungguhnya dan penguasa yang sebenarnya telah terlahir kembali setelah menghilang jutaan tahun lalu, aku tidak tahu di mana keberadaannya, yang pasti dia ada di antara kita" beber sang ratu menjelaskan semuanya.


"Maaf yang Mulia Ratu, kami semua masih tidak memahami apa yang Mulia Ratu kemukakan kepada kami, yang ingin kami tanyakan adalah apa yang harus kita persiapkan dengan kelahiran kembali sang penguasa bangsa beast itu?" tanya Raja Beast klan Phoenix.


"Kita harus menyambutnya sebagai Raja Agung kita" jawab Ratu Kalandiva.


"Lalu kenapa yang Mulia Ratu begitu cemas sampai mengumpulkan kami semua?" potong Raja Beast klan Kilin.


"Nanti kalian akan mengetahuinya, aku sendiri tidak tahu jawabannya" jawab sang Ratu.