Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
30 Sekte vs Pendekar Gila


Puluhan kultivator di rumah makan adalah salah satu yang ditugaskan untuk mengintai keberadaan sepasang pemuda yang menjadi targetnya.


Di arena pertarungan, Jingga terus berkelebat membantai para kultivator secara berurutan berpindah-pindah membentuk sebuah pola, ia hanya membunuh beberapa orang saja disetiap titiknya.


Hal itu ia lakukan untuk meruntuhkan mental para kultivator dengan harapan mereka melarikan diri, tetapi apa yang diharapkannya terbalik, para kultivator semakin beringas menyerangnya.


Jingga tidak lagi meragukan dirinya untuk membantai semua kultivator yang menyerangnya.


Siu!


Dhuar!


Dhuar!


Sebuah bayangan membentuk angin tercipta dari kecepatan langkahnya, Jingga terus menebaskan pedangnya ke setiap kultivator yang tidak bisa mengimbangi kecepatannya dan terus meledak bersahutan.


Di area lainnya, Bai Niu terlihat sedang bermain-main dengan para kultivator yang menyerangnya. Ia tidak langsung membunuhnya dengan cepat, ia hanya memotong bagian tubuh kultivator satu persatu.


"Ayo sayang jangan buat diriku bosan, gunakan kemampuan terbaik kalian untuk menyerangku" pinta Bai Niu menggoda para kultivator yang terengah-engah menghadapinya.


Bai Niu menyingkap sedikit gaun bawahnya, memperlihatkan kakinya yang jenjang dan putih kepada para kultivator dengan tatapannya yang nakal.


"Tidakkah kalian menyukainya?" Imbuh Bai Niu menggoda para kultivator yang semuanya adalah seorang pria.


Para kultivator yang melihatnya tidak tertarik sama sekali dengan sesuatu yang diperlihatkannya, bukan karena tidak normal, mereka semua tidak ada yang bertubuh utuh, ada yang kakinya buntung sebelah, ada yang tangannya buntung sebelah dan beberapa lagi yang kehilangan bagian tubuh seperti telinga dan hidung yang terpapas terkena sabetan Jianshandian.


"Apakah aku kurang cantik sehingga kalian mengabaikannya?" Tanya Bai Niu sedikit kecewa melihat tatapan pilu para kultivator yang terlihat menyedihkan.


Bai Niu kembali berputar menebas tubuh puluhan kultivator di depannya.


Wuzz!


Sret!


Sret!


"Membosankan!" Keluhnya lalu berkelebat ke arah ratusan kultivator yang berlarian mendekatinya.


Di area Jingga berada, ia telah menewaskan semua kultivator yang menolak kesempatan yang ia berikan.


Jingga melayang ke udara memperhatikan adiknya Bai Niu yang masih sibuk dalam pertarungannya.


Tidak lama kemudian, ratusan kultivator lainnya bermunculan terbang ke hadapannya.


"Kalian seperti tidak ada habisnya, mati satu, muncul seratus" ucap Jingga menatap para kultivator yang terlihat begitu waspada bersiap menyerangnya.


"Kemampuan kalian tidaklah cukup untuk menghadapiku, tidakkah kalian memikirkan konsekuensi dari kematian kalian, aku memberikan kesempatan kepada kalian untuk kembali pulang atau bergabung dengan teman-teman kalian yang telah mati. Berpikirlah dulu sebelum memutuskan" saran Jingga memberikan jeda waktu kepada semua kultivator yang membentuk formasi lingkaran mengelilinginya.


"Kematianmu adalah jalan kami untuk bisa pulang, kalau kau menghargai nyawa kami, maka serahkanlah nyawamu itu atau kau bisa bunuh diri di hadapan kami, kami akan pulang dengan membawa jasadmu sebagai penebus nyawa kami" ujar seorang kultivator yang menggenggam tombak menjelaskannya.


"Seperti itu rupanya, baiklah, sebelum kalian semuanya mati, apakah kalian ingin menikmati arak?, Aku punya banyak koleksi arak yang bisa kalian nikmati sebelum jiwa kalian aku makan" tawar Jingga lalu mengambil arak dari cincin spasialnya dan menenggaknya.


"Ha ha ha, tentu semua itu akan kami nikmati setelah kematianmu pemuda asing" timpal pria yang sama terkekeh.


"Ya itu sih terserah kalian saja, aku hanya menawarkannya. Diterima kalian hidup, tidak diterima ya mati" balas Jingga menanggapinya.


Tak lama Bai Niu sudah ada di sebelahnya dengan raut wajahnya yang terlihat bosan dan bibir mungilnya yang mengerucut.


"Kenapa kau, Naninu?" Tanya Jingga ingin tahu.


"Aku bosan Kak, mereka semua terlalu mudah dikalahkan" jawab Bai Niu memaksakan senyumnya.


"Sombongnya dirimu" timpal Jingga menanggapinya.


Jingga langsung melirik kembali ke arah para kultivator yang terlihat berbinar menatap kecantikan adiknya.


"Baru melihat adikku sudah seperti itu tatapan mereka, apalagi kalau melihat Mei'er dan Zhia'er bisa menetes salivanya" gumam Jingga.


"Hai tampan, terima kasih tawarannya, tapi maaf aku tidak mau menerimanya" jawab Bai Niu menolaknya.


"Bagaimana denganku?" Tanya beberapa pria berbarengan.


Beberapa pria yang berada di belakang menjadi penasaran akan sosok gadis yang menjadi rebutan kultivator lainnya.


Formasi melingkar dari para kultivator langsung berubah, mereka semua yang berada di belakang Bai Niu langsung berpindah ke posisi depan.


"Cukup, Naninu. Kita akan bertarung bukan ajang kontes merebutkanmu" ucap Jingga merasa terganggu dengan kehadiran adiknya.


"Bilang saja cemburu, apa susahnya?" Timpal Bai Niu ketus.


Jeda waktu yang cukup lama membuat ratusan kultivator lainnya beterbangan menghampirinya.


"Hei, apa yang kalian lakukan?, Kenapa kalian hanya diam saja seperti gerombolan hewan di kandang?" Tegur seorang pria paruh baya yang mungkin seorang tetua sekte.


"Tunggu dulu Paman, sebelum kita melanjutkan pertarungan, bolehkah kami berdua mengetahui siapa yang kami hadapi?, Supaya kami bisa menceritakan kepada setiap orang bahwa kami telah membantai kalian, jadi kami bisa menyebutkan nama-nama sekte ataupun klan kalian" pinta Jingga kepadanya.


"Ha ha ha sombong sekali dirimu anak muda, tapi baiklah, kalian berdua bisa menceritakannya di neraka" timpal pria paruh baya lalu menyebutkan tiga puluh nama sekte yang tergabung dari dua kerajaan yaitu kerajaan Kandao dan kerajaan Liaokao.


"Aku telah menyebutkan semuanya, sekarang katakan kepada kami siapa kalian berdua yang telah membunuh ribuan murid sekte, agar kami bisa membuat tempat tinggal kami kembali damai?" Pinta balik pria paruh baya.


Jingga tersenyum menanggapinya, ia memikirkan nama yang tepat untuk dirinya dan adiknya.


"Aku Upin dan ini adik saya Ipin"


"Betul, betul, betul" sambung Bai Niu.


Ralat.


"Ternyata begitu, suatu kehormatan bisa mengenal kalian semua. Aku Jingga dan gadis cantik di sebelahku adalah Naninu. Kami berdua adalah Pendekar gila dari hutan Bambu Merah" ucap Jingga memperkenalkan diri.


Jingga terinspirasi dari pasangan pendekar gila gunung Lanhua.


"Satu lagi, aku minta kalian mengeluarkan semua kemampuan kalian, aku tidak ingin pertarungan kita berakhir dengan cepat" imbuh Jingga dengan serius menatapnya.


Bertambah lagi para kultivator yang beterbangan mengelilingi keduanya.


"Baik!" Sahut pria paruh baya lalu mengalirkan energi spritualnya ke dua belati yang dipegangnya.


"Naninu!" Panggil Jingga meliriknya.


"Siap, Kakak!" Sahutnya lalu bertransformasi menjadi dewi Petir.


Ratusan kultivator terkejut dengan perubahan gadis cantik yang terlihat menyeramkan dengan kilatan arus petir mengelilingi tubuhnya.


"Hati-hati, dia seorang dewa" ucap pria paruh baya mengingatkan yang lainnya.


Jingga sendiri tidak menggunakan Jianhuimie Yuzhou yang akan membuat pertarungan berakhir cepat, ia mengandalkan fisik murni dari pelatihannya di hutan Bambu Merah, energi iblisnya hanya digunakan untuk melayang terbang.


Wuzz!


Siu!


Tanpa aba-ana Bai Niu langsung berkelebat menebaskan pedangnya ke arah para kultivator yang terperangah akan kecepatannya.


"Naninu! Jangan membuat pertarungan menjadi cepat berakhir" teriak Jingga yang sedang bertarung memintanya.


"Baik, Kak" sahut Bai Niu dari kejauhan.


Bai Niu kembali ke modus normal tanpa menggunakan energi petir, ia mengandalkan energi spiritualnya untuk mengimbangi ratusan kultivator yang mulai bisa membalas serangannya.


Terlihat pertarungan menjadi seimbang, baik dari kedua pendekar gila maupun dari para kultivator ketiga puluh sekte yang mulai mendominasi karena unggul jumlah.