
"Sudahlah, Paman!" Sambung Jingga lalu melirik semua orang satu persatu.
Ia begitu terpana akan wajah rupawan dari semua keturunan adiknya, yang pria begitu tampan dan yang perempuan pun sangat cantik. Tatapannya berhenti pada satu gadis bergaun putih yang sangat mirip dengan adiknya Qianmei.
"Nona, kau sangat mirip dengan Mei'er. Siapa namamu?" Tanya Jingga.
Semua mata beralih ke arah gadis bergaun putih, si gadis yang ditatap semua orang terlihat begitu gugup. Sambil menundukkan wajah ia menjawab
"Aku Qianyuna" ucapnya pelan.
"Bukan hanya wajahmu saja, perangaimu pun sangat mirip dengannya" timpal Jingga lalu kembali menatap yang lainnya.
"Baiklah! Untuk mencairkan suasana, aku akan memperkenalkan diriku, namaku Tang Xie Jingga, aku terlempar dari dimensi waktu ke masa kalian. Bisa melihat kalian semua yang merupakan keturunan Adikku Qianfan, aku sangat bahagia walaupun sedikit sedih karena tidak bisa melihat Adik iparku Zhia'er" imbuh Jingga mengenalkan diri.
Tetua Qianli melangkah maju berdiri di sebelah Jingga, ia lalu memperkenalkan satu persatu keluarganya. Bahkan beberapa orang yang merupakan menantu dikenalkan juga.
Sampai pada seorang wanita tua yang merupakan istri dari tetua Qianzhao bernama Tang Xia Lin memeluk Jingga dengan begitu erat.
"Aku sering mendengar cerita tentangmu dari mendiang Nenekku Xiu Juan. Aku bahagia bisa bertemu langsung denganmu yang sangat dikagumi Nenekku" ujar Nyonya Lin lalu melepaskan pelukannya.
Suasana di dalam kamar Qianfan begitu hangat, mereka saling berbincang satu sama lain sebagai keluarga besar.
Qianfan yang memperhatikan semua keluarganya begitu terharu, dalam air mata kebahagiaan, ia pun menghembuskan napas terakhirnya di pangkuan Jingga.
"Fan'er" lirih Jingga tidak lagi mendengar napas adiknya.
Dengan sangat lembut ia mengusapi rambut adiknya, ditatapnya wajah sang adik yang begitu tenang dengan raut wajah bahagia.
"Selamat jalan, Adikku!" Ucap Jingga sedikit keras agar semua keluarganya mendengar.
Tangisan pun pecah di kamar Qianfan. Semua orang langsung meluruh memeluk dan menciumi Qianfan yang sudah tak bernyawa dengan kondisi tersenyum di wajahnya.
Alam pun menangisi kepergian Qianfan dengan menurunkan hujan dari langit. Hari itu menjadi hari berkabung di hutan bambu merah.
Kabar kematian Qianfan dengan cepat menyebar ke seluruh wilayah kota Lintang hingga sampai ke lingkungan istana kekaisaran Xiao di kota Luyan.
Pada hari ketiga, semua klan dan perwakilan sekte di beberapa kota kekaisaran berdatangan ke hutan bambu merah untuk mengikuti upacara pemakaman seorang tokoh yang sangat disegani di dunia persilatan baik aliran putih maupun aliran hitam.
Tepat di senja hari ketika Qianfan selesai disemayamkan, tetua Qianli berseru dalam pidatonya mengikrarkan perdamaian antar sekte dan klan di wilayah naungan kekaisaran Xiao. Semua perwakilan sekte dan klan menyambutnya dengan gembira.
Kaisar Xiao Manyue bersama istrinya Kim Rei menghampiri tetua Qianli lalu meneruskan pidatonya, sang kaisar pun meminta semua sekte untuk bahu membahu menjaga perdamaian dan bekerjasama dengan kekaisaran dalam memburu gadis penyihir yang beberapa bulan belakangan sering meresahkan warga dengan aksi penculikannya.
Selesai berpidato, kaisar Xiao Manyue mempersilakan semua pendekar untuk menyampaikan pendapatnya.
Seorang pendekar berjanggut panjang mengangkat tangan lalu berjalan mendekati kaisar.
"Salam hormat, Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri. Saya Chao Bak, tetua dari sekte Rajawali Perak. Izinkan hamba menyampaikan beberapa hal" ucapnya.
Kaisar Xiao Manyue mengangguk mempersilakannya.
"Terima kasih, Yang Mulia. Beberapa waktu lalu terjadi perang karena kesalahpahaman di antara kami para pendekar dengan pasukan kekaisaran. Seperti yang kita ketahui semuanya, kami para pendekar terus mencari keberadaan pedang Langit yang menjadi simbol kekuatan absolut di dunia persilatan, kami meminta kepada sekte Bayangan Jingga untuk berterus terang dan menyerahkan pedang Langit kepada Kaisar untuk menghentikan pertumpahan darah yang berlangsung selama ini. Dalam kesempatan ini, saya meminta Yang Mulia berkenan untuk mengambil alih kepemilikan pedang Langit sebagai simbol perdamaian" bebernya lalu mundur beberapa langkah.
"Hem! Betul juga yang kau katakan itu" tanggap kaisar menyetujui idenya.
Ia lalu melirik ke arah tetua Qianli yang kebingungan, semua mata pun terarah kepada tetua sekte Bayangan Jingga.
"Maaf, Yang Mulia. Kami semua tidak mengetahui keberadaan pedang Langit" ucap Tetua Qianli menyanggahnya.
Keributan pun terjadi, semua pendekar dari pelbagai sekte tidak mempercayai sanggahan tetua Qianli, mereka mendesak kaisar mengambil sikap tegas kepada sekte Bayangan Jingga agar mau menyerahkan pedang Langit.
"Tenanglah! Kami sedang dalam kondisi berduka kehilangan sosok yang kami sayangi. Kalian semua tidak perlu meributkan pedang Langit" pekik Jingga dengan begitu geram.
Para pendekar langsung terdiam, sebagian dari mereka mengetahui bagaimana Jingga menghabisi dua pendekar di halaman tetua sepuh beberapa hari yang lalu.
"Sungguh tidak terpuji kalian meributkan sesuatu di depan kami yang sedang berduka" hardik Jingga melanjutkan ucapannya.
"Pedang Langit ada padaku, kalian tidak perlu mencarinya lagi. Aku akan membawanya ke alam dewa" sambung Jingga mengakhiri ucapannya.
"Ha ha ha, siapa kau berkata seperti itu? Bagaimana mungkin kau bisa membawanya ke alam dewa? Berhentilah membual di hadapan kami" kekeh seorang pendekar wanita berpeci abu-abu.
Wuzz!
Jingga mencekik leher wanita itu lalu melemparkannya ke pohon bambu.
Siu!
Dhuar!
Pendekar wanita melesak jauh menabrak ratusan batang bambu, Jingga berkelebat menariknya sebelum tubuh pendekar wanita jatuh ke tanah.
Dengan mencengkram bagian belakang leher pendekar wanita yang sudah tidak sadarkan diri. Jingga membawanya kembali ke tempat ia berdiri dan mengangkatnya memperlihatkan kepada seluruh pendekar yang terperangah tidak menduganya.
"Cukup! Pendekar muda" ucap Kaisar memintanya mengembalikan tubuh pendekar wanita pada kelompoknya.
Jingga menyeringai dingin menatap kaisar lalu melemparkan tubuh pendekar wanita ke tempatnya semula.
Seketika suasana berubah menjadi tegang, para pendekar begidik ngeri setelah melihat kemampuan Jingga yang dengan mudahnya mengalahkan salah satu pendekar terkuat.
"Ha ha ha!" Tawa seorang perempuan menggema di hutan bambu merah.
Wuzz!
Dhuar! Dhuar!
Puluhan berkas energi melesak cepat memborbardir para pendekar yang langsung berhamburan menyelamatkan diri.
Perempuan yang menyerang para pendekar berdiri di batang pohon bambu.
"I- itu dia gadis penyihir" pekik seorang pendekar mengenalinya.
Para pendekar dengan sigap langsung mencabut senjata, bersiap untuk menyerang gadis penyihir.
Tap tap!
Gadis penyihir dengan cepat sudah berada di hadapan Jingga.
"Selama delapan bulan aku terus mencari keberadaanmu, ternyata kau bersembunyi di sini" ucap gadis penyihir menatap Jingga dengan berbinar karena merindukannya.
Jingga mengerutkan kening membalas tatapan si gadis penyihir dengan heran.
"Aku tidak mengenali dirimu" balas Jingga yang memang belum mengetahuinya.
"Mungkin dirimu hilang ingatan waktu jatuh dari ruang hampa, aku istrimu Mei Moshu. Ayo sayang, kita pulang" ujar gadis penyihir membohonginya.
"Apa kau gila, Nona?" Tanya Jingga yang merasa aneh.
"Ha ha ha, ternyata pendekar muda itu suaminya si penyihir. Kita harus membunuh keduanya. Serang!" Celetuk salah satu pendekar memberikan perintah.