Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Gambaran 3 Benua


Jingga memindai kamar di sebelahnya. Tampak di dalamnya ada dua orang iblis yang sedang bersenang-senang keenakan. Ia lalu memasukinya tanpa ada suara sedikit pun, ia kemudian duduk di kursi sambil menunggu keduanya menyelesaikan kesenangannya.


Beberapa saat kemudian, kedua pasangan iblis telah menyelesaikan aktivitas yang begitu menguras energi. Keduanya berbaring tanpa menyadari keberadaan seorang pemuda yang duduk santai meminum arak sambil menyaksikan keduanya.


"Ehem!" Deham Jingga.


Kedua iblis langsung melirik Jingga, namun keduanya memiliki reaksi berbeda dengan manusia di alam fana yang akan langsung menutupi tubuhnya ketika tertangkap basah melakukan kesenangan. Keduanya masih santai dalam pembaringannya tanpa peduli dilihat orang lain.


"Siapa kau? Apa yang kau inginkan dariku?" Tanya iblis pria.


"Aku Jingga, aku tidak punya urusan denganmu Tuan, aku menginginkan sesuatu dari gadis di sampingmu" jawab Jingga lalu berdiri menghampiri keduanya.


"Maaf Tuan, sesuai aturan penginapan, aku hanya melayani tamu yang menginap di kamarku" potong gadis iblis menjelaskannya.


"Begitu rupanya, bolehkah aku meminta satu kakimu?" Balas Jingga menanggapinya.


Kedua iblis mengerutkan dahi mendengar permintaan iblis muda di depannya.


"Apa maksudmu, Tuan? Aku tidak memahaminya" tanya gadis iblis kebingungan.


"Gadis di kamarku kakinya hilang sebelah, dia memintaku mendatangimu untuk mengambil sebelah kakimu" jawab Jingga menjelaskan.


"Dia kan iblis, kenapa tidak menumbuhkannya sendiri?" Kelit si gadis iblis.


"Itu masalahnya, ia tidak bisa menumbuhkannya lagi" balas Jingga lalu seenaknya saja memotong kaki kanan gadis iblis.


"Aah!" Pekik gadis iblis merasakan sakit.


"Sudahlah jangan menjerit seperti itu, kau bisa menumbuhkannya kembali" ucap Jingga lalu membawa sepotong kaki meninggalkan kamar.


Kembali Jingga memasuki kamarnya, ia lalu memberikannya kepada Huo Nuhai yang sedang duduk ditemani Jirex.


Huo Nuhai menerimanya kemudian merapalkan mantra lalu menyambung kaki barunya.


"Terima kasih, Tuan" ucapnya setelah berhasil menyambungkan kakinya.


Jingga hanya menganggukan kepala menanggapinya. Ia lalu meminta Huo Nuhai untuk menceritakan tentang kota Kematian.


Huo Nuhai langsung melirik gadis di sebelahnya, Jirex menatapnya dengan dingin. Takut akan dimakan lagi oleh Jirex, ia langsung memulai ceritanya.


Jingga mendengarkannya dengan seksama, tidak ada sesuatu yang menarik minatnya dari cerita Huo Nuhai, sampai pada cerita tentang kehancuran klan Ye Gui beberapa waktu silam. Jingga mulai serius mendengarkannya.


"Nona, apa kau tahu di mana keberadaan klan Ye Gui?" Tanya Jingga ingin tahu.


"Ya, bukan hanya aku saja yang mengetahuinya, semua orang di kota ini juga mengetahuinya. Tapi untuk apa kau menanyakannya?" Jawab Huo Nuhai bertanya balik.


"Siapa tahu ada sisa-sisa klan Ye Gui yang bisa aku temui" jawab Jingga.


"Hem, aku tidak yakin keluarga Linghun Lieshou membiarkan satu orang pun yang hidup. Mereka pemburu paling kejam di alam ini. Percayalah! Kau tidak akan menemukan apa pun di sana selain sisa-sisa reruntuhannya" timpal Huo Nuhai.


"Apa yang kau ketahui dengan keluarga Linghun Lieshou?" Tanya Jingga ingin mendapat opini darinya.


"Aneh kalau kau tidak mengetahuinya, dalam menjalankan setiap misinya, keluarga Linghun Lieshou akan menghabisi seluruh iblis yang berhubungan dengan target buruannya. Semoga saja kau tidak pernah menjadi target buruan mereka, bukan hanya dirimu saja yang mati, bahkan semua keluargamu akan menanggung kematian sebagai antisipasi dari upaya balas dendam. Begitulah cara mereka menjalankan misinya" beber Huo Nuhai menjelaskannya.


Jingga terus mengangguk memahaminya, ia lalu diam menatap Huo Nuhai di hadapannya.


"Hei! Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Huo Nuhai merasa heran.


"Ha ha ha, tidak apa-apa. Aku heran saja kau daritadi berbicara dengan tubuh polos. Dasar iblis betina tidak punya malu!" Jawab Jingga baru menyadarinya.


"Aku sudah menceritakan semua yang aku tahu kepadamu. Sekarang apa yang kau inginkan dariku? Aku siap melayanimu" ucap Huo Nuhai dengan tatapan genitnya.


"Kau tunggu aku di kamar" balas Jingga lalu meninggalkannya, sedangkan Jirex langsung kembali masuk ke alam jiwa.


Turun ke lantai dasar penginapan, Jingga melihat seorang gadis iblis yang sangat cantik dikawal oleh beberapa iblis di belakangnya berjalan masuk ke dalam penginapan.


"Ada juga iblis yang cantik" gumam Jingga lalu memalingkan muka ketika gadis iblis itu balik menatapnya.


Baru saja Jingga akan keluar pintu, seorang iblis menahan tangannya. Jingga melihat jemari tangan gadis iblis yang memiliki kuku panjang dan terasa begitu dingin mengenai kulitnya. Ia langsung berbalik melihatnya.


"Halo tampan, sepertinya kau berasal dari benua Siwang Zhihong" ucap gadis iblis menebaknya.


Jingga mengerutkan kening karena baru pertama kali mendengarnya.


"Maaf Nona, aku sendiri baru mendengar namanya. Aku baru kembali dari alam fana, jadi maafkan atas diriku yang tidak mengetahuinya" balas Jingga begitu sopan sambil menundukkan wajahnya.


"Ha ha, itu tidak penting untukku. Kemarilah, temani aku minum arak darah" ucap si gadis menawarkannya.


Tanpa pikir panjang, Jingga langsung menyetujuinya. Ia ingin mengetahui banyak informasi di alam barunya.


"Pelayan!" Panggil si gadis.


"Iya, Nona" sahut pelayan buru-buru menghampirinya.


"Bawakan arak terbaik"


"Baik Nona, mohon menunggu"


Gadis iblis langsung melirik Jingga yang duduk di depannya.


"Tuan muda, siapa namamu dan dari klan mana kau berasal?" Tanya gadis iblis.


"Namaku Jingga, aku bukan berasal dari klan mana pun di alam ini. Aku lahir dan besar di alam fana" jawab Jingga sejujurnya.


Gadis iblis merasa jawaban yang diucapkan pemuda di depannya adalah benar adanya, ia tidak melihat kebohongan di sorot mata Jingga.


"Ya, pantas saja kau tidak mengetahui nama benua yang tadi aku sebutkan. Alam ini memiliki tiga benua besar dalam satu wilayah daratan, yang pertama adalah benua Siwang Zhihong atau biasa disebut dengan Merah Kematian, sebelum Yang Mulia Agung berkuasa, dulunya benua itu adalah wilayah yang hanya dikuasai oleh iblis merah.


Yang kedua adalah benua yang kita tempati sekarang yaitu benua Heibiantan, seperti namanya benua ini merupakan pusatnya iblis hitam dan yang terakhir adalah benua Beishang, sama seperti satu benua di alam fana yang memiliki pusat beast monster. Di alam iblis pusat keberadaan iblis monster adalah di benua Beishang.


Tapi yang perlu digaris bawahi adalah ketiga benua tidak lagi menjadi pusat para iblis sesuai rasnya, sekarang semuanya sudah berbaur semenjak Yang Mulia Agung berkuasa" paparnya menjelaskan tentang ketiga benua.


Bertambah lagi pengetahuan Jingga yang terkonfirmasi langsung oleh penghuni alam iblis, namun ada satu hal yang masih belum Jingga ketahui.


"Nona, aku pernah disebut sebagai iblis Tongzhi, apa Nona mengetahuinya?" Tanya Jingga.


"Ha ha ha, kau benar-benar bukan berasal dari alam ini. Iblis Tongzhi merupakan iblis para penguasa, walaupun jumlahnya sedikit di alam ini, namun iblis Tongzhi adalah iblis para genius" jawab gadis iblis kembali menjelaskan.


Tak lama seorang pelayan membawa tiga kendi sedang berisi arak darah memotong obrolan keduanya.


"Sebagai tanda perkenalan, mari kita bersulang" ucap gadis iblis lalu menuangkan arak ke dalam cangkir kecil.


"Terima kasih, Nona. Tapi aku memiliki arakku sendiri" tolak Jingga lalu mengeluarkan sebotol araknya.


Gadis iblis tidak mempermasalahkannya, keduanya lalu bersulang menikmati arak.