
“Sialah! Kakakku diculik mereka. Aku harus memberitahukannya kepada kak Jingga,” gumam pikir Qianmei merasa kesal.
Ia lalu berbalik dan berkelebat ke arah Jingga. Sesampainya di area pertarungan sang kakak, Qianmei tampak ragu untuk mengatakannya. Ia terus berdiri dengan tangan yang disilangkan di dada. Memperhatikan Jingga yang serius dalam pertarungannya. Namun, lama kelamaan ia merasa bosan sendiri.
“Sebaiknya aku teriak saja,” pikir Qianmei setelah menimbangnya.
“Kak Jingga!” pekik Qianmei berteriak lantang.
“Tidak perlu berteriak!” balas Jingga cepat tanpa menolehnya.
“Kak Niu’er diculik para dewa!” lanjut teriak Qianmei memberi tahu.
Jingga sedikit melonggarkan serangan, ia mendongak ke atas untuk melihat keberadaan sang adik. Namun, sudah terlambat. Tidak ada yang bisa dilihatnya. Bai Niu telah hilang dari Alam Sutera.
Longgarnya serangan Jingga dimanfaatkan oleh para pasukan. Mereka melancarkan serangan beruntun dengan pedang dan tombak mereka, mencoba menyerang dari segala arah dan terus merapatkan diri dengan posisi mengepung Jingga.
Para pasukan mulai menunjukkan keahlian dan ketangkasan yang cukup baik. Mereka bergerak dengan kecepatan dan presisi yang mengesankan, mencoba mengenai sasaran yang terus bergerak dari Jingga. Mereka menciptakan satu kesatuan yang kuat dalam pertempuran.
Namun, meskipun mereka telah berusaha dengan sangat keras, Jingga masih belum tersentuh sama sekali oleh serangan yang dilancarkan. Sebaliknya, serangan balik yang ditunjukkan oleh Jingga berhasil memberikan luka serius pada para pasukan yang berani mendekatinya.
Perlahan, para pasukan terdorong mundur dengan sendirinya. Tetapi, hal itu tidak membuat mereka menyerah.
Pertarungan semakin sengit. Para pasukan kembali melakukan serangan dengan keberanian yang terus terjaga. Mereka saling memberikan isyarat, berkoordinasi dengan baik di setiap upaya serangan yang dilancarkan.
Sayangnya, Jingga dalam posisi tidak ingin berlama-lama dalam pertarungan. Kehilangan sang adik yang dibawa kabur oleh para dewa membuatnya harus segera mengakhiri pertarungan.
“Maaf, Kawan. Aku harus mencari adikku. Terima kasih atas kesenangan yang kalian berikan. Matilah dengan rasa hormat dariku,” ujar Jingga yang diakhiri dengan senyuman yang indah.
Tatapan dingin dan senyum yang mematikan dari Jingga membuat para pasukan bergidik ngeri. Keberanian dan tekad kuat yang ditunjukkan oleh para pasukan mendadak hancur dengan tiba-tiba.
Perisai, tombak, dan pedang terlepas dari genggaman tangan para pasukan. Entah apa yang dialami oleh pasukan Istana Langit. Mereka terlihat pasrah akan kematian yang akan dihadapi. Jingga lalu mengedipkan mata. Ia menggunakan teknik mata iblis untuk mengakhiri pertarungan.
DUAR! DUAR! DUAR!
Serentak, ratusan tubuh pasukan Istana Langit hancur dengan sendirinya. Alam Sutera pun bergetar sangat keras hingga membuat banyak retakan di tanah dan merobohkan pepohonan dan juga pemukiman bangsa siluman.
“Kak Jingga! Portalnya mengecil!” kata Qianmei memberitahunya.
Tak menunggu lama, Jingga langsung berkelebat menarik tangan Qianmei lalu melesak terbang ke arah portal dimensi di atas langit.
SIU! WUZZ! TING!
Jingga dan Qianmei berhasil memasuki portal yang langsung menghilang dengan sendirinya. Di dalam lorong dimensi, Jingga merasakan adanya kejanggalan.
“Semoga kita tidak terlempar ke alam aneh lagi,” kata Jingga setelah memindai area di sekelilingnya.
Beberapa saat kemudian, portal dimensi terbuka dan langsung melemparkan Jingga dan Qianmei ke suatu area padang rumput. Keduanya lalu melompat dengan ringan di atasnya.
“Ha-ha. Syukurlah. Kita berada di alam Dewa,” ucap Jingga yang merasakan energi dewa di sekitarnya.
"Kak, sejauh yang bisa aku rasakan. Aku tidak merasakan keberadaan kak Niu'er di sekitar sini. Apa posisi kita terlalu jauh darinya?"
Jingga langsung memindai area di sekitarnya. Benar apa yang dikatakan Qianmei, tidak ada jejak keberadaan Bai Niu yang dapat dirasakannya.
"Ayo kita terbang! Sebentar lagi matahari terbenam," timpal Jingga lalu kembali menarik tangan Qianmei.
"Ke arah mana kita mencari kak Niu'er?" Qianmei terus memikirkannya.
"Naluriku mengatakan, kita harus pergi ke arah selatan. Ikuti saja!"
"Baik, Kak."
Keduanya terbang dengan bergandengan tangan ke arah selatan dari sisi matahari. Kondisi seperti itu membuat Qianmei merasakan kembali kebahagiaan yang lama tidak pernah dirasakannya. Perasaan yang terkubur dalam-dalam mulai menyeruak sedikit demi sedikit. Kini, ia tidak ingin terus mengekang keinginannya untuk memiliki Jingga, walaupun ia tahu peluangnya sangat tipis karena keberadaan Xian Hou.
Qianmei tidak menanggapi, ia masih sibuk dengan perasaan yang membelenggu hatinya. Jingga meliriknya dengan tatapan menyelidik.
"Memimu!" panggil Jingga sedikit menaikkan nada.
"Eh, iya, Kak. Ada apa?" Qianmei tersentak mendengarnya.
"Jangan berpikir seperti itu. Kamu adikku, selamanya akan menjadi adikku."
"Maaf, Kak," balas Qianmei pasrah.
Hari telah berganti malam, Jingga dan Qianmei terus melaju melintasi langit. Bintang-bintang bertaburan dan bulan purnama menerangi perjalanan keduanya, menciptakan bayangan anggun di antara awan-awan yang lembut.
Jingga merasakan sapuan angin malam yang lembut, mengusap wajahnya. Memberinya sensasi kebebasan dan kedamaian. Ia memandang ke bawah, melihat daratan yang terhampar di bawah keduanya dengan kemegahan dan keindahan alamnya. Hutan-hutan dan pegunungan menghiasi lanskap, menciptakan pemandangan yang menakjubkan di bawah langit malam.
Qianmei yang selalu setia menemani Jingga tanpa sadar membuka sayap di punggungnya. Cahaya biru yang memancar dari kedua sayapnya menciptakan kilauan yang berpendar di kegelapan malam. Jingga menolehnya dengan mata yang terbelalak kagum.
"Memimu, sejak kapan kamu punya sayap?" Jingga terus memperhatikannya dengan takjub.
"A—aku tidak tahu, Kak. Bagaimana bentuknya?" Qianmei masih belum mengetahui bagaimana kedua sayap bisa tumbuh dari punggungnya.
"Sangat indah!" Jingga memujinya.
"Betulkah?" Qianmei mengendalikan sayap lalu memperhatikannya.
Jingga mengangguk seraya tersenyum lembut membenarkannya. Keduanya lalu meneruskan laju terbang dengan perasaan yang bahagia di samping kekhawatiran pada kondisi Bai Niu yang dibawa lari para dewa.
...ISTANA LANGIT...
Ketika kabar tentang ribuan pasukan yang gugur di Alam Sutera mencapai Kaisar Langit, ia terhanyut dalam gelombang murka yang tak terkendali. Wajahnya menjadi merah membara, dan pandangannya memancarkan kemarahan yang membutakan.
Di tengah istana yang megah, Kaisar Langit menghimpun kekuatannya dan berdiri di hadapan para dewa dan jenderalnya yang tegang. Suara gemuruh kemarahan melengkapi ruangan saat ia memperlihatkan kekuasaannya yang tak terbendung.
Dalam keadaan yang tertekan dan penuh amarah, Kaisar Langit mengutuk kegagalan rencananya tersebut. Ia menyalahkan para jenderalnya atas ketidakmampuan mereka menjalankan perintahnya.
"Kalian telah mencoreng Istana Langit dan meludahiku dengan kasar," geram Kaisar lalu mengedarkan tatapan dingin ke arah semua dewa di hadapannya.
Tidak ada satu pun di antara para dewa yang berani bersuara. Mereka memahami tekanan yang tengah dihadapi oleh Kaisar. Ruang istana tampak seperti persidangan yang akan mencapai keputusan akhir. Suasana tegang dirasakan oleh para dewa termasuk para penjaga yang berdiri kokoh di tiap sudut dinding istana.
Tap, tap.
Dua orang dewa berjalan dengan tegap menghampiri sang kaisar lalu membungkukkan dada.
"Katakan!" pinta Kaisar dengan suara parau.
Salah satu dewa melangkah sejengkal. Ia tersenyum ringan lalu menjura.
"Yang Mulia, kita tidak sepenuhnya gagal. Kami berhasil membawa salah satu gadis milik Penguasa Iblis. Kita bisa menekannya untuk mencari tahu kelemahan Penguasa Iblis," ujarnya.
Para dewa yang mendengarnya langsung saling melirik satu sama lain. Tidak ada kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah para dewa. Mereka justru menunjukkan reaksi khawatir akan kedatangan penguasa iblis ke istana. Kericuhan di antara mereka mulai bergeming memicu keributan di ruang istana.
"Hentikan keributan kalian!" tegur Kaisar Langit.
Tak lama kemudian, suasana kembali hening, lalu seorang jenderal berpakaian zirah melangkah ke hadapan Kaisar Langit.
"Katakanlah!" Kaisar Langit mempersilakannya.
"Menculik gadis dari Penguasa Iblis adalah bencana yang diundang. Mohon, Yang Mulia bisa memperhitungkan dan mempertimbangkannya!" seru sang jenderal.
Kaisar Langit terdiam dengan menatap kosong para bawahannya. Wajahnya tampak begitu datar tanpa ekspresi. Di balik ketenangan pembawaannya, banyak hal yang berkecamuk dalam pikirannya. Cukup lama sang kaisar berpikir dan merenungkannya. Ia lalu mengangkat wajah dan menatap serius semua bawahannya.
"Kita tidak perlu menunjukkan reaksi berlebih akan hal itu. Cukup sudah kita dipermalukan olehnya." Kaisar menghentikan ucapan lalu mendongakkan kepala menatap langit-langit istana.