Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Menuju Sekte



Zhu tampak bingung menanggapi ucapan putrinya. Ia mendekap Bai An dengan erat, tampak kesedihan terlukis dari kerutan wajahnya menggambarkan beban emosional yang begitu berat dipikulnya selama ini. Sambil menahan tangis yang hampir meledak, ia mulai menceritakan kisah kelam kepada putrinya. Suaranya penuh dengan getir dan kehancuran, mencerminkan perasaan hati yang hancur dan jiwa yang terluka. Setiap kata yang terucap dari bibirnya terasa seperti beban berat yang terjatuh ke dalam ruangan yang penuh kesedihan.


Di dalam kisahnya, Zhu atau Yao Zhu sangat mencintai Bai Tan seorang cultivator hebat dan juga tampan dari keluarga bangsawan. Namun, nahas baginya, cinta Yao Zhu bertepuk sebelah tangan. Bai Tan memilih menikahi gadis cantik bernama Qin Liu yang berasal dari keluarga biasa. 


Dalam keadaan hampa dan dilandasi oleh rasa sakit hati serta keputusasaan telah dikecewakan oleh Bai Tan, Yao Zhu tersesat dalam gelapnya pikiran hingga ia merencanakan upaya aksi keji. Dengan hati yang dipenuhi oleh dendam kesumat yang tak terkendali, ia melibatkan dirinya dalam permainan licik dan penuh tipu daya. 


Yao Zhu merancang berbagai fitnah yang diarahkan kepada Bai Tan dan juga Qin Liu. Ia menyebar kabar palsu yang menghancurkan reputasi keduanya. Bai Tan terkejut akan fitnah yang semakin gencar diarahkan pada dirinya dan juga istrinya.


Merasa terusik dan khawatir akan keselamatan sang istri. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan alam Dewa dan pergi ke alam fana untuk menjalani kehidupan yang damai. 


Akan tetapi, kepergian Bai Tan dan Qin Liu ke alam fana tidak menyusutkan dendam di hati seorang gadis yang terlanjur sakit hati.


Beberapa tahun kemudian, Yao Zhu menikah dengan Bai Yelu yang memang sudah menaruh hati padanya. Namun, hal itu ia lakukan tidak dilandasi dengan rasa cinta. Ia melakukannya untuk mendapatkan kekayaan dan sumber daya dari klan suaminya dan memanfaatkan semua itu untuk membayar seorang cultivator yang bisa membunuh Bai Tan dan Qin Liu di alam fana. 


Kemampuan Bai Tan yang sulit dikalahkan, membuat sang cultivator yang dibayar oleh Yao Zhu merancang strategi busuk dengan meracuni Bai Tan untuk melemahkan kemampuannya. Tak cukup sampai di situ, ia juga memprovokasi sebuah klan yang terkenal kejam untuk membunuh Bai Tan bahkan memperkosa Qin Liu dan mirisnya, putri keduanya yang masih belia juga menjadi korban kebejatan para pembunuh hingga berakhir di rumah bordil.


Tragedi pilu itu membuat Yao Zhu mencapai tujuannya, bahkan ia bisa menyembunyikan aksinya dari kecurigaan sang suami beserta anggota klan Bai hingga ia menceritakannya kepada Bai An saat ini.


Bai An (Qianmei) sendiri tak kuasa menahan tangisan mendengar apa yang diceritakan oleh ibunya. Ia membayangkan betapa mengerikannya kejadian yang dialami oleh kakaknya, Bai Niu. Di sampingnya, Jingga yang mendiami tubuh Bai Guo begitu geram mendengarnya. Namun ia harus meredam emosinya sampai ia bertemu nanti dengan adiknya Bai Niu. Ia akan menyerahkan keputusan kepada sang adik untuk menindaklanjutinya.


Beberapa hari kemudian, Bai Guo dan Bai An kembali sehat dan bergabung di tengah keluarga besar Klan Bai. Sang patriark Bai Yelu begitu sumringah melihat kondisi kedua anaknya.


"Tetua Min beserta kedua putranya tengah menjalani misi memburu penguasa iblis. Kalian berdua tidak perlu berkecil hati. Ayah akan membawa kalian ke Sekte Puncak Timur, di sana kalian akan mengusung misi yang lebih besar untuk kehidupan kalian di masa depan. Misinya adalah menjadi anak yang pintar dalam menguasai sastra dan kebijaksanaan. Kalian akan memiliki kesempatan menjadi seorang pejabat Istana Langit ataupun menjadi pemimpin kota di alam Dewa,” beber Patriark Bai Yelu menjelaskannya.


Bai Guo dan Bai An mengangguk, tampak sorot mata keduanya begitu bahagia lalu berkata,


“Terima kasih, Ayah.”


Tepat ketika matahari berada di atas kepala, Bai Yelu bersama Bai Guo dan Bai An bersiap untuk pergi ke Sekte Puncak Timur. Ketiganya menaiki kuda yang telah dipersiapkan para penjaga. Sementara Yao Zhu berdiri di gerbang klan untuk melepas kepergian putra dan putrinya.


“Guo’er, An’er. Kalian harus berhasil!” ujar Yao Zhu penuh harap.


“Baik, Ibu,” jawab keduanya serentak.


Di tengah keduanya, Bai Yelu mengangguk kepada sang istri lalu memalingkan wajah ke arah kedua anaknya. Tanpa menunggu waktu lagi, mereka langsung melajukan kuda dengan begitu cepat ke arah hutan di seberang gerbang klan.


“Ayah, apa kita akan melalui hutan itu lagi?” tanya Bai Guo yang memperhatikan hutan yang sama sewaktu perburuannya.


Bai Yelu memperlambat laju kuda kemudian menoleh ke arah Bai Guo. Ia tersenyum lembut lalu berkata, “Kenapa kamu bertanya seperti itu?”


Bai Guo cengengesan sambil menggaruk rambut dengan tangan kiri.


“Tidak apa-apa, Ayah. Aku masih khawatir kejadian yang lalu akan terulang.” Bai Guo beralasan.


 “Apa kamu meragukan kemampuan Ayah?” 


“Ah, bukan begitu, Ayah. Tentu aku akan aman bersama Ayah.”


“Ya sudah, ayo kita percepat!”


“Baik, Ayah.”


Di sampingnya, Bai An menggelengkan kepala sambil tersenyum mengejek sang kakak yang salah tingkah. Bai Guo membalasnya dengan menjulurkan lidah lalu menghentakkan kuda untuk berlari cepat mengejar Bai Yelu di depannya. Bai An menggeram kesal melihatnya.


Memasuki area hutan yang rimbun dan gelap. Bai Yelu memperlambat laju kuda diikuti oleh kedua anaknya di belakang. Terasa oleh ketiganya, suasana di dalam hutan begitu hening, hanya terdengar desiran angin yang berbisik di antara pepohonan rindang. Cahaya matahari yang redup menembus celah-celah dedaunan, menciptakan pola bayangan yang menari-nari di tanah.


Laju kuda berjalan dengan pelan, menempuh setiap langkah dengan kecermatan. Suara langkah kuda terdengar jelas di antara keheningan alam liar, menembus semak-semak yang menghalangi jalur mereka. Aroma harum tanah dan dedaunan segar mengisi udara, menciptakan atmosfer yang alami dan menenangkan. 


Langkah pelan yang seimbang dari tapal kuda melewati pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi ke langit. Debak-debak daun jatuh bergerak ringan di udara, menari dengan lembut seolah memberikan selamat datang kepada tamu yang melintasinya.


Namun, di tengah kedamaian tersebut, mereka tidak menyadari bahwa bahaya mengintai di balik pepohonan. Beberapa orang yang disinyalir merupakan perampok terus memperhatikan langkah kuda dan mengawasi gerak-gerik dari yang menungganginya.


“Hutan ini begitu memesona, tapi kita harus tetap waspada. Para perampok sering mengintai di jalur yang kita lalui,” ujar Bai Yelu mengingatkan kedua anaknya.


“Baik, Ayah,” jawab Bai Guo diikuti oleh Bai An.


WUZZ! Tap, tap.


Tiba-tiba, gerombolan perampok muncul di depan ketiganya, memotong jalan dengan senjata yang terhunus ke udara.


“Ha-ha-ha. Kita mendapatkan santapan besar!” seru seorang perampok berbadan gempal.


“Patriark Klan Bai, …, hem, suatu keberuntungan yang tak bisa ditolak, kalian datang ketika kami lapar. Ha-ha-ha,” imbuhnya terkekeh.


Bai Yelu dengan tatapan yang tajam dan penuh ketenangan mencoba untuk menghiraukan para perampok yang mengadangnya. Ia menoleh ke arah kedua anaknya lalu berkata, “Guo’er, An’er. Kalian menjauhlah! Biar Ayah yang mengatasi perampok-perampok lemah itu.”


“Baik, Ayah,” balas keduanya lalu memutar kuda berjalan beberapa langkah menjauhi area pertarungan sang patriark yang akan memberi pelajaran kepada para perampok.


Suasana tegang mulai memenuhi udara di keheningan hutan. 


BUGH!


SRING!


Bai Yelu turun dari punggung kuda lalu menarik pedang dari sarungnya, ia menyeringai sinis menatap tajam para perampok di depannya.


“Aku tidak mengenal siapa kalian, tapi bilah pedang ini telah siap untuk menyayat kulit tubuh kalian sebagai perkenalan,” kata Bai Yelu dengan suaranya yang parau.


“Ha-ha, kau terlalu sombong, Pak Tua,” balas seorang perampok paling depan lalu mengayunkan tangan kiri memberi instruksi kepada kawanannya untuk menyerang.


TRANG! TRANG!


Pertarungan pun berlangsung dengan cepat dan sengit. Para perampok yang berjumlah delapan orang silih berganti mengayunkan pedang secara acak menyerang Bai Yelu yang menahannya dengan sangat terampil. Meskipun dikelilingi oleh para perampok yang ganas, ia tidak menunjukkan kelemahan sedikit pun. Setiap gerakannya dipenuhi dengan kekuatan dan kecerdasan, menjaga diri dari sabetan pedang yang terus mengarah ke tubuhnya.


Di belakangnya, Bai Guo dan Bai An sangat antusias melihat kehebatan sang ayah yang begitu terampil memainkan pedang.


“Kak, gerakan Patriark Sekte sangat terampil. Tapi, terlihat sedikit kaku dari jurus langkah bayangan kita,” ucap Bai An mengamatinya.


“Ssstt, panggil dia dengan sebutan Ayah. Nanti kita ketahuan,” balas Bai Guo (Jingga) mengingatkan.


“He-he. Aku lupa.” Bai An cengengesan menimpalinya.


Keduanya lalu kembali fokus menyaksikan pertarungan sang patriark dengan santainya.


"Sepertinya pertarungan akan cepat berakhir," kata Jingga berkomentar.


"Ya, itu karena para perampok terlalu lemah. Payah!" Bai An terlihat kecewa.