Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Transformasi Sepasang Penguasa


Sesampainya di tempat Kaisar berada, Permaisuri Kim Rei langsung menarik tangan Kaisar dan langsung memeluknya.


"Nyue'er, maaf" ucap Permaisuri Kim Rei pelan.


Kaisar Xiao Manyue menganggukkan kepalanya lalu melepaskan pelukan suaminya.


"Cepat habisi gadis penyihir itu" pinta Kaisar Xiao Manyue tegas.


Permaisuri Kim Rei balas menganggukinya, ia lalu berbalik menghampiri Mei Moshu yang berdiri melingkarkan kedua tangan di dada.


"Kalian hidup penuh drama" celoteh Mei Moshu mengomentari.


"Karena itulah kami bisa hidup dengan harmonis" balas Permaisuri Kim Rei lalu mengacungkan pedang Langit dalam posisi bersiap untuk melanjutkan pertarungan.


"Aku suka semangatmu, Tuan cantik" timpal Mei Moshu mengeluarkan pedangnya.


"Kau sama saja dengan iblis Jingga, memanggilku begitu"


"Ha ha, itu karena aku istrinya"


"Tapi dia tidak mengakuinya" timpal Permaisuri Kim Rei menyeringai sinis.


Kesal juga Mei Moshu mendengarnya, ia langsung memulai serangan.


Wuzz!


Trang!


Dhuar!


Benturan dua logam dan peraduan energi menyebabkan ledakkan yang memancar ke sekelilingnya. Para pendekar yang berada di radius terdekat pun sampai terbatuk memuntahkan darah terkena pancaran gelombang energi.


Permaisuri Kim Rei terpental jauh ke belakang dan menabrak beberapa pohon yang langsung bertumbangan.


Bugh!


"Aah!' Ringisnya kesakitan sambil berusaha untuk kembali berdiri.


Tampak darah kental keluar dari hidungnya, seluruh tubuhnya bergetar. Belum juga berdiri dengan tegak, sinar merah melesak cepat menghantam tubuhnya.


Siu!


Dhuar!


Ledakan kembali terjadi membentuk kawah besar, kepulan tanah membumbung tertiup angin membentuk spiral lalu menghilang berhamburan.


Permaisuri Kim Rei tampak baik-baik saja berdiri di tengah bongkahan kawah dengan pakaian yang terlihat hancur bagian atasnya.


Kedua matanya tertutup rapat, kilatan energi biru memancar dari seluruh tubuhnya, tampak tubuh aslinya terlihat jelas, ia memiliki dada bidang, perut berotot dan bertubuh ramping. Ia benar-benar terlihat sebagai seorang pria tulen, namun wajahnya tetap saja terlihat sangat cantik dibandingkan dengan seorang gadis cantik mana pun di wilayah kekaisaran Xiao.


Semua mata terperangah melihatnya, simpang siur tentang terbaliknya sang penguasa benua Matahari akhirnya terjawab.


"Untung saja bukan dirimu yang berada di sana, aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi semua orang yang melihatnya. Ha ha ha" celetuk Jingga kepada Kaisar Xiao Manyue yang berdiri di sebelahnya.


Merah padam wajah Kaisar Xiao Manyue mendengarnya, namun ia tidak menoleh sedikit pun kepada Jingga. Pandangannya masih terus fokus menatap suaminya yang masih mematung di dalam dasar kawah.


Di area lain posisi berdirinya Mei Moshu sekarang, ia terlihat sangat menakutkan, pupil matanya merah menyala seiring langit yang berganti malam. Tatapannya begitu dingin memperhatikan sosok sang Permaisuri yang mulai melayang ke udara.


"Ha ha, kau benar-benar seorang dewa. Tapi sangat disayangkan, tingkat kultivasimu hanya berada di ranah Dewa Alam Berlian. Tapi itu tidak masalah, aku akan menguji kemampuan bertarungmu. Semoga kau bisa memberikan perlawanan yang sengit kepadaku" kelakar Mei Moshu setelah memindai ranah kultivasi Permaisuri Kim Rei.


Permaisuri Kim Rei akhirnya membuka kembali kedua matanya, pupil matanya berubah menjadi biru berkilau, begitu pun dengan rambutnya yang berubah warna menjadi biru.


"Kau terlalu merendah, Nyonya iblis" balas Permaisuri Kim Rei lalu mengangkat pedangnya ke atas langit.


Mei Moshu menyeringai membalasnya, ia lalu memasang posisi aneh pedangnya yang diletakkan di belakang punggungnya secara horizontal.


"Ayo kita mulai kembali pertarungan kita" ajak Mei Moshu lalu menghilang dari tempatnya.


Sring! Wuzz!


Terdengar suara dering pedang yang terbentur oleh angin malam yang cukup kencang. Cahaya merah dari kecepatan terbang Mei Moshu terlihat samar di udara lembah Persik.


Boom! Boom! Boom!


Ledakan-ledakan keras dari pertarungan dua ras terkuat di alam semesta terdengar seperti gelegar petir yang menyambar.


Langit yang gelap pun menjadi begitu terang dengan tiga warna berbeda. Cahaya biru berasal dari energi Permaisuri Kim Rei, cahaya merah dari energi Mei Moshu dan cahaya perak dari dentuman peraduan kedua energi.


"Teknik pedangmu lumayan baik, tapi kau tidak memiliki naluri pembunuh yang baik untuk memenangkan pertarungan" ujar Mei Moshu menilainya.


"Kau pun lumayan hebat memainkan pedang, walaupun banyak celah yang terbuka, perbaiki caramu menggunakan pedang agar kau bisa memenangkan pertarungan" balas Permaisuri Kim Rei tidak mau kalah menilainya.


"Ha ha, cukup percaya diri juga dirimu. Aku akan menunjukkan teknik pedang sesungguhnya" timpal Mei Moshu lalu memutar pedang membentuk sebuah persilangan.


Permaisuri Kim Rei sedikit cemas melihat teknik pedang yang diperagakan oleh Mei Moshu yang terlihat begitu memukau.


"Baiklah, aku akan mencoba menggunakan teknik pedang warisan Ayahku" gumam permaisuri Kim Rei lalu menggenggam gagang pedang dengan kedua tangannya.


Ia sedikit membungkukkan badannya di mana bagian ujung pedang berada di belakang punggungnya dengan gagang pedang yang berada di pinggang kirinya.


Wuzz!


Keduanya melesak terbang saling menyerang dengan membentuk cahaya energi yang terlihat seperti dua meteor yang akan bertabrakan di atas awan.


"Hiaaat!"


Trang!


Dentuman keras peraduan dua logam pedang yang saling menekan, gelombang energi menyeruak membentuk sebuah bola api dua warna yang terus membesar di udara.


Dua pasang mata yang berkilauan saling menatap tajam, Mei Moshu menyeringai sinis memperhatikan Permaisuri Kim Rei yang masuk perangkapnya. Sebelum menyerang, Mei Moshu menggunakan sihirnya untuk menciptakan bayangan dirinya.


"Sepertinya ada sesuatu yang aku lewatkan darinya" gumam pikir Permaisuri Kim Rei memperhatikan raut wajah Mei Moshu yang terlihat menyembunyikan sesuatu.


"Selamat tinggal, Tuan cantik" ucap Mei Moshu dengan mantap.


Wuzz!


Siu! Boom!


Ledakan super dahsyat terjadi di udara membuat langit berubah menjadi badai api yang berkobar sangat besar.


Suhu udara sangat ekstrem panasnya sehingga mengeringkan semua pohon yang berada di beberapa bukit yang mengelilingi lembah Persik.


Untungnya Jingga bereaksi cepat dengan memasang perisai energi untuk melindungi ratusan pendekar dari panasnya badai api yang menyeruak membakar langit.


Beberapa waktu kemudian, kobaran api di langit mulai menghilang tersapu angin.


"Hah!" Seru Mei Moshu terkejut melihat Permaisuri Kim Rei masih berdiri melayang di udara.


"Ti- tidak mungkin, kau hanya kultivator rendah, bagaimana bisa kau masih hidup?" Ucapnya begitu tidak percaya.


Tiba-tiba saja muncul Kaisar Xiao Manyue di belakang Permaisuri Kim Rei.


"Kau terlalu meremehkan kemampuan kami, walau tingkat kultivasi suamiku jauh lebih lemah darimu, kami adalah kultivator pengendali energi semesta" ujar Kaisar Xiao Manyue yang diam-diam merupakan seorang kultivator.


"Sekarang giliran kami menyerangmu, selamat tinggal" ucap Permaisuri Kim Rei lalu berbalik mendekap Kaisar Xiao Manyue.


Tiba-tiba saja kedua tubuhnya bersatu dan bertransformasi menjadi sosok dewa sesungguhnya.


Jingga yang melihatnya dengan mata iblis begitu tidak percaya pada transformasi tubuh sepasang penguasa benua Matahari.


"Sungguh, aku tidak menduganya sama sekali, mereka menyembunyikan kekuatan absolute di alam fana ini" gumam Jingga memujinya.


Mei Moshu kembali bersikap tenang menyaksikan transformasi tubuh penguasa benua Matahari.


"Ha ha ha, ternyata dugaanku selama lebih dari delapan bulan terbukti, kalianlah yang telah memanipulasi energi sehingga tidak ada lagi kultivator di alam fana ini dan membelenggu energiku" kelakar Mei Moshu menerkanya.


"Bodoh! Ucapanmu tidak ada benarnya, kau harus banyak belajar lagi di neraka" balas sang penguasa benua Matahari lalu melesak menyerang Mei Moshu.