Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Mainan Baru Feichang


Lama juga Jingga menelusuri kota tanpa nama, banyak hal baru yang ia dapatkan di dalam kota yang begitu menyeramkan untuk bangsa manusia.


"Tidak ada keceriaan yang aku lihat di kota ini, apakah semua iblis tidak bisa tersenyum?" Gumamnya sambil terus memperhatikan penduduk iblis yang berseliweran memenuhi jalanan kota.


Siu!


Boom!


Sebuah rumah meledak di sisi kanan keberadaan Jingga, beberapa bola api terus ditembakkan oleh puluhan iblis yang melayang di atasnya.


Jingga berkelebat mendekatinya, ia begitu penasaran dengan apa yang terjadi.


Dua cahaya hitam melesat naik ke udara menyerang puluhan iblis merah yang terus menembakan bola api.


Dhuar! Dhuar!


Ledakan terdengar keras di langit, dua iblis berpakaian hitam bertarung dengan puluhan iblis berkulit merah.


"Wow, pertarungan yang hebat" tanggapnya memperhatikan pertarungan para iblis di udara.


Semakin lama Jingga memperhatikan pertarungan, semakin penasaran ia dengan dua sosok iblis yang ternyata seorang wanita.


Jingga langsung melesat ke atap sebuah rumah, ia langsung duduk sambil menenggak araknya menyaksikan pertarungan yang membuat dirinya begitu bersemangat.


Pertarungan semakin sengit, ketika dua iblis wanita memainkan jurusnya dengan begitu indah.


Putaran tubuh kedua wanita terlihat seperti dua angin beliung yang terus melesat menyerang puluhan iblis merah yang tak kalah hebat dengan membentuk formasi bintang dengan api yang berkobar menghantam beliung dari kedua iblis wanita.


Dhuar! Dhuar!


Ledakan keras terus bersahutan setiap kali dua kektuatan tempur saling berbenturan dengan keras.


"Pertarungan yang tidak akan pernah ditemukan di alam fana, ini sungguh keren" gumam Jingga semakin terhibur melihatnya.


Dari kejauhan, ribuan panah api melesat cepat ke arah pertarungan.


Siu!


Boom!


Ledakan keras terjadi di tengah pertarungan para iblis, menciptakan lautan api di atas langit yang begitu mengerikan.


Dua iblis wanita tampak hancur berkeping-keping terkena ledakan. Puluhan iblis merah berhasil mengalahkan keduanya.


Tak lama, kepingan dari tubuh yang hancur kembali utuh membentuk dua tubuh wanita, namun puluhan iblis merah langsung melilitnya dengan rantai api.


Dalam keadaan terlilit rantai, kedua iblis wanita tidak bisa melakukan perlawanan. Puluhan iblis merah langsung membawa keduanya pergi dari arena pertarungan.


Jingga menyeringai melihatnya, ia langsung melesat terbang mengikutinya.


Sampai di suatu lembah yang dikelilingi oleh pegunungan. Puluhan iblis merah melesat turun ke bawahnya.


Jingga sendiri masih melayang di udara memindai area bawah lembah. Tampak terlihat olehnya jutaan iblis memenuhi area lembah.


"Jumlah iblis terlalu banyak untukku" gumamnya.


Jingga langsung melesat ke suatu lokasi seperti sebuah desa tidak jauh di kaki gunung di luar lembah.


Baru saja Jingga mendarat di tanah hitam berasap.


Puluhan iblis putih menyergapnya.


"Siapa kau? Dari klan mana kau berasal?" Tanya seorang iblis yang bertanduk seperti rusa.


"Aku Jingga, aku tidak punya klan" jawab Jingga sambil mengangkat kedua tangannya.


Ia sengaja mengalah untuk mendapatkan banyak informasi di alam yang baru dipijaknya.


Jingga dibawa ke sebuah rumah yang begitu luas. Ia ditempatkan di sebuah area kosong dengan rantai di kedua kaki dan tangannya tertancap di tanah dalam posisi berlutut.


Tak lama puluhan iblis lainnya menghampiri, terlihat para iblis yang menghampirinya seperti sebuah keluarga. Di mana ada yang terlihat tua seperti seorang kakek dan nenek, ada juga yang terlihat paruh baya dan beberapa yang masih remaja.


"Anak muda, katakan kepada kami dari klan mana kau berasal?" Tanya seorang kakek yang berkuku panjang sambil mencekiknya.


"Lepaskan tanganmu" pinta Jingga.


Kakek iblis semakin erat mencekik leher Jingga dengan tatapan matanya yang begitu menyala.


"Patriark, jangan dulu membunuhnya. Biarkan ia berbicara" ucap seorang wanita iblis paruh baya memintanya.


Kakek iblis yang disebut patriark langsung menurutinya dengan menarik kembali tangannya.


Wanita iblis langsung menggantikan posisi patriark menginterogasi Jingga yang masih terlihat tenang.


"Anak muda, kau tercium bau alam fana, apakah kau baru pulang dari misi klanmu?" Tanya wanita iblis lalu menjulurkan lidahnya yang panjang mengenai wajah Jingga.


"Jauhkan lidah kotormu itu Nyonya, sudah aku katakan aku bukan berasal dari klan mana pun. Aku memang dari alam fana dan tidak sengaja terlempar ke alam iblis" jawab Jingga sambil memutar kepalanya merasa risih dengan sesuatu yang berlend*r mengenai wajahnya.


"Kau terlihat berkata benar. Pengawal! Hancurkan tubuhnya" ujar wanita iblis memberi perintah kepada para pengawal yang membawa Jingga.


"Tunggu! Iblis ini terlihat begitu imut, biarkan aku menjadikannya sebagai mainan" potong seorang gadis yang bertaring panjang.


"Ha ha, baiklah. Tampaknya pemuda ini tidak berbahaya, kau bisa menjadikannya mainan, tapi ingat! kalau kau sudah bosan, jangan lupa untuk membakarnya" balas wanita iblis mengizinkannya.


"Baik ibu" timpal si gadis lalu menarik tubuh Jingga yang masih terlilit rantai memasuki kediamannya.


Di dalam kamar gadis iblis, Jingga digantung ke sebuah pengait dengan posisi kedua kaki terikat di atas. Setelahnya si gadis langsung menghancurkan rantai yang melilit tubuh Jingga.


"Pria imut, kau tunggulah sebentar!" Ucap si gadis lalu keluar kamarnya.


Beberapa saat kemudian si gadis kembali dengan membawa sebaskom darah lalu menyiramkannya dari ujung kaki Jingga.


"Nona, untuk apa kau melumuriku dengan darah?" Tanya Jingga heran sambil memutar kepalanya karena darah terus mengalir ke kepalanya.


"Untuk memandikanmu pria imut, apakah kau selama ini tidak pernah mandi? Kau tahu, darah ini sangatlah mahal, aku harus mengeluarkan sepuluh jiwa kultivator ranah Master Perak untuk membelinya. Ini adalah darah seorang anak kecil di alam fana. Sangat bagus untuk kulitmu" Jawab si gadis menjelaskan.


Jingga begitu kesal mendengarnya, ia bertekad akan memusnahkan bangsa iblis.


"Hei, kenapa kau terlihat begitu marah? Aku tidak akan menagihmu untuk membayar darah. Semua ini gratis untukmu. Kau adalah mainanku yang imut, aku akan merawatmu sampai aku bosan" tegur si gadis lalu meninggalkannya.


Jingga begitu risih merasakan lengket di seluruh tubuhnya. Namun ia masih sabar untuk membiarkan si gadis iblis mempermainkannya.


Entah berapa lama Jingga tergantung di pengait sampai darah yang menutupi tubuhnya telah kering.


Jingga heran melihat kulitnya tidak lagi pucat, ia merasakan kulitnya begitu sehat dan tampak glowing.


Si gadis iblis kembali memasuki kamarnya, ia menatap Jingga dengan begitu berbinar.


"Kau sangat tampan pria imut" ucap si gadis langsung menciumnya.


Jingga berontak menjauhkan wajahnya dari cengkraman tangan si gadis yang menahannya dan begitu liar menciumnya.


"Ha ha, kau munafik. Harusnya kau senang mendapatkan ciuman gadis secantik diriku" ucap si gadis dengan tatapannya yang mengerikan.


Tiba-tiba seorang wanita paruh baya memasuki kamar, ia tersenyum melihat putrinya sedang bermain dengan mainan barunya.


"Chang'er, boleh ibu ikut bermain denganmu?" Pinta wanita iblis merasa tertarik dengan mainan anaknya.


Gadis iblis bernama Feichang yang sedang duduk bermain langsung menoleh ke arah ibunya.


"Tidak boleh, pria imut ini hanya boleh dimainkan olehku. Ibu bisa memburu mainan lainnya di kota" tolak Feichang sambil mengibaskan tangan mengusir ibunya.


"Baiklah, kalau kau sudah bosan. Bawa mainanmu ke kamar Ibu" balas wanita iblis lalu meninggalkan kamar anaknya.