Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Istana Kekaisaran Fei



Kembali ke pertarungan yang masih berlangsung dengan sengit. Feichang bersama dengan ibunya Nuren tidak henti-hentinya terus memberondong siapa pun yang dihadapi keduanya. Kini yang tersisa hanya delapan orang saja. Nuren dan Feichang dari alam iblis, dua orang prajurit dari alam dewa, dan empat orang yang tersisa dari aliansi Es Utara. 


“Chang’er, bertahanlah!” Nuren mulai mengkhawatirkan kondisi putrinya.


Tampak terlihat dengan jelas kondisi Feichang yang semakin lemah. Bahkan setiap gerakannya terus melambat seiring waktunya.


Bertarung di bawah terik matahari bagi seorang iblis bukanlah hal yang mudah dilakukan. Energi iblis akan cepat terkuras meskipun hanya berdiam diri. Menggunakan kekuatan jiwa pun tidak bisa terus menerus dilakukan, apalagi tanpa adanya energi pendorong yang menaunginya. Feichang dan Nuren dipaksa harus mempercepat pertarungan sebelum keduanya kehabisan energi dan mati tanpa daya.


Nuren merapatkan tubuhnya di tubuh sang putri sambil terus mengadang serangan cepat dari dua orang kultivator aliansi Es Utara yang berusaha keras membunuhnya.


“Ibu punya rencana untuk mempercepat pertarungan dan menyimpan sisa energi kita,” ucapnya.


“Kamu lindungi ibu,” imbuh Nuren memintanya.


Feichang yang menghadapi seorang kultivator menuruti perkataan ibunya, ia memutari tubuh ibunya membentuk spiral dengan pedang yang dijadikannya tameng.


Berada di dalam tameng sang putri, Nuren memasukkan pedangnya dan menukarnya dengan rantai iblis klan Linghun Lieshou.


“Chang’er, menghindar!” 


WUZZ!


DUAR! DUAR! DUAR!


Ayunan rantai yang melilit cepat di tubuh keempat kultivator dan dua orang prajurit berhasil membuat keenamnya meledak sebelum sempat menyadarinya. 


“Huh! Akhirnya selesai juga. Kamu tidak apa-apa, anakku?” tanya Nuren yang langsung menghampiri Feichang dan merangkulnya.


“Aku baik-baik sa …” Feichang tersungkur di pundak ibunya sebelum menyelesaikan ucapannya.


“Bawa turun, Nyonya,” kata Jingga tiba-tiba.


Nuren sedikit tersentak mendengar suara Jingga. Namun, ia merasa lega karena tidak harus mencari keberadaan tuannya tersebut. Tak menunggu lagi, Nuren langsung melayang turun menghampiri Jingga di bawahnya sambil membopong tubuh Feichang.


“Yang Mulia,”


“Masuklah ke alam jiwaku, pulihkan kondisimu dan juga Chang’er,” pinta Jingga.


Nuren mengangguk lalu memasuki alam jiwa bersama putrinya. Setelahnya, Jingga langsung menoleh ke arah Qianfan.


“Fan’er, tontonannya sudah berakhir. Ayo kita ke istana,” ucap Jingga mengajaknya.


“Baik, Kak. Ayo!” balas Qianfan lalu meminta semua orang untuk bangkit berdiri melanjutkan perjalanan ke istana.


Matahari terbenam di ufuk barat ketika rombongan kekaisaran yang dipimpin oleh Qianfan mencapai gerbang istana yang terlihat masih berdiri kokoh tanpa mengalami kerusakan. Akan tetapi hampir 60% bangunan istana mengalami kerusakan akibat bencana alam yang terjadi di hampir seluruh wilayah alam fana.


“Wow! Istana sekokoh ini saja tidak sanggup menahan bencana alam yang disinyalir begitu dahsyat dan sangat mengerikan,” kata Jingga yang masih mengamati kerusakannya.


“Andai saja aku tahu siapa penyebab terjadinya bencana, aku pasti akan meminta pertanggungjawabannya,” tanggap Qianfan dengan mengepalkan kedua tangan saking marahnya.


Jingga tersentak mendengarnya, ia lalu menarik tangan Xian Hou memasuki ke dalam gerbang istana dengan berpura-pura menjelaskan banyak hal tentang kerusakan istana seolah dia seorang arsitek profesional.


“Seumur aku mengenalmu, baru kali ini aku mendengar dirimu membicarakan banyak hal tentang bangunan istana. Aku jadi curiga padamu. Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku?” 


Xian Hou mendeliknya dengan tajam meminta penjelasan dari suaminya. Jingga sedikit bingung untuk menjawabnya. Namun, ia dengan cepat menyanggah kecurigaan istrinya.


“Sudah banyak istana yang aku kunjungi selama ini. Kamu tahu, aku ingin sekali membuat istana kerajaanku sendiri. Makanya aku mengatakan banyak hal soal bangunan istana kepadamu. Bukankah kamu sendiri yang akan menjadi ratu di istanaku?” Sanggah Jingga dengan lugas dan penuh kepercayaan diri.


“Tapi aku memang ingin memiliki ista-” 


Xian Hou langsung menyumpal mulut suaminya sambil menggelengkan kepala tidak ingin mendengarnya lagi.


“Nanti malam ceritakan semuanya kepadaku,” imbuh Xian Hou ingin mengetahui alasan Jingga membohongi dirinya.


Jingga mengangguk setuju. Xian Hou pun melepaskan tangannya yang menutupi mulut Jingga.


“Kak Jingga dan Kak Hou’er, berhubung kondisi istana begitu memprihatinkan. Kita tidak perlu masuk ke dalamnya. Di area selatan dekat barak prajurit masih ada bangunan yang utuh. Kita akan bermalam di sana. Bagaimana?” tanya Qianfan setelah menjelaskannya.


“Kami tidak mempermasalahkan di mana pun kamu akan menempatkan. Selama itu nyaman dan aman untuk disinggahi,” jawab Jingga terdengar sok bijak.


Xian Hou yang mendengarnya langsung menyeringai. Ingin rasanya Xian Hou mencubit gemas kedua pipi Jingga yang selalu saja membuat kejutan akan sikapnya yang kadang sulit ditebak olehnya. Namun, Xian Hou tidak sadar bahwa Jingga daritadi terus memperhatikannya.


“Tidak lucu, Nenek Peot,” ketus Jingga yang langsung berlalu pergi meninggalkan sang istri.


“Berani kau meninggalkanku, suami sok bijak. Awas saja!” ancam Xian Hou memasang wajah galak.


Jingga terpaksa menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap sang istri yang menggerutu tidak jelas sambil menatapnya dengan sorot mata setajam busur panah dewi Bulan.


“Sini!” panggil Xian Hou.


Dengan malas Jingga menghampirinya. Dalam hatinya, ia merasa akan menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga seperti tempo hari. 


“Gendong,” rengek Xian Hou sambil mengedipkan kedua matanya dengan manja.


Jingga mengembuskan napas lega mendengarnya lalu berjongkok membelakangi sang istri. Namun, Xian Hou diam saja dengan melingkarkan kedua tangan di dada. Jingga menoleh sedikit mendongak menatap istrinya dengan isyarat tanya.


“Aku tidak mau digendong di belakang. Aku inginnya di depan,” kata Xian Hou begitu manja.


“Ya ampun! Manja betul. Ya sudah, ayo!” tanggap Jingga lalu berdiri dan berbalik menghadapnya.


Xian Hou langsung saja melompat dengan melingkarkan kedua tangan di leher beserta kedua kaki yang melingkar erat di pinggang Jingga.


“Apa tidak malu dilihat orang-orang? Kamu bukan anak kecil lagi,” tanya Jingga sambil berjalan cepat menyusul rombongan yang sudah jauh meninggalkan keduanya.


“Kenapa harus malu? Aku istrimu dan aku sedang menyamar menjadi seorang nenek peot yang imut dan menggemaskan,” balas tanya Xian Hou diiringi dengan kecupan yang membasahi kedua pipi Jingga.


“Terserah deh, asal kau bahagia,” timpal Jingga tidak ingin berdebat.


Tanpa terasa, keduanya sampai juga di area bangunan yang disebutkan oleh Qianfan. Bangunan yang mengingatkan Jingga ketika pertama kali mengunjungi kekaisaran Fei. Ia tersenyum simpul mengingat kembali kisahnya yang mengikuti rombongan prajurit yang membawa mendiang adiknya Du Dung setelah tidak sadarkan diri dalam turnamen. 


“Waktu begitu cepat berlalu, adikku. Semoga dirimu tenang di alam sana,” gumam Jingga merindukan adiknya yang menjadi teman pertama dalam petualangannya.


“Kamu begitu merindukan mendiang adikmu, lalu bagaimana kabar Zia’er sekarang? Aku tidak melihatnya bersama Fan’er,” ucap Xian Hou baru mengingatnya.


“Betul juga katamu, ayo kita tanyakan langsung pada suaminya,” balas Jingga yang kembali mempercepat langkahnya menghampiri Qianfan yang sedang berbincang dengan Bai Niu dan Qianmei di depan pelataran bangunan sederhana.


“Kalian bertiga sedang bahas apa?” tanya Jingga setelah berada dekat dengan ketiganya.


Qianfan, Qianmei, dan Bai Niu langsung menolehnya. Mereka tertawa-tawa melihat Jingga memangku seorang nenek yang begitu manja kepada suaminya.


“Istriku, turunlah. Ketiga adik iparmu menertawakan. Pukul ketiganya!” kata Jingga dengan bercanda.


“Siap, suamiku,” sahut Xian Hou langsung melompat dari pangkuan Jingga dan menodongkan tongkatnya ke arah adik-adik iparnya.


“Ampun, Kak! Ampun!” ucap ketiganya yang tidak ingin menjadi korban dari kakak iparnya.