Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Ratu Peri Xian Hou - Pemurnian Hati


Jingga masih berdiri di tempatnya setelah mendapatkan sedikit kesulitan dalam menghadapi pasukan iblis. Ia mengingat kembali kesaktian yang belum digunakannya.


"Ha ha ha, kamuflase iblis" gumamnya dengan seringai di wajahnya.


Jingga langsung mencoba kesaktian yang belum digunakannya itu, membuat dirinya bisa menyamar dengan obyek apa pun yang ditemukannya.


Setelah beberapa kali mencoba, Jingga lalu berkelebat ke lokasi di mana Jirex berada.


Langkahnya langsung terhenti ketika ia melihat danau berwarna warni di depannya.


"Indahnya! Naninu pasti senang dengan tempat ini" pujinya yang langsung teringat dengan adiknya.


"Apa kabarnya gadis bawel itu?, Semoga dia bisa menjadi pendekar hebat seperti Ayah dan Ibuku" imbuh Jingga merindukannya.


Jingga langsung terbang di atasnya, lalu melaju menyusuri danau untuk melewatinya.


Tepat ketika berada di tengah danau, Jingga merasa ada keanehan di dalamnya. Tatapannya berubah ketika memperhatikan keanehan danau warna warni di bawahnya, seakan ada pusaran energi tersembunyi di baliknya. Jingga begitu penasaran dengan apa yang ada di bawahnya lalu memutuskan untuk meluncur terjun ke dalam danau.


Danau yang tenang seketika berubah menjadi pusaran arus kuat yang langsung menghisap tubuh Jingga ke dasar danau.


Yuhuu!


Jingga begitu menikmati daya hisap kuat dari danau yang memicu adrenalinnya.


Bugh!


Jingga terjatuh bergulingan di rerumputan setinggi satu meter yang terlindas oleh tubuhnya. Ia langsung berdiri setelahnya.


Aduduh! Aduh!


"Sakit sekali" ringisnya merasakan sakit sambil berdecak pinggang.


Tatapannya langsung berbinar memperhatikan bunga-bunga yang bermekaran dan menebarkan semerbak keharumannya.


Jingga langsung berkhayal berlarian mengejar Qianmei ke sana kemari sampai dikejutkan oleh wajah masam adiknya Bai Niu.


"Sialan! Dalam khayalan pun kau masih saja menggangguku, Naninu" rutuknya membuyarkan khayalannya.


"Tempat yang begitu indah" gumamnya lalu menengadah menatap langit yang membentuk aurora.


"Apakah ini surga?" Tanya batinnya memperhatikan tempatnya saat ini, ia begitu merasakan kedamaian pada hatinya, namun misinya untuk menghentikan kasus penculikan membuatnya harus segera kembali.


Jingga langsung terbang untuk kembali ke atas danau.


Bugh!


Wadaw!


Ia kembali terjatuh dengan merasakan sakit di lututnya.


"Ada apa ini?, Kenapa aku tidak merasakan energi iblisku?" Ucapnya merasa keanehan di tempat yang baru dipijaknya.


Jingga memperhatikan sekitarnya lalu melihat sebuah garis lurus di sebelah kanan kakinya yang tidak ditumbuhi rumput seakan memberitahunya untuk mengikutinya.


Jingga berjalan mengikuti garis lurus area padang rumput, setelah lama ia berjalan, ia baru menyadari tidak adanya matahari di tempatnya karena ia tidak melihat adanya bayangan dari tubuhnya.


Terus saja Jingga berjalan tanpa tahu sudah berapa lama ia berada di padang rumput itu.


"Aku tidak bisa terus berjalan seperti ini" keluhnya merasakan tempat yang dilaluinya tidak pernah berubah.


Jingga lalu berlari kencang mengikuti garis lurus, terbiasa mengandalkan energi iblis, Jingga merasa kemampuan fisiknya menurun drastis, hal itu memotivasi dirinya untuk semakin cepat dalam berlari tanpa peduli akan sampai mana ia sanggup berlari.


Tak lama kemudian dari kejauhan Jingga melihat ada kolam bundar dengan seorang gadis yang berdiri di tengahnya.


Semakin dekat, Jingga semakin terperangah, mata besarnya seakan mau keluar melihat sosok gadis jauh lebih cantik dari Qianmei gadis pujaannya.


"Inikah bidadari surgawi" ucapnya pelan lalu tersungkur jatuh pingsan sebelum sampai pada kolam bundar dengan wajahnya yang terlihat sedang tersenyum.


Entah berapa lama Jingga tidak sadarkan diri, ia kembali sadar di tempat yang sama. Jantungnya berdetak begitu cepat melebihi apa yang pernah ia rasakan ketika melihat Qianmei.


"Kau sudah sadar rupanya, berdirilah" ucap sang gadis memintanya.


Jingga langsung berdiri menatapnya begitu lekat dan membisu seperti terhipnotis oleh gadis yang berdiri pada teratai di tengah kolam.


"Kau mungkin bertanya kenapa energi iblismu menghilang, kau sekarang berada di alam suci, alam tanpa energi kultivator" ujar sang gadis menjelaskannya.


Jingga hanya menganggukkan kepala tanpa melepas tatapannya tanpa disadarinya, ia berada dekat di hadapan sang gadis. Andai Jingga berkulit putih, mungkin wajahnya akan terlihat begitu merona.


"Hatimu yang membuat dirimu bisa memasuki alam ini, seperti api semesta yang menyempurnakan tubuh iblismu, aku akan menyempurnakan kemurnian hatimu" ujar gadis itu dengan kemampuannya ia bisa membuat Jingga duduk dalam posisi bersila di hadapannya.


Jingga seperti bayi yang hanya bisa menatap mata ibunya yang selalu tersenyum.


Tiba-tiba perasaan sejuk menghinggapinya, ia terbuai akan perasaannya itu yang membuat kedua matanya tertutup dengan sendirinya.


Energi murni terus dialirkan ke hatinya oleh sang gadis yang meletakkan telapak tangannya tepat di bagian hati Jingga berada.


Lingkaran energi spiral mengelilingi keduanya dengan warna yang terus berubah dalam proses pemurnian hati.


Setelah selesai proses pemurnian hatinya, Jingga kembali membuka matanya. Pupil matanya berubah menjadi putih, yang ia rasakan hanyalah perasaan sejuk yang begitu mendamaikan hatinya, namun senyuman sang gadis lebih membahagiakan hatinya.


"Nona, siapakah dirimu?, kenapa aku melihat semua keindahan menumpuk di matamu?" Tanya Jingga begitu mengaguminya.


"Aku tadi merasakan hatiku begitu damai, setelah melihatmu aku merasakan kebahagiaan yang sempurna di hatiku" imbuh Jingga memuji kecantikannya.


"Apakah perlu mengetahui siapa diriku?" Tanya gadis itu dengan senyuman yang memanjakan mata pemuda di depannya.


"Sangat perlu Nona, aku akan mendaftarkan nama kita ke catatan sipil kota Luyan" jawab Jingga begitu yakin.


"Apa maksudmu?" Tanya si gadis begitu heran.


"Kita akan menikah secara resmi di kekaisaran Xiao" jawabnya lagi.


"Nona, apakah kau mau menikah denganku?" Tanya Jingga melamarnya.


"Cukup Jingga! Cukup!" Balas gadis itu menolaknya.


"Kau iblis sialan, sepertinya apa yang aku lakukan tidak berguna untukmu" imbuh si gadis merasa kecewa.


"Salahmu sendiri, Nona. Kau begitu egois mengambil semua keindahan yang ada di alam semesta ini" kilah Jingga.


"Hentikan semua bualanmu itu Jingga" pinta si gadis tidak sanggup lagi mendengarnya.


"Baiklah, Nona. Sekarang katakan kepadaku siapa namamu, akan ku ukir di relung hatiku yang terdalam" pinta Jingga.


"Aku Xian Hou, Ratu Peri penjaga alam suci. Puas!" timpal si gadis mulai emosi.


"Nama yang indah, lebih indah kalau kau menjadi istriku" timpal Jingga penuh harap.


"Pergilah kau iblis sialan!" Geram si gadis langsung melemparkan Jingga kembali ke alamnya.


Buk!


Jingga terlempar ke pinggir danau dengan wajahnya terjerembab ke dalam lumpur.


"Sialan kau Ratu Peri" rutuk Jingga langsung bergegas ke danau untuk membersihkan wajahnya yang kotor.


Jingga merasakan kembali energinya lalu memindai jiwa Jirex yang berada di kejauhan, namun pandangannya tertuju ke arah danau yang tidak lagi berwarna warni.


"Aneh, sudahlah biarkan saja, aku harus cepat menemukan Jirex" gumamnya lalu melayang terbang.