
Du Dung dalam kondisi kekenyangan harus berjalan perlahan lahan sambil memegangi perutnya yang bengkak menuju kamarnya.
Setelah berada di dalam kamar, Du Dung memperhatikan Jingga yang wajahnya terus mengkerut seperti orang yang sedang bermimpi buruk.
"Ada apa dengan anak itu?" Gumamnya seketika menepuk nepuk wajah Jingga.
"Jingga, kau kenapa?, Cepatlah bangun" tanya Dudung terus menepuk wajah temannya.
Kekhawatirannya akan kondisi temannya kalah dengan isi perutnya yang memaksa ususnya untuk berproses lebih cepat. Du Dung pun tertidur di sebelah Jingga.
Siang harinya, suara pintu terus berbunyi dari ketukan seorang pelayan wanita yang selalu setia menunggu kedua tamunya keluar untuk mengonfirmasi apakah akan ditambah durasi menginapnya karena sudah melewati tengah hari.
Jingga membuka kedua matanya sambil menarik nafas dengan dalam lalu perlahan menghembuskannya, apa yang dilakukannya sedikit berhasil membuatnya tenang dalam kecemasan yang ia rasakan di alam jiwanya.
"Hidupku aku sendiri yang menentukannya bukan orang lain, pelajaran yang aku dapatkan dari keluargaku, kakek angkatku, paman bibiku, warga kampung Cerita Hati dan ayah ibu guruku akan menjadi benteng pertahananku, aku tidak akan menjadi makhluk haus darah, aku hanya akan haus arak enak dan susu sapi segar" gumamnya bertekad.
Setelah selesai bergelut dalam pemikiran hati dan pikirannya, Jingga kembali berada di alam nyata.
Matanya menatap ke arah tangan yang sedang mendekapnya, dengan kasar Jingga menyingkirkannya.
"Aw!" Teriak Du Dung yang seketika terbangun dari tidur lelapnya.
"Apa yang kau lakukan padaku?" Tanya Du Dung kesal sambil mengusap sebelah tangannya yang sakit.
"Harusnya aku yang bertanya begitu, kenapa kau memelukku pria mesum?, Apakah kau telah menodaiku?" Balik tanya Jingga lalu duduk sambil menangkupkan kedua tangan dilututnya dengan ekspresi wajah menangis pilu yang dibuat buat olehnya.
Du Dung membelalakan pupil matanya hingga nampak sama seperti bola mata Jingga.
"Kau!" Geram Du Dung merinding ngeri membayangkannya lalu muntah muntah karena muak dan merasa jijik.
"Aku yang kau nodai kenapa kau yang hamil tuan muda bangsawan runtuh?" Tanya Jingga yang membuat keduanya tertawa terbahak-bahak.
Seorang pelayan wanita di balik pintu tidak tahan mendengar becandaan dari kedua pemuda di dalam kamar yang membuatnya berlari menjauh untuk melepaskan tawa.
Kedua pemuda lalu bergegas membersihkan diri secara bergantian lalu turun menuju restoran penginapan untuk mengisi kembali perut Du Dung yang sudah kembali normal.
Seorang pelayan wanita menghampiri keduanya dengan tersenyum aneh menatap kedua pemuda secara bergantian.
"Nona, kau kenapa?" Tegur Jingga menyadarkannya.
"Oh maaf tuan, tuan mau pesan apa?" Tanyanya yang baru tersadar.
"Tolong bawakan makanan terenak seperti semalam dan kau Jingga, kau mau pesan apa?" Jawab Du Dung cepat lalu beralih ke arah Jingga.
"Arak" jawab jingga singkat.
"Mohon menunggu sebentar tuan, akan kami persiapkan" timpal pelayan wanita lalu berlari pergi ke dapur.
Ha ha ha ha
Terdengar suara tawa si pelayan dari dapur yang membuat semua pengunjung keheranan lalu menoleh ke arah dapur.
"apa yang terjadi dengan wanita itu?, kenapa dia tertawa begitu keras?" tanya beberapa pengunjung yang tidak memahaminya.
Kedua pemuda yang telah selesai makan melanjutkan perjalanan menuju kota transit selanjutnya.
Setelah menempuh sehari perjalanan, keduanya berada di gurun pasir berbukit.
"Apakah tidak ada jalan memutar?" Tanya Jingga memperhatikan padang pasir yang begitu luas di hadapannya.
"Terlalu lama kalau harus berputar, tapi kau tenang saja, aku membawa banyak air dan arak di cincin spasialku" jawab Du Dung lalu keduanya berjalan menyusuri gurun pasir yang begitu luas.
"Jingga, kenapa kau tidak pernah berkeringat?" Tanya Du Dung baru menyadarinya.
"Entahlah aku tidak tahu tapi sebotol arak bisa membuatku menikmati perjalanan yang membosankan ini" jawab Jingga yang dari tadi menunggu ditawarkan oleh Du Dung.
Matahari terbenam di ufuk barat, langit pun berubah gelap dihiasi bintang-bintang berkelipan dipadu angin yang terus berhembus semakin kencang merasuki kulit.
"Jingga, lihat di sana" pinta Du Dung menunjuk arah di depannya.
"Ayo kita lihat apa yang terjadi di sana" sahut Jingga lalu berkelebat di ikuti oleh Du Dung yang tertinggal.
"Sialan!, Cepat sekali kau berlari" ujar Du Dung yang baru tiba.
"Duduklah, kita lihat pertarungan seru ini" pinta Jingga.
"Tidakkah kau lihat kejanggalan pertarungan mereka, mereka seperti terkena ilusi" ujar Du Dung semakin serius melihatnya.
"Aku tidak tahu, aku hanya suka melihat pertarungan" timpal Jingga yang duduk bersila sambil menyilangkan kedua tangannya.
Sedang asyiknya Jingga dan Du Dung menyaksikan pertarungan para kuktivator ketiga sekte, puluhan beast kalajengking keluar dari pasir di belakangnya.
Ssstt ssstt
"Apa kau mendengarnya?" Tanya Du Dung mulai waspada.
Jingga menoleh ke belakang lalu bangkit berdiri.
"Lari" teriaknya lalu berkelebat meninggalkan Du Dung yang belum sempat berdiri.
"Sialan, kau selalu meninggalkanku" gerutunya lalu menyusul Jingga.
Puluhan beast kalajengking mengejar keduanya yang berlari ke arah pertarungan, keanehan terjadi, Jingga dan Du Dung menembus melewati pertarungan.
"Hah! Hanya bayangan" kaget Jingga masih terus berlari menjauhi puluhan beast kalajengking yang terus mengejarnya.
"Jingga, larilah ke punggung bukit" teriak Du Dung di belakangnya.
Keduanya berbelok ke arah bukit lalu bersembunyi di baliknya.
Du Dung yang kesusahan mengimbangi larinya Jingga hanya bisa mengatur nafasnya yang berat kemudian mengambil air dari cincin spasialnya.
"Hei mana arakku?" Tanya Jingga merentangkan tangannya.
Du Dung langsung melemparkannya lalu duduk bersandar di undakan tanah yang keras.
Baru saja Du Dung bernafas bebas, puluhan beast kalajengking sudah mengepung keduanya.
"Sepertinya kita harus melawannya" ucap Du Dung kembali berdiri.
"Apakah kau membawa pedang?, Berikan padaku" tanya Jingga memintanya.
Du Dung kembali melemparkan pedang yang sengaja dia bawa sebagai senjata cadangan.
"Kau duduklah, biar aku yang menghadapinya" pinta Jingga.
"Apa kau yakin akan menghadapi puluhan beast kalajengking sendirian?" Tanya Du Dung tidak mempercayainya.
"Lihatlah" timpal Jingga lalu berkelebat menyerang puluhan beast kalajengking dengan jurus bayangan yang dipadukan dengan tarian pedang asura.
Du Dung terperangah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, siluet bayangan hitam berkelebat cepat membelah setiap beast kalajengking tanpa adanya perlawanan sama sekali dari para beast kalajengking.
Potongan tubuh beast kalajengking terus berjatuhan seperti pasrah membiarkan Jingga terus memotongnya menjadi bagian kecil.
"Inikah jurus bayangan dari sepasang pendekar bayangan yang terkenal itu?" Tanya batinnya begitu kagum melihatnya.
"Hei kenapa kau melamun?" Tegur Jingga yang telah menyelesaikan pertarungan.
"Ah sial! Kau terus saja mengagetkanku" jawab Du Dung tersadarkan.
"Maaf pedangmu rusak, tubuh beast kalajengking terlalu keras, aku sampai mengulanginya berkali kali untuk bisa memotongnya" ungkap Jingga menyerahkan pedang yang sudah tidak berbentuk lagi.
Du Dung mengambilnya lalu kembali memasukkannya ke cincin spasialnya.
"Tidak apa apa, masih ada pedang lainnya, aku lihat dari jurusmu sangat mirip dengan sepasang pendekar bayangan yang telah lama hilang dan dicari oleh klan Api Abadi, ada hubungan apa kau dengan kedua pendekar itu?" Tanya Du Dung ingin tahu.
"Mereka orangtua angkatku" jawab Jingga jujur.
"Bagaimana kau bisa bertemu dengan mereka, lalu kenapa kau bisa menjadi anak angkatnya?" Beberapa pertanyaan dilemparkan Du Dung yang semakin penasaran dengan cerita dibaliknya.
"Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan kita, tidak ada tempat tidur di sini" jawab Jingga mengelaknya.