
Neng Asih lalu menoleh pemuda yang diinjak tangannya oleh Jingga, ia tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
"Kakang iseng saja, kasian kan pemuda itu kesakitan" ucapnya.
"Ha ha, namanya juga berjalan di tempat gelap, aku kan tidak tahu ada tangan yang terinjak olehku" kelit Jingga tanpa merasa bersalah.
"Bi Asih sangat hebat bisa mengalahkan keempatnya, tapi sayangnya pemuda gigi kelinci tidak ada" imbuh Jingga.
"Dia mana berani menyerangku, Kakang jangan memanggilku Bibi, aku merasa jadi tua" balas neng Asih.
"Kan memang sudah tua, apalagi sudah jadi ibunya Rizal. Sadar diri dong Bi" timpal Jingga.
Neng Asih langsung memelototinya dan ia melingkarkan kedua tangan di leher Jingga.
"Lihat aku, aku masih muda dan cantik"
"Jelek, cantikkan istriku"
"Huh!" Dengus neng Asih lalu berlari pergi meninggalkannya.
Jingga tampak biasa saja, ia terus berjalan menyusul neng Asih yang semakin jauh jaraknya.
Alam Peri
Hiks.. hiks.. hiks..
Xian Hou terus menangis, hubungan hati dengan Jingga terputus. Bai Niu dan Qianmei tidak henti-hentinya menenangkan kakak iparnya.
"Kak Hou'er, bagaimana kalau kita mencari keberadaan Jingga?" Usul Bai Niu.
"Betul Kak, kita harus memastikannya" sambung Qianmei menyetujui.
Xian Hou menatap keduanya, ia sendiri bingung mengatakannya, seperti yang diketahuinya, ketika hubungan hati yang terikat terputus, itu berarti Jingga sudah tiada.
"Maafkan Kakak, tapi Kakak tidak pernah tahu keberadaan alam Siksa Raja berada di mana" ucapnya.
Bai Niu dan Qianmei terlihat begitu pasrah, Kakak iparnya saja yang hebat tidak mengetahuinya, apalagi dengan mereka berdua.
"Kak Hou'er, apakah ada kemungkinan lain selain dari kematian yang membuat kedua hati terputus?" Tanya Bai Niu.
Xian Hou menggeleng pelan, ia tidak pernah tahu selain kematian bisa memutuskan ikatan hati keduanya.
Tiba-tiba saja ia membelalakkan matanya, ia menatap kedua adiknya dengan begitu berbinar.
"Ha ha ha, aku bodoh" ucapnya.
Bai Niu dan Qianmei saling lirik, keduanya menunggu lanjutan perkataan kakak iparnya yang terlihat senang.
"Suamiku Jingga masih hidup, harusnya aku mati kalau suamiku mati. Ikatan hati berbeda dengan ikatan darah dan ikatan jiwa yang apabila salah satunya mati, tidak menarik kematian yang lain. Sedangkan ikatan hati akan membuat keduanya mati" ujarnya menjelaskan.
Xian Hou kembali diam, ia masih bingung kenapa hubungan hati bisa putus.
"Kak Hou'er, apa mungkin Kak Jingga berada di alam yang kita tidak tahu?" Tanya Qianmei yang selalu mendapatkan cerita ketika masih menjadi seorang putri kerajaan.
"Betul juga katamu Mei'er, kemungkinannya seperti itu. Semoga saja ikatan hati kami tersambung lagi" balas Xian Hou begitu lega.
Ketiganya lalu berpelukan merasakan syukur atas nasib Jingga yang sedang menjalankan ujiannya.
Benua Matahari
Sama seperti Jingga yang terlempar ke tanah kelahirannya, gadis iblis pun mengalami hal serupa. Ia berada di tanah kelahirannya di kerajaan Sheshe yang berganti nama menjadi Pulau Penyihir, yang dulunya merupakan salah satu anggota aliansi Bintang Selatan.
Berbeda dengan Jingga yang berada dalam kedamaian di tanah kelahirannya, di Pulau Penyihir sedang mengalami peperangan besar. Sang gadis saat ini sedang berjalan bersama ratusan penduduk kota bermigrasi ke utara yang merupakan wilayah kekaisaran Xiao.
"Shu'er, semoga saja Yang Mulia Ratu bisa menerima kita" harap seorang wanita paruh baya sambil berjalan di zona bebas wilayah perbatasan.
Gadis iblis bernama Mei Moshu menganggukinya, ia bersama wanita lainnya memakai pakaian hitam bertudung kerucut dan menutupi wajahnya dengan cadar mirip seorang penyihir terus berjalan mencari suaka di kekaisaran Xiao.
Kembali ke Tanah Para Dewa.
Asep yang mendapati keempat temannya gagal menjalankan tugas begitu marah.
Plak! Plak!
Tamparan keras dilayangkannya kepada keempat temannya.
"Bodoh kalian semua!" Bentak Asep lalu mengajak keempatnya kembali ke rumahnya.
Sesampainya Asep bersama keempat temannya di depan pagar sebuah rumah yang cukup besar dan begitu luas halamannya. Seorang pria paruh baya dengan kumisnya yang tebal tampak sedang berdiri di teras rumah dengan tatapannya yang tajam.
"Ada apa dengan kalian semua?" Tanya pria paruh baya yang ternyata kepala kampung Selendangkasih.
"Kami memergoki Neng Asih sedang berbuat kotor dengan seorang pemuda di kebun tidak jauh dari balai warga, namun malah kami yang dipukuli olehnya. Kita harus mengusir janda itu pergi dari kampung ini" ujar Asep berbohong.
"Betul, Pak Agus. Kami saksinya, bahkan Neng Asih menantang semua pendekar kampung untuk melawannya" sambung pemuda bernama Udin Petot.
"Ya, aku menjadi korban kebrutalannya. Tanganku sampai remuk dihantam batu oleh pemuda yang bersamanya" sambung pemuda bernama Ucup Kobra.
Kedua pemuda yang lain mengangguk-anggukkan kepala membenarkan cerita ketiga temannya.
Pak Agus langsung mengusap dagunya mendengar cerita dari anak dan teman-teman anaknya.
"Kurang ajar! Mentang-mentang anak dari jawara kampung, seenaknya saja main hakim sendiri. Tidak menghargaiku sebagai kepala kampung" timpalnya lalu meminta para pemuda untuk mengumpulkan warga.
Jingga yang baru sampai ke rumah bambu mendapati pintu rumah yang terkunci, ia langsung duduk di kursi bambu teras rumah.
Terdengar olehnya kakek Mamat sedang menceramahi Asih yang tidak mengizinkan Jingga memasuki rumahnya. Tak lama pintu depan terbuka, kakek Mamat meminta Jingga untuk masuk ke dalam rumah.
"Maaf Kek, tapi tidak apa-apa aku tidur di luar" ucap Jingga menolaknya.
"Maafkan putriku, kalau kau merasa kedinginan. Masuklah! Aku tidak akan menguncinya" balas kakek Mamat lalu kembali masuk ke dalam rumahnya.
Jingga mengangguk saja, ia lalu duduk dalam posisi bersila memandangi obor yang tergantung di atasnya.
"Besok aku harus pergi mencari jalan untuk kembali ke zamanku" gumamnya.
Jingga begitu bahagia mengetahui kampung halamannya begitu damai. Tekadnya kembali ke benua Majang untuk mendamaikan peperangan langsung terkubur dengan sendirinya. Dalam lamunannya, Jingga teringat akan istri dan kedua adik perempuannya.
"Aku begitu merindukan kalian, terutama dirimu sayangku" imbuhnya sambil tersenyum-senyum dalam lamunannya.
Lagi asyiknya Jingga melamunkan istrinya, suara langkah kaki dari kejauhan terdengar semakin jelas. Jingga menajamkan pendengarannya lalu beranjak masuk ke dalam rumah.
"Kakek" panggil Jingga.
"Ada apa lagi ini?" Tanya kakek Mamat lalu keluar rumah dengan menggerutu keheranan.
Neng Asih juga ikut keluar rumah, sedangkan Rizal masih terlelap dalam tidurnya.
Tampak terlihat ratusan warga berdatangan dengan memegang obor di tangannya juga beberapa pria membawa golok yang terselip di pinggangnya.
Pak Agus yang menjadi pimpinan rombongam warga langsung mencabut golok dari sarungnya.
"Ternyata benar apa yang dikatakan oleh anakku dan teman-temannya. Kau janda gatal, kau berani mengotori nama kampung Selendangkasih. Kau berhubungan dengan pemuda tanpa ikatan pernikahan. Kau dan kekasihmu itu harus pergi dari kampung ini" ujar pak Agus menunjuk Asih dengan ujung goloknya.
Asih dan Jingga sontak saja bingung dengan tuduhan yang dilayangkan oleh pak Agus. Kakek Mamat langsung melirik keduanya mempertanyakan tuduhan dari kepala kampung.