
Setelah mengetahui nama keduanya, Jingga langsung menceritakan semua kisahnya kecuali bagian ia bertemu dengan raja iblis kuno.
Kedua pendekar tua gila itu begitu serius mendengarkan cerita pemuda yang begitu pandai menambahkan bumbu bumbu dramatis yang berhasil membuat kedua pendekar gila terhenyak larut dalam alur yang mendayu dayu.
Melihat kedua pendekar gila seperti anak kecil yang mendengar dongeng pengantar tidur membuat Jingga kesulitan menahan ledakan tawa, hingga pada akhirnya Jingga melesat pergi meninggalkan keduanya lalu tertawa terbahak bahak sampai memegangi perutnya.
"Anak setaaaan!" Teriak kedua pendekar gila seketika tersadar pemuda di hadapannya menghilang.
Suara keduanya yang nyaring melengking membuat semua burung beterbangan dari pepohonan dan hewan lainnya berlarian.
"Wah gawat" gumam Jingga yang mendengar teriakan kedua pendekar gila, tanpa ia sadari, dirinya berhasil dibawa kembali oleh kakek Kun Tao ke hadapan nenek gila Yan Wei yang langsung memukuli kedua kaki Jingga dengan tongkatnya.
Anehnya Jingga tidak bisa mengelak karena kedua kakinya sudah disegel oleh kakek gila Kun Tao.
"Aw! Ampun nek, ampuun" teriak Jingga merasa kesakitan.
"Itulah hukuman untuk anak setan yang durhaka hahahaha" ujar nenek Yan Wei lalu menghentikan hukumannya.
Jingga mengusap usap kedua kakinya yang merasakan nyeri dan linu.
"Kalau begini terus aku bisa ketularan gila oleh kelakuan gila mereka, sebaiknya aku segera pergi dari sini" gumam batinnya merasa tersiksa oleh pendekar gila.
"Pergilah, sebelum purnama darah tahun depan temui kami di gunung Lanhua" pinta kedua pendekar gila yang ucapannya bisa sama tanpa ada satu kata pun yang berbeda.
Jingga lalu keluar rumah dengan berceloteh sana sini karena kesal dipermain oleh keduanya.
Beberapa langkah lumayan jauh telah ditempuhnya, Jingga lupa dengan perkataan terakhir kedua pendekar gila.
"Ah sial! Apa yang mereka katakan tadi?"
Pikirnya berusaha keras mengingat perkataan dari pendekar gila.
"Sebaiknya aku kembali menanyakannya" pikirnya lagi lalu berkelebat ke arah rumah pendekar gila.
"Dimana rumahnya?, Kenapa bisa hilang?" Ucapnya bertanya tanya sambil memperhatikan pepohonan di sekitarnya memastikan ia tidak salah lokasi, rumah yang ia tempati lebih dari seminggu itu telah hilang tanpa jejak bersama dengan penghuninya.
Kesal karena tidak menemukan keberadaan pendekar gila, Jingga berkelakuan seperti kedua pendekar gila dengan memukuli pohon pohon di dekatnya hingga bertumbangan.
Setelah merasa tenang, Jingga lalu melanjutkan perjalanannya mengikuti kemana kakinya melangkah.
Disepanjang perjalanan Jingga tak lagi menikmati suasana alam, ia masih terus berusaha mengingat pesan yang disampaikan oleh kedua pendekar gila.
kadang ia menunduk, kadang ia menengadah, Jingga terus begitu hingga beberapa orang yang berpapasan dengannya merasa iba.
"Kasian, mana masih muda, sudah menjadi gila"
Celoteh seorang wanita kepada pria di sampingnya mengomentari Jingga yang kepalanya ke atas ke bawah secara berulang ulang.
"Stt! Jangan asal bicara, kita tidak tahu cerita hidupnya, yang kita tahu hanyalah tampilannya, berhentilah mengomentari orang lain" kata pria yang menemaninya.
Jingga lalu berhenti dan menoleh ke belakang.
"Tuh dengarkan apa kata lelakimu itu, mending kalian membicarakan bagaimana memiliki anak yang banyak" sambung Jingga lalu kembali melanjutkan perjalanannya sambil terus berusaha mengingat pesan pendekar gila.
Kedua ganda campuran tadi langsung terdiam mendengar ucapan dari pemuda yang dikomentari olehnya.
"Kamu sih tidak melarang aku bicara" kata si wanita menyalahkan pria.
"Lah, kok aku yang disalahkan, kan kamu yang bicara" balas pria heran.
Mentari tampak menyembunyikan diri di ufuk barat, tanpa terasa ia sudah sampai memasuki gerbang kota tanpa adanya keberadaan penjaga kota.
Sama seperti umumnya sebuah kota di kekaisaran yang ramai berlalu lalang orang orang keluar masuk gerbang, di kota yang dimasuki Jingga pun demikian adanya, namun yang membedakan dengan kota lainnya adalah orang orang yang keluar masuk kebanyakan adalah para pedagang ikan yang membawa keranjang atau pun gerobak dorong.
Jingga yang memperhatikan para pedagang ikan yang berlalu lalang, baru menyadari sesuatu, ia lupa membaca nama kota pada gerbang yang telah dilewatinya.
"Sebaiknya aku tanyakan saja pada mereka" ide pikirnya.
Mengingat kejadian dibohongi oleh seorang pedagang di kota Lintang, Jingga sekarang memilih mana orang yang menurutnya baik.
"Sepertinya ibu itu terlihat baik, aku tanyakan padanya saja" gumamnya lalu menghampiri seorang ibu yang sedang duduk di samping bakul bawaannya.
"Permisi ibu, boleh aku tahu ini di kota apa?" Tanya Jingga dengan sopan.
Ibu itu memperhatikan Jingga yang waktu itu terlihat kusut dengan raut wajah yang terlihat kebingungan.
"Apa kau mau merampokku anak muda?" Tanya si ibu dengan suara nyaring mencurigainya.
Sontak suaranya yang nyaring membuat orang orang di sekitarnya menghampiri, lalu ada dua orang bertubuh besar mendekati Jingga yang wajahnya terlihat memprihatinkan.
"Maaf ibu, aku hanya bertanya nama kota saja, karena aku baru datang ke kota ini" kilah Jingga membela diri.
"Alah! Kau jangan berpura pura bodoh, bukankah kau seharusnya membaca tulisan di gerbang kota" timpal si ibu yang diangguki semua orang yang mengerumuninya lalu serentak semua orang memukuli Jingga hingga terjerembab jatuh dengan kedua tangan melindungi kepalanya.
"Cukup Tuan tuan semuanya! Bawa saja dia ke tuan kota, biar dimasukkan ke penjara kota" ujar si ibu merasa menang.
"Hei orang asing, ayo bangun, kau bisa menjelaskannya di kediaman tuan kota" pinta pria bertubuh besar menariknya lalu membawanya ke kediaman tuan kota.
"ini semua terjadi gara gara pendekar gila, aku bisa gila beneran kalau begini terus" gumam batinnya merutuk sambil terus berjalan dengan dikawal oleh kedua pria bertubuh besar.
Sesampainya di kediaman tuan kota yang lumayan besar rumahnya, seorang pria botak bagian depan kepalanya datang menghampiri.
"kalian membawa orang asing, kejahatan apa yang dia lakukan?" tanya pria botak kepada kedua pria bertubuh besar sambil memperhatikan Jingga dari atas ke bawah.
"dia kami bawa karena mau merampok seorang ibu pedagang ikan di dekat gerbang kota" jawab seorang pria yang dari tadi memegangi kedua tangan Jingga lalu diangguki oleh pria satunya.
"sungguh aku tidak merampoknya, aku hanya ingin tahu nama kota ini saja, kenapa jadi panjang begini urusannya" kilah Jingga begitu kesal.
"diam kau! Mana ada penjahat dengan mudah mengaku setelah tertangkap basah oleh warga" timpal pria besar yang tidak memegangi Jingga.
"cukup!" Bentak tuan kota yang botak lalu menatap lekat pemuda asing di depannya.
"sekarang aku akan mengatakannya padamu, kota ini bernama Yu Chen, dan kau harus tahu siapa aku, aku adalah Zhu Jun tuan kota yang sangat bijaksana" ujarnya menyombongkan diri.
"Sekarang masukan orang asing ini ke penjara kota" perintah Zhu Jun kepada kedua orang bertubuh besar yang tak lain adalah anak buah tuan kota.
"Tunggu!" teriak seorang pemuda berlari menghampiri.
"Ada apa kau ke sini Dung'er?" tanya tuan kota Zhu Jun.
"maaf tuan kota Jun, pemuda asing ini tidaklah salah, di luar gerbang kota aku berada di belakangnya, aku melihat dia tidak sempat membaca nama kota di gerbang, ketika dia bertanya ke ibu pedagang ikan, aku tidak jauh berada di dekatnya, waktu itu aku sedang buang air kecil" ujar pemuda itu memberi kesaksian.
"Apa kau mengenal pemuda asing ini?" tanya tuan kota menyelidik.
"tidak tuan kota Jun, aku hanya tidak sengaja berada di belakangnya sebelum gerbang kota" jawabnya dengan jujur.