Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Menyelam



Setelah ditelusuri ke setiap sudut kapal, akhirnya Jingga menemukan keberadaan sang Jenderal yang tertimbun mayat ikan aneh dalam kondisi yang begitu mengenaskan. 


Hampir separuh tubuhnya rusak digerogoti oleh ikan aneh yang sangat rakus. Untung saja tingkat kultivasi sang Jenderal yang berada di ranah Master Emas membuatnya bisa bertahan hidup dengan sebagian tubuh yang rusak oleh keganasan ikan aneh yang menyerangnya dengan frontal.


 Jingga lalu menggerakkan jemari tangannya melemparkan mayat-mayat ikan dari tubuh Jenderal Qing. Setelahnya, Jingga langsung menarik tubuh sang Jenderal lalu memasukkannya ke alam jiwa.


“Xin’er, tolong perbaiki tubuhnya!” pinta Jingga kepada adik iblisnya Xinxin.


“Baik, Kakak,” sahut Xinxin yang langsung bergegas menangkap tubuh Jenderal Qing.


Jingga kembali melayang rendah untuk melanjutkan aksinya menebas ikan aneh yang terus bermunculan dari bawah air laut.


Bai Niu dan Qianmei pun tidak ingin kehilangan momentum untuk terus membantai ikan aneh yang mengerubungi badan kapal.


Hal itu membuat kapal perang kekaisaran Xiao mulai dipastikan akan tenggelam dengan sendirinya karena harus menahan beban potongan tubuh dari ikan-ikan aneh yang terus bertambah banyak.


"Ini tidak bisa dibiarkan, harus ada yang menyingkirkan tumpukkan mayat ikan aneh sebelum menenggelamkan badan kapal karena kelebihan kapasitas," gumam Jingga sambil terus mengayunkan pedangnya membantai ikan-ikan aneh yang berlompatan ke permukaan.


"Jirex! Apa kausuka ikan?" panggil Jingga menanyakannya.


"Suka, Kakak," sahut Jirex dari alam jiwa.


"Keluarlah! Banyak ikan penuh nutrisi yang menunggumu," imbuh Jingga memintanya.


Kedua mata Jirex berbinar mendengarnya. Tanpa menunggu lama, ia pun keluar dari alam jiwa dan langsung melesak ke kapal perang kekaisaran Xiao. 


Melihat banyaknya tubuh ikan yang menggunung di atas kapal membuatnya terbelalak seraya meneteskan saliva dari bibirnya. Ia pun langsung bertransformasi ke wujud monsternya. Unik, Ia tidak sepenuhnya bertransformasi. Hanya kepala dan kedua tangannya yang membentuk ke wujud monster. 


Sontak saja hal itu membuat Bai Niu dan Qianmei yang berada di dekatnya langsung tertawa terpingkal-pingkal melihatnya. Bagaimana keduanya tidak tertawa, ukuran kepala Jirex lima kali dari ukuran tubuhnya. Namun, Jirex tetaplah Jirex, ia tidak peduli pada tanggapan dari kedua gadis. Tentunya, ia memiliki alasan sendiri untuk tidak bertransformasi penuh ke wujud monsternya. Hal itu tidak lain karena ukuran tubuhnya setara dengan ukuran kapal perang kekaisaran Xiao yang dipijaknya.


Ia pun mulai melancarkan aksinya memakan potongan tubuh ikan dengan begitu lahap dan cepatnya. Terlihat seperti tidak mengunyahnya sama sekali.


Jingga yang melihatnya pun terbelalak keheranan. Namun, ia lebih memilih untuk fokus pada aksinya sambil memindai kedalaman laut untuk mencari asal muasal kemunculan ikan aneh yang membuatnya begitu kerepotan di sepanjang malam.


“Mata iblisku tidak begitu baik memindai kedalaman laut, aku harus masuk ke dalamnya,” gumam Jingga yang mengalami kesulitan.


Ia terus saja mengayunkan pedangnya membelah tubuh ikan aneh yang terus melompat keluar dari permukaaan air laut. Tanpa terasa, seberkas sinar kuning terpancar dari ufuk timur. Mentari pagi mulai menampakkan diri menyinari alam, ikan-ikan aneh pun tidak lagi melompat keluar dari air laut. Bahkan, ikan-ikan aneh yang masih hidup di kapal mulai berlompatan untuk meninggalkan kapal. Sayangnya, hal itu diketahui oleh Jirex yang dengan kecepatannya bisa menangkap ikan-ikan aneh lalu memakannya dengan lahap. Jingga tampak heran melihat ikan-ikan yang bereaksi ketakutan ketika terbitnya matahari. Akan tetapi, ia tidak terlalu memikirkannya, ia lalu menghampiri ketiga adiknya yang berdiri di tepian geladak kapal.


“Kak Jingga, sepertinya ikan-ikan aneh itu takut pada matahari,” kata Bai Niu memberitahunya.


Jingga hanya mengangguk saja menjawabnya. Dalam hatinya, ia masih trauma pada apa yang dilakukannya sewaktu di alam iblis. Walaupun ikan-ikan aneh itu kembali muncul di malam hari berikutnya, pantang bagi Jingga untuk membuat matahari buatan. Ia tidak akan pernah melakukannya lagi.


“Aku tidak tahu cara mengemudikan kapal ini, kita tunggu saja sampai Jenderal Qing kembali pulih. Sementara waktu, kalian bertiga harus bersihkan kapal,” kata Jingga memintanya.


“Hah! Bersihkan lantai kapal!” seru Bai Niu tidak memercayainya.


Sementara itu, Qianmei dan Jirex hanya diam saja dengan raut wajah datar. Jingga menyeringai menatap sinis Bai Niu yang enggan menurutinya.


“I-iya, Kak. Akan aku lakukan,” kata Bai Niu begitu takut melihatnya.


“Maaf, Kak. Kalau hanya kami bertiga yang membersihkannya, Kakak sendiri mau ke mana?” sambung Qianmei bertanya.


“Aku akan menyelam mencari tahu asal dari ikan-ikan aneh yang menyerang kita,” jawab Jingga memberitahunya.


“Kak Jingga, pengikut Kakak, kan banyak, kenapa tidak meminta bantuannya untuk mempercepat membersihkan lantai kapal?” tanya Bai Niu mengusulkan.


Bai Niu mengembuskan napas mendengarnya. Biarpun begitu, ia tetap menuruti keinginan kakaknya.


Melihat ketiga adiknya mulai sibuk membersihkan lantai kapal, Jingga lalu melayang terbang dan hinggap di tiang besar yang layarnya telah hancur, dan ia pun menggantinya dengan layar yang tersimpan rapi di cincin spasial peninggalan mendiang kakeknya. Setelahnya, ia menyandar pada batang tiang seraya menenggak arak sambil memandangi lautan luas di depannya.


“Xin’er, Jenderal itu sudah membaik?” tanya Jingga kepada adik iblisnya.


“Sudah, Kak. Dia sekarang lagi menggigil ketakutan, para iblis terus saja menakutinya,” jawab Xinxin menyahutinya.


“Ha-ha-ha,” kekeh Jingga lalu menarik tubuh Jenderal Qing keluar dari alam jiwa.


“Kenapa kau begitu pucat, Jenderal?” Jingga mengejeknya sambil terkekeh.


“A-aku bertemu banyak iblis, mereka sangat menyeramkan,” ungkap sang Jenderal.


“Ha-ha-ha. Sudahlah, Jenderal.” Jingga langsung mengeluarkan arak dari cincin spasialnya dan menyerahkannya.


Glek, glek!


Jenderal Qing langsung menenggak habis arak yang diterimanya. Wajahnya terlihat kembali normal setelah menghabiskan seguci arak.


“Aku tidak ingin melihat iblis-iblis yang begitu menyeramkan di tempat gelap itu lagi,” celetuk sang Jenderal.


Jingga kembali menertawainya. Ia lalu membawa sang Jenderal turun ke geladak kapal.


Tap, tap!


“Semua prajuritmu tewas dimakan ikan-ikan aneh beserta dengan beberapa nakhoda. Jadi, kau yang harus menakhodai kapal sekarang,” ujar Jingga memintanya.


“Baik, Anak Muda. Tetapi, aku tidak bisa sendiri menakhodainya. Aku butuh minimal seorang pendamping,” balas Jenderal Qing.


“Sebut aku Jingga.”


“Baik, Nak Jingga.”


“Kedua adikku akan membantumu.” Jingga lalu memanggil kedua adiknya.


“Selamat, kalian berdua akan menjadi nakhoda kapal kekaisaran Xiao,” kata Jingga lalu tersenyum lembut kepada kedua adiknya yang menatap heran padanya.


“Maksud, Kakak?” tanya Bai Niu heran.


“Jenderal Qing membutuhkan orang untuk mendampinginya mengemudikan kapal, dan kalian berdua yang akan menjadi pendampingnya,” jawab Jingga menjelaskan.


“Wah, aku mau, Kak!” Qianmei begitu bersemangat menanggapinya.


“Kak Jingga, nakhoda kapal itu apa?” sambung Jirex yang tidak memahami pembicaraan.


“Seorang pengemudi kapal laut,” kata Jenderal Qing menjawabnya cepat.


Jirex meliriknya lalu mengangguk paham. Sementara Jingga sudah melayang terbang untuk meninggalkan kapal.


“Kalian lanjutkan pelayaran, aku akan memburu ikan di kedalaman laut.” 


Byur!


Tanpa menunggu tanggapan dari yang lainnya. Jingga meluncur terjun menyelami kedalaman laut.