Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Siksa Raja


Jingga yang dalam posisi bersiap untuk penempaan tubuh tidak merasakan apa pun yang terjadi pada dirinya.


"Sepertinya bukan penempaan tubuh yang akan aku lalui" gumam pikirnya setelah cukup lama bermeditasi.


"Sayang, kenapa aku begitu cemas dengan dirimu?" Tanya Xian Hou mengkhawatirkannya.


Jingga yang sedang bermeditasi jadi terganggu mendengar suara istrinya.


"Kau tenang saja istriku, aku akan berlatih sihir untuk meningkatkan kemampuanku" jawab Jingga lalu kembali berkonsentrasi.


Suasana menjadi begitu hening, tidak ada suara apa pun yang terdengar di sekitarnya membuat Jingga begitu fokus dalam meditasinya sampai ia tak sadar dirinya sudah berada di alam yang begitu asing untuknya.


"Alam apa ini?" Tanya pikirnya.


Jingga berada di alam yang semuanya berwarna hitam dengan kobaran api hitam sedikit kemerahan di sekelilingnya. Hanya ada anak tangga yang begitu panjang menaik ke atas.


Jingga melesat terbang, namun tubuhnya tidak melayang. Ia memeriksa energi iblisnya.


"Energi iblisku tidak hilang, kenapa aku tidak bisa terbang?" Gumamnya merasa heran.


Jingga memutuskan untuk berjalan menaiki anak tangga selangkah demi selangkah. Sudah lebih dari seribu anak tangga yang ia pijak, namun ia masih belum menemukan puncaknya.


Jingga memindainya dengan mata iblis, tidak ada ujung anak tangga yang berhasil ia lihat.


"Aneh, bahkan kemampuan mata iblisku tidak menemukan ujung anak tangga ini" gumamnya lagi.


Jingga terus saja melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Lebih dari sembilan ribu langkah kakinya menaiki anak tangga, Jingga akhirnya bisa melihat ujung anak tangga di atasnya.


Sampai pada anak tangga kesepuluh ribu, Jingga melihat pelataran luas seperti sebuah arena turnamen. Ia menyipitkan matanya melihat seorang pria berdiri dengan sebuah tombak di tangan kirinya.


Pria berparas tampan yang memiliki dua bulu merak tertancap di gulungan rambut yang terikat di atas kepalanya, ia memakai baju zirah khas seorang jenderal kekaisaran.


Tidak ada senyum di raut wajahnya, sorot matanya begitu tajam dengan tatapan yang penuh intimidasi seolah memberitahu Jingga tidak ada pilihan selain kematian.


Jingga lalu menghampirinya, ia kemudian memindai tingkatan kultivasi pria di depannya namun ia tidak bisa melihat tingkatannya.


"Berhentilah memindaiku, bocah. Kau masih begitu lemah untuk menghadapiku" ucap pria itu lalu menghilang dari pandangan Jingga.


Dhuar!


Jingga terlempar jauh ke belakang dengan tubuh terpelanting terkena energi dari tebasan tombak.


"Sial!" Rutuk Jingga lalu mengeluarkan pedangnya.


Wuzz!


Dhuar!


Lagi-lagi Jingga terpelanting dengan begitu cepat sampai ia harus menancapkan ujung pedang menahan laju tubuhnya.


"Sepertinya akan terlalu mudah untukku membunuhmu namun aku akan tetap memberitahumu supaya kau bisa mati tanpa harus penasaran.


Kau sekarang berada di alam Siksa Raja untuk menguji kelayakanmu menjadi seorang penguasa. Aturannya sederhana, bunuh lawanmu dan tangga berikutnya akan muncul dengan sendirinya dan satu hal lagi yang harus kau ingat, jangan pernah menanyakan siapa lawanmu atau kau tidak akan pernah keluar dari arena pertarungan walaupun kau berhasil membunuh lawanmu.


Hanya itu saja yang perlu kau ketahui" beber pria itu memberitahunya.


"Sialan Kakek tua! Bukan ilmu sihir yang diajarkannya padaku, ia malah memintaku bertarung melawan musuh di atas tingkatanku" keluh Jingga merasa tertipu.


"Aku sudah berada di sini, tidak bisa kembali sampai aku berhasil melewatinya" tekad Jingga mulai kembali bangkit berdiri.


Wuzz!


Dhuar!


Jingga terpelanting untuk ketiga kalinya, pria yang menjadi lawannya tidak membiarkan Jingga untuk melakukan serangan. Ia melesat kembali menyerang Jingga yang belum berhenti terpelanting.


Siu!


Wuzz!


Trang!


Kali ini Jingga berhasil menahan tebasan, ia memanfaatkan waktu dari terpental tubuhnya untuk bisa menahan serangan lanjutan dari lawannya. Ia kemudian berkelebat membentuk sebuah pola bayangan.


"Tarian pedang Asura"


Wuzz!


Dentuman keras dari peraduan logam terdengar begitu nyaring di arena. Jingga mulai bisa mengimbangi pertarungan dengan pria berbulu merak.


"Hiaa! Hiaa! Hiaa!"


Jingga tampak begitu semangat menghadang dan menyerang pria berbulu merak, pertarungan yang seimbang terus berlangsung dengan begitu seru.


Entah sudah berapa lama keduanya bertarung, tidak ada tanda-tanda salah satunya akan mendominasi pertarungan.


"Ini kurang menarik, aku harus bisa mendominasinya" gumam pikir Jingga mulai merasa bosan akan pertarungannya.


Seperti memahami apa yang dipikirkan oleh Jingga, pria berbulu merak merubah teknik bertarungnya. Ia mulai mengeluarkan kesaktiannya menciptakan badai angin di arena yang bergemuruh dan terus menekan pemuda yang semakin lambat gerakannya.


Siu!


Dhuar! Dhuar!


Jingga terlempar memasuki ke dalam badai angin di tengah arena dan terpontang panting di dalamnya, pria berbulu merak terus menebaskan tombaknya ke dalam pusaran angin yang membuat Jingga terus meringis kesakitan terkena tebasannya.


"Sial! Dia membaca pikiranku" rutuknya penuh emosi.


Jingga kesulitan lepas dari perangkap badai angin yang membelenggunya karena harus memutar pedangnya menahan tebasan tombak dari pria berbulu merak yang semakin intens menyerangnya.


Tanpa menyerah, Jingga berusaha menstabilkan badannya dari amukan badai angin yang terus melemparkan tubuhnya ke sana kemari berbenturan dengan tebasan tombak pria berbulu merak.


"Ha ha ha, bodoh! Semakin dilawan semakin mudah pria berbulu merak menghantamkan tombaknya, Aku tidak perlu melawan deru angin, ini bisa aku manfaatkan untuk menyerang balik pria berbulu merak.


"Longjuanfeng"


Jingga merubah putaran pedang yang tadinya hanya untuk menahan serangan tombak pria berbulu merak, sekarang ia alihkan untuk menciptakan beliung dari badai angin yang membelenggunya.


Wuzz! Wuzz!


Gemuruh angin semakin keras terdengar, satu titik di bawah kakinya mulai tercipta seiring putaran pedang dan tubuhnya yang semakin cepat.


Pria berbulu merak tidak menyadari badai angin berubah menjadi beliung yang meliuk-meliuk semakin membesar, ia terus saja menebaskan tombaknya memukuli tubuh Jingga di dalamnya.


Boom!


Satu pukulan keras dilayangkannya, namun kali ini pria berbulu merak harus terlempar jauh dengan tombak yang hancur.


Jingga di dalam angin beliung tidak menghentikannya, ia terus menghampiri tubuh pria berbulu merak yang terlempar.


Tidak disangka, pria berbulu merak melesat terbang ke atas beliung yang terus meliuk-liuk dengan begitu cepat di arena pertarungan.


"Cukup pintar, tapi kau melupakan siapa lawanmu" ucap pria berbulu merak.


Ia mencabut satu bulu merak di atas kepalanya lalu melemparkannya ke dalam pusaran beliung.


Putaran terbalik tercipta dari bulu merak yang menciptakan pusaran angin berlawanan dari beliung yang yang diciptakan oleh Jingga, hanya beberapa detik saja pusaran beliung terbalik mulai berbenturan dengan beliung dari Jingga.


Percikan api tercipta dari dua benturan angin yang berlawanan.


Brr! Brr!


Tampak beliung angin berubah menjadi api yang berputar kencang


Boom!


Beliung yang diciptakan Jingga meledak keras menciptakan lautan api yang sangat besar di arena.


Dugh!


Jingga terlempar jatuh menghantam tanah begitu keras menciptakan sebuah kawah cukup dalam dengan pakaian yang compang camping terkena dampak dari benturan beliung bulu merak.


"Aaah!" Pekik kemarahan Jingga dari dasar tanah tempatnya jatuh.


Pupil matanya berubah menjadi hitam pekat dengan api yang berkobar di dalamnya, Jingga kembali bangkit dengan mengacungkan pedangnya ke langit.


Pria berbulu merak menyeringai melihatnya, ia kemudian menggerakkan kedua tangannya mengendalikan beliung yang masih berputar cepat.


"Hiaaa!" Raung pria berbulu merak menghantamkan beliung miliknya ke arah Jingga berada.


Seperti mata bor, beliung bulu merak menghantam tubuh Jingga dengan begitu keras.