Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Perang Alam Fana 1



Xian Hou menggeleng pelan dengan raut lesu menatap suami yang gila pertarungan.


"Sayang, bisakah menemaniku bertarung? Aku ingin berduet denganmu," ajak Jingga.


Mendengar ajakan yang langka dari Jingga, membuat raut wajah lesu Xian Hou berubah terbalik menjadi sangat bersemangat. Ia pun berdiri menampilkan senyumannya yang lebar.


Jingga membalasnya dengan membelai kedua pipi sang istri yang menggembung imut lalu berbalik mengedarkan pandangannya ke semua pengikutnya.


“Kami pergi sekarang,” pamitnya lalu melayang terbang bersama sang istri.


Sepeninggal Jingga dan Xian Hou dalam pertarungannya, ada dua orang gadis yang memasang wajah datar memperhatikan keduanya.


“Menyebalkan! Kenapa Kak Jingga tidak mengajak kita juga?” gerutu Bai Niu sambil memukuli tanah dengan gemas.


“Bilang saja kalau Kak Niu’er cemburu melihat Kak Hou’er begitu lengket sama Kak Jingga,” sindir Qianmei.


“Memangnya kamu tidak cemburu? Jangan membohongi diri, aku tahu dari dulu.” Bai Niu balas menyindirnya.


“Ya, aku memang cemburu. Kenapa? Tidak senang?” 


“Makanya jangan ngejek!”


“Siapa juga yang mengejek? Aku hanya menyindir saja, wew!”


“Huh!”


Keduanya lalu saling membelakangi dengan kedua tangan melingkar di dada. Beberapa iblis yang melihatnya merasa gemas. Xinxin dan Nona Chyou yang daritadi memperhatikan keduanya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.


“Xin’er, sepertinya kedua gadis itu menaruh hati kepada Yang Mulia. Sebaiknya kamu berhenti berharap untuk mendapatkan hati Yang Mulia,” ucap Nona Chyou.


“Ha-ha-ha. Aku tidak pernah mengharapkannya karena aku sudah menjadi adik Yang Mulia … jangan-jangan!” balas Xinxin menatap lekat Nona Chyou di sampingnya.


“Jangan menatapku seperti itu, aku memang menyukainya, tapi bersaing denganmu saja aku sudah kalah, apalagi dengan kedua gadis cantik itu. Tapi, kenapa Yang Mulia memilih seorang nenek tua yang jauh api daripada panggang?” 


Xinxin diam saja tidak menanggapinya. Ia yang pernah melihat sosok asli dari Nenek Sashuang tidak mau memperpanjang percakapannya.


“Xin’er, kenapa diam?” tegur Nona Chyou sedikit jengkel perkataannya tidak ditanggapi.


“Tidak apa-apa, Nona. Sebaiknya kita tunggu Yang Mulia kembali dari pertarungannya,” jawab Xinxin tanpa menolehnya.


Tap, tap.


Jingga dan Xian Hou tiba-tiba muncul di tengah para pengikutnya.


“Semuanya, dengarkan!” Jingga merentangkan kedua tangan dan meminta para pengikutnya untuk berdiri.


“Jumlah mereka sulit diperkirakan, dan pasukan Langit yang lainnya terus berdatangan. Aku mungkin bisa melenyapkan semuanya. Namun, hal itu sangat tidak etis untuk dilakukan hanya berdua saja dengan istriku. Jadi, aku akan memanggil semua pengikutku untuk bersama-sama berperang dengan pasukan istana Langit,” ujarnya lalu terdiam sejenak.


Jingga berkomunikasi dengan para pengikutnya yang lain melalui komunikasi jiwa.


“Jenderal Jieru, kembalilah!”


“Baik, Yang Mulia,”


Jingga memutuskan komunikasi lalu menghubungi iblis dari sekte Mofa Gu.


“Quan Etou, kembalilah! Ajak semua iblis penyihir untuk kembali,”


“Baik, Yang Mulia,”


Setelah menghubungi pengikutnya yang berada di berbagai lokasi di benua Matahari, Jingga kemudian memperhatikan kembali para pengikut yang berada bersamanya. 


“Apakah ada yang kurang?” tanya Jingga memastikan.


Para pengikutnya saling melirik memastikan semuanya lengkap.


“Kak, di mana keluarga Linghun Lieshou?” tanya Xinxin yang tidak melihatnya.


“Oh iya, Nyonya Nuren dan Chang’er ada di alam jiwa. Aku akan memanggilnya, terima kasih Xin’er,” jawab Jingga lalu berkomunikasi dengan Nyonya Nuren di alam jiwanya.


“Nyonya, bagaimana kondisi Chang’er?’ 


“Chang’er sudah pulih, Yang Mulia,” 


Tak lama kemudian, Nuren, Feichang beserta Jirex muncul di hadapan Jingga.


“Jirex, bagaimana kondisi Zilla?’


“Masih belum ada perubahan, Kak,” 


“Ya sudah, biarkan saja dia istirahat,”


Setelah menyelesaikan perbincangan, Jingga langsung melangkah ke tengah para pengikutnya. Ia berdiri diam menunggu kedatangan para pengikutnya yang masih dalam perjalanan menuju lokasi.


Beberapa waktu kemudian, iblis penyihir dari sekte Mofa Gu bermunculan diikuti oleh Jenderal Jieru bersama pasukannya. 


“Kalian sudah berkumpul semuanya? Kita mulai saja sebelum para komandan dewa mengendus keberadaan kita di sini,” ujar Jingga sambil memutar bola mata memperhatikan para pengikutnya.


“Naninu!” panggil Jingga.


“Iya, Kak,” sahut Bai Niu.


“Ciptakan badai petir. Aku ingin kita berperang dalam keadaan matahari tertutup awan,”


“Baik, Kak.”


Jingga lalu mengalihkan pandangannya ke adiknya Qianmei.


“Memimu!”


“Iya, Kak,”


“Tugasmu melindungi Naninu,”


“Baik, Kak.”


Kembali Jingga mengalihkan pandangannya ke arah adik monsternya Jirex.


“Apa kau siap berpesta?” 


“Sangat siap,” jawab Jirex penuh semangat.


Selanjutnya, Jingga maju beberapa langkah mendekati para pengikutnya dari alam iblis. Ia menyeringai dingin sebelum memberikan arahan. Tatapannya begitu tajam penuh ambisi. Satu per satu para pengikutnya ditatap dengan lekat.


“Ini adalah peperangan pertama di bawah komandoku, aku membebaskan kalian bertarung dengan cara kalian … pintaku, habisi semuanya dan berikan mereka kematian yang indah. Kalian paham!” pekik Jingga memantik semangat para pengikutnya.


“Kami paham, Yang Mulia,” sahut para iblis dengan semangat membara.


Setelah memberikan instruksi kepada semua pengikutnya. Jingga mengangkat tinggi-tinggi tangan kanannya. Bola api berwarna hitam keluar dari telapak tangannya dan mulai membesar.


“Setelah aku melemparkan energi bola api, kalian bergegaslah menyerang pasukan istana. Jangan lupa, nikmati pesta kalian,” ujarnya.


Seiring waktu, ukuran bola api sudah sebesar seekor gajah dewasa. Panas yang terpancar membuat para pengikut Jingga melangkah mundur untuk menahannya, bahkan pepohonan di sekitarnya mengering lalu melebur menjadi debu yang beterbangan.


“KAA-PAAB … KAA-PAAB … HAAAA!” 


SIUU! WUZZ!


Jingga langsung melemparkannya ke arah ribuan pasukan istana Langit yang berada dalam jarak seribu langkah dari posisinya. Bola api berwarna hitam itu pun meluncur cepat bak meteor yang terjatuh dari angkasa menyerang para pasukan istana Langit yang langsung berhamburan menghindarinya. Akan tetapi, jumlah pasukan yang terlampau banyak membuat ruang pelarian menjadi sempit dan menghambat gerakan.


BOOM!


Ledakan keras dari bola api berhasil membinasakan sedikitnya seribu pasukan istana langit. 


“Serang!” pekik Jingga memberikan perintah.


Para iblis berkelebat cepat ke zona perang dengan semangat mendidih. Jingga sendiri langsung melayang terbang bersama Bai Niu dan Qianmei.


“Naninu, lakukan!” pinta Jingga lalu melaju cepat ke area terjauh di wilayah aliansi Bintang Selatan.


Bai Niu mengangguk lalu mengeluarkan Jianshandian dan mulai menciptakan badai petir seperti yang diperintahkan oleh Jingga. Sementara Qianmei mulai berputar mengelilingi Bai Niu untuk menjaganya dari serangan para prajurit istana Langit.


Langit yang terang berubah menjadi gelap. Kilatan petir mulai terdengar saling bersahutan. Para komandan yang memimpin pasukan istana Langit membentuk formasi tempur sedemikian rupa. Lebih dari seribu pasukan pemanah di tempatkan di atas awan bersama ratusan pasukan bersenjata tombak yang menjadi tameng yang mengelilinginya. 


Di area bawah. Puluhan ribu pasukan tempur dengan berbagai senjata menciptakan pertahanan berlapis dan bersiap pada pertarungan jarak dekat. 


Beberapa dewa mulai berdatangan untuk menyaksikan peperangan yang baru saja dimulai. Mereka memposisikan diri di berbagai sudut area luar zona bebas sebagai pengamat perang.