Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Teguran


Pangeran Qianfan masih memikirkan apa maksud perkataan Jingga tentang sesuatu yang berubah dari kota Lanhua.


"Jingga, Tunggu!" Panggilnya lalu berlari menyusul Jingga yang langsung menoleh ke arahnya.


Sesampainya di depan pintu kamar penginapan, Jingga melirik Pangeran Qianfan.


"Kau tahu, adikku begitu mengidolaimu, aku harap kau tidak mengambil hati atas sikapnya yang manja dan sangat rewel" ucapnya mengingatkan.


Pangeran Qianfan hanya tersenyum menanggapinya.


Jingga kemudian membuka pintu lalu memasuki kamar, ia terdiam dengan menelan salivanya beberapa kali melihat seorang gadis yang sangat cantik menatapnya.


"Apakah dia bidadari?" Gumamnya pelan.


Tiba-tiba saja Bai Niu langsung berdiri di depannya menutupi keindahan yang sedang dilihatnya.


Jingga langsung menyingkirkan Bai Niu yang menutupi pandangannya.


Bugh!


Bai Niu jatuh tersungkur ke lantai.


"Kakak!" Teriak Bai Niu begitu kesal dirinya di dorong Jingga hingga jatuh tersungkur.


Bai Niu langsung berdiri kembali lalu meremas wajah Jingga yang masih belum teralihkan menatap si gadis yang masih duduk di dekat jendela.


Bai Niu pun terdiam dari kesibukannya meremas wajah Jingga, wajahnya berubah menjadi merona tatkala ia melihat sosok tampan berdiri di pintu dengan tersenyum melihat tingkah dirinya.


Kejutan pun terjadi ketika gadis itu menangis pilu melihat Pangeran Qianfan yang sangat dikenalnya.


"Kakak!" Ucap si gadis lalu berlari memeluknya.


Jingga dan Bai Niu langsung terperangah menyaksikan keduanya saling berpelukan dalam tangisan.


Pangeran Qianfan langsung melepaskan pelukannya, ia menatap Jingga dan Bai Niu yang masih terdiam melihat keduanya.


"Jingga, ini adikku Qianmei, terima kasih kau telah menyelamatkannya" ucap Pangeran Qianfan mengepalkan kedua tangannya menjura ke arah Jingga dan Bai Niu yang langsung tersadar dari lamunannya.


"Oh, iya, a- anu, eh, eh, aduh, iya sama-sama Pangeran" balas Jingga tergagap menanggapinya.


"Ha ha ha" Bai Niu langsung tertawa keras melihat kakaknya Jingga begitu gugup melihat Putri Qianmei.


"Mari Pangeran dan Putri Qianmei, silakan duduk" ucap Bai Niu mencairkan suasana.


"Terima kasih saudari" balas Pangeran Qianfan lalu berjalan ke arah kursi bersama adiknya.


"Sialan! Kenapa dia lebih cantik dari adiknya Dang Ding Dung?, Kenapa juga di benua Matahari ini banyak bidadari?, Ah! Andai aku tampan seperti Pangeran Qianfan, nasib sungguh nasib" rutuk Jingga dalam lamunannya.


"Kakak jelek!" Teriak Bai Niu kesal melihat Jingga masih berdiri mematung.


Jingga langsung tersadar dalam lamunannya lalu menoleh ke arah ketiganya.


"Kalian silakan berbincang, ada yang harus aku lakukan" ucap Jingga langsung menghilang.


Bai Niu menghentakkan kakinya merasa semakin kesal, ia sendiri begitu gugup berada dekat dengan Pangeran Qianfan yang duduk berhadapan dengannya.


Jingga muncul di aula utama istana kekaisaran Fei, Kaisar Fei Xing, Pangeran Fei Huang bersama para pejabat istana yang sedang serius mendiskusikan kesiapan istana dalam menghadang serangan dari para bangsawan pemberontak langsung terdiam melirik pemuda yang berdiri di tengah-tengah mereka.


"Sialan kau Kaisar, kau hanya diam di istana tanpa melakukan upaya apa pun untuk menyelamatkan kerajaan Shuijing dari serbuan kultivator jalur rahasia gurun pasir" ujar Jingga langsung mengeluarkan aura iblisnya yang membuat semua orang memuntahkan darah karena tidak sanggup menahan tekanan aura iblis.


Kaisar Fei Xing langsung terjatuh dari singgasananya.


Dhuar!


Jenderal itu meledak seketika, serpihan tubuhnya berhamburan ke arah para pejabat istana.


Melihat kejadian itu, para pejabat istana semakin merinding ketakutan dengan pemuda yang masih menatap Kaisar Fei Xing.


Jingga langsung menghilangkan aura iblisnya untuk meredakan ketegangan.


"Aku sudah memintamu untuk memantau pergerakan kultivator jalur rahasia gurun pasir, kau tahu apa yang mereka lakukan?, Mereka membumi hanguskan kerajaan Shuijing, tidak ada satu pun rakyat kerajaan Shuijing yang selamat, sebagian besar bahkan mati terbakar hidup-hidup, berikan aku alasan untuk itu, kalau alasanmu tidak memuaskanku, maka dengan terpaksa aku akan meruntuhkan istana ini sebagai bentuk keadilan kepada rakyat kerajaan Shuijing" ujar Jingga menjelaskannya dengan tatapannya yang dingin meminta alasan kepada Kaisar Fei Xing.


Kaisar Fei Xing langsung melirik salah satu pejabat istana yang ditugaskannya untuk memantau pergerakan kultivator jalur rahasia gurun pasir.


Mendapatkan tatapan kemarahan dari Kaisar Fei Xing, seorang pria tua langsung melarikan diri dari istana.


"Tangkap orang itu" teriak Kaisar Fei Xing memberikan perintah kepada penjaga yang dengan sigap langsung meringkus pria tua dan membawakannya ke hadapan Kaisar.


Plak!


Plak!


"Apa yang kau lakukan selama ini?, Kenapa kau sampai tidak mengetahui pergerakan apa pun dari kultivator jalur rahasia gurun pasir?" Tanya Kaisar begitu geram.


"Ampuni saya Kaisar, ampun!" Ucap pejabat itu menjatuhkan diri berlutut di bawah kaki Kaisar Fei Xing.


"Sepertinya tidak ada yang bisa kau percaya dari semua pejabatmu" ujar Jingga langsung melirik ke arah para pejabat istana yang masih ketakutan dengan apa yang terjadi.


Jingga menyeringai menatap para pejabat istana dengan tatapan membunuhnya.


Sret!


Bugh!


Kepala para pejabat berjatuhan menggelinding di lantai. Kaisar Fei Xing, Pangeran Fei Huang dan seorang pejabat yang sedang bersujud terperangah melihat belasan kepala yang terpisah dari tubuhnya berserakan di lantai.


"Kaisar, kau tidak perlu memberikan alasan apa pun, sungguh! Aku begitu kecewa denganmu yang tidak bisa membedakan para pengkhianat dari jajaran pejabat istana, lepaskan dia, biarkan dia memberitahukan kepada klan bangsawan tentang kejadian ini" ujar Jingga dengan tatapan yang selalu dingin.


Kaisar Fei Xing tidak bisa menolaknya, ia memerintahkan penjaga untuk melepaskan pejabat yang bersujud kepadanya.


"Terima kasih tuan muda" ucap pejabat sambil membenturkan kepalanya tiga kali di lantai lalu berdiri dan pergi keluar istana.


Jingga hanya menyeringai menatapnya, senyumnya begitu menakutkan pejabat yang langsung berlari ke arah pintu.


Jingga berbalik ke arah Kaisar Fei Xing dan Pangeran Fei Huang.


"Kalian tidak perlu memikirkan kenapa orang itu aku lepaskan, silakan kalian duduk manis sambil minum teh menunggu kabar berita yang akan kalian dengar" ucap Jingga tersenyum lalu menghilang pergi meninggalkan keduanya.


"Ayah" lirih pangeran Fei Huang terdengar pelan setelah beberapa saat kepergian pemuda yang membuatnya tidak bisa berbicara sepatah kata pun.


"Sudahlah, sebaiknya kita mengikuti ucapannya menunggu kabar berita" ucap Kaisar Fei Xing langsung pergi ke arah lainnya di dalam istana.


Jingga berada di depan pintu kamar penginapan yang tertutup, ia hanya mendengarkan suara obrolan penghuni di dalamnya.


"Kenapa aku menjadi begitu gugup untuk memasuki kamar?, aku harus tenang" tanya pikirnya lalu menarik napasnya dan menghembuskannya pelan.


Jingga terus melakukannya berulang kali, namun usahanya hanya sedikit membantunya.


"Percayalah, sang Putri tidak akan menyukaiku, aku harus sadar diri siapa diriku, aku hidup pada zaman di mana keadilan hanya berlaku untuk rakyat good looking eh kultivator maksudnya" imbuhnya menguatkan mental.


Jingga langsung mendorong pintu dan ia kembali diam dengan perasaannya yang gugup menatap sang Putri berdiri di depannya.