Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Penyiksaan


"Kurang ajar kau bajingan!" Rutuk Ucok yang naik pitam.


Jingga terus saja berkelit dari serangan Ucok yang semakin buas menyerangnya.


"Bang kurus, masih kuat?" Sindir Jingga.


"Mati saja kau, bedebah!" Balas Ucok semakin menjadi-jadi menyerang Jingga dengan liar.


Wuzz!


Slash!


Ucok terus melayangkan tebasan ke tubuh Jingga yang terus menghindarinya dengan mudah, lama kelamaan serangan yang dilayangkan Ucok semakin mengendur. Terlihat dari wajahnya yang mulai pucat pasi, tenaganya habis, Ucok bahkan sudah tidak sanggup mengangkat pedangnya.


"Maaf, lae. Tak kuat lagi aku menyerang kau. Pergilah kau ke Mamakmu!" Celoteh Ucok tersengal.


Ia lalu menjatuhkan dirinya terduduk di tanah. Jingga lalu menghampirinya dan berjongkok di hadapannya.


"Kasian Abang ini, beristirahatlah dengan tenang ya Bang" ucap Jingga tersenyum jahat.


"Apa maksud ka.." ucapnya terputus.


Sreet!


Jingga menebas leher Ucok yang dipenuhi peluh keringat.


Ucok menatap Jingga dengan rasa tidak percaya, ia langsung mati dengan mata terbelalak dan mulut menganga tidak bisa menyelesaikan ucapannya.


"Maksudku, Abang beristirahat tanpa harus bangun kembali" sambung Jingga meneruskan ucapan Ucok yang terhenti.


Di dalam ruang rahasia para bandit, beberapa pria sedang melecehkan Naray yang terikat tangannya di kaitan besi.


"Tak usahlah kau bereng-bereng (menatap sinis) begitu, santailah, nanti kuajak kau ke pajak beli mainan" ujar Coki si pemuda yang mengaku tampan itu sambil terus membelai wajah Naray yang halus.


"Ngabacot naon sih, sia teh g*bl*k? (Ngomong apa kamu, g*bl*k?)" balas Naray berkata kasar.


Semua pria tertawa-tawa mendengarnya, mereka menganggap gadis belia yang terikat kedua tangannya sedang merajuk untuk dilepaskan.


"Tor, cak kau tengok si kurus di luar?" Pinta Obas yang merasa khawatir pada temannya.


"Nantilah dulu, maen-maen saja dulu. Jangan kau ganggu kesenanganku!" Balas Pintor menolaknya.


"Payah kau ini, Bang. Biar aku sajalah yang keluar" sambung Ingot lalu berjalan keluar ruangan.


Belum sampai ia keluar pintu, seorang pemuda menenteng kepala di tangan kirinya berjalan dari arah pintu.


Ingot berkeringat dingin melihatnya, ia mengenali kepala yang sedang ditenteng pemuda yang menyeringai dingin menatapnya.


"Si- siapa kau?" Tanya Ingot gugup.


Tubuhnya gemetar melihat Jingga yang semakin dekat melangkah.


"Maaf Bang. Aku sedang cari ayam Mamakku, tapi aku malah menemukan kepala ini. Mungkin Abang mengenalnya" jawab Jingga lalu melemparkan kepala ke arah Ingot yang langsung menangkapnya.


"Ucoook!" Pekik Ingot dengan lantang.


Suaranya sampai menggema di ruang rahasia para bandit, beberapa pria terkejut mendengarnya, mereka saling lirik satu sama lainnya.


"Gila kali si Ingot itu, pakai acara teriak segala manggil si Ucok" gerutu Pintor.


"Kau tengoklah dia, siapa tahu dia rebutan makanan dengan si Ucok" pinta Coki merasa janggal dengan teriakan Ingot yang bergetar suaranya.


"Menyusahkan saja, baiklah" balas Pintor kesal, ia lalu mendorong Obas untuk ikut bersamanya.


Sreet!


Jingga menebas leher Ingot dengan cepat hingga serak suara Ingot dan terjatuh ke tanah.


"Maaf ya Bang, suara Abang terlalu berisik. Jadi aku tebas leher Abang biar tidak bersuara lagi" ucap Jingga lalu berjongkok dan kembali menyayat leher Ingot yang sedang meregang nyawa hingga terlepas kepalanya.


Dua lelaki yang melihat aksi Jingga langsung mematung di tempat, keduanya terpana melihat kekejaman seorang pemuda yang sedang memisahkan kepala temannya.


Glek!


Keduanya menelan saliva dengan tatapan kosong.


Jingga bangkit berdiri lalu menenteng dua kepala menghampiri kedua pria yang berdiri mematung dan melemparkannya ke hadapan kedua pria yang tidak bergeming sama sekali.


"Abang berdua kenapa melamun?" Tegur Jingga menyadarkan keduanya.


"Kau, kau iblis!" Ucap keduanya berbarengan.


Jingga sedikit terkejut mendengarnya, ia tidak pernah menyebutkan dirinya iblis.


Sring!


Keduanya langsung menarik pedang menjawabnya.


Slash!


Sleb! Sleb!


Namun Jingga lebih cepat menusuk kedua kening pria di depannya.


Trang!


Kedua pedang terjatuh ke tanah, Pintor dan Obas langsung mati seketika. Jingga lalu menarik kembali kedua belati yang tertancap di kening kedua pria lalu menyelipkannya di pinggang.


"Harusnya kalian berdua menjawab pertanyaanku dengan baik dan benar, sayang sekali kalian berdua harus mati" ucap Jingga lalu pergi ke arah lainnya.


"Aa!" Panggil Naray begitu senang melihat Jingga memasuki ruangan.


Seorang pemuda yang sedang mencumbunya terpaksa menghentikan perilaku bejatnya. Ia lalu berbalik melihat pemuda yang dipanggil oleh Naray.


Tiga pria lainnya langsung mengeluarkan pedang bersiap untuk bertarung dengan pemuda yang matanya berputar-putar melihat tumpukan harta jarahan di dalam ruangan.


"Siapa kau? Apa urusanmu dengan kami?" Tanya pria tua yang terlihat seperti pimpinan para bandit.


"Aku kakak dari gadis yang kalian lecehkan, aku hanya ingin menyiksa kalian semua lalu membawa Adikku pergi" jawab Jingga dingin.


"Ha ha ha, besar juga nyali kau!" Balas pria tua lalu memerintahkan kedua bandit untuk menyerangnya.


"Langkah bayangan"


Wuzz! Sret! Sret!


Jingga tidak langsung membunuh keduanya, ia hanya menyayat kulit kedua pria dengan cepat. Sayatannya mengenai hampir seluruh tubuh kedua pria yang belum merasakan perih.


Beberapa saat kemudian, pakaian kedua pria langsung hancur compang-camping. Rasa perih mulai menjalari kulit keduanya.


"Haaaaaa!" Pekik teriakan keduanya setelah darah mengalir keluar membasahi seluruh tubuhnya.


Jingga menyeringai dingin melihat kedua pria yang menggeliat bergulingan di tanah karena merasakan perih yang teramat dalam di sekujur tubuhnya yang penuh sayatan.


Kedua pria lainnya langsung terbujur kaku penuh keringat dingin menyaksikannya, mereka para bandit yang terkenal kejam dan tanpa ampun dibuat terpana oleh kekejaman Jingga yang melebihi aksi para bandit.


"A- ampuni kami, pendekar" ucap pria tua memberanikan diri memohon ampun.


Wuzz!


Sreet! Sreet!


Hal yang sama terjadi pada keduanya, Jingga kembali memberikan ratusan sayatan di sekujur tubuh keduanya tanpa memberi kesempatan keduanya untuk bereaksi.


Kecepatan Jingga bahkan tidak sampai membuat keduanya sempat berkedip. Jingga kembali menyelipkan kedua belati di pinggangnya.


"Ya, aku mengampuni kalian berdua" balas Jingga memaafkan keduanya.


Kedua pria sangat lega mendengarnya, namun beberapa saat kemudian keduanya menjerit histeris merasakan perih di sekujur tubuhnya yang mulai meneteskan darah.


Keduanya jatuh bergulingan di tanah dengan tubuh yang menggeliat mengejang dan mata melotot. Pada akhirnya keempat pria tidak lagi bersuara, hanya helaan nafas berat yang menandakan keempat pria masih hidup dengan berlumuran darah.


Jingga lalu menghampiri adiknya Naray dan langsung melepaskan ikatan di tangan adiknya.


"Aa kenapa merusak pakaian mereka? Lihatlah bajuku sudah robek" keluh Naray yang pakaiannya disobek oleh Coki yang melecehkannya.


"Di luar ada bandit yang pakaiannya masih utuh, Neng bisa memakainya" kata Jingga yang bola matanya tertuju pada harta jarahan yang tertumpuk di ruangan.


"A, kita tidak mungkin membawa semuanya. Mau diapakan harta-harta ini?" Tanya Naray yang juga memperhatikan tumpukan harta.


"Ambil koinnya saja untuk bekal kita, yang lainnya nanti Aa akan beritahu pejabat ibukota untuk mengambilnya" jawab Jingga lalu membuka kotak emas dan mengambil tumpukan koin emas.


"Eh, di mana Bibi Duma?" Tanya Jingga.


"Bibi Duma sudah mati, A. Tapi aku tidak tahu di mana mereka membuang mayatnya" jawab Naray.


Setelah cukup mengambil koin emas, Jingga lalu menghampiri pria tua yang tergeletak tidak jauh darinya.


"Bang, di mana keberadaan wanita yang kau culik?" Tanya Jingga.


Pria tua tidak menjawabnya, ia menggeram menatap Jingga dengan penuh kebencian.


"Aku suka tatapan kebencian yang Abang tunjukkan, itu bagus buat Abang bisa membalaskan dendam padaku nanti. Tapi sekarang jawablah dulu pertanyaanku" imbuh Jingga sedikit memaksanya.


Masih juga pria tua tidak mau menjawabnya, ia terus menatap Jingga dengan tatapannya yang membunuh.