Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Reuni



"Bohong!" Xian Hou masih saja tidak memercayai ucapan Jingga.


Namun sorot matanya berkata terbalik, Xian Hou tersenyum lembut lalu melingkarkan tangannya di leher Jingga.


"Aku tidak peduli meski semua orang membenciku, asal bukan dirimu," ucapnya sambil menyodorkan bibir.


Jingga sedikit memundurkan wajah menjauhinya, ia merasa tidak enak hati dilihat oleh kedua adiknya yang tersipu malu oleh aksi kakak iparnya.


"Tahan dulu, kita harus bergegas ke alam fana. Kasihan Ibu sudah menunggu kita daritadi." Balas Jingga langsung menempelkan ujung jarinya di bibir merah Xian Hou.


"Hem!" Xian Hou berdeham lalu mengerucutkan bibir mungilnya.


Jingga sampai tak enak hati melihat istrinya kecewa seperti itu.


"Baiklah, jangan cemberut begitu."


Ia lalu menyodorkan bibirnya dan langsung ditahan oleh jemari tangan lembut Xian Hou.


"Eh, siapa yang mau dicium?"


Jingga langsung melebarkan kedua matanya yang besar dan berkata,


"Asem!"


Bai Niu dan Qianmei tertawa terbahak-bahak melihat tingkah keduanya yang lucu.


"Ya sudah, ayo!" ajak Jingga tidak ingin lama lagi meninggalkan ibunya.


Jingga bersama istri dan kedua adiknya memasuki portal dimensi ke tempat Luo Xiang berada.


"Ibu!" Pekik lantang Bai Niu dan Qianmei begitu melihat keberadaan ibunya.


Luo Xiang yang sedang duduk melamun pun langsung tersadar mendengar suara dari kedua anak gadisnya. Ia lalu bangkit berdiri sambil merentangkan kedua tangannya menyambut kedua gadis yang langsung meluruh ke pelukannya.


"Aura kalian sangat mengintimidasi ibu, bisakah kalian menekannya dulu? Tingkat kultivasi kita terlampau jauh," ujar Luo Xiang mengeluhkannya.


"Maaf, Ibu. Baik!" Sahut keduanya yang langsung menghilangkan aura kultivasinya.


Sementara itu, Xian Hou berjalan tertunduk malu di belakang punggung Jingga. Ia masih mengingat apa yang dikatakan oleh suaminya sehingga ia tidak berani menatap langsung ibu mertuanya. Namun, Jingga mengerti apa yang dirasakan istrinya itu. Dengan tersenyum lebar, ia menghampiri ibunya lalu berkata,


"Ibu, anak mantu ibu sepertinya cemburu ingin dipeluk juga,"


Luo Xiang yang sedang memeluk kedua putrinya langsung menoleh ke arah Xian Hou yang menyembunyikan diri di belakang Jingga.


"Ya ampun, maafkan ibu, Nak. Ayo sini!"


Xian Hou langsung berlari menghampiri ketiganya. Mereka pun saling berpelukan dengan erat membuat suasana kekeluargaan terasa begitu hangat dan damai. Tak terkecuali dengan pemuda yang selalu setia menjadi tameng bagi keluarganya. Tidak ingin ada sesuatu yang merusaknya, Jingga langsung memasang perisai iblis di sekitarnya.


Betul saja apa yang dipikirkan oleh Jingga, puluhan bayangan hitam berkelebat melewatinya. Kedua matanya menyipit melihat dengan lekat puluhan bayangan yang ternyata dari bangsa iblis.


"Untung saja aku sedikit pintar, jadi keluargaku tidak harus melepaskan pelukannya karena kedatangan para iblis. Ha-ha." Kekehnya sambil mengamati beberapa iblis lainnya yang berkelebat melewatinya.


Akan tetapi, kekehannya langsung terhenti tatkala ia mendengar dari kejauhan adanya deru langkah yang semakin jelas suaranya. Namun bukan suara yang menderu yang membuatnya terdiam, ia merasakan keberadaan bangsa iblis tidaklah sedikit di alam fana.


"Ini tidak boleh dibiarkan, mereka harus dikembalikan ke alam iblis atau dimusnahkan sekalian," pikirnya mulai menambahkan rencana mengatasi keberadaan bangsa iblis di alam fana.


Xian Hou yang sedang bersuka cita bersama sang ibu dan kedua adik iparnya merasakan kegundahan hati yang dialami suaminya, ia pun meminta izin kepada Luo Xiang untuk menghampiri Jingga, sang ibu pun mengangguk setuju.


"Suamiku, ada apa?"


"Istriku, kecantikanmu akan menjadi petaka di alam fana ini. Bisakah kau berubah menjadi nenek Sashuang?"


"Ha-ha, baiklah. Sesuai permintaanmu."


Xian Hou seketika berubah menjadi seorang nenek bungkuk. Setelah melihat perubahan istrinya, Jingga kemudian melirik kedua adiknya dan meminta keduanya untuk merubah penampilan agar tidak mencolok. Bai Niu dan Qianmei saling lirik tidak tahu harus berubah seperti apa. Keduanya lalu menatap Jingga dan mengangkat kedua bahu membalas permintaan Jingga.


"Kak, aku tidak mau jadi nenek-nenek." Kata Bai Niu membayangkan dirinya berubah seperti yang dilakukan kakak iparnya.


"Aku juga," sambung Qianmei membayangkan hal serupa dengan Bai Niu.


"Ha-ha-ha-ha,"


Sontak saja reaksi keduanya membuat Jingga terpingkal-pingkal ikut membayangkannya juga. Di sisi lainnya, Luo Xiang hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah jenaka anak-anaknya.


"Jingga, sudah cukup tertawanya. Kasihan Mei'er dan Niu'er,"


"Baik, Bu." Sahut Jingga langsung bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.


Berbeda dengannya, Bai Niu dan Qianmei tampak seperti tomat matang. Keduanya baru pertama kali ditertawai Jingga hingga seperti itu, apalagi di depan ibu dan kakak iparnya.


Tak sanggup lagi menahan emosi, Bai Niu dan Qianmei serentak menyerang Jingga dengan sadis.


Bai Niu yang biasa menerkam Jingga langsung berusaha menjatuhkan Jingga dari belakang. Namun usahanya kali ini sia-sia belaka, Jingga masih berdiri dengan tenang tanpa bergeming sekalipun. Kesal karena Jingga tidak roboh. Bai Niu lalu menjambak Jingga dengan posisi menyilangkan kedua kaki di pinggang dalam gendongan.


Sedangkan Qianmei yang terkenal lembut karena pernah menjadi seorang putri kerajaan kini tak lagi tampak kelembutannya. Ia malah lebih beringas dari Bai Niu yang hanya menjambak dengan sekuat tenaga. Yang dilakukan Qianmei adalah menggigit hidung Jingga sekuatnya. Entah apa yang dipikirkannya, kali ini ia tidak tahan untuk meluapkan isi hatinya setelah sekian lama tidak pernah bertemu Jingga yang merupakan cinta pertamanya.


"Mei'er, Niu'er. Cukup!" Raung Luo Xiang berusaha melerainya.


Xian Hou dengan cepat menahan tangan ibunya lalu berkata,


"Biarkan saja, Bu. Anak gadis Ibu hanya merindukan sosok kakaknya,"


Luo Xiang tidak sampai hati melihatnya, namun ia percaya apa yang dikatakan oleh anak mantunya tersebut. Jadi ia membiarkan saja ketiga anaknya memuaskan diri melepaskan rindu.


Setelah melihat ibu mertuanya tenang, Xian Hou yang kini menjadi nenek Sashuang mengajaknya memasuki ke dalam rumah yang terlihat masih utuh. Akan tetapi, baru juga Luo Xiang menyentuh gagang pintu. Tiba-tiba saja tubuhnya tertarik ke belakang.


Duar! Duar!


Perisai yang diciptakan oleh Jingga meledak dihancurkan para dewa yang melayang di atasnya. Namun, bukan kesengajaan para dewa menghancurkan perisai iblis, mereka sedang berburu para iblis yang terus berkelebat sebelum fajar tiba beberapa waktu kemudian.


"Maaf, istriku. Aku mengejutkanmu. Ada banyak serangan energi berseliweran di atas rumah kita tadi. Jadi aku menarikmu beserta ibu memasuki portal dimensi kembali ke tempat pengungsian," ujar Jingga menjelaskan.


"Tidak apa-apa, Sayang. Tapi kedua adikmu mau sampai kapan bergelantungan seperti itu? Lihatlah, semua orang mengelilingi kita. Aku sih, tidak masalah. Secara hanya seorang nenek tua. Ha-ha-ha."


Sementara Luo Xiang langsung bergegas menghampiri suaminya.


Jingga sendiri tak menghiraukan tatapan aneh semua orang yang menatapnya. Beberapa saat kemudian, Luo Xiang datang dengan menarik tangan Zhen Lie untuk membantunya melepaskan Bai Niu dan Qianmei yang masih menggelantung di tubuh Jingga.


"Niu'er, lepaskan kakakmu atau ayah sendiri yang akan menarikmu dengan paksa,"


Bai Niu bukannya tidak mau melepaskan diri dari tubuh Jingga, akan tetapi banyaknya orang membuatnya sangat malu. Ia lalu melirik ke ayahnya yang memakai pakaian longgar dan tebal. Bai Niu langsung melompat dan menyembunyikan diri di pelukan ayahnya.


Berbeda dengan Bai Niu, Qianmei langsung ditutupi oleh kain tebal agar tidak malu dilihat orang-orang yang penasaran siapa dua gadis aneh yang bergelantungan seperti anak kecil, tetapi dari gaun dan tubuhnya terlihat bukan gadis biasa, tidak ada seorang pun yang menyangkalnya, mereka semua penasaran akan wajah asli seperti yang diidamkan oleh khayalan mereka semua.


Jingga yang memahami apa yang banyak dipikirkan oleh para lelaki langsung mengusap wajah kedua adiknya. Dimulai dengan Qianmei, ia lalu membisiki ibunya,


"Wajahnya sudah aku ubah jadi tidak menarik perhatian para lelaki, he-he."


Luo Xiang mengerutkan keningnya karena penasaran perubahan seperti apa yang dilakukan Jingga kepada adiknya itu. Namun, ia malah takut dirinya sendiri yang bereaksi berlebihan setelah melihatnya. Jadi, ia menundanya sambil melihat Jingga melakukan hal sama kepada Bai Niu.