Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Sekte Puncak Timur



Tampak terlihat, Bai Yelu mulai mendominasi pertarungan. Satu per satu perampok bertumbangan dengan kondisi tubuh penuh sayatan pedang. Bai Yelu tidak membiarkan satu pun perampok bisa menghindari tebasan pedangnya. Ia terlihat sangat mahir memainkan pedang yang membuat perampok mati seketika ketika terjatuh ke tanah.


Pertarungan pun berakhir dengan cepat. Bai Yelu menunjukkan kemampuannya yang mumpuni kepada dua anaknya. Bai Guo dan Bai An lalu menghampiri dengan wajah bahagia bisa melihat kehebatan sang ayah. Meskipun keduanya hanya berpura-pura.


Perjalanan kembali dilanjutkan ketiganya yang terus menyusuri lebatnya hutan hingga malam hari.


“Apa kalian lelah? Kita bisa beristirahat di batas hutan,” tawar Bai Yelu kepada kedua anaknya.


Bai Guo dan Bai An menggelengkan kepala. Keduanya tidak sabar untuk sampai di Sekte Puncak Timur.


Bai Yelu sedikit heran melihat kondisi kedua anaknya yang tidak terlihat kecapekan. Ia mengerutkan kening memperhatikan keduanya dengan teliti, namun tidak ditemukan adanya kelelahan yang menghinggapi keduanya. Maka dari itu, ia pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.


Matahari bersinar cerah di ufuk timur, Bai Yelu kembali memperlambat laju kuda dan menunjuk ke arah puncak gunung yang menjadi lokasi tujuan ketiganya.


Sekte Puncak Timur terletak di puncak gunung yang menjulang tinggi, dikelilingi oleh kabut tebal yang misterius. Di sepanjang jalan menuju puncak, suasananya dipenuhi oleh aura kebijaksanaan dan ketenangan. 


“Aura apa ini, Ayah?” tanya Bai An yang merasakan ketenangan yang asing di dalam hatinya.


“Ini adalah aura kebijaksanaan, putriku,” jawab Bai Yelu yang terus tersenyum di sepanjang jalan ke arah puncak.


“Ayo, sebentar lagi kita sampai!” lanjut Bai Yelu yang mempercepat laju kuda diikuti oleh kedua anaknya.


Tiba di gerbang kayu yang bertuliskan 'Puncak Timur', Bai Guo (Jingga) merasakan sesuatu yang aneh di tubuhnya.


“Tubuh pemuda ini bereaksi,” gumam Jingga menyelidik.


Di sampingnya, Bai An memperhatikan Jingga dengan raut wajah keheranan.


“Kak, ada apa?” tanya Bai An ingin tahu.


“Tidak ada apa-apa. Ayo cepatlah!” jawab Jingga semakin mempercepat laju kuda.


Tepat di sebuah bangunan yang memanjang ke belakang. Bai Yelu dan kedua anaknya turun dari punggung kuda dan melangkah memasukinya.


“Ayah, kenapa mereka tidak menyambut kita?” tanya Bai An.


Bai Yelu menolehnya lalu menjawab, “Setiap murid sekte akan lebih mengutamakan pelajaran daripada menyambut tamu.”


“Lalu, para tetuanya kenapa tidak menyambut kita?” Bai An melanjutkan tanya.


“Setelah melewati lorong, para tetua akan menyambut kita. Jadi, diamlah. Jangan mengganggu konsentrasi murid sekte.” Bai Yelu melanjutkan langkah tanpa bersuara.


Di sepanjang lorong yang dilalui ketiganya, tampak murid-murid Sekte Puncak Timur terlihat serius dalam belajar sastra dan ilmu pengetahuan. Mereka duduk di atas tikar dedaunan yang dianyam, menghimpun pengetahuan dari buku-buku tua yang terbuat dari kulit binatang.


Tercium aroma halaman yang usang dan pikiran bijaksana yang terukir di dalamnya. Suara bisikan pelajaran bergantian terdengar di setiap lorong, mengisi udara dengan semangat intelektual.


Setelah melewati lorong, ketiganya memasuki sebuah aula besar yang menjulang tinggi, para tetua sekte yang bijaksana duduk di atas panggung kayu yang kokoh. Suasana khusyuk dan penuh konsentrasi terpancar dari wajah para tetua yang damai, menyerap kata-kata bijak dari setiap pengetahuan.


Bai Yelu duduk lalu memberikan isyarat kepada kedua anaknya untuk duduk mengikutinya dalam posisi lotus di hadapan para tetua sekte. Tak lama kemudian, seorang tetua tersenyum lembut kepada ketiganya lalu berdiri dan menghampiri.


“Selamat datang di Sekte Puncak Timur, Saudara Bai,” sapa Tetua menyambut.


“Terima kasih, Guru Kao,” balas Bai Yelu lalu berdiri diikuti Bai Guo dan Bai An.


Tetua Kao kemudian membawa ketiga tamunya ke taman belakang aula. Suasananya tampak begitu indah, dikelilingi oleh bunga-bunga yang mekar dengan warna-warni yang memanjakan mata. Sekte Puncak Timur bukan hanya sekadar tempat belajar sastra, tetapi juga merupakan surga bagi jiwa-jiwa yang haus akan pengetahuan dan kedamaian. Suasana yang diselimuti oleh aura kebijaksanaan, kecerdasan, dan keheningan alam menawarkan penghormatan kepada warisan leluhur pada dewa yang tak terbatas. Di sini, setiap langkah dan kata-kata adalah upaya untuk mengejar pencerahan dan menemukan kebenaran yang lebih dalam pada setiap makhluk.


“Guru Kao, aku membawa kedua anakku untuk belajar sastra dan kebijaksanaan. Kuharap, Guru bisa menerima keduanya,” kata Bai Yelu menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya.


Tetua Kao tidak langsung menyetujuinya. Ia memperhatikan Bai Guo dan Bai An secara bergantian dari atas kepala sampai kaki. Tatapannya tenang namun penuh selidik.


“Aku akan menerima keduanya, tapi kau harus merelakan keduanya tidak bisa kembali kepadamu,” balas Tetua Kao menjelaskan.


Bai Yelu mengerutkan kening, ia begitu heran mendengar perkataan sang tetua sekte.


“Maaf, Guru. Mengapa kedua anakku tidak bisa kembali kepadaku?” Bai Yelu berpikir keras untuk memahaminya.


Tetua Tao menggeleng pelan tidak ingin menjawabnya. Ia berjalan ke arah batu yang di atasnya terdapat dua ekor kupu-kupu yang terdiam menempatinya.


“Alam ini unik, di balik keindahannya ada kegelapan yang tersembunyi. Pergilah atau menetap di sini!” ujar Tetua Kao memberikan pilihan.


Gamang hati Bai Yelu untuk menentukan pilihan. Ia sama sekali tidak memahami maksud perkataan dari tetua Kao. Ditatapnya Bai Guo dan Bai An secara bergantian, Bai Yelu seperti dipaksa untuk tidak bisa memilih. Kondisi kedua anaknya yang tidak bisa berkultivasi menjadi alasan dirinya untuk membiarkan keduanya menetap di Sekte Puncak Timur. Setelah cukup lama ia merenungkannya, hingga pada akhirnya, ia merelakan diri untuk tidak bisa lagi bertemu dengan kedua anaknya.


“Baiklah, aku bersedia tidak bisa bertemu dengan kedua anakku. Setidaknya aku berpisah bukan pada kematian, tapi pada kehidupan yang baik bagi keduanya,” ucap Bai Yelu dengan pasrah.


Sore hari, Bai Yelu pergi meninggalkan Sekte Puncak Timur dengan berlinang air mata meninggalkan kedua anak yang sangat dicintainya. Sementara itu, Bai Guo dan Bai An masih penuh tanda tanya di dalam pikiran akan perkataan dari tetua Kao yang sulit ditebak dengan nalar keduanya. Keduanya berdiri memperhatikan sang ayah yang melaju cepat hingga menghilang tertutupi kabut tebal.


“Setelah matahari terbenam, datanglah ke taman belakang!” ucap Tetua Kao kepada keduanya.


“Baik, Guru,” balas keduanya.


Waktu yang dinantikan telah tiba, matahari yang elok telah tenggelam di ufuk barat. Bai Guo dan Bai An yang duduk terdiam memandangi para tetua bergegas melangkah ke halaman belakang. Keduanya berdiri dengan tenang menunggu kedatangan tetua Kao yang masih berada di dalam aula.


Tiba-tiba saja, tetua Kao sudah berada di atas batu menghadap ke arah taman bunga membelakangi aula dengan posisi berdiri.


“Kemarilah!” pinta Tetua Kao.


Bai Guo dan Bai An menghampirinya. Keduanya tampak diam tidak berbicara sedikit pun.


“Takdir tak dapat ditolak. Kedatangan kalian terlalu cepat,” ucap Tetua Kao sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“Apa maksud Guru?” tanya Bai Guo menyelidik.


Tetua Kao membalikkan badan menatap dingin Bai Guo dan Bai An.


“Jangan memanggilku guru, aku tidak menerima murid dari bangsa iblis,” tegas Tetua Kao.


“Bagaimana kau mengetahui identitas kami?” Bai Guo kembali bertanya. 


Ia akhirnya tahu alasan Tetua Kao mengatakan kepada Bai Yelu yang tidak bisa bertemu lagi dengan kedua anaknya.


“Apa kau tidak merasakan sesuatu yang aneh ketika memasuki gerbang? Di sini, kalian berdua tidak dapat menyembunyikan apa pun dari kami.” Tetua Kao menatap keduanya dengan sorot yang begitu tajam.


“Baiklah, kami berdua akan pergi sekarang juga.” Jingga memahami maksud perkataan Tetua Kao


“Kalian boleh pergi tapi tidak boleh membawa tubuh yang bukan milik kalian.”


Jingga menyeringai dingin. 


“Keduanya telah mati ketika kami menjadikannya inang, untuk apa kami harus meninggalkannya di sini?” Jingga menyeringai sinis.


“Karena bukan hak kalian.”


“Bagaimana kalau kami menolaknya?” 


“Kalian tidak akan menolaknya, atau seorang dari kalian akan mati di istana Langit.”


Jingga mengerutkan kening. Ia teringat akan adiknya Bai Niu yang dibawa kabur para dewa dari Istana Langit.


“Itu bukanlah sebuah ancaman, aku bisa ke istana secepatnya,” kata Jingga tidak memedulikan ancaman dari tetua Kao.


“Tempat yang kaupijak sekarang memiliki waktu yang berlajan lambat. Tidakkah kau menyadari akan hal itu?” 


“Apa maksudmu Sekte Puncak Timur ini merupakan dimensi lain seperti Alam Sutera?” 


“Bodoh!” 


“Apa maksudmu?” Jingga masih belum memahaminya.


“Ternyata kau iblis bodoh. Kamilah yang mengontrol waktu di sekte ini.”


“Baiklah, aku paham, dan aku juga tidak ingin berlama-lama di tempat ini. Aku akan meninggalkan kedua tubuh anak dari patriark klan Bai, asalkan kau bisa membawa kami langsung ke istana Langit.”


“Kesepakatan yang baik. Aku akan membuka portal ke wilayah terluar istana Langit.”


“Tidak bisa, antarkan kami langsung ke istana.”


“Kami tidak memiliki akses langsung ke istana. Jangan menawar!”


“Baik.”


Jingga dan Qianmei lalu keluar dari tubuh kedua anak patriark klan Bai. Setelahnya, tetua Kao langsung menciptakan portal dimensi yang akan membawa Jingga dan Qianmei ke wilayah istana Langit.


“Selamat tinggal, Tetua,” pamit Jingga lalu memasuki portal dimensi bersama Qianmei.


Tetua Kao tersenyum simpul lalu menggerakkan tangan menutup portal dimensi.