
"Di mana Nenek Sashuang?" Tanya Qianmei begitu memasuki gubuk.
"Entahlah, kita tunggu saja" jawab Qianfan lalu duduk di pojokan.
Melihat ketiga adiknya sudah memasuki gubuk, Jingga membawa adiknya Bai Niu ke bale bambu.
"Kak, aku tidak merasakan keberadaan Nenek Sashuang di dalam gubuk" ucap Bai Niu.
"Biarkan saja, nenek gila itu sungguh merepotkan" balas Jingga tidak mempedulikannya.
"Jangan begitu, setidaknya Nenek Sashuang sudah mengizinkan kita menginap gratis di tempatnya" timpal Bai Niu.
Di sekte Jangkrik Xianhui, ketiga pria melaporkan pengintaiannya.
"Lapor, Tuan muda. Ketiga gadis berada di gubuk tua bersama dua pemuda. Sepertinya hanya gadis yang bergaun hitam yang sudah bersuami, kami melihat dirinya dipangku mesra oleh pemuda asing ke arah gubuk" beber seorang pria melaporkan.
"Apakah kalian tahu kekuatan dua pemuda yang bersama ketiganya?" Tanya Nianqing ingin tahu.
"Menurut pemindaian kami, pemuda asing bukanlah seorang kultivator, kami tidak merasakan auranya namun pemuda tampan bisa merepotkan kita, ia berada di ranah Master Emas" jawab seorang pria sebelahnya.
"Ha ha ha, itu tidak menjadi masalah untuk kita. Sekarang kalian bawa para murid inti untuk membunuh kedua pemuda dan bawa ketiga gadis langsung ke kamarku" ucap Nianqing begitu percaya diri bisa menikmati ketiga gadis incarannya.
"Baik, Tuan muda" timpal ketiga pria langsung berkelebat.
Wajah Nianqing bersemu merah membayangkan malam panjang bersama ketiga gadis.
"Aku sungguh tidak sabar merasakannya" gumamnya.
Di bale bambu, Jingga memanggil ketiga adiknya.
"Ada apa Kak Jingga?" Tanya Qianfan begitu penasaran.
"Kita berdua akan bersembunyi di sini. Naninu, Mei'er dan Zhia'er akan menjadi umpan ikan di gubuk Nenek" jawab Jingga lalu menceritakan tentang ketiga pria yang membuntuti ketiga gadis disambung dengan membeberkan rencananya untuk meningkatkan jam terbang pertarungan ketiga adik perempuannya.
"Naninu, kau yang akan memimpin Mei'er dan Zhia'er. Carilah informasi sebanyak yang bisa kalian dapatkan di sekte Jangkrik Xianhui" pinta Jingga kepada adik manjanya.
"Baik, Kak!" Sahutnya lalu ketiga gadis kembali memasuki gubuk.
Jingga langsung membuat perisai menutupi bale bambu.
Beberapa waktu kemudian, terlihat belasan kultivator melayang turun ke halaman depan gubuk dan memutarinya.
Tiga orang pria melangkah ke pintu dan langsung menendangnya dengan keras.
Bruk!
Pintu rumah langsung hancur, ketiga gadis pura-pura terkejut akan kedatangannya.
"Siapa kalian?" Tanya Du Zhia langsung memasang kuda-kuda.
"Ha ha ha, ke mana dua pemuda yang bersama kalian? Apakah keduanya sudah pergi setelah bersenang-senang bersama kalian? Sungguh pemuda yang beruntung. Sekarang waktunya kalian untuk melayani Tuan muda kami, semoga saja Tuan muda tidak merasa jijik memakai barang bekas" ujar seorang pria dengan tatapannya yang kotor.
"Dasar mesum! Kalian pikir kami adalah gadis murahan yang bisa kalian nikmati lalu kalian buang. Pergilah sebelum kami membunuh kalian semua!" Balas Du Zhia terlihat begitu marah mendengar ucapan kotor pria di depannya.
"Aku suka gadis pemarah sepertimu. Tak bisa kubayangkan betapa liarnya permainanmu nanti, semoga kau masih memiliki tenaga di malam yang panjang ini" timpal pria itu begitu bernafsu menatapnya.
Ia tidak henti-hentinya menatap sesuatu milik Du Zhia yang masih tertutup gaunnya.
"Hentikan tatapan mesummu itu pria kurang ajar!" Marah Du Zhia langsung menendang senjata pamungkas pria di depannya.
Bugh!
"Wadaw! Torpedoku pecah!" Jerit pria itu langsung memegangi miliknya sambil berjongkok.
"Kalian jangan diam saja, tangkap ketiganya!" Teriak pria itu sambil meringis kesakitan.
Dua orang pria langsung menyerang kedua gadis di depannya.
Bai Niu dan Qianmei langsung membalasnya.
Dagh! Dugh! Dagh! Dugh!
Pukulan dan tendangan beradu mewarnai pertarungan keempatnya.
Sementara itu, Du Zhia yang begitu marah langsung menyerang pria di depannya dengan tendangannya.
Bugh!
Pria yang masih memegangi torpedonya terlempar keluar gubuk.
Pria itu langsung berjungkir balik menghindari tendangan lanjutan yang dilayangkan oleh Du Zhia.
Bai Niu dan Qianmei melayang ke udara menghadapi kedua pria, namun beberapa kultivator lainnya bermunculan ke udara.
"Mei'er, gunakan pedangmu!" Pinta Bai Niu langsung menjauhinya.
Qianmei langsung mengambil pedang dari cincin spasialnya.
"Nona, menyerahlah. Kami tidak tega menggores kulitmu yang begitu halus" pinta seorang pria di dekatnya.
"Betul, kami tidak akan melukai dirimu kalau kau bersedia melayani kami sebelum kami membawamu pada Tuan Muda kami" sambung pria lainnya yang diangguki oleh keempat pria lainnya.
Qianmei mengacuhkan perkataan kotor dari kedua pria, ia langsung melesat menebaskan pedangnya.
Sret!
"Ha ha ha, sepertinya Nona cantik ingin bermain-main dengan kami" ucap seorang pria begitu senang.
Kelima kultivator terus saja menghilang ketika Qianmei menebaskan pedangnya.
Di area lainnya di udara, terlihat pertarungan keterbalikan dari yang dihadapi oleh Qianmei.
Bai Niu mempermainkan ketujuh kultivator yang kesulitan menyerangnya.
"Ayolah tampan, aku akan memberikan bonus spesial kepada kalian yang bisa menyentuhku" ucap Bai Niu menggoda ketujuhnya dengan sedikit menyingkap gaun atasnya.
Di bawah, Du Zhia begitu sibuk bertarung melawan dua pria yang berada di atas ranah kultivasinya.
"Ha ha ha, semakin kau berkeringat, semakin membuat kami begitu bersemangat. Teruslah menyerang kami" ujar seorang pria memperhatikan wajah cantik Du Zhia yang terus mengalirkan keringat dari pori-pori kulitnya.
"Diam kau bajingan!" Rutuk Du Zhia begitu geram mendengarkan ocehan kedua pria yang terus menangkis serangannya.
"Kak Jingga, bolehkah aku membantu Mei'er?" Pinta Qianfan merasa kesal adiknya dipermainkan oleh para kultivator.
"Kau diamlah di sini, biar aku yang membantunya" jawab Jingga langsung merubah dirinya menjadi Qianmei.
Jingga menarik Qianmei yang begitu kesusahan dipermainkan oleh para kultivator, ia menggantikan posisinya dan mengambil pedang Qianmei.
Qianfan langsung berdiri menangkap tubuh adiknya yang terlempar ke arahnya.
"Kakak, kenapa aku terlempar ke sini?" Tanya Qianmei yang didekap kakaknya.
"Kak Jingga yang menarikmu, lihatlah! Kembaranmu sedang membalasnya" jawab Qianfan yang terus memperhatikan Jingga yang menyamar menjadi adiknya.
Qianmei langsung terkejut melihatnya, ia tidak menduga kakaknya Jingga memiliki kemampuan itu.
"Fan'er, sepertinya ada sedikit perubahan rencana. Aku akan menggantikan peran Mei'er memasuki sekte Jangkrik Xianhui" ucap Jingga di alam pikir Qianfan.
"Baik, Kak. Sejujurnya aku merasa tidak tenang kalau ketiga gadis berada di sana nantinya, seperti yang kakak tahu, para kultivator sangat kotor ucapannya" balas Qianfan mengungkapkannya.
"Ha ha ha, kau begitu lembut, Fan'er" timpal Jingga sambil terus mempermainkan para kultivator. Dengan kecepatannya, Jingga terus menyayat wajah kultivator yang terus meringis menahan sakit.
"Tuan-tuan, kalian terlihat tampan dengan wajah penuh luka, aku menjadi begitu mengingkan kalian semuanya, tangan dan kaki kalian akan aku ukir menjadi indah" ucap Jingga menggodanya.
"Sialan! Kenapa kemampuannya berbeda dengan yang tadi?" Kesal beberapa kultivator baru menyadarinya.
"Aw!" Jerit kesakitan kelima pria merasakan sakit pada lengan dan kakinya yang penuh sayatan pedang.
"Wow! Kalian terlihat keren" puji Jingga sambil bertepuk tangan.
"Bagaimana kalau semua bagian kulit kalian aku ukir? Pastinya kalian terlihat imut" imbuhnya menyeringai menatap kelima kultivator yang masih meringis menahan rasa perih.
Jingga langsung menghilang dari pandangan kelima kultivator.
"Aw! Aw! Aw!" Kelimanya kembali meringis merasakan seluruh tubuhnya penuh luka bersayat.
"Kembali!" Teriak seorang kultivator tidak tahan lagi merasakan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
Kelimanya langsung melesat terbang kembali ke sekte Jangkrik Xianhui. Setelahnya Jingga langsung turun membantu Du Zhia.
"Apa kau masih sanggup menghadapi keduanya?" Tanya Jingga.
Du Zhia melirik ke arahnya.
"Aku masih sanggup, kalau sudah terdesak, kau bisa membantuku" jawabnya lalu kembali menyerang dua kultivator.
Jingga kembali ke gubuk memperhatikan adiknya bertarung.
Di udara Bai Niu merasa bosan dengan ketujuh kultivator yang tidak bisa menyentuhnya.
"Kalian mengecewakanku, sekarang akan aku ajarkan cara menyerang lawan" ucapnya lalu menghilang dari pandangan ketujuh kultivator.
Sret! Sret!
Empat belas kaki kultivator terpotong dan berjatuhan ke tanah.
Qianfan yang menyaksikan pertarungan Bai Niu langsung menutup kedua mata adiknya Qianmei.
"Mengerikan! Aku tidak ingin dirimu menjadi kejam seperti Niu'er" ucap Qianfan.
"Kakak!" Timpal Qianmei melepaskan tangan Qianfan yang menutupi matanya.
Ketujuh kultivator di udara langsung berkeringat dingin melihat sepasang kakinya telah hilang.
Tak lama ketujuhnya menjerit merasakan sakit.
"Kalian kembalilah ke Tuan muda kalian, kami bertiga akan menunggunya" pinta Bai Niu langsung melesat turun ke arah Du Zhia yang masih bertarung.
"Naninu! Eh, Niu'er, ke sini!" Pinta Jingga salah memanggilnya.
Bai Niu langsung menoleh ke arah suara, ia melihat Qianmei sedang duduk bersandar di dinding kayu usang sambil melambaikan tangan. Ia langsung menghampirinya.
"Mei'er, kau hebat bisa mengalahkan kelima kultivator dengan cepat" puji Bai Niu.
Jingga hanya tersenyum saja menanggapinya.