
Jingga dan Bai Niu terus melangkah dengan santai di tengah kota Lieren Guojia.
Hari sudah semakin sore ketika keduanya meninggalkan penginapan Alam Surgawi.
Lamanya waktu yang ditempuh keduanya membuat Bai Niu merasakan lapar, namun ia tidak mengatakannya sampai kakaknya sendiri yang menawarkan.
"Naninu, apa kau lapar?" Tanya Jingga setelah memperhatikan posisi matahari sudah berada di ufuk barat.
"Tidak tahu" jawab Bai Niu dengan entengnya, padahal ia sudah menunggu tawaran kakaknya sejak daritadi.
"Tadinya aku mau mengajakmu mencari makan sebelum kita meninggalkan kota ini" timpal Jingga.
"Kak, kenapa kota ini begitu panjang jalannya?" Tanya Bai Niu merasa seperti jalan di tempat karena setiap rumah yang dilewatinya terlihat begitu mirip.
"Sebentar lagi kita akan keluar dari kota ini, bersabarlah" jawab Jingga menenangkannya, ia sedang merasakan pekatnya energi spiritual di sekelilingnya.
"Kak, aku lapar" ucap Bai Niu memberitahunya.
"Tadi katanya tidak tahu, sekarang baru bilang lapar. Ya sudah ayo kita cari tempat makan" balas Jingga langsung memindai setiap rumah yang terlihat mirip.
"Ketemu, ayo kita ke rumah ketiga di depan sana" imbuh Jingga menunjukkannya.
Keduanya lalu memasuki sebuah rumah dengan pintu berayun, tampak terlihat puluhan kultivator berwajah seram menatap ke arah keduanya.
Lima orang kultivator langsung berlarian meninggalkan rumah makan setelah mendapatkan kode dari salah seorang kultivator.
"Sepertinya ada yang tidak beres" gumam pikir Jingga memperhatikannya.
"Kak, aku kenyang" ucap Bai Niu merasa tidak nyaman memasukinya.
"Tenang saja, mereka semua orang baik-baik" balas Jingga agar Bai Niu tidak membatalkannya, Jingga merasakan nalurinya tentang hal yang belum diketahuinya.
Bai Niu semakin tidak nyaman ditatap dengan liar oleh para kultivator yang terus memperhatikannya, ia langsung menyembunyikan wajahnya di punggung Jingga.
Semua kultivator langsung berdiri mendekati Jingga yang masih tenang saja melirik sekitarnya mencari meja kosong.
"Ada apa ya?, Kenapa kalian mendekatiku?" Tanya Jingga heran dirinya dikelilingi oleh semua orang.
"Serahkan semua hartamu dan juga gadis di belakangmu, aku pastikan kau akan mati dengan cepat" ucap seorang pria besar memintanya.
"Kalau barter bagaimana?" Tanya Jingga menawarkan.
"Jangan main-main dengan kami anak muda, cepatlah atau kami akan memotong jarimu untuk mengambil cincin spasialmu itu" balas pria besar tidak sabar.
Beberapa orang lainnya dengan paksa menarik Bai Niu, bahkan ada yang berani melecehkannya.
Plak!
Bai Niu menampar seorang pria yang melecehkannya.
"Hem" deham Jingga melihat adiknya dilecehkan. Ia masih diam karena merasakan sesuatu yang besar akan mendatanginya. Namun Jingga tidak bisa membiarkan adiknya terus diganggu.
Jingga langsung menyegel puluhan kultivator di dalam rumah makan dengan rantai energi iblisnya.
"Kau! Apa yang kau lakukan?" Tanya seorang kultivator begitu terkejut dirinya tidak bisa bergerak.
"Naninu, aku mau makan dulu, kau duduklah" pinta Jingga.
"Baik, Kak" sahut Bai Niu.
Sebelum ia duduk, Bai Niu dengan cepat menebas leher pria yang melecehkannya.
Buk!
Satu kepala jatuh menggelinding di lantai.
Semua kultivator terperangah tidak ada yang melihat kapan seorang gadis memenggal salah seorang darinya.
Jingga dengan cepat menarik jiwa kultivator yang dibunuh adiknya. Ia lalu menatap semua kultivator yang mulai merasa ketakutan setelah melihat tubuh tanpa kepala yang mengering hanya menyisakan tulang yang dilapisi kulit.
Lalu satu persatu jiwa kultivator dihisapnya dari ubun-ubun, Jingga melakukannya dengan begitu santai seperti menikmati sumsum tulang sapi.
Semua kultivator yang masih hidup langsung berkeringat dingin melihat teman-temannya mulai mati satu persatu dengan tubuh yang mengerikan.
"Kau! Kau iblis!" Ucap kultivator yang mendapat giliran berikutnya.
Jingga tersenyum simpul menatap sorot mata pria yang begitu ketakutan. Ia lalu melirik ke arah kultivator lainnya dengan seringainya yang begitu mengerikan.
"Kalian semua harap bersabar, sebentar lagi akan tiba waktu kalian. Silakan kalian mengobrol dulu dengan santai, kalau mau bernyanyi juga boleh, bebaslah" ujar Jingga menyarankannya.
Berbalik, sekarang Bai Niu yang merasakan mual melihat Jingga yang sedang memakan makanannya ditambah bau tidak sedap dari kultivator yang mengompol.
Wek!
Bai Niu langsung memuntahkan isi perutnya karena tidak tahan, ia langsung berlari keluar rumah makan.
"Sungguh menjijikan cara kakakku makan" gumamnya lalu menghirup udara luar begitu dalam dan menghembuskannya kembali untuk mengurangi bau tidak sedap yang didapatnya di dalam rumah makan.
Melihat adiknya yang muntah karena melihatnya, Jingga tidak lagi memakan jiwa kultivator dengan pelan, ia menggunakan aura iblisnya menghisap semua jiwa kultivator lalu menghisapnya secara serentak.
Setelahnya Jingga keluar menghampiri Bai Niu yang berdiri menunggunya.
"Naninu, jangan katakan kau sedang hamil" ucap Jingga yang berdiri di pintu.
"Kakak sungguh menjijikan, makan kok begitu caranya" balas Bai Niu mendekatinya.
"Masih lebih baik dari yang kau lakukan di penginapan Alam Surgawi" kilah Jingga membalasnya.
"Ha ha ha" tawa keduanya berbarengan.
"Kak, kita ke mana?" Tanya Bai Niu ingin tahu.
"Sebaiknya kita cepat meninggalkan kota ini sebelum banyak kultivator lainnya yang mengejar kita, aku merasakan ada yang tidak beres dengan semua kultivator tadi" jawab Jingga lalu menarik tangan Bai Niu terbang bersamanya.
Siu!
Dhuar!
Dhuar!
Ratusan pancaran energi berbagai bentuk menyerang keduanya yang baru saja terbang.
Ribuan panah api pun terus beterbangan ke arah keduanya.
"Sepertinya kita akan sibuk sore ini, apakah kau siap Naninu?" Tanya Jingga melirik adiknya yang terus menghadang panah api.
"Aku sudah siap daritadi, ayo Kak kita nikmati pertarungannya" sahut Bai Niu langsung melesat ke sumber serangan.
Bai Niu bertransformasi menjadi dewa Petir, ia kembali menciptakan badai petir di langit untuk menutupi kota Lieren Guojia.
Suasana mencekam dengan petir yang terus menggelegar di langit membuat Jingga begitu terpacu adrenalinnya.
"Bagus adikku, kau memang hebat" puji Jingga setelah melihatnya. Ia lalu melesat ke arah lainnya dengan melemparkan bola api berukuran besar ke arah rumah di mana banyak kultivator yang menyerangnya dengan energi spiritual.
Boom!
Beberapa rumah langsung terbakar, bola api yang dilemparkan Jingga terus menggelinding ke beberapa rumah lainnya.
"Jianhuimie Yuzhou"
"Tarian pedang Asura"
Jingga melesat cepat dengan memutar pedangnya seperti tornado menyerang semua kultivator yang terus menembakkan energi spiritual.
Dhuar!
Dhuar!
Ledakkan hebat dari hancurnya tubuh para kultivator membuat Jingga semakin bersemangat.
Tidak kalah bersemangat dari Jingga. Bai Niu pun kembali membuat angin beliung menghisap ratusan kultivator yang mengepungnya.
Boom!
Muntahan dari tubuh hancur ratusan kultivator menyebar ke berbagai arah.
Ribuan kultivator lainnya datang dari berbagai arah langsung beterbangan menyerang keduanya dengan begitu brutal, namun mereka semua salah sasaran. Kedua pemuda yang diserangnya adalah seorang iblis dan seorang bertubuh dewa.
****
Beberapa waktu sebelum serangan mendadak itu terjadi, tiga puluh sekte yang berada di kerajaan Kandao dan Kerajaan Liaokao yang bersebelahan mendapati giok jiwa dari muridnya pecah, hal itu menandakan bahwa muridnya telah mati dalam misi mencari tahu keberadaan dewa yang bertarung di atas langit kerajaan kandao.
Karena penginapan Alam Surgawi menjadi pusat kematian para murid sekte, para tetua langsung berdatangan ke lokasi lalu menemukan potongan tubuh dari ratusan murid sekte, para tetua langsung mendesak pemilik penginapan yang belum sempat melarikan diri untuk memberitahukan siapa orang yang telah menewaskan ratusan murid sekte.
Setelah mengetahuinya, para tetua sekte sepakat untuk membalas kematian para muridnya, mereka semua meyakini kedua orang yang telah menewaskan ratusan murid sekte bukanlah kultivator sembarangan.
Beberapa kesepakatan pun terjalin di antaranya, salah duanya adalah menutup pintu keluar dari berbagai arah di kota Lieren Guojia dan mengintai keberadaan dua pemuda yang diyakini masih berada di dalam kota.