
Dua hari berlalu, Seorang wanita cantik yang begitu anggun bersama lelaki tua di belakangnya datang menghampiri Jingga yang sedang duduk berduaan bersama Bai Niu di bale bambu.
"Pasangan yang serasi, semoga kalian memiliki banyak keturunan" ucap Nyonya Xin Nuan menyapa keduanya.
Jingga dan Bai Niu langsung meliriknya dengan terkekeh.
"Nyonya salah paham, kami adalah kakak beradik, dia adalah adikku yang manja" balas Jingga menjelaskan sambil mengacak-acak rambut adiknya Bai Niu.
Nyonya Xin Nuan terlihat bingung melihat keduanya tidak memiliki kemiripan, lebih bingung lagi melihat gadis cantik yang dua hari lalu berkulit gelap sekarang menjadi putih sama seperti dirinya.
"Ha ha ha maaf, maaf, kedatanganku untuk mengingatkan waktu kalian menginap sudah habis, apakah kalian akan memperpanjangnya?, tentu aku akan senang mendengarnya" Tanya Xin Nuan dengan senyumannya yang lembut.
Jingga langsung menoleh ke arah rumah, ia melihat ketiga adiknya masih fokus menyerap energi dari inti jiwa beast monster.
"Sepertinya kami akan lama tinggal di sini, apakah ada potongan harga yang bisa kami dapatkan untuk memperpanjangnya?" Jawab Jingga menegosiasikannya.
"Tentu saja ada potongan harga untuk itu, namun harus kalian tahu, minimal kalian harus menginap selama satu bulan penuh untuk mendapatkan potongan harga" jawab Nyonya Xin Nuan menjelaskannya.
Bai Niu langsung mengerutkan keningnya membayangkan harga tinggi yang harus dibayar oleh kakaknya.
"Baiklah, aku setuju dengan itu, berapa yang harus aku bayar untuk menginap selama sebulan penuh?" Balas Jingga menanyakannya.
"Tuan muda hanya perlu membayar dua puluh juta koin emas, karena tuan muda sudah membayar deposit dua juta koin emas selama dua hari menginap, maka tuan muda bisa membayar sisanya sebanyak delapan belas juta koin emas" jawab Xin Nuan merincinya.
Jingga langsung mengeluarkan koin emas sebanyak yang disebutkan oleh Nyonya Xin Nuan.
"Terima kasih, Tuan muda dan Nona muda, semoga kalian kerasan menginap di tempat kami" ujar Nyonya Xin Nuan setelah memasukkan koin emas ke dalam cincin spasialnya.
Jingga dan Bai Niu mengangguk sambil tersenyum membalasnya.
"Kak, sejak kapan Kakak memiliki uang banyak?" Tanya Bai Niu penasaran.
"Sejak aku menjadi cucu seorang pelaut dan keponakan Jenderal kekaisaran Xiao" jawab Jingga lalu menenggak araknya.
"Oh" respons Bai Niu singkat lalu menyandarkan kembali kepalanya di pundak Jingga.
Seminggu kemudian terdengar keributan dari rumah seberang yang ditempati oleh dewi Es Bingji, tampak terlihat sang dewi sedang bertengkar dengan seorang pemuda tampan yang disinyalir merupakan kekasihnya.
Bai Niu dengan nalurinya sebagai wanita suka bergosip begitu penasaran dengan apa yang dipertengkarkan oleh sepasang kekasih. Ia langsung bergegas ke arah pintu untuk mendengarkan pertengkaran keduanya, sedangkan Jingga masih asyik menikmati araknya sambil memandangi keindahan alam di sekitarnya.
"Kak Jingga, sebentar lagi akan terjadi pertarungan seru, sini Kak, rugi loh kalau sampai tidak melihatnya" ujar Bai Niu memberitahunya.
Jingga langsung menoleh ke arah adiknya yang sedang menguping di pintu depan.
"Tunggu saja, pertarungannya belum dimulai" sahutnya lalu berjalan menghampiri Bai Niu.
Keduanya langsung memfokuskan pendengaran dengan seringai tajam berharap pertarungan akan segera terjadi.
"Dih! Manja. Bukannya biasa seorang pria memiliki banyak kekasih, gadis dingin itu malah kabur ke alam fana karena tidak mau dimadu" celetuk Jingga mengomentarinya.
Bai Niu yang mendengarnya begitu geram, ia pun sebagai seorang wanita tentunya ingin menjadi kekasih satu-satunya dari pria yang dicintainya.
"Salah ya kalau wanita hanya ingin dimiliki oleh satu hati yang mencintainya tanpa harus berbagi hati dengan wanita lainnya?" Balas Bai Niu menanggapi ucapan kakaknya.
Jingga yang mendengar ucapan adiknya begitu tersentak, ia langsung terdiam tidak ingin membalas ucapan adiknya.
Lama keduanya menguping pertengkaran sepasang kekasih yang semakin sengit. Beberapa saat kemudian sang pria begitu emosi kalah berdebat dengan dewi Es Bingji.
"Ha ha ha, dia tidak tahu kalau rumus dasarnya adalah wanita selalu benar" ucap Jingga terkekeh.
"Ayo kita hitung mundur" imbuh Jingga meminta adiknya.
"Tiga! Dua! Satu! Mulai!" Ucap keduanya berbarengan.
Benar saja apa yang sudah diperhitungkan oleh Jingga dan Bai Niu, pertengkaran sepasang kekasih berujung pada pertarungan sengit keduanya.
Dewi Es Bingji bertarung dengan kekasihnya Zhanshen Wu yang merupakan salah seorang dewa perang di istana Langit alam dewa.
Tampak keduanya melayang di atas bukit, Dewi Es Bingji menggunakan pedang birunya terus menyerang Zhanshen Wu yang menggenggam trisula menahan setiap tebasannya.
Dhuar!
Dhuar!
Jingga sampai harus membuat perisai pelindung untuk menutupi rumah agar tidak terdampak oleh sambaran energi yang terus berhamburan ke segala arah.
"Pertarungan yang begitu indah, aku jadi tidak sabar menghadapi kekuatan para dewa" gumam Jingga memperhatikan pertarungan kedua dewa yang sangat berbeda dengan pertarungan para kultivator di alam fana.
"Pantas saja aku kalah dari dewi jelek itu, kemampuanku masih kalah jauh darinya" ucap Bai Niu bertekad untuk meningkatkan ranah kultivasinya.
"Makanya kau jangan nempel terus seperti lem di pundakku" timpal Jingga mengomentarinya.
"Kenapa?, Tidak senang didekap gadis cantik sepertiku?" Kesal Bai Niu mendengarnya.
Jingga langsung diam tidak membalasnya, ia tahu tidak akan pernah bisa menang berdebat dengan adiknya itu.
Keduanya kembali fokus memperhatikan kedua dewa yang sedang bertarung di atas langit.
Siu!
Dhuar!
Cahaya putih melesat cepat jatuh ke bawah bukit, menyebabkan bukit sedikit bergetar karenanya.
Tak lama ribuan panah api melesat turun ke arah jatuhnya cahaya putih.
Dari bawah, ribuan panah es melesat terbang ke langit.
Dhuar!
Dhuar!
Kembali terdengar ledakan dari peraduan dua energi yang bertentangan, ribuan panah api dari langit beradu dengan ribuan panah es dari bawah bukit.
Setelahnya, hawa dingin mulai merebak membekukan udara di sekitarnya, dewi Es Bingji menggunakan kesaktiannya untuk menyerang dewa Zhanshen Wu.
"Ayo Kak, kita bertaruh" ajak Bai Niu menantangnya.
"Ha ha ha apa yang ingin kau pertaruhkan, Naninu?" Tanya Jingga tanpa meliriknya.
Bai Niu langsung menunjuk keningnya sendiri lalu membisiki Jingga.
"Terserah apa yang kakak inginkan dariku" bisiknya dengan tatapannya yang menggoda.
Jingga langsung melebarkan matanya menatap Bai Niu.
"Dasar gadis nakal! Apakah kau pikir aku pria hidung belang?, Tentu bukan. Walaupun harus aku akui wajahku tidak setampan Qianfan, tapi aku adalah pria terhormat di alam semesta yang akan menjaga kehormatan setiap wanita mana pun, kapan pun dan di mana pun aku berada" kilah Jingga membanggakan diri.
Bai Niu langsung meletakkan punggung tangannya di kening Jingga.
"Kakak sakit?" Tanya Bai Niu dengan raut wajah iba melihat kakaknya Jingga.
Bug!
Dhuar!
Obrolan keduanya terhenti ketika mendengar suara jatuh tidak jauh dari rumahnya.
Tampak Dewi Es Bingji tergeletak menangkup di kawah kecil tempat jatuhnya. Dewi Es Bingji lalu bangkit berlutut di atas tanah dengan kondisi yang memprihatinkan.
Terlihat Dewi Es Bingji terluka parah akibat pertarungan dengan kekasihnya, tubuhnya dipenuhi oleh darah yang menetes dari lukanya. Wajahnya begitu pucat dengan sisa darah yang keluar dari bibirnya.
Tak lama kemudian dewa Zhanshen Wu turun menghampirinya.
Ia melirik Jingga dan Bai Niu yang memperhatikannya dari rumah tidak jauh dari tempatnya berdiri kemudian memalingkan kembali wajahnya ke arah dewi Es Bingji lalu menghilang pergi membawa kekasihnya.
"Ya, selesai" ucap keduanya begitu kecewa.