Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Kematian Tragis Ketua Klan


Beberapa saat kemudian, Jingga melihat beberapa bangunan rumah yang berdiri di puncak bukit Gemilang. Semakin mengingatkan Jingga pada Paviliun Puncak kota Lieren Guojia di kerajaan Kandao.


"Ha ha, persis sama, walaupun bangunan di sini lebih banyak dan lebih besar" ucapnya membandingkan.


"Aa, cepat!" Panggil Naray yang berbelok ke arah kanan.


"Iya" sahut Jingga langsung melangkah cepat menyusulnya.


Ketiganya sampai di satu rumah yang sangat besar dan luas halamannya. Bukan rumah besar yang membuat Jingga tertarik, ia malah memperhatikan beberapa pasang mata yang mengintainya dari balik dinding kayu rumah di kanan dan kirinya.


"Kalian orang-orang aneh" celetuknya lalu menjulurkan lidahnya mengejek beberapa pasang mata yang mengintainya.


Sampai juga Duma, Naray dan Jingga memasuki pintu rumah yang cukup bagus dengan ukiran abstrak di sekelilingnya.


Tiba-tiba saja pintu terbuka dengan sendirinya, di dalamnya banyak orang yang sudah menantikan kedatangan ketiganya.


"Selamat datang di klan Serigala pulau Intan"


"Kemarilah, aku sangat ingin mengenal kalian berdua" sapa seorang pria tua bercodet dengan ramah sambil melambaikan tangannya.


"Terima kasih atas sambutannya, Paman codet" balas Jingga lalu tersenyum padanya.


"Hei, anak muda. Berani sekali kau mengejek ketua kami" tegur seorang pria berwajah brewok.


"Sudahlah! Kita harus menyambut tamu kita dengan baik, kita bisa memakluminya karena dia belum mengenal kita" ujar ketua klan menenangkan bawahannya.


"Pendekar muda, kau bisa memanggilku Abang Gomgom Serigala" lanjutnya memperkenalkan diri.


"Siapa dirimu dan gadis cantik yang berdiri di sampingmu?" Tanya ketua klan Serigala, abang Gomgom ingin tahu.


"Nama yang sangat keren" puji Jingga.


"Aku Jingga dan Adikku Naray, langsung saja pada intinya. Untuk apa Abang Gomgom Serigala imut memanggil kami berdua?" Jawab Jingga balik bertanya.


"Ha ha ha, kau tidak suka berbasa-basi rupanya. Kemarin kami menemukan jasad salah satu tetua kami tewas di hutan Harimau, aku tahu kalian berdua yang telah membunuhnya, pun demikian dengan beberapa ekor serigala peliharaan kami" jawab ketua Gomgom langsung menuduhnya.


Duma tampak terkejut mendengarnya, ia sendiri tidak mendengar kejadian itu dan kedua remaja yang menginap di rumahnya tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Jingga terkekeh pelan lalu berkata,


"Ya, Kakek tua itu telah aku bunuh karena ia menyerangku. Hem! Jadi kalian yang telah menculik anak-anak kampung Sirintang dan beberapa kampung lainnya" Jingga menuduh balik.


"Sialan! Kalian berdua harus mati!" Geram seorang pria brewok langsung mencabut pedangnya yang aneh.


Sring!


Ia mendekati Jingga dan langsung mengacungkan pedangnya ke leher Jingga.


"Izinkan aku memenggalnya, Ketua" pinta pria brewok tidak sabar.


"Tenang dulu saudara Linggom" ucap ketua Gomgom sambil menjulurkan telapak tangan ke arah pria brewok.


"Gomgom codet serigala imut, akui saja, apakah benar klan Serigala imut kalian yang menculik dan membunuh anak-anak kampung?" Potong Jingga menegaskannya.


"Ha ha ha, tepat sekali. Serigala peliharaan kami yang melakukannya untuk mengasah insting membunuh hewan serigala. Apa kau akan membalaskan dendam pada kami?" Jawab ketua Gomgom menantangnya.


"Tentu saja aku akan membalaskan dendam, tapi aku sedikit kecewa, kalian terlihat begitu lemah" balas Jingga mencemoohnya.


"Kurang ajar, sombong sekali dirimu anak muda" potong pria brewok lalu menebaskan pedangnya.


Sret!


Jingga mempitingnya dengan dua jari, ia lalu melirik Linggom dengan tatapan mengejek.


Trang!


Jingga mematahkan pedang Linggom lalu kembali menatap ketua Gomgom. Pria brewok itu langsung melangkah mundur.


"Beri aku pertarungan yang sengit atau tidak akan aku biarkan satu pun dari kalian yang hidup" ucap Jingga mengancamnya.


Geramlah semua orang yang berada di ruangan mendengar ancamannya.


Sring! Sring!


Semua pendekar klan Serigala pulau Intan menarik pedangnya.


Wuzz!


Jingga berkelebat menarik tangan Naray keluar dari rumah ketua klan.


"Neng, tunggulah di sini, Aa butuh bersenang-senang tanpa harus mengkhawatirkan dirimu" ucap Jingga yang membawa adiknya ke atas pohon yang berada di puncak bukit Gemilang.


Naray mengangguk memahaminya, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena busur panahnya tertinggal di rumah Duma.


Wuzz!


Tap tap!


"Aku kira kau kabur, ternyata nyalimu besar juga" sindir ketua klan.


"Aku hanya tidak ingin kematian kalian yang mengenaskan dilihat oleh Adikku" sergah Jingga dengan angkuh.


"Habisi dia dan cari Adiknya" perintah ketua Gomgom tersulut emosi mendengar celotehan Jingga yang merendahkannya.


Tap tap!


Wuzz!


Trang! Trang!


Kedua belati Jingga menahan tebasan dari beberapa pendekar yang menyerangnya.


"Lumayan, namun kurang cepat dan bertenaga" ucap Jingga di tengah-tengah pertarungan.


Para pendekar sangat murka mendengarnya, mereka semakin gencar menyerang Jingga dengan sekuat tenaga.


Benturan logam semakin nyaring terdengar, Jingga hanya menahan serangan saja. Ia masih belum menyerang balik para pendekar.


Sudah lebih dari dua jam pertarungan, tidak ada sekalipun para pendekar berhasil menebasnya. Semua anggota klan lainnya berdatangan menyaksikan pertarungan para tetua inti klan yang menyerang seorang pendekar muda.


Mereka semua berkerumun mengelilingi arena pertarungan yang semakin sempit dibuatnya. Jingga yang melihatnya dengan iseng menarik tubuh seorang penonton yang masih bagian anggota klan dan menjadikannya tameng untuk menghadang sabetan pedang.


Sret! Sret! Sleb!


Puluhan sayatan dan tusukan pedang mengenai tubuh seorang pemuda klan. Jingga lalu melemparkan tubuhnya dan dengan cepat menarik kembali tubuh seorang penonton untuk menggantikan pemuda yang mati.


Sret! Sret! Sleb!


Kembali suara sayatan dan tusukan pedang mengenai tubuh penonton yang dijadikan tameng dalam menahan berbagai serangan pedang.


Ketua klan Serigala yang menyadarinya menjadi panik. Jingga yang memutar tubuh penonton dengan cepat menjadikan para pendekar tidak mengetahui siapa yang sebenarnya ditebas oleh mereka.


"Hentikaaaan!" Teriak ketua Gomgom dengan keras.


Para pendekar yang mendengarnya langsung berlompatan mundur ke arah ketua Gomgom yang terlihat begitu murka.


Jingga lalu berhenti memutar tubuh penonton yang merupakan seorang wanita berusia empat puluh tahun di mana tubuhnya sudah rusak terkena tebasan para pendekar. Wanita itu sudah mati tanpa tahu kapannya.


Semua orang terperangah melihatnya, tidak ada yang tahu kapan Jingga menarik tubuh wanita itu dan menjadikannya sebagai tameng yang harus menderita terkena tebasan para pendekar klan Serigala.


"Maaf, Nyonya" ucap Jingga lalu melemparkannya jauh ke arah tebing bukit.


"Brengsek kau!" Murka ketua klan Serigala dipenuhi amarah.


Siu!


Dengan cepat Jingga menarik tubuh Gomgom ke tengah arena.


Plak, plak, plak, plak!


Berkali-kali Jingga menamparnya dengan keras sampai wajahnya menjadi biru dan mengeluarkan darah di mulut Gomgom.


"Tidakkah kau menyadari berapa banyak orang tua menjerit histeris melihat tubuh kecil anaknya yang mati diterkam oleh peliharaanmu" geram Jingga memarahinya.


Jingga lalu membanting tubuh Gomgom ke tanah dengan keras dan tubuh ketua klan Serigala itu rebah miring. Namun, dengan sisa tenaganya, ketua klan Serigala mencoba bangkit kembali.


Bugh!


Sebuah tendangan keras mengenai tengkuknya, membuat kepala klan Serigala nanar dan berkunang. Masih belum puas juga, Jingga kembali menendangnya tepat di bagian dada.


Bugh!


Ketua klan Serigala terlempar membentur dinding pohon rumahnya, tidak ada satu pun anggota klan Serigala yang membantunya.


Wuzz!


Jingga berkelebat menghampirinya, ia mengangkat kepala ketua klan Serigala. Terlihat wajahnya bengkak, matanya lebam dan keluar darah kental dari lubang hidung dan mulutnya. Gomgom hanya menyisakan tarikan napasnya yang berat.


"Temuilah anak-anak dan memohon ampunlah pada mereka" ucap Jingga begitu dingin.


Sret! Krak!


Jingga memenggal ketua klan Serigala dengan belatinya di hadapan semua anggota klan yang langsung menunduk tidak sanggup melihatnya.